Memayu

Memayu
Episode 90 Firasat Yang Sama


__ADS_3

Mayu berdiri menyibak selimutnya kasar, ia berjalan menuju kamar mandi.


"Are you oke?" tanya Reynan memastikan istrinya baik-baik saja.


"Aku ora popo" jawab Mayu dengan jawa khasnya dan beranjak pergi.


Reynan menghela nafasnya, ada yang salah? seingatnya mereka baik-baik saja. Atau mungkin sedang PMS? Reynna menghela nafasnya, meraih ponselnya yang berkedip dan reflek melempar handuknya diking bed diantara lipatan selimut.


Ternyata pesan dari Ibran yang memberitahu jika Kassanda segera keluar kantor saat dirinya juga keluar. "Baru saja dicuekin sudah kelabakan, gimana kalo benar-benar ditinggal" dengusnya dalam hati. Sembari masih tak menyangka mantan istrinya datang untuk meminta tolong.


Suara pintu wardrob terbuka.


Reynan melirik dengan mata pojoknya, dia tak berani bertanya sepatah katapun.


Mayu keluar dengan pakaian yang sama, dia tidak mandi? biarlah, Reynan tak mau berkomentar.


Mayu berjalan lurus kearah suaminya, berharap Mayu akan menyapa, Reynan meletakkn ponsel dan tersenyum nakal. Tapi Mayu tak melihatnya dan malah berjalan lurus melewatinya, memilih keluar dari kamar, menutup pintu begitu saja.


Renan semakin heran dibuatnya.


Mayu berjalan gontai menuju dapur.


Mama masih duduk diruangbtengah, membaca majalah dan menyalakan TV.


"Hallo Ma..."


"Hay...Sudah bangun?"


"Sudah" jawab Mayu membuka kulkas dan meraih air dingin didalamnya.


"Eh ada Bu Mayu" Sapa Eni yang baru masuk dapur dari pintu belakang.


"Masak apa mba hari ini?"


"Ada rendang sama perkedel Bu"


Mayu manggut-manggut sambil meminum air dingin digelasnya,"Saya boleh minta tolong ambilin nasi sama rendangnya aja nggak?"


"Boleh Bu, saya ambilkan ya"


"Iya, emmm tapi saya makan diruang tengah ya En"


"Iya Bu" jawab Eni segera mengambilkan pesanan Mayu, Nyonya Bosnya tak biasa seperti ini.


Mayu berjalan membawa air digelasnya dan dusuk disofa sebelah Mama duduk.


"Ada rendang May, Eni yang masak, makan gih"


"Lagi diambilin Eni Mah"

__ADS_1


Mama melirik menantunya, melihat Mayu tak biasanya sudah sore begini belum mandi, rambutnya sedikit acak-acakan, makan juga tumben diruang tengah, minta diambilin eni pula.


"Ini Bu" Tukas Eni meletakan Pesanan Mayu dimeja"


"Makasih ya En"


"Iya Bu, Eni kebelakang lagi ya, nanti kalo ada apa-apa panggil saja"


"Iya, makasih ya en"


"Sama-sama Bu"


Mayu masih menyenderkan tubuhnya disofa.


Reynan baru keluar kamar, berjalan menjju ruang tengah dan duduk disofa panjang yang Mayu duduki pula.


"Siapa yang mau makan?" tanya Reynan melihat piring nasi ada dimeja"


"punyaku Mas"


"Oh, dimakan dong, keburu dingin lho"


Mayu mengangguk dan memandang piring didepannya tak selera,"Aku kok ngantuk banget ya?" Tukas Mayu membuat Mama dan reynan saling melempar pandangan.


"Kamu sakit? mau dipanggilin dokter?" tanya Reynan yang mendadak kawatir.


"Aku ngantuk Mas, bukan sakit"


"Ya terus nggak boleh tidur lagi gitu? nanti kalo jadi tambah ngantuk, terus aku nggak tidur, terus jadi pusing gimana?" Jawab Mayu sewot sendiri.


Reynan memilih diam.


"Makan dulu habis itu tidur aja May" tukas Mama.


Mayu meraih piring didepannya, melihat nasi putih yang masih hangat menampakan asap lembutnya, dan gulungan daging dengan bumbu rendang yang kental seharusnya menggoda, itu adalah perpaduan yang epic, sebenarnya itu sudah membuat selera makannya kembali, tapi kali ini dia urung dan hanya mengacak-acak nasinya saja,"En.... Eni...." panggil Mayu.


Eni segera datang,"Saya Bu?"


"Bawa piring sama gelasnya kedapur ya" perintah Mayu menyodorkan piringnya.


"Loh kok nggak dimakan bu?"


Reynan dan Mama hanya saling diam.


"Saya udah kenyang"


"Lahh... gimana ceritanya belum mkaan sudah kenyang" sahut Eni.


Mayu menghela nafas, merasa betul-betul mengantuk,"Bawa saja kedalam ya"

__ADS_1


"Iya Bu" Eni segera membawa piring berisi nasi itu kedapur.


Mayu berdiri dan beranjak pergi, tak meninggalkan satu patah katapun.


Reynan dan Mama menatapnya penuh curiga, memandangi punggung Mayu hingga masuk kedalam kamar.


Mayu menutup pintu kamarnya.


Mama menatap Reynan.


Begitupun Reynan.


Mereka saling tahu tanpa mengucap, menebak-nebak sesuatu telah terjadi kepada Mayu.


"Rey..."


"Iya Ma, mudah-mudahan"


Mama dan Reynan sama-sama tersenyum cerah. Yang ada dibenak mereka ternyata sama.


"Reynan mau keluar dulu Ma"


"Mau kemana? gak usah panggil dokter, dia lagi bad mood, nunggu sampe mau diajak ngobrol aja baru kamu ajakin kedokter"


"Reynan mau beliin testpack dulu Ma"


"Kamu yang mau beli?"


"Iya, kenapa emang Ma"


"Nanti kalo Mayu nyariin kamu terus kamu nggak ada malah jadi tambah Bad Mood dianya"


"Iya juga ya Ma"


"Nyuruh Eni apa fitri aja sana, diminimarket juga ada"


"Gitu ya Ma?"


"Iya"


"Yaudah deh" Reynan bergegas memanggil Eni yang kemudian Fitri yang datang.


"Maaf Tuan Bos, mba Eni lagi makan"


"yaudah deh kamu saja, aku mau minta tolong beliin sesuatu"


"Iya tuan Bos"


"Sebentar saya ambil uangnya ya"

__ADS_1


"Iya"


Reynan bergegas mengambil uangnya didalam kamar.


__ADS_2