
Di dalam kamarnya, Elfira sedang bersiap-siap. Tadi pagi Erlangga menghubunginya dan akan mengajaknya ke rumah lelaki itu untuk bertemu dengan mamanya. Elfira sempat terkejut mendengar ajakan Erlangga, karena yang dia tahu hubungan mereka hanyalah sebatas rekan kerja saja. Jadi, kenapa Erlangga bisa sampai mengajaknya ke rumahnya. Bahkan sampai memperkenalkan dirinya dengan mama nya pula. Sudah seperti pacar yang akan di perkenalkan dengan calon mertuanya saja.
Akh, Elfira berfikir terlalu jauh. Jujur saja, dari sudut hatinya yang terdalam, Elfira mulai merasa nyaman dengan lelaki itu. Sikap Erlangga yang sopan dan selalu menghargai Elfira membuat wanita itu terpesona dengannya. Bahkan Anin pun juga sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Erlangga.
"Bunda!" teriak Anin sambil menggedor pintu kamar ibunya.
"Masuk saja sayang, gak bunda kunci kok!" sahut Elfira dari dalam kamarnya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampaklah Anin yang sudah siap dengan memakai tunik dan celana yang senada. Anak itu berlari menghampiri ibunya sambil membawa hijabnya.
"Anin juga mau memakai hijab seperti bunda," ucap Anin sambil menyodorkan hijab di tangannya kepada Elfira.
Elfira tersenyum melihat anaknya yang begitu menggemaskan. Ia pun berjongkok di depan Anin untuk menyamakan tinggi badannya lalu mulai memakaikan hijab pada anaknya itu.
"Selesai," ucap Elfira setelah selesai memakaikan hijab pada Anin. Ia lalu menarik Anin hingga ke depan cermin dan memperlihatkan hasilnya kepada anaknya. "Gimana, Anin suka gak?"
"Suka banget, makasih ya bunda," ucap Anin seraya memeluk ibunya.
"Yuk kita tunggu om Erlangga di bawah," ajak Elfira lalu berjalan dengan bergandengan tangan.
...****************...
"Assalamualaikum."
Erlangga mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Pintu terbuka dan tampak Anin berdiri di sana.
"Waalaikumsalam, om Elang." Anin mengulurkan tangannya minta di gendong oleh Erlangga. Dengan senang hati Erlangga menggendong anak itu sambil menciumi pipi Anin hingga membuat anak itu kegelian.
"Sudah om, jangan ciumi pipi Anin terus nanti bedak Anin habis," celoteh Anin di tengah-tengah tawanya.
"Habisnya Anin cantik banget, om jadi gemes pengen cium pipi Anin terus."
"Kamu kapan datangnya Er?" tanya Elfira. Tadi saat sedang menunggu di ruang tamu, Elfira mendadak sakit perut. Maka dari itu, dia ijin dengan Anin untuk ke toilet sehingga dia tidak tau kalau Erlangga sudah sampai di rumahnya.
"Baru aja kok," jawab Erlangga seraya menurunkan Anin dari gendongannya. "Kita berangkat sekarang?" tanya Erlangga.
__ADS_1
"Ayo," seru Anin dengan semangat 45.
Kini ketiganya berjalan bersama menuju mobil Erlangga yang di parkirkan di luar gerbang rumah Elfira. Setelah ketiganya masuk ke dalam mobil, Erlangga pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Karena Wulan sudah menunggu kedatangan Elfira di rumah.
Dua puluh menit kemudian, mobil Erlangga memasuki komplek perumahan elit yang tak asing bagi Elfira. Wanita itu memperhatikan setiap jalan yang dilaluinya. Ia merasa pernah memasuki area ini saat mengantarkan Wulan pulang. Namun, Elfira berpikir jika mungkin saja Wulan dan Erlangga tinggal di komplek yang sama.
Mobil Erlangga berhenti di depan rumah besar yang di dominasi warna cream dan pagar berwarna putih.
"Ini kan ... " gumam Elfira yang masih bisa di dengar oleh Erlangga.
"Kenapa Fir?"
"Gak apa-apa," jawab Elfira.
Erlangga pun tidak terlalu menanggapinya, ia mengajak Elfira dan Anin untuk masuk ke dalam rumahnya. Sama seperti Elfira tadi, Anin juga merasa tak asing dengan rumah itu.
"Bunda, ini rumahnya nenek kan?" tanya Anin sambil berbisik di telinga ibunya.
"Kayaknya sih iya," balas Elfira yang juga ikut berbisik.
"Kalian sudah sampai?" tanya Wulan yang tiba-tiba sudah berada di ruang tamu.
Anin langsung berlari menuju ke arah Wulan begitu melihat wanita paruh baya itu.
"Nenek!" teriak Anin sambil berlari. Wulan pun menyambut Anin lalu menggendongnya. Dan tentu saja hal itu membuat Erlangga heran. Pasalnya baru kali ini dia membawa Elfira dan Anin ke rumahnya, tapi kenapa Anin bersikap seolah-olah sudah pernah mengenal ibunya.
"Anin apa kabar?" tanya Wulan pada Anin yang sedang digendongnya.
"Baik nek, Anin kangen banget sama nenek."
"Nenek juga kangen sama Anin."
"Bu," sapa Elfira sambil mencium tangan wanita itu.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Erlangga kebingungan.
__ADS_1
"Elfira pernah menolong dan mengantarkan mama pulang," jawabnya dan Erlangga hanya manggut-manggut saja. "Kita langsung ke ruang makan saja yuk, kalian pasti sudah lapar kan." wulan mengajak Elfira dan Anin, diikuti Erlangga di belakangnya.
...****************...
Setelah selesai makan siang, Wulan mengajak Elfira dan Anin duduk-duduk santai di gazebo belakang rumah. Wulan dan Elfira mengobrol di gazebo sambil memperhatikan Anin yang sedang bermain bersama Erlangga.
"Saya gak nyangka ternyata perempuan yang di maksud oleh Erlang itu adalah kamu Fir. Tau gitu dari dulu saja saya suruh Erlangga bawa kamu ke rumah ini," ucap Wulan membuat Elfira mengerutkan alisnya.
"Maksudnya?" Elfira sungguh tak mengerti dengan perkataan Wulan. Memangnya kenapa dirinya harus diperkenalkan dan dibawa ke rumah ini.
"Memangnya Erlangga belum bilang apa-apa sama kamu?" Elfira menggeleng tak mengerti. "Ish, dasar anak itu. Lambat sekali gerakannya," omel Wulan sambil memandangi Erlangga. Sungguh, Elfira semakin tak mengerti.
"Oh iya Fir, kamu ini masih bersuami atau ... "
"Saya janda Bu," jawab Elfira cepat, ia mengerti maksud dari pertanyaan Wulan.
"Lalu mantan suami kamu?"
"Dia di penjara." Elfira pun menjelaskan tentang masa lalunya kepada Wulan. Bagaimana pernikahannya dulu, dan bagaimana dia berjuang untuk bisa berpisah dengan mantan suaminya hingga lelaki itu masuk penjara. Tak lupa juga ia menceritakan bagaimana perjuangannya untuk bisa bangkit dan bertahan hidup.
Wulan sampai terharu mendengar cerita Elfira. Dia tak menyangka kalau wanita yang ada dihadapannya ini adalah sosok wanita tangguh. Meskipun dia sudah tidak memiliki suami dan tak ada yang menafkahinya, Elfira tetap tidak patah semangat. Ia terus berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup. Elfira juga harus menjadi tulang punggung agar bisa menafkahi anaknya dan hidup sebagai single parent.
Wulan jadi teringat bagaimana dulu ia saat di tinggal pergi oleh suaminya untuk selama-lamanya. Sosok Elfira mengingatkan Wulan akan dirinya dulu saat masih muda.
"Ibu salut sama kamu, masih muda tapi kamu tidak mau bergantung kepada orang lain. Kamu mandiri dan kamu adalah wanita yang hebat," Wulan memuji Elfira membuat wanita itu tersipu.
"Ah ibu bisa saja, saya jadi malu." Elfira pun tertunduk malu.
Wulan mengambil tangan kanan Elfira lalu membawanya ke dalam pangkuan Wulan dan menggenggamnya.
"Fir, saya ada satu permohonan sama kamu."
"Apa itu Bu?"
"Menikahlah dengan Erlangga."
__ADS_1
...****************...