Memayu

Memayu
Episode 48 Ikan Asin dan Tempe Goreng


__ADS_3

Mayu membuka matanya, kini bukan karena matanya terkena sinar fajar, atau karena Reynan yang sudah tak sabar menunggunya bangun, tapi karena aroma lain yang tercium sangat menyengat dari arah dapur.


Aromanya benar-benar lain, dia sangat mual, ingin segera berlari ke kamar mandi.


Reynan turut bangun, merasakan gerakan Mayu yang bangun tiba-tiba.


Mayu benar-benar tak memperdulikan kehadiran Reynan, ia segera berlari kekamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya dikloset.


Reynan terkejut, dua kali ia menemukan istrinya muntah-muntah secara tiba-tiba.


"Sayang, kamu kenapa??"


Hoooeekk...hoeekkk


Mayu mengibas-ngibaskan tangannya, Reynan tak mengerti, apa mungkin dia mual karena kehadirannya? Ibu hamil macam apa ini, mual saat melihat suaminya sendiri.


"Kamu kenapa?" Tanya Reynan memastikan.


Mayu berdiri, mencari outer dan keluar dari kamarnya,"Lany...!!! apa yang kamu lakukan!!! bau apa ini????" Mayu segera keluar dari Appartement.


Reynan bengong sendiri dipintu kamar, ia menyaksikan Mayu benar-benar memilih keluar.


Rasanya baru kemarin dia membaca Chat istrinya jika dia menginginkan ikan asin, kenapa sekarang jadi pergi?


"Lany sudah pergi tadi pagi, Mayu mana?" Tukas Mama baru keluar dari dapur.


Reynan menghela nafas, bersiap menyusul istrinya keluar,"Mayu mabok Ma!"


"Kok mabok?? ibu hamil nggak boleh minum wine Rey! bahaya!"


"Mabok ikan asin Ma! lagian kerajinan banget pagi-pagi udah goreng-goreng ikan asin" gerutu Reynan sembari berlalu mengejar Mayu.


Mama terdiam, "Kan katanya kemarin minta sayur asem sama ikan asin? aduh..... gawat nih jangan-jangan cucuku jadi bule beneran gara-gara kelamaan disini" Tukasnya berbalik menuju dapur,"Nggak bisa dibiarin nih kalo begini"


..............


Mayu sudah duduk di mini garden dekat Appartement, rasa mualnya baru bisa reda saat sampai disana, sebenarnya dia kangen sekali makan masakan Mama, tapi Bos Kecilnya menolak. Sampai-sampai menyapa suami dan mertuanyapun tidak.


Reynan menghela nafas, menemukan istrinya diantara beberapa bangku, dia mendekat.


"Mas.." Mayu menghambur memeluk Reynan, tapi pelukannya ia tepis seketika.


"Kenapa?"


"Kamu bau ikan asin"


"ah masa sih?" Reynan reflek mencium aroma bajunya.


Mayu terkikik, dia membohongi suaminya.


"Nggak kok" jelas Reynan yang belum sadar telah dibohongi.


Mayu semakin terkikik.


Reynan menyadari ia telah dibohongi. Ia segera menarik lengan Mayu lembut dan memeluknya. Tak peduli beberapa pasang mata melihat mereka. Pasangan yang baru bangun tidur, belum sempat cuci muka bahkan gosok gigi, masih mengenakan pakaian tidur, sudah berpelukan diluar ruangan. Karena rindu menjadi penyebab seorang menjadi tak peduli lagi, mereka hanya fokus pada kerinduannya saja.


"Kamu kangen aku?" tanya Reynan.

__ADS_1


Mayu menggeleng.


"Serius?"


Mayu mengangguk.


Reynan menghela nafasnya.


"Aku kangen kampung ibu, Mas"


"Ok! kita akan kesana setelah pulang"


"Serius?"


"Iya, aku janji"


Mereka memutuskan untuk menikmati terbitnya mentari di mini garden, sembari menunggu Aroma ikan asinnya hilang dari ruangan.


Mama sudah sibuk sedari tadi, meminta bantuan petugas Appartement untuk membantunya menyalakan alat penyaring udara.


.......................


Setelah Mama menelpon, sekitar satu jam Reynan dan Mayu baru kembali ke Appartement.


"Akhirnya Mama bisa peluk kamu juga May" Tukas Mama sesaat setelah memeluk menantunya itu.


"Mayu juga kangen banget sama Mama"


"Ibu kamu juga deh, kita hampir setiap hari telponan, halu-haluan mbayangin cucu kita bakal mirip Mommynya apa Daddynya ya?, pokoknya kita antusias banget" jelas Mama.


"Serius Ma?"


Reynan bangun dari duduknya dan mengambil ponsel.


Mayu tersenyum.


"Kamu jangan senyum-senyum aja. Sebenernya Mama setiap hari ngerasa salah terus loh May" Nada bicara Mama mendadak serius.


Reynan sudah duduk kembali ditempat semula.


"Kenapa Ma?" Tanya Mayu.


"Kan Mama yang suruh-suruh kalian buat honeymoon, eh malah kamu kejebak disini" Tukas Mama menyalahkan dirinya sendiri.


"Nggak papa kok Ma, semua kan diluar rencana, lagian Mayu juga salah, nggak potect sama diri sendiri sampai nggak sadar kalo lagi hamil, hehe"


Mama menghela nafas,"Tapi nggak papa deh, yang penting kamu baik-baik saja"


"Iya Ma" jawab Mayu,"Oh ya ma, Mayu mandi dulu ya Ma"


"Iya mandi dulu, Mama udah masak loh"


"Mama masak apa?" tanya Mayu.


"Tenang, bukan ikan asin, tapi tempe goreng" jawab Mama penuh senyum.


"Mayu mau tuh Ma, yang penting gorengnya jangan disini" jelas Mayu membuat Reynan dan Mama bingung.

__ADS_1


"Loh?? terus dimana?" Tanya Mama.


"Ditetangga sebelah" Mayu melirikan Matanya, menunjukan arah yang dia maksud.


"Tetangga?" Mama ikut menoleh. Menunjukan telunjuknya ke arah yang Mayu maksud,"Itu?"


Mayu mengangguk.


Mereka menunjuk ke arah Apartement yang dibalkon kamarnya duduk dua sepasang suami istri yang sudah paruh baya. Tepat disamping Apartement mereka.


Mama menoleh ke arah Reynan.


"Kok Mama jadi ngliyatin Rey sih?" Protes Reynan, perasaannya mulai tak enak.


"Cepet minta izin goreng tempe ke tetangga sebelah!" perintah Mama dengan nada penegasan.


Reynan berdecak,"Ngarang aja nih Mama, digoreng disini aja pake nyuruh orang buat bantuin buat nyaring udaranya, gimana kalo ditetangga Ma? bisa-bisa tim SAR yang dateng" Jawab Reynan ketus.


"Eh kan itu ikan asin, beda sama tempe, digoreng nggak terlalu nyengat. Apa kamu mau anak kamu nanti ngences gitu? ileran?mau?"


"Apaan sih Ma? nggak ngaruh itu"


"Nggak ngaruh gimana sih? udah cepet sana!"


"Tapi Ma.."


"Mau anak kamu ileran?" tegas Mama.


Reynan terdiam, menggelengkan kepalanya, membayangkan kelanjutannya. Bagaimana cara ngomongnya.


Sebenarnya Mayu tidak serius menginginkan itu, tapi menurutnya sekali-kali ngerjain suaminya bisa jadi hiburan tersendiri, semoga kebohongannya tidak ketahuan. Mayu segera bergegas kekamar mandi, tak memperdulikan Reynan yang kebingungan menghadapi tetangganya, apalagi Mama sudah pasang badan untuk memastikan Reynan benar-benar menjalankan tugasnya.


Reynan akhirnya tidak serta merta menghindar, gara-gara Mama yang terus berujar anaknya bakal ileran, bayangannya selalu pada Bos Kecil. Mungkin ini salah satu cara untuk membuktikan kasih sayangnya sebagai Daddy, Jadi jika nanti Bos Kecil tetep ileran itu bukan karna kesalahannya.


....................


Mayu terheran saja, saat selesai mandi sudah tertata rapih makanan di meja makan. Termasuk tempe goreng pesanannya, dia jadi penasaran bagaimana caranya Reynan mendapatkannya.


Reynan dan Mama sudah mulai makan. Mayu masih terdiam.


"Kenapa lagi si sayang? nasinya juga harus dimasak ditempat tetangga?" Tanya Reynan menimpali, dia masih sedikit kesal, pasalnya tetangganya sempat menolaknya mentah-mentah.


Mayu menggeleng.


"Terus apalagi? makan dong, yang banyak, tuh udah digorengin" tambah Reynan. Bicaranya memang sedikit meninggi, mungkin karena Mama juga sempet berubah menyebalkan, imbasnya juga sampai ke Mayu.


Mama mendadak memukulkan sendoknya ke punggung tangan Reynan.


"aaauuugghh" Reynan mengaduh.


"Pelan-pelan kalo ngomong sama istri yang lagi hamil, pake perasaan kalo ngomong!" timpa Mama protes.


"Ngomong pake mulut Ma, kalo pake perasaan nggak bakal denger" Jawab Reynan membela diri.


"Kamu itu! dibilangin orang tua ngelawan aja, kalo nanti kamu galak sama Mayu, nanti anak kamu bisa galak juga sama kamu" tukas Mama sambil menunjuk-nunjuk Reynan dengan sendoknya.


Reynan berdecak, sekarang ketahanannya benar-benar sudah goyah, Mama bahkan menganggapnya lebih dari anak tiri, entah bagaimana nasibnya jika Bos kecil sudah lahir, dia mungkin bisa begitu saja diasingkan oleh Mama,"Teori dari mana sih Ma? nggak nyambung semua" Reynan meneruskan sarapannya.

__ADS_1


"Gimana cara Mas Rey ngomong ke tetangga kita?" tanya Mayu yang sudah sangat penasaran.


Mama dan Reynan mendadak saling memandang. Mayu tak perlu tahu jika Reynan sudah menyemir sepatu tetangganya sebagai syarat agar Mama bisa menggoreng tempe disana.


__ADS_2