
Pertemuan dua keluarga baru usai, Reynan masih duduk diteras, menunggu Mama yang masih mengobrol didalam dengan keluarga besar Mayu.
Iya, hari ini tepat satu minggu sebelum pernikahannya diselenggarakan. Mayu sudah memantapkan hati, memilih resign dan membangun keluarga bersama Reynan. Suara hati yang mengalun begitu lantang mengantarkan dua cinta menemukan tempat untuk bermuara. Mayu percaya tentang arti kegagalan yang akan merubah kehidupan menjadi lebih berhati-hati. Dia dipilih dan sudah memilih, bukan tanpa sebab Reynan bisa berlabuh dihatinya. Laki-laki punya alasan tersendiri, Reynan berhak atas pilihannya, begitupun Mayu yang telah menerima untuk dipilih.
Beribu semoga mulai berdatangan mengiringi langkahnya menuju SAH. Semoga Tuhan dan semesta senantiasa merestui. Dua insan yang ingin membagi hidup, cerita, cinta, dan asa dalam satu pelukan.
"Bagi tips dong biar nggak nervous pas hari H" Tukas Mayu dari balik pintu kamar.
Reynan menoleh, wanitanya sedang berjalan mendekat. Reynan menyungging senyum dan mengulurkan tangannya meraih tangan Mayu.
"Yang harusnya nervous tuh aku, yang bakal lafalin ijab qobulnya" tukas Reynan.
"Kan udah pernah" Jawab Mayu santai.
Reynan menyerngitkan kening, melirik Mayu yang berekspresi datar.
"Menurutmu? aku nggak boleh ikut merasakan jika ini yang pertama?"
"Buat apa?"
"Kok buat apa?"
"Masa lalu itu, bukan buat dilupain, tapi buat cerminan di masa depan" tukas Mayu
"Tapi pemerannya harus dilupakan kan?" Tambah Reynan membuat tatapan Mayu berubah menjadi tatapan menyelidik.
Mayu melirik Reynan yang mengembangkan senyum misteriusnya,"Ya, kalo itu aku baru setuju"
Reynan terkikik pelan, ia menyadari Mayu masih terpikirkan jika mungkin saja Reynan masih memikirkan mantan istrinya. Entah kenapa bayangan ini sulit untuk hilang dari benak Mayu. Reynan tersenyum sembari mengacak-acak ringan rambut Mayu dan menanggalkan ciumannya dikepala Mayu.
Rasanya tak ingin menyudahi malam ini, Mayu semakin terlihat cantik dengan rambut yang hampir tak pernah ia ikat, tapi Reynan tiba-tiba merasakan jika Mayu benar-benar nervous.
Reynan dan keluarga memutuskan untuk pulang malam itu juga, meninggalkan Mayu bersama keluarganya di daerah, mereka akan kembali satu minggu lagi untuk menghadiri acara pernikahannya.
Sebelum pulang Mama terlihat berbincang sebentar dengan Mayu sembari menyodorkan bungkusan kotak kecil kepada calon menantunya. Mayu menerima dengan senang hati, dan selalu ia ingat pesan Mama,"Dipakai saat malam pertama kali kamu tidur disamping Reynan ya?"
Entah apa didalamnya, tapi Mayu terlihat senang dan tersipu.
Begitupun Reynan da Mayu, padangan yang sedang dimabuk cinta, tidak bertemu enam hari kedepan saja banyak sekali pesan yang Mayu dan Reynan harus jaga masing-masing.
Mobil Reynan dan keluarganya sudah lima detik lalu keluar dari halaman rumah, Mayu masih termenung, memikirkan hal yang seketika ingin ia rubah, seandainya hari ini dia sudah menikah, pasti ia akan mengekori Reynan kemanapun Reynan pergi. seperti tak ikhlas jika Tuhan memisahkannya barang sedetikpun dari Reynan. Manusia memang seperti itu, sulit ditebak, saat dekat malu untuk lebih dekat, saat jauh, tak kuat menahan rindu.
__ADS_1
Lamunan Mayu seketika buyar. Dia hanya punya waktu satu minggu didaerah tempat dilahirkannya, kapan lagi bisa berlama-lama disini, apalagi jika sudah bersuami, akan sangat jarang dia main kerumah ini. Jangan fikirkan hal yang tak perlu difikirkan, itu pesan Reynan sebelum pergi, lalu untuk apa Mayu capek-capek berfikir. Sekarang tugasnya menambah sedikit timbangan badannya supaya tak terlihat terlalu kurus saat resepsi. Sebenarnya Mayu tidak terlalu kurus juga, tapi jika lebih berisi sedikit lagi saja, akan terlihat lebih menarik saat mengenakan kebaya pengantin. Penasaran juga dengan barang pemberian calon ibu mertua. Mayu masuk kedalam rumah.
......................................................................
Tiba di hari H, para tamu sudah berdatangan, untuk acara akad sengaja Ibu hanya mengundang keluarga terdekat saja, tapi karena Almarhum bapak anak ke 4 dari 6 bersaudara menjadikan acara yang digelar menjadi ramai, keluarga besar datang berbondong-bondong membawa seluruh bagian keluarga.
Reynan dan keluarganya sudah tiba mengenakan pakaian akad lengkap, rupanya Mama memboyong semua saudara kandungnya, Ya, karena Pak samodra anak tunggal, jadi tidak ada keluarga dari Pak Samodra yang datang.
Suasana yang ramai kini menjadi sunyi dan sakral, penghulu, saksi dan pengantin pria sudah duduk dimimbar akad, tinggal menunggu pengantin wanitanya keluar.
Mayu memang sudah nervous sejak seminggu lalu, langkahnya pelan diapit oleh dua bridesmaid, tentu saja Imel dan Dewi yang sejak kemarin sudah datang dan menginap dirumahnya. Mayu terlihat anggun dengan pakaian pernikahan adat jawanya, kebaya putih dengan nuansa megah tapi tetap kalem, kain batik khas kota kelahiran dan sepatu hak yang membuat langkahnya menjadi anggun. Riasnya menggunakan paes ageng sesuai dengan keinginannya, hiasan cundhuk menthul berjumlah 5 biji bertengger indah di atas kepalanya, tak luput sanggul dengan rajutan melati yang menghiasinya. Mayu duduk tepat disamping Reynan yang sedari tadi masih menatapnya dalam-dalam.
.............................
Tangis haru kebahagiaan sudah bergema mengiringi langkah kedua pengantin hingga acara akad dan resepsi usai.
Mayu masih melepas atribut rias basahan yang ia kenakan saat resepsi dibantu oleh teman-teman MUA dikamarnya. Reynan sudah selesai lebih dulu dan memutuskan untuk makan. Sedari tadi sibuk menyalami tamu hingga perutnya keroncongan.
"Pengantin baru makannya pelan-pelan mas Rey" goda pakde Usman, kakak dari Ibunya Mayu.
"Iya pakde, maaf saya lapar, kebetulan juga masakannnya enak" Jawab Reynan sembari mengunyah nasi yang sisa sedikit.
"Belum pakde, ribet dia"
"oh iya..ya..ya, sepertinya juga belum makan"
Reynan menelan nasi terakhirnya, benar juga yang Pakde Usman katakan, Mayu pasti lapar. Reynan memutuskan membawa makanan untuk Mayu.
Dasar wanita, make up makan waktu, hapus make up juga nelen waktu, nggak tau pasnya minum pake apa. Reynan mendekat menyodorkan Makanan dengan gelas berisi air putih.
"Wife, makan dulu" Tukas Reynan.
Mayu menoleh, apa barusan? Wife? hahaha lucu juga panggilan itu.
"Memang kamu sudah makan, Mas?"
"Sudah"
"Kok curang sih nggak bareng-bareng"
"Keburu lapar, cacing diperutku mulai membrontak"
__ADS_1
Mayu terkikik.
"Mau aku suapin?" Tawar Reynan membuat Mua yang masih sibuk membantu Mayu saling terkikik pelan.
"Nggak usah,Mas, letakin disitu aja" Kata Mayu sembari menu juk Meja kecil disamping meja riasnya.
"A.." Reynan menyodorkan satu sendok nasi kepada Mayu.
Mayu merasa semakin tidak enak melihat ekspresi MUA yang masih dikamarnya itu.
"Ayo, aaaa... buka mulutnya" pinta Reynan.
"Nanti saja.." Tolak Mayu.
"cepet Makan" Pinta Reynan seperti ibu-ibu membujuk anaknya untuk makan.
Mayu menurut saja, membuka mulutnya, membuat dua orang Mua itu saling melontarkan kata cie...., Tapi air muka Reynan terlihat biasa saja.
"Kunyah cepat"
"Ia sabar" Jawab Mayu, entah kenapa makanan kali ini terasa lebih enak, mungkin karena disuapin suami.
"Sudah selesai mba" Tukas dua Mua dan segera mengemas barang-barang mereka.
"oh iya, Terimakasih banyak ya, kalian makan dulu aja" Jawab Mayu.
"Iya mba, permisi ya"
"Iya"
Kedua Mua itu sudah keluar, tinggal Reynan yang masih sibuk memilin nasi lauk dan sayur yang akan ia suapkan untuk istri tercintanya.
"A lagi" Pinta Reynan.
Mayu menurut,"Suamiku baik banget, mau nyuapin istrinya"
"Iya, biar kamu semangat, ada tenaganya, jadi biar nanti malem aku bisa langsung beraksi" Tukas Reynan dengan senyum mencurigakan.
Beraksi?? entah kenapa kata-kata ini terdengar menakutkan.
....................
__ADS_1