
“Luka diperutmu akankah bisa hilang?” tanya Reynan kepada Mayu.
Mayu menghela nafas, ternyata luka operasi diperutnya yang membuat reynan mendadak berubah.
“Sedang di coba Mas”
“kapan kamu terakhir kedokter?”
“sehari sebelum pulang kerumah Ibu”
"sudah lama sekali, besok kita kedokter ya?”
Mayu mengangguk,”tapi kata dokter nggak papa kok, lukanya sudah bagus”
“iya, tapi kita perlu konsultasi perihal keadaan rahim kamu, aku takut kamu belum siap menerimanya lagi”
Mayu mengangguk, mengerti maksud suaminya.
“aku nggak mau kamu kenapa-napa, apalagi karna ulahku”
"Hahahaha, ulah yang mana?" Mayu terkikik.
"perlu ku sebut?"
Mayu menggeleng.
“i love you, May”
“love you to, Mas”
............................................
Sebelum mengunjungi dokter, Mayu sudah sibuk memasak untuk makan siang dengan Reynan dikantor. Ia merasa banyak yang harus ia rubah dari hidupnya mulai sekarang. Anggap saja mereka masih menjadi pengantin baru dengan segala kebaikan serta kebahagiaan didepannya.
Mama cuek saja melihat menantunya sibuk sedari tadi.
"Mama mau cobain masakan Mayu nggak?" Tanya Mayu selepas menata masakan matangnya dimeja.
"Mama lagi diet May, kamu masak seafod semua, kolesterol Mama naik yang ada" tukas Mama sembari masih sibuk membaca majalahnya.
"Mama sakit? Kapan cek kolesterol?"
"udah seminggu yang lalu May"
"Mayu ada masak sayur sama semur ayam kok Ma, Mama bisa makan itu"
"Iya sayang, makasih banyak ya, tapi kok tumben kamu masak banyak begitu, kaya mau piknis satu minggu saja"
"Mama bisa aja, sekalian buat temen mas Rey Ma"
"temen? siapa?"
"mmmm maksudnya Ibran dan Fahda"
"Ohh.."
"Yasudah Ma, ini udah siap, Mayu langsung mau berangkat ya Ma, nanti selepas makan siang udah ada janji mau ketemu sama dr.Daisy" Tukas Mayu meraih tas dan membawa rantang makanannnya.
"Hati-hati ya"
"Iya Ma, da...."
................................
Reynan baru selesai keluar dari ruang meeting, ia segera mengecek ponselnya yang sudah berdering sedari tadi, banyak sekali urusan pekerjaan hari ini.
__ADS_1
"Pak nanti jam 2 sore mau ada tamu dari perusahaan X untuk menawarkan jenis bahan terbaru untuk pabrik" Tukas Ibran memberikan informasi.
Reynan hanyaengangguk dan masih membuka ponselnya.
"Pak Rey mau makan siang diruangan atau bagaimana?"
"kamu atur saja"
"Menunya?"
"Tunggu"
Tak lama ponselnya berdering. Mayu memanggil.
"Hallo Sayang" Sapa Reynan.
Ibran merasa harus menjaga jaraknya kali ini, bos besarnya sedang menerima telepon penting, bahkan lebih penting dari apapun.
Reynan hanya melemparkan pandangan lewat mata pojoknya kepada Ibran untuk sedikit menjauh.
"Aku udah diruangan kamu nih, sebelum ketemu dokter kita makan siang bareng ya" tukas Mayu.
Reynan menyadari sesuatu, hari ini bahkan sudah ada jadwal mengantar Mayu menemui dokter,"kok nggak bilang si mau dateng?" Tukas Reynan mempercepat langkahnya menuju ruangan, Ibran mengekor dengan jarak agak jauh dri bosnya.
"Aku ganggu ya?"
"oh nggak sayang, tunggu aku ya"
"iya"
Reynan mematikan teleponnya. Memberi Isyarat kepada Ibran untuk diam ditempat tak lagi mengikutinya.
Ibran menurut saja.
"baik Pak"
"Kamu bisa telepon kalo nanti ada sesuatu yang penting"
"Iya pak"
Reynan segera memasuki ruangannya, mendapati istrinya sudah menyiapkan makan siang dimeja dekat sofa.
"Hei...." Sapa Reynan memeluk Mayu.
"Aku pasti ganggu deh"
"Nggak, sama sekali nggak, malah surprise!"
"Bohong"
"Kapan sih aku bohong"
Mayu tersenyum.
"Kamu mau makan siang berdua atau berempat? kok banyak banget masaknya?"
"iya berempat"
"siapa ? Mama ikut?"
"Nggak dong, sama Fahda sama Ibran, ajakin sekalian gih"
"Ngapain?"
"kok ngapain si, ya biar sekalian, aku pikir aku masak banyak biar bisa rame-rame makan"
__ADS_1
Reynan menghela nafas dan membanting tubuhnya disofa,"Aku nggak mau rame-rame"
Mayu terkikik, suaminya kadang berlaga sok lucu, "Kamu itu kenapa?"
"Kenapa?" Reynan menarik lengan Mayu dan menyuruhnya duduk disampinynya,"aku nggak mau rame-rame, aku maunya berdua saja sama kamu"
"Gombal banget"
"Jadi kapan makannya?"
"Kamu lapar?"
Reynan mengangguk.
Mayu mengambil sendok dan mulai menyuapi suami manjanya itu.
"Janji kamu akan menghabiskan makanan yang aku bawa ini ya?"
"Yang benar saja"
"Salah sendiri Ibran dan Fahda nggak boleh ikut makan siang"
"huh..." Reynan mendengus kesal,"Berikan saja yang mana bagian mereka, selepas itu kamu kemari lagi ya?"
"Nah gitu dong"
"jangan lama-lama ya?"
"iya" Mayu segera menyiapkan bekal makan siang untuk Ibran dan Fahda.
...........................
Reynan baru merasa lega saat selesaiengantar Mayu chek Up, penjelasan dokter mengenaik keadaan istrinya tidak seseram yang ia bayangkan sebelumnya, setidaknya sekarang Mayu dalam keadaan baik-baik saja.
Entah rasa bersalah macam apa yang sudah menguasainya akhir-akhir ini, melihat Mayu disampingnya semakin membuatnya merasa sesak, kenapa ia sampai berfikir untuk menjauh waktu itu, rasanya seperti tidak adil, dia baru menyadarinya sekarang.
Sore ini sebelum pulang Reynan sengaja mengajak Mayu berjalan-jalan santai menikmati perubahan sore hingga malam di tengah kota. Hingga perjalanan mereka berakhir di sebuah cafe ternama kesukaan Reynan.
"Jika kamu hanya punya satu permintaan, apa yang akan kamu minta?" tiba-tiba Reynna bertanya.
Mayu menyerngitkan kening, ia merasa Reynan mulai sedikit kembali eror. Rupanya menghabiskan waktu seharian dengannya belum 100 % bisa merefresh otak suaminya.
"Aku punya banyak permintaan, jika hanya satu lebih baik aku diam tidak memilih apapun" Jawab Mayu santai.
"Termasuk tak memilih untuk hidup bersamaku selamanya?"
"Hidup bersamamu itu sudah bukan pilihan Mas"
"lalu?"
"Hidup selamanya sama kamu, bahagia selamanya bersama keluarga kita itu semua buatku bukan sebuah pilihan" Mayu mengusap lembut lengan suaminya yang masih antusias mendengarkannnya bicara,"Hidup sama kamu itu udah menjadi keharusan yang paling menyenangkan dalam hidupku mas"
"Keharusan?"
"Iya, Keharusan, bukan lagi sebuah pilihan"
Reynan mentap Mayu, jawaban dan sorot matanya sama-sama terasa indah.
"Janji ya nggak pergi-pergi lagi?"
"Kamu yang jani Mas"
"Aku janji"
"kalo gitu aku juga janji deh, heheheheh"
__ADS_1