
Kotak sepatu itu rencananya akan Reynan hantarkan kepada pemiliknya hari ini selepas jam makan siang, rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan Mayu, entah kenapa bayangan Mayu selalu saja mengusik ruang bawah sadarnya, suster kecil itu sangat menarik dihatinya saat ini.
Saat perjalanannya menuju kantor, wajahnya tampak ceria, mengambil ponsel didalam tas kerjanya, mulai memainkan jemarinya diatas keypad.
Send to: Memayu Hara
“selamat pagi suster kecilku”
Reynan mengirimkan pesan singkatnya untuk Mayu,”Memayu Hara, Memayu berarti mempercantik sedangkan Hara adalah tanah, mempercantik tanah, apa maksudnya?” Reynan tekikik sendiri menertawakan fikiran dan lamunannya yang mulai aneh. Kenapa gadis ini benar-benar sangat mengusik otaknya.
Reynan mulai memasuki gedung kantornya, senyumnya mengembang kesemua penjuru mata yang menatap kearahnya, setelan tuxedo matcing dengan rompi luar dan kemeja yang ia gulung hingga pergelangan, rambutnya yang dibentuk sedemikian rapi membuat penampilannya sangat segar pagi ini.
Langkahnya panjang menelusuri lantai gedung menuju lift.
Sesampainya dilantai tempat ruangannya berada Reynan segera mempercepat langkahnya, ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas menemui seseorang yang sudah sangat mengganggu difikirannya.
Terlihat para karyawannya berkerumun, seperti ada sesuatu terjadi, hingga kedatangannya yang biasa disambut para karyawan tiba-tiba terabaikan begitu saja.
Reynan bergegas menyusup ditengah karyawannya. Banyak pertanyaan terlontar dari setiap prang disana.
“Ibran ya? Kenapa?”
“nggak tau pingsan, serangan jantung kali”
“masa sih”
Suara tampak gaduh, ada yang sibuk mengambilkan air putih.
Terlihat seseorang sudah terkapar dengan wajah yang mengaduh.
Ibran disana. Reynan bergegas mendekat.
“Bantu angkat keruangan saya!” tukas Reynan memerintah.
“Baik pak” para karyawan menurut saja memapah Ibran keruangan Reynan.
Terlihat raut muka Ibran yang masih mengaduh diatas sofa ruangan, beberapa karyawan keluar dari ruangan, menyisakan Fahda disana.
“Apa yang terjadi?”
“Maaf pak, setau saya Ibran bersin, nggak tau bagaimana ceritanya langsung lemas kesakitan begini” jelas fahda.
Reynan tampak bingung.
“Aduh!!!!!!” teriak Ibran, fahda segera mengambilkan air putih dan meminumkannya.
Kini ibran memegangi punggungnya,”Maaf pak Bos”
“Kamu kenapa?” tanya Reynan khawatir, Reynan baru pernah melihat asisten super cekatan nya ini benar-benar teriak kesakitan.
__ADS_1
“Mungkin saya salah urat" Jelas Ibran.
Bukannya menolong Reynan malah tertawa, disusul Fahda yang terkikik pelan.
“Ssss sakit Bos” tukas Ibran menahan sakitnya.
“Kamu ini bodoh sekali, sejak kapan bersin membuat orang bisa salah urat begini?" tukas Reynan masih tak bisa menghentikan tawanya, asistennya benar-benar bodoh.
“Maaf pak, tapi benar juga, dulu ada karyawan disini yang mengalami hal yang sama juga” jelas Fahda.
“Benarkah?” Sahut Reynan meminta penjelasan.
“Benar Bos!” tambah Ibran masih dengan menahan ngilu nya.
"Saya fikir kamu hanya membual" Jawab Reynan singkat.
“Waktu itu Ibran membawanya kedokter” tukas Fahda.
“Betul Bos, saya yang membawanya, sekarang tolong saya Bos biarkan saya mendatangi dokter, sakit sekali Bos”
Reynan manggut-manggut, ”Cancel semua meeting saya hari ini, Saya yang akan mengantar Ibran ketempat dr.Hanan” perintah reynan kepada Sekretaris Fahda.
“Tapi Pak, meeting kali ini..”
“Saya bilang cancle ya cancle! apa gunanya kamu bekerja disini jika tidak bisa meringankan urusanku!” jelas Reynan kepada Fahda.
Fahda menurut saja, ada benarnya juga sih kata-kata Pak Reynan.
Kini Reynan yang berada dikursi kemudi, mengukir senyum bulan sabitnya sembari menambah laju mobilnya dijalan tol, tak luput mamakai kaca mata hitam. Reynan tahu harus kemana, nalurinya sangat bersemangat, kemana lagi jika tidak ke klinik dr.Hanan, dokter pribadi keluarganya itu merupakan dokter spesialis Rehab medik, sudah hal biasa menangani kasus yang seperti ini.
Reynan berfikir jika Tuhan selalu memberikan jalan tak terduga untuk mempertemukan kembali seorang pangeran dengan tuan putri.
Klinik spesialis ini tampak masih sepi, biasanya pasien akan ramai datang saat jam praktik sore. Diperjalanan Reynan memang sudah menghubungi dr.Hanan bahwa dirinya akan datang membawa Ibran untuk berobat, terlihat dari dr.Hanan yang sudah stand by didepan loby menyambut Reynan, dr.Hanan memang selalu memperlakukan siapapun dari keluarga samodra dengan sangat spesial, mungkin karena Keluarga ini sudah sangat membantunya terutama saat-saat masa mendirikan Klinik spesialis yang ia kelola saat ini, hingga keluarga Samodra adalah pemegang setengah saham dari klinik miliknya, tanpa mengambil hasil perputaran bisnis didalamnya.
Reynan baru saja sampai, Pak yudi bergegas membantu Ibran yang kemudian disusul oleh dua perawat wanita dengan membawa kursi roda, Ibran berlalu keruang periksa. Melihat keadaan Ibran, dr.Hanan hanya sempat melambaikan tangan kepada Reynan, sepenting apapun Reynan, bagi seorang dokter pasien lebih penting dari apapun, sumpah jabatan yang dr.Hanan pegang sudah sangat melekat dihari-harinya.
Reynan tampak bingung harus kemana.
“Permisi, pak Reynan yang ganteng” sapa Imel dengan nada nyelenehnya,"eh keceplosan pak, maaf"
Reynan hanya tersenyum tipis.
“Silahkan pak Rey bisa menunggu diruang pak dr.Hanan, mari saya antar” Tukas Imel.
Reynan menurut saja, pandangannya mengedar keseluruh penjuru ruangan, mengamati setiap karyawan yang berjalan sliweran sambil melempar senyum hormat kepadanya. Reynan masih belum menemukan yang ia cari sedari tadi.
“Silahkan pak” tukas imel sembari membukakan pintu.
Reynan tampak enggan untuk masuk, ia ingin menemukan yang dicari dulu, tapi rasanya tak pantas jika menolak untuk duduk. Langkahnya terhenti, diujung sana tampak ada sesuatu yang membuat matanya menciut.
__ADS_1
“Ada apa ya pak?”
“Oh nggak, itu suster Mayu bukan ya?” tanya Reynan memastikan salah seorang perawat sedang mendorong alat fisioterapy yang terlihat lumayan berat.
Imel menoleh kearah yang Reynan maksud,”Iya pak, betul sekali itu suster Mayu”
“Mau kemana dia?”
“Keruangan pasien yang tadi datang sama Pak Reynan” Jelas Imel.
“Jadi suster mayu yang nanganin Ibran asisten saya?”
“Iya pak, memang suster Mayu yang membantu menangani semua pasien dr.Hanan” jelas Imel.
“Hmmm, Sus saya mau menunggu diruangan tempat Ibran dipriksa boleh?” tanya Reynan sembari masih mengamati Mayu.
Imel terdiam, menyelidiki maksud Reynan.
“Sus?” tanya Reynan memastikan.
Mayu terlihat sudah memasuki ruangan, Reynan membayangkan tubuh sekecil itu setiap hari harus mendorong alat-alat yang tampak berat, seakan ingin segera memboyong Mayu kepelukannya.
“Iya pak boleh, silahkan”
Reynan berjalan menuju ruangan yang Mayu masuki, senyumannya tampak mengembang, perasaannya tak menentu, Reynan membuka pintu ruangan dan tampak masih mengenakan kacamata hitam.
“Masuk Rey” tukas dr.Hanan, memberi isyarat kepadanya untuk duduk.
Yudi segera keluar, mengingat ruangan periksa hanya boleh dimasuki oleh satu dokter, satu perawat, satu pasien dan satu penunggu pasien.
Reynan tampak duduk, ia sengaja tak melepas kaca mata hitamnya, matanya hanya terfokus oleh satu orang diruangan. Entah kenapa Mayu terlihat sangat Keren saat melakukan tugasnya.
Rambutnya menyerupai ekor kuda, bergerak semaunya mengimbangi gerakan tubuh Mayu. Bibirnya selalu tersenyum saat bersama pasien.
Reynan menemukan sesuatu yang baru disana, pasien saja dirawat sepenuh hati, bagaimana suaminya nanti.
“Maaf pak Ibran bisa pindah posisi miring ke kanan? Biar saya bantu” tukas Mayu.
“Sakit sus nggak bisa” tukas ibran.
Emosi Reynan tiba-tiba tersulut mendengar kalimat Ibran, bisa-bisanya dia menolak perintah Mayu, calon Bosnya juga. Reynan hanya mendengus.
Benar sekali Mayu membantu keparat itu pindah posisi rebahannya. Ibran seketika berubah menjadi asisten keparat dimata Reynan.
Dr.Hanan masih sibuk memeriksa dan sesekali memberi tahu tugas Mayu. Mayu tampak mengerti.
.
.
__ADS_1
.🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰