
Rumah keluarga Adam.
Seperti biasanya, pagi ini Adam beserta anak dan istrinya sedang sarapan bersama. Pagi yang tenang membuat Adam merasakan kedamaian. Namun, hal itu dia rasakan hanya sesaat saja.
"Pa, nanti siang mama ijin pergi sama teman-teman arisan mama ya," ucap Sandra memecah keheningan.
"Mau pergi kemana lagi sih Ma, perasaan kemarin kamu baru saja pergi sama teman-teman kamu itu."
"Itu kan kemarin Pa, hari ini ya beda lagi lah."
"Apa beda nya, toh kalian pergi hanya untuk belanja kan. Sudahlah, apa lagi yang mau kamu beli. Baju, tas, sepatu, perhiasan? Semuanya masih ada itu di dalam lemari kamu," omel Adam yang sudah mulai muak dengan kegiatan istrinya yang selalu pergi ke luar negeri dan menghabiskan uang.
"Ck. Ya beda dong Pa, kalau kemarin kami belanja ke Singapore, dan hari ini kamu mau belanja ke Thailand. Rencana kami satu minggu di sana sekalian jalan-jalan Pa."
"Tidak! Aku tidak mengijinkan kamu untuk pergi!" Dengan tegas Adam melarang istrinya. Jika terus di turuti maka Sandra akan semakin merajalela.
"Kamu ini kenapa sih Pa, Mama kan cuma pergi sama teman-teman Mama." Sandra pun menjadi emosi karena Adam tak mengijinkannya pergi. Padahal dia sudah berjanji dengan teman-temannya kalau dia akan pergi dan dia juga yang akan membelikan tiket ke Thailand.
"Pokoknya kalau papa bilang tidak boleh ya tidak boleh!" bentak Adam tak kalah emosi. "Satu bulan ini kamu selalu pergi dan tidak pernah ada di rumah. Apa kamu tidak peduli lagi dengan keluarga ini? Dengan anak-anak yang butuh perhatian dari kamu?"
Sandra beralih menatap kedua anaknya yang hanya diam saja sejak tadi. Kemudian kembali menatap suaminya.
"Mereka sudah besar dan sudah bisa mengurus diri sendiri."
"Meskipun begitu, kamu tetap harus meluangkan waktu kamu untuk mereka. Itu tugas kamu sebagai seorang ibu."
"Jangan bawa-bawa tugas seorang ibu di sini, memangnya sebagai ayah, kamu sudah memberikan yang terbaik buat kami? Kamu sendiri juga tidak pernah punya waktu buat keluarga ini kan."
"Itu karena aku sibuk bekerja, toh uangnya untuk kalian juga. Dan kalian juga yang menghabiskannya kan."
"Halah. Kamu memang paling bisa beralasan, dari dulu kamu selalu menggunakan alasan bekerja hanya untuk membela diri."
"SUDAH CUKUP!" teriak Axel. Dia sudah muak mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Baik Sandra mau pun Adam, keduanya sama saja di mata Axel. Sama-sama tidak bisa meluangkan waktu untuk keluarga.
"Apa kalian tidak bosan terus-terusan bertengkar? Dan kenapa harus bertengkar di depan kami? Apa kalian tidak bisa menghargai perasaan kami?"
__ADS_1
"Kalian berdua itu sama aja, sama-sama egois. Kalian tidak pernah peduli sama kami, yang kalian peduli kan itu cuma diri kalian sendiri. Lebih baik kami jadi anak yatim piatu dari pada punya orang tua tapi tidak peduli dengan anak-anaknya."
"AXEL!" bentak Adam emosi.
"Apa Pa! Papa tidak perlu berteriak, apa yang Axel bilang tadi memang kenyataan. Papa sama mama itu sama aja," tantang Axel.
"Axel. Yang sopan kamu kalau bicara," tegur Sandra.
"Sopan yang bagaimana yang mama maksud? Lagian mama tidak perlu mengajari Axel sopan santun. Harusnya sebagai orang tua, kalian memberikan contoh yang baik pada kami. Bukan seperti yang kalian lakukan tadi. Axel muak tinggal di rumah ini."
Dengan nafas tersengal, Axel mengeluarkan semua emosi yang sejak tadi di tahannya. Rasanya dia sudah muak berada di dalam rumah yang bagai neraka itu. Tak ada kehangatan sama sekali, yang ada hanya pertengkaran dari kedua orang tuanya dengan masalah yang itu-itu saja.
Axel pun menyudahi sarapannya dan mengenakan ranselnya lalu mengajak sang adik yang tampak ketakutan sejak tadi.
"Ayo dek, Abang antar kamu ke sekolah," ajak Axel.
Dengan kepala yang masih tertunduk, Nayla menyandang tas ranselnya lalu menyusul Axel tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya. Tak beda jauh dengan Axel, Nayla pun juga merasakan hal yang sama. Hanya saja dia tidak seberani Axel yang bisa blak-blakkan mengeluarkan isi hatinya.
Akhirnya pagi itu, sarapan pagi bersama yang harusnya di penuhi dengan canda dan tawa serta obrolan antar keluarga, kini menjadi sarapan pagi terburuk dalam keluarga itu. Jauh dari kata harmonis dan keluarga bahagia.
...****************...
Sampai di toko, Adam tak bisa fokus bekerja. Ia terus mengingat perkataan Axel. Adam jadi berpikir, selama ini dia memang belum bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya. Terutama bagi Anin, anak pertamanya bersama Elfira. Sejak dia berpisah dengan mantan istrinya itu, tugas Adam sebagai ayah telah di gantikan oleh orang lain.
"Haah"
"Ini semua salah ku, andai saja dulu aku tidak mengikuti nafsu, mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama Elfira dan Anin," gumam Adam menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Andai waktu bisa di putar kembali, aku pasti akan merubah diriku menjadi lebih baik lagi," lanjutnya lagi.
Adam memang sangat menyesali semua perbuatannya, tapi itu semua sudah terjadi dan tak bisa di ulang kembali. Sekarang Adam harus bisa menerima akibat dari perbuatannya.
Saat Adam sedang memikirkan masa lalu nya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk. Adam membukanya, transaksi pembelian tiket ke Thailand.
Adam kesal dengan istrinya yang tetap nekad pergi meski sudah di larang, bahkan yang membuat Adam semakin kesal, ternyata istrinya tidak hanya membeli satu tiket saja, melainkan 4 tiket.
__ADS_1
"Kamu benar-benar keterlaluan, kamu membelikan tiket untuk teman-temanmu memakai uang ku. Kita lihat saja Sandra, akan aku buat kamu pulang sekarang juga," geram Adam.
...****************...
Sore harinya saat Adam baru saja sampai di rumahnya, tiba-tiba Sandra memasuki rumah dan langsung marah-marah begitu melihat wajah suaminya.
"Mas Adam!" teriak Sandra.
Adam yang sedang berjalan menaiki tangga pun harus berhenti dan membalikkan badannya lalu menatap Sandra.
"Apa maksud kamu memblokir credit card aku? Kamu mau buat aku malu di depan teman-teman aku?" berang Sandra dengan nafas yang memburu.
Adam tersenyum sinis menatap Sandra, sesuai dengan perkiraannya. Sandra pasti akan langsung pulang begitu Adam memblokir semua credit card yang di milikinya.
"Gara-gara kamu, aku jadi malu sama teman-teman aku. Padahal aku sudah janji mau mentraktir mereka belanja, tapi kamu malah memblokir semuanya. Aku kan jadi malu mas. Mereka sudah tidak mau berteman denganku lagi dan menganggap aku penipu," lanjutnya lagi.
"Bagus dong. Dengan begitu kamu tidak perlu lagi berteman dengan mereka dan menghabiskan uangku lagi," sahut Adam santai.
"Apa maksud kamu mas?"
"Sejak kamu berteman dengan mereka, kamu mulai berubah. Kamu tidak punya waktu lagi untuk keluarga ini, kamu selalu menghamburkan uang untuk membeli barang-barang yang tidak penting. Kalau kamu terus seperti itu, lama-lama uang ku bisa habis. Jadi, sebelum hal itu terjadi, aku harus memblokir semua credit card kamu."
Setelah itu Adam berbalik badan dan menaiki tangga. Namun, baru satu langkah Adam kembali berhenti. Ia membalikkan badan lalu menghampiri Sandra yang masih terdiam di tempatnya.
"Satu lagi, mulai hari ini kamu hanya akan mendapat uang bulanan saja. Dan serahkan semua credit card kamu." Adam mengulurkan tangannya di depan Sandra.
Dengan perasaan kesal Sandra pun membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil tiga buah credit card dalam dompetnya lalu memberikannya pada Adam.
Setelah itu Adam kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga. Hari ini dia sangat lelah karena pesanan di tokonya sedang ramai. Dia ingin segera membersihkan diri dan beristirahat sebentar di kamarnya.
Sementara itu, Sandra sedang menahan kekesalannya pada sang suami. Di tatapnya punggung Adam yang semakin menjauh.
"Kurang ajar kamu mas. Lihat saja nanti, akan aku balas kamu," geram Sandra lalu pergi meninggalkan rumah.
...****************...
__ADS_1