Memayu

Memayu
Episode 55 Sebelum terlambat


__ADS_3

“Rey... kamu mau kemana?” tanya Mama saat Reynan keluar dari kamarnya dengan membawa koper.


Mayu mendengar Mama yang sedang berbicara dengan Reynan diruang tengah, posisinya ada dikamar Zoe, kebetulan dia tak begitu rapat menutup pintu kamar Zoe, Mayu mendapati Reynan membawa koper.


Reynan duduk diruang keluarga, mengutarakan tentang keinginannya untuk meneruskan proyeknya dikalimantan. Dia ingin sedikit melupakan kesedihannya, dia yakin jika sedikit jauh hatinya akan terhibur.


“Bagaimana dengan Mayu Rey? Harusnya kalian bisa saling menghibur satu sama lain” Tukas Mama memberi pengertiyan.


Reynan terdiam.


Mayu menutup mulutnya, hatinya sedang tersedu, air matanya mulai bercucuran, semenjak meninggalnya Zoe, Reynan bahkan tak pernah masuk ke kamar Zoe, dan sekarang dia berniat pergi untuk melupakan kesedihannya, meninggalkannya menanggung kesedihan dirumah ini sendiri, Mayu merasa Reynan menikahinya bukan karena benar-benar sayang dengannya, dia hanya mencintai Zoenya yang sudah pergi.


Mayu semakin merasa berantakan.


Reynan betul-betul pergi meninggalkannya ke Kalimantan. Tanpa kata ataupun isyarat.


Kesedihannya sudah dipuncak rasa yang teramat dalam untuk diobati.


...................................


Mayu baru selesai kontrol luka jahitnya di Rumah Sakit, hanya diantar Yudi, Mama sedang sibuk menyiapkan acara empat puluh hari untuk Zoe yang rencananya akan dihadiri anak yatim dari yayasan terdekat. Mungkin karena stres dan banyak fikiran hingga menyebabkan lukanya belum mengering dan harus rutin ia kontrol, namun hari ini lukanya sudah bagus, sudah tak perlu khawatir lagi.


Mayu masih bertahan dirumah walaupun tanpa Reynan sekalipun. Mama selalu membuatnya kuat, Mayu tak tahu jika tidak ada Mama mungkin dia memilih berpisah saja, sudah tak ada gunanya lagi, dia sudah tak memiliki peran disana.


Semenjak kepergiannya ke Kalimantan hanya satu kali Reynan pulang, itupun hanya satu hari, dan seharian entah pergi kemana, lebih tepatnya bukan pulang, tapi mengunjungi rumah saja, kemudian kembali ke Kalimantan lagi. Masih terdiam saja saat bertemu Mayu.


Mayu merasa sikap Reynan terkesan seperti menyalahkannya atas kepergian Zoe, tapi Mayu masih percaya dengan cintanya, keajaiban akan membuatnya kembali, dia tak boleh menyerah meskipun sudah tak pernah saling sapa.


Reynan akan pulang saat acara empat puluh hari meninggalnya Zoe, entah benar atau tidak, Mayu tak berani bertanya, dia hanya perlu hadir dan diam mendoakan buah hatinya dan kehidupan rumah tangganya.


.................................................


Acara demi acara sudah berjalan, entah kenapa Reynan belum juga pulang, Mayu hanya terdiam, benar-benar berusaha keras menahan airmatanya yang akan tumpah.


Mama terlihat mondar-mandir didepan pintu, menunggu kedatangan Reynan yang sedari tadi tak mengangkat teleponnya.


Waktu terus berputar, beberapa tamu undangan sudah mulai meninggalkan rumah.

__ADS_1


Mama dan Mayu mulai membagi-bagikan bingkisan yang sudah disediakan untuk para anak yatim yang sudah berbaris antre didepan mereka dan segera berlalu untuk pulang.


Sesampainya dibarisan terakhir, Mayu benar-benar sudah tak kuat menahan airmatanya. Ia berlalu tanpa satu katapun yang terlontar dari mulutnya.


“May....” Tukas Mama memanggil Mayu dengan suara lemah.


Mayu sudah berlari, menghapus air matanya, menuju kekamar.


Mama tahu betul apa yang menantunya rasakan, Reynan betul-betul keterlaluan, bisa-bisanya dia tak hadir diacara empat puluh harinya Zoe? Mama menarik nafasnya dalam-dalam.


......................


Mama masih duduk disofa, menggenggam ponsel yang digunakan sedari tadi untuk menelpon Reynan yang masih saja tak bisa dibuhubungi.


Mama menoleh, ada suara seseorang membuka pintu.


Mayu keluar dari balik pintu masih mengenakan baju yang sama dia gunakan saat berdoa tadi.


Mama terkejut, ketakutannya mulai muncul, Mayu keluar membawa kopernya, tengah malam seperti ini.


“May....” tukas Mama sembari mendekati menantunya yang wajahnya sudah sangat sembab.


Mama memeluk Mayu yang terisak sejadi-jadinya, air mata Mama turut tumpah.


“Maaf ya Ma, Mayu sakit Ma.... Mas Rey benar-benar berubah. Mayu nggak bisa selamanya sabar, perasaan Mayu ada batasannya Ma” tambah Mayu.


Mama mengusap kepala Mayu, Mama sangat mengerti. Ia sudah tak berani mencegah Mayu lagi, rasanya tak pantas, Reynan saja tak lagi perduli, dia bisa apa? Mama menghela nafasnya sekali lagi, sangat menyayangi tabiat buruk Reynan akhir-akhir ini.


“Tapi ini sudah Malam May” Tukas Mama


Mayu mengusap matanya “Mayu sudah pesan travel kok Ma, Mayu nggak bisa kalo harus nunggu-nunggu terus. Setiap malam rasanya panjang sekali Ma, Mama izinin Mayu kan Ma? Maafin Mayu ya Ma”


Mama mengangguk,”Iya, Mama sangat menyesal May, Reynan tak seharusnya begini, Mama nggak mau ada apa-apa sama pernikahan kalian, Mama mau kalian sama-sama lagi May”


Mayu tak memberi isyarat apapun tentang pesan Mama, jemputan travelnya sudah menunggunya didepan. Mayu segera menggapai punggung tangan Mama dan menciumnya,”Maafin Mayu ya Ma, Assalamu’alaikum”


Mama mengangguk, menghapus airmata di mata pojoknya,”wa’alaikumsalam”

__ADS_1


Mayu segera berlalu membawa kopernya. Hatinya tak sekuat itu untuk bertahan.


..............................................


Reynan baru membuka ponselnya pagi ini, selama satu minggu dikalimantan dia benar-benar menjauhkan ponsel didekatnya. Fikirannya mulai terusik, bayangannya pada Mayu mulai mengganggu, kenapa sekarang dia mulai memikirkan Mayu yang sempat ingin sedikit menjauh dari fikirannya karena ingatannya yang berantakan saat melihat istrinya sendiri.


Reynan membanting Map dimeja kerjanya, menertawai keputusannya yang tidak logis, kenapa dia menjadi seburuk ini dalam menyikapi keadaan?


Tak lama ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Mama.


“Kamu keterlaluan Rey, Mama benar-benar marah sama kamu!! nggak seharusnya kamu bekerja sampai lupa ini empat puluh hari meninggalnya zoe!!” Tukas Mama dengan nada tinggi dari balik ponsel.


“Ma, justru Reynan mencoba melupakan Zoe, dengan hadirnya Reynan itu hanya akan menyiksa ingatan Rey tentang Zoe Ma, Reynan ingin singkirkan ingatan ini!”


“Rey, Zoe itu bukan benda mati yang ibarat kamu ingin lupakan bisa semudah itu enyah dari ingatan. Dia itu anak kamu, meskipun sudah tidak ada, tapi akan tetap dihati Rey, kamu nggak akan bisa melupakan dia dengan cara lari-larian seperti ini, kamu salah Rey! kamu harus sadar caramu ini akan merugikan kamu sendiri!"


“Aku tahu yang terbaik untuk aku Ma! Aku tahu semuanya, Mama jangan banyak protes, Reynan hanya ingin sedikit tenang”


“Kamu salah Rey, kamu tidak akan tenang jika masih seperti ini, caramu ini bisa membuat kamu kehilangan keduanya, kamu sudah kehilangan Zoe, apa kamu mau kehilangan Mayu juga?”


Reynan terdiam.


“Melupakan tentang seseorang yang sudah meninggal itu dengan cara mendoakannya, mengikhlaskannya, mengalir saja, waktu yang akan menolongmu Rey”


Reynan masih terdiam.


“Jangan diam saja! fikirkan semuanya baik-baik, mumpung belum terlambat”


“Terlambat?”


“Iya, terlambat. Mayu sudah meninggalkan rumah sejak semalam” Tukas Mama terus terang.


Reynan kembali terdiam, masih saja merasa benar, harusnya Mayu tak perlu melakukan itu, harusnya menjadi istri yang baik bla bla bla, dia sendiri lupa menjadi suami yang baik.


Reynan mematikan ponselnya. Emosinya kian tersulut, Mayu seakan membuatnya ingin marah sejadi-jadinya. Rasa sakitnya sudah merubahnya menjadi suami killer yang maunya benar sendiri.


Reynan memutuskan untuk segara pulang keJakarta.

__ADS_1


.........................................


__ADS_2