
Jakarta, Selasa 10:00
"Apakah benar jika kelongsoran ini terjadi karena kebijakan anda yang tak mementingkan keselamatan penambang?"
"Kenapa saat kejadian anda sangat susah dihubungi?"
Bermacam pertanyaan telah sampai ditelinga Reynan,"Selamat siang, terimakasih atas pertanyaan dan berita simpang siurnya, selama ini belum pernah terjadi suatu kejadian yang tentunya sangat saya sesali karena telah menewaskan pegawai saya, nomor satu saya akan bertanggung jawab, kedua saya akan pelajari penyebabnya dan melakukan Observasi serta peningkatan keamanan terutama untuk setiap penambang, terimakasih" Jawab Reynan dengan lantang dan tegas kemudian berlalu dan masuk kedalam gedung kantornya, diapit oleh Yudi dan beberapa satpam lainnya.
Reynan merasa sangat gusar, ingin segera mendengar keabsahan peristiwanya.
Dia datang tanpa memberi tahu siapapun termasuk Hendra, langkahnya panjang menyusuri gedung kantor warisan Papanya, Reynan menuju lift, menunggunya belum ada setengah menit, dia sudah tak sabar, Reynan memutuskan untuk melewati tangga agar cepat sampai diruangan Hendra. Rasa penasarannya sangat meledak-ledak, longsor tak akan mungkin terjadi begitu saja, jelas ada sesuatu.
Sesampainya dianak tangga paling atas, ia segera berbelok menuju ruangan Pak Hendra, beberapa pasang mata melihatnya, saling menunduk dan berdiri dari kursi.
Para Karyawan tak seramah biasanya, mereka terlihat tegang.
Reynan segera membuka pintu ruangan sesaat setelah sampai.
Ia mengedarkan pandangannya keruangan, membaca suasana yang nampaknya salah. Hendra terkejut melihat kedatangan Reynan.
Tiga orang yang duduk didekat Hendra segera berdiri, memberi petunjuk jika yang dilihat Reynan bukan yang sebenarnya.
Bagaimana mungkin disituasi perusahaan yang sedang ada masalah besar ini, justru Hendra sedang asik duduk dikursi bersama seorang wanita yang Reynanpun tahu itu bukan istrinya, lalu didepannya seorang laki-laki, Reynan baru melihatnya, dan satu perempuan lagi, Kassandra, sedang apa dia disini? keterlaluan! sangat memalukan! Reynan mencium gelagat tak beres dikantor Papa.
"Pak Reynan" Sapa Hendra dengan kedua tangannya yang membuka lebar, memberi salam kepada Reynan. Sembari mendekati Reynan dengan wajah tegang yang sudah berubah ramah.
Reynan tak merespon sama sekali.
"Oh ya, silahkan duduk, Pak Tito ini adalah Pengawas operasional ditambang bawah tanah kita, dia yang akan menjelaskan kejadian sebenarnya yang terjadi disana,Pak. Pak Reynan boleh duduk, mari pak" tukas Hendra memperkenalkan Tito sembari menyiapkan kursi untuk Reynan duduki.
"Saya tunggu diruangan saya saja" Tukas Reynan segera berlalu menuju ruangannya.
Seperti punya tujuan yang lain, Kassandra mengejar Reynan. Langkah panjangnya menyamai Reynan,"Rey, Rey kamu apa kabar? aku turut prihatin ya atas kejadian ini?"
Reynan sedikit menoleh,"Iya, terimakasih"
Mendengar jawaban Reynan, Kassandra mendadak percaya diri,"mmm nanti siang kita bisa lunch bareng kan?"
__ADS_1
Reynan berhenti seketika, benar-benar menoleh sepenuhnya kepada Kassandra, dia tersenyum bengis,"Boleh saja, tapi saya takut selera makan saya akan hilang, jadi lupakan saja ajakanmu itu, kamu bisa pergi dengan Bimo, hmm atau siapa itu? Pak Tito" Reynan kembali meneruskan langkahnya, memasuki ruangan dan meninggalkan mantan istrinya itu.
Reynan sudah berlalu dari pandangannya, Kassandra merasa ada sesuatu yang hilang, benar-benar hilang, cintanya yang sudah tak lagi dia temukan dimata Reynan. Hanya kebencian saja. Padahal dia tak semudah itu melupakan Reynan. Benarkah ini sebuah hukuman? tidak!
Toni dan Hendra sudah sampai didepan ruangan Reynan, keduanya tampak tegang, mereka segera masuk keruangan.
Tak lama Ibran juga sampai, berjalan melalui Kassandra dengan tatapan datar dan masuk kedalam ruangan Bosnya.
Toni sedang menjelaskan kronologi kejadiannya,"Harusnya saat ledakan terjadi, para penambang sudah meninggalkan lereng, tapi ternyata masih banyak yang berada didalam" Jelas Tito,"Polisi sudah mengamankan operator peledakan" Imbuhnya.
Reynan tertegun,"Anda yakin ini murni kesalahan operator? apakah anda punya bukti?" tanya Reynan, belum ada jawaban disana, tapi Reynan punya satu hal, CCTV pasti berfungsi,"Bagaimana dengan CCTVnya?"
"Seharusnya itu juga berfungsi, tapi saat itu CCTv mengalami kerusakan" jelas Tito.
Reynan merasa ada yang aneh, dia harus melakukan sesuatu.
"Ibran!" Panggil Reynan.
Ibran segera mendekat.
"Kalian boleh keluar" pinta Reynan kepada Hendra dan Tito.
"Gila!" tukas Reynan sesaat setelah mereka keluar.
Ibran dengan seksama mendengarkan Bosnya.
"Bantu saya untuk bertemu dengan operator peledaknya, hari ini juga kita terbang ke lokasi, tanpa dua orang itu tau!"
"Baik Bos"
"Siapkan penerbangannya sekarang!"
"Baik" Ibran segera berlalu.
...........
Tak menunggu lama, Helikopter yang akan membawanya terbang sudah terparkir dihelipad gedung kebanggaan keluarganya. Reynan pergi ditemani Ibran, dan Satu pilot lainnya.
__ADS_1
...........
New york, Selasa 00:07
"Madam.... Mayu, are you oke? open the door please" Tukas Lany mengetuk pintu kamar Mayu,"setidaknya makanlah untuk bayimu" Imbuhnya.
Mayu masih meringkuk, kenapa ia susah sekali untuk mengerti atau hanya sekedar memahami.
"Mayu.... please" sahut Lany.
Mayu tergetar hatinya, seperti apapun keadaannya, bayinya tak boleh menjadi korban. Ia bangun dan membuka pintunya.
Lany menghela nafas panjang, dia yang paling hawatir saat ini.
Mayu berjalan gontai, menduduki sofa panjang didekat kaca besar, ia memakan sepotong roti dan susu, jelas bukan makanan favoritnya, Reynan belum menghubunginnya hingga langit new york sudah menghitam.
Lany menatapnya ragu, takut-takut jika Mayu bertanya tentang Reynan, karena diapun tak bisa manghubunginya sedari tadi.
...........
Helikopternya akan mendarat, suara Ht sudah bergema, beberapa orang sudah menyambutnya disana.
Reynan turun setelah helikopternya berhasil mendarat, ia sudah melepas jas dan dasinya, mengenakan kemeja yang ia gulung hingga siku. Pegawainya yang berseragam perusahaan lengkap menyambutnya, menjabat tangan dan menyodorkan mantel rompi pelindung dan helm kepadanya dan Ibran, suasane pertambangan masih ramai media.
"Sudah ada tambahan korban yang ditemukan?" Tanya Reynan kepada Fahri, penanggung jawab teknik dan lingkungan.
"Belum pak, longsorannya sangat dalam, Anggota keluarga korban sudah disini sejak kejadian"
Reynan tertegun mendengar pernyataan Fahri.
Ia segera melihat lokasi yang sudah berada pada tahap pencarian, kemudian menyambangi keluarga korban yang sudah menginap sehari semalam dilokasi pencarian. Mengerahkan lebih banyak tim sar untuk membantu pencarian korban.
Reynan berjanji akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini, dan memastikan tidak akan ada lagi kejadian serupa kedepannya.
Belum ada dua jam Reynan disana, tim sar berhasil menemukan 5 korban lagi, dua diantaranya sudah meninggal dan tiga dalam keadaan kritis. Ada rasa sedikit lega yang diiringi kesedihan.
Namun ditengah kalutnya masalah perusahaan, Ditemani fahri, Reynan mengecek seluruh bagian dari CCTv.
__ADS_1
Dia mendengarkan dengan seksama penjelasan Fahri, bahwa dua jam terakhir diCCTv dilokasi sudah tidak menyala, sehingga tim memutuskan jika operator yang salah mengatur waktu saat peledakan, sirine peledakan tak berbunyi, dan ledakan terjadi saat penambang masih berada dibawah. Polisi juga segera membawa operator peledak satu jam setelah kejadian.
"cek rekaman CCTV satu minggu lalu, dan antarkan saya menemui operator peledaknya" tukas Reynan.