
Dokter sudah selesai menjalankan operasi, Reynan gemetar tak percaya saat suster mengijinkannya untuk memeluk Zoe yang sudah tak bernyawa, dipelukannya seorang bayi mungil, sangat mungil, dengan wajah yang sangat mirip dengannya, sudah membiru dibalut kain medis ditubuhnya. Reynan mencoba menahan tangis, harusnya dia mendengar tangis Zoe, harusnya Zoe menangis dipelukannya. Reynan menoleh menatap Mayu yang sedikit membuka matanya yang sudah basah, namun kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
Reynan melihat gurat kesedihan teramat dalam diwajah istrinya, airmata yang menetes saat operasi dilaksanakan hingga akhirnya selesai.
Reynan tahu betapa sakitnya Mayu. Harusnya mereka berhak mendengar isak tangis Zoe. Harusnya tidak seperti ini kenyataannya.
Kenapa Tuhan seakan menarik ulur perasaannya yang sulit sekali menemukan kebahagiaan? Kenapa seakan sulit sekali untuk menyempurnakan kebahagiaannya. Jika Tuhan memang menyuruhnya bersabar, kenapa dengan ujian ini? Kenapa dengan tak memepertemukan Zoe dengan kedua orang tuanya? Jika boleh menyalahkan, mungkin kata-kata ini bisa mewakili.
Reynan kembali mengecup buah hatinya berulang-ulang.
......................................................
Mayu masih terbaring di Rumah sakit, semenjak sadar matanya selalu digenangi air mata, ia hanya sebentar saja diperbolehkan melihat jenazah anaknya, anak yang baru saja dilahirkannya. Dia masih terbayang jemari kecil yang membiru tak menjawab sapanya, bayi mungil yang terdiam tak lagi mampu membuka matanya, bahkan tak bisa menyuarakan tangisnya. Pertemuan singkatnya kini tak lagi bisa untuk saling menyapa, Mereka bertemu, saling menyentuh kemudian harus saling meninggalkan. Zoe benar-benar pergi. Dia benar-benar pergi.
................................................
Reynan baru selesai mengurus pemakaman Zoe, dibantu dengan orang-orang terdekat dan keluarganya. Matanya masih sembab, mengiringi kepergian Zoe yang begitu cepat. Dia mengingat dosa apa yang kiranya membuat Tuhan menghukumnya untuk tidak menjadi seorang ayah, padahal tinggal menghitung hari saja.
Pertemuannya sekaligus mengantarkan perpisahannya. Mungkin Tuhan telah menyiapkan pertemuan yang jauh lebih indah suatu saat nanti.
Langkah Reynan mulai gontai meninggalkan pemakaman Zoe, orang-orang sudah lebih dulu meninggalkan pusara putra kecilnya, tinggal dirinya ditemani Dhemas, Ibran dan Yudi.
__ADS_1
Selamat tinggal Zoe, bahkan kita belum sempat berkenalan, juga belum sempat saling menyapa, semoga kamu bahagia. Daddy yakin, kamu bahagia bertemu dengan Opa di surga. Doakan Daddy dan Mommy bisa melepas kepergianmu dengan damai.
Daun kering yang terbang tertiup angin dipemakaman seakan tahu suasana hati sosok Ayah yang sangat kehilangan buah hatinya, hembusan angin ikut serta merta mengantar langkah Reynan meninggalkan pusara Zoe.
Perasaannya sudah hancur berkeping-keping, tak mampu lagi menoleh kepusara buah hatinya. Dia sudah bahagia, lebih bahagia, kenapa hatinya masih belum rela? Ya Allah, berat sekali ujianmu, baru sebentar memeluk buah hati yang dinantikannya bertahun-tahun, kini Kau mengambilnya begitu cepat, bahkan tanpa aba-aba.
Begitupun Mayu masih tersedu menangis dipelukan Ibu dan Arif, luka operasinya belum juga kering, sedangkan luka hatinya semakin menganga, harusnya Zoe menjadi obat untuk semua rasa sakit, tapi buah hatinya malah pergi dengan meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam dihati dan jiwanya.
Kepergiannya benar-benar menaruh luka disetiap sudut hati keluarga mereka. Zoe datang memberi warna, dan pergi membawa warnanya pula. Selamat tinggal Zoe, kamu sempurna dibayangan kita. Sampai berjumpa kembali ditempat terindah.
................................................
Seminggu sepeninggal Zoe, suasana rumah berubah drastis, tak ada lagi sapa riang saat sarapan, hanya ada Mama yang masih setia menunggu Reynan dan Mayu yang tak pernah lagi hadir dimeja makan saat sarapan. Mereka seperti memiliki kehidupan masing-masing, Mama tak berani komentar, mungkin ini cara mereka melupakan kesedihan.
Mayu juga kerap menghabiskan harinya dikamar zoe, dan hanya keluar saat akan makan kedapur, kemudiam kembali kekamar atau kamar Zoe lagi, dia harus banyak istirahat, luka pasca operasinya belum sepenuhnya sembuh.
Sedangkan Reynan hanya akan keluar untuk makan dan menghabiskan waktu diruang Gym yang sudah lama tak pernah ia pakai, kini mulai ia gunakan kembali, sekedar untuk menghibur hati. Terkadang dia memilih keluar rumah hingga seharian. Tanpa Mayu.
Mayu dan Reynan masih tidur dikamar yang sama, tapi keduanya tak saling menyapa.
Mayu kerap tersedu sendiri, memompa Asi yang terus menerus keluar dari ***********, akan sangat terasa sakit jika dia lupa tak memompanya. Rasa sakitnya bertambah teramat dalam saat melihat hasil Asi yang terpompa ia buang sia-sia, ia merasa tak ada yang mengerti keadaannya, bahkan Reynan seakan tak memperdulikannya lagi, Mayu memilih menyendiri dikamar Zoe.
__ADS_1
Begitupun Reynan yang merasa Mayu selalu menjauh, mengurung diri dikamar Zoe, seakan dia saja yang bersedih atas kejadian ini, meskipun sebagai Ayah perannya tak sedalam menjadi seorang Ibu, tapi rasa kehilangan sangat membuatnya tak berselera untuk melakukan kegiatan apapun, semakin dia bekerja, semakin otaknya berfikir, untuk apa dia bekerja? Untuk siapa? Sungguh tak ada yang meyemangatinya.
Mereka saling berprasangka, hati mereka yang teramat sakit tak mampu lagi untuk membagi dan menerima rasa sakit dari orang lain.
...........................
“Dari mana Mas?” tukas Mayu saat Reynan baru pulang selarut ini setelah seharian keluar rumah.
Sebenarnya Mayu terpaksa bertanya, ternyata sikap cueknya tak serta merta menghapus rasa cintanya untuk Reynan. Dia berharap kehidupannya akan berubah menjadi lebih baik.
Reynan menoleh, menatap Mayu yang bertanya, istrinya sudah memakai piyama bermotif bunga, dia teramat cantik, semakin dalam menatap Mayu, semakin besar ingatannya pada Zoe, dia ibunya, dia yang menjaganya selama ini. Reynan hanya berlalu, mengingatnya sangat membuatnya sakit.
Mayu tertunduk, melihat Reynan yang tak menjawab sapanya, mata pojoknya mulai tak bisa menahan bongkahan air mata yang ia tahan sedari tadi, dadanya begitu sesak menahan isakannya. Tubuhnya lunglai memaksanya untuk duduk, meremas gelas berisi air putih yang ia genggam sedari tadi.
Fitri dan Eni menyaksikannya dari balik ruang dapur, menatap prihatin atas dua pasangan yang sempat membuatnya iri. Zoe telah merubah segalanya. Kepergiannya sangat meninggalkan luka bagi orang-orang disekitarnya.
Mayu merasa seseorang menyentuh bahunya lembut, Mama disana, turut merasakan kesedihannya. Untung mama masih mau mengerti keadaannya. Mama juga tak habis fikir, kenapa Reynan menjadi sedingin itu. Harusnya mereka bisa saling menguatkan. Mama berfikir dia harus melakukan sesuatu untuk anaknya.
Hubungan Reynan dan Mayu harus kembali seperti semula, apa jadinya jika Reynan tetap dingin seperti ini, bukankah harusnya mereka bisa saling membagi rasa? kenapa justru tak ada sapa meski sedikit saja.
......................................
__ADS_1
#Jangan lupa selalu tinggalkan komen dan like ya 🥰 Suapaya saya lebih semangat, jangan lupa juga tap tombol favorit kemudian beri hadiah juga ya...