
"Kenapa lu bro, kusut amat tuh muka. Kayak pakaian belum disetrika" ucap Dika, teman satu divisi Adam.
Setelah pertengkarannya semalam dengan Elfira, istrinya itu masih tetap saja mendiamkannya. Elfira benar-benar serius ingin minta cerai darinya.
Adam sangat menyesal sekarang, kenapa dia harus bermain api dibelakang istrinya, dan sekarang ketika istrinya itu tau yang sebenarnya, kisah rumahtangganya sekarang sedang berada di ambang kehancuran.
"Gak tau lah bro, pusing kepala gue." jawab Adam tak semangat.
"Ada masalah lu"
"Bini gue minta cerai bro"
"What. Kok bisa" Dika sangat terkejut mendengarnya, sepanjang yang dia tau, selama ini Adam dan istrinya tak pernah ada masalah apapun. Mereka selalu terlihat harmonis, Dika adalah salah satu teman dekat Adam di kantor. Tapi dia tidak tau apa yang sudah dilakukan Adam dibelakang Elfira, terutama soal wanita lain yang ada dalam hidup Adam.
"Panjang ceritanya, kapan-kapan deh gue cerita"
Dika pun tak memaksa Adam untuk bercerita, dia masih menghargai privasi sahabatnya itu.
"Gimana kalo kita ngopi dulu di kantin, kali aja bisa bantu nenangin pikiran lu" ajak Dika.
"Boleh deh" Adam pun meng iya kan ajakan Dika.
keduanya berjalan bersama keluar dari ruangan menuju kantin yang ada di bawah.
...****************...
"Bagaimana projek dengan PT. Alam Sejahtera, sudah sampai mana progresnya" tanya Erlangga pada Naufal, Manajer Projek divisi desain grafis.
Tadi pagi, sekretaris dari pihak PT. Alam Sejahtera menanyakan perkembangan proyek yang sedang mereka tangani.
Naufal tampak takut-takut saat ingin menjawab, karena perkembangannya masih dibawah target.
"Maaf pak, sejauh ini baru mencapai 75 persen pak"
"Apa. Kenapa hanya segitu saja, ini sudah terlalu lama loh dari tenggat waktu yang saya berikan. Harusnya sudah mencapai 100 persen" bentak Erlangga.
"Maaf pak, tolong berikan saya waktu satu Minggu lagi. Saya janji semuanya akan selesai Minggu depan" ucap Naufal meminta tambahan waktu.
"Saya bisa saja memberikan kamu tambahan waktu, tapi kamu tau sendiri kan bagaimana klien kita yang satu ini"
PT. Alam Sejahtera adalah salah satu klien perusahaan Erlangga yang sedikit cerewet. Pimpinannya selalu menginginkan hasil yang sempurna dan tepat waktu, dia tidak suka dengan keterlambatan.
"Apa yang menjadi kendala dalam projek ini, biasanya tim kamu selalu bisa menyelesaikan projek tepat waktu" tanya Erlangga.
Naufal bingung harus menjawab apa, dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi dia juga tidak ingin anggota tim nya dalam masalah.
__ADS_1
"Apa ada salah satu anggota tim mu yang membuat masalah, hingga projek ini tidak bisa selesai tepat waktu" seolah bisa membaca pikiran orang lain, Erlangga mengatakan apa yang ada dalam pikiran Naufal.
"Itu, maaf pak. Saya akan segera menyelesaikannya" ucap Naufal yang masih ingin melindungi anggotanya.
'Haah'
Erlangga menghela nafasnya. "Saya tidak tau apa yang sedang kamu tutupi atau siapa yang sedang kamu lindungi. Tapi apapun itu, saya harap besok semuanya sudah selesai. Saya tak mau menunggu lebih lama lagi"
"Terimakasih pak atas penambahan waktunya, saya akan pastikan semuanya akan selesai besok" ucap Naufal sambil menunduk, tak berani menatap mata Erlangga.
"Baiklah, saya tunggu janji kamu sampai besok pukul 5 sore. Lewat dari itu, saya terpaksa harus memecat kamu dan semua anggota tim mu. Mengerti"
"Mengerti pak"
"Silahkan kembali ke ruangan mu"
"Baik pak"
***
"Dimana Adam" tanya Naufal pada Eko, salah satu staff divisi desain grafis.
"Tadi sih pergi ke kantin pak sama Dika, katanya mau ngopi dulu" jawab Eko takut-takut.
"Sekarang juga kamu panggil Adam dan suruh dia ke ruangan saya"
"Baik pak"
Naufal pun kembali ke ruangannya dengan perasaan marah, sudah satu bulan ini Adam selalu membuat masalah. Pekerjaannya tak pernah selesai, progres kerjanya juga mulai menurun, bahkan dia lebih sering absen.
Selang 15 menit kemudian, seseorang yang tak lain adalah Adam mengetuk pintu ruangan Naufal. Setelah dia mempersilahkan orang itu masuk, Adam pun langsung masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan meja kerja Naufal.
"Bapak mencari saya" tanya Adam
"Ya, kamu tau kenapa saya panggil kamu kemari"
"Enggak pak"
"Sudah sampai mana materi publisitas yang saya minta untuk PT. Alam Sejahtera."
"Belum saya buat pak" jawab Adam pasrah. Karena permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya, membuat Adam tak bisa fokus bekerja. Bahkan materi yang diminta oleh Naufal pun belum dikerjakannya.
"Kamu ini niat kerja gak sih, kamu tau kan, seharusnya materi itu sudah selesai dari kemarin. Dan tadi pak Erlangga menegur saya karena progres pekerjaan dari divisi kita tidak mencapai target. Kamu tau apa yang beliau katakan pada saya" tanya Naufal yang di jawab Adam dengan gelengan kepala saja.
"Beliau akan memecat kita semua kalau projek ini tidak bisa selesai sampai besok sore. Itu artinya kita semua akan kehilangan pekerjaan ini, kamu tau kan, bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di jaman sekarang ini"
__ADS_1
"Maaf pak, gara-gara saya bapak harus..."
"Saya tidak butuh maaf kamu," potong Naufal cepat. "Yang saya butuhkan adalah progres kerja kamu. Dan saya lihat kinerja kamu belakangan ini juga menurun."
Adam hanya diam tertunduk, dia sadar bahwa dirinya salah. Dan Adam juga tidak bisa menyangkal bahwa apa yang dikatakan Naufal adalah benar.
"Saya tidak tau permasalahan apa yang sedang kamu hadapi, tapi saya minta sama kamu, apa pun itu masalah kamu, tolong jangan kamu bawa ke kantor ini. Cukup kamu tinggalkan di rumah saja"
Naufal terdiam sejenak memperhatikan raut wajah Adam yang tak biasa, ada sedikit rasa iba dalam hatinya melihat anggota tim nya ini.
"Ini adalah peringatan pertama dan terakhir buat kamu. Dan saya akan beri kamu satu kesempatan lagi, saya mau kamu selesaikan materi yang saya minta itu hari ini juga. Terserah mau kamu lembur atau kamu bawa pulang, yang penting nanti malam pukul 8 harus sudah kamu kirimkan ke email saya. Karir kita semua bergantung pada kinerja kamu hari ini. Paham kamu"
"Paham pak, terimakasih banyak karena sudah memberikan saya kesempatan" ucap Adam tulus.
"Saya harap kamu bisa menyelesaikannya hari ini juga, atau kita semua akan di pecat. Kamu tau kan, pak Erlangga tidak akan pernah main-main dengan ucapannya"
"Saya mengerti pak, saya janji akan menyelesaikannya hari ini juga. Dan saya akan bekerja dengan lebih baik lagi" janji Adam sungguh-sungguh.
"Ya sudah, kamu boleh kembali dan selesaikan materinya secepat mungkin"
"Baik pak, saya permisi dulu" Adam berdiri dan membungkukkan tubuhnya di depan Naufal, lalu dia pergi dari ruangan itu tanpa ada senyum sedikitpun di wajahnya.
"Haah. Ada-ada saja masalahnya" gumam Naufal setelah Adam pergi dari ruangannya.
Sementara itu, Dika yang melihat Adam keluar dari ruangan Naufal dengan wajah di tekuk pun jadi bertanya-tanya.
"Lu kenapa bro, perasaan makin kusut aja tuh muka" tanya Dika.
"Biasalah Dik, pak Naufal marah karena materi publisitas buat PT. Alam Sejahtera belum gue buat" jawab Adam lesu.
"Lah, kok bisa. Emangnya lu ngapain aja selama ini, itu kan materi di kasih dari dua Minggu yang lalu. Masa belum kelar juga"
"Gue lagi banyak masalah belakangan ini, Dik. jadi gak bisa fokus kerja gue"
"Lu yang sabar ya, mungkin gue gak bisa bantu elu. Tapi gue doain semoga permasalahan lu cepat selesai, jadi lu bisa fokus kerja lagi" Dika dengan tulus mendoakan sahabatnya itu, padahal dia tidak tau permasalahan apa yang dialami oleh Adam.
"Makasih, Dik. Elu emang sahabat gue yang paling pengertian"
Adam pun mulai mengerjakan materi yang diminta oleh Naufal. Malam ini sepertinya dia harus lembur, agar bisa segera menyelesaikan pekerjaannya.
Permasalahan yang di alami oleh Adam benar-benar membuat pekerjaannya menjadi terbengkalai, dan hari ini dia harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya itu.
...****************...
bersambung....
__ADS_1