
Adam baru selesai melaksanakan sholat, ia melipat sajadah dan sarungnya lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Hingga saat ini, baik Axel maupun Sandra, belum ada satu pun dari mereka yang pulang ke rumah. Terbesit rasa khawatir dalam hati Adam, takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya itu.
Saat Adam tengah memikirkan dua orang tersayangnya, ponsel Adam berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Anin yang mengatakan kalau Axel masuk rumah sakit.
Adam pun bergegas mengambil kunci mobilnya dan segera pergi ke rumah sakit.
"Papa mau kemana?" tanya Nayla yang baru saja keluar dari dapur. Dia melihat Adam berlari menuruni tangga.
"Abang kamu masuk rumah sakit, jadi papa mau langsung ke sana."
"Nayla ikut pa."
Adam menganggukkan kepalanya, mereka pun pergi ke rumah sakit bersama-sama.
Sampai di rumah sakit, Adam dan Nayla langsung menuju lift dan menekan tombol angka 4, tempat kamar Axel berada.
Tiba di lantai 4, Adam mencari kamar Flamboyan, ruang rawat Axel. Begitu sampai di depan kamar tersebut, Adam langsung membuka pintunya dan alangkah terkejutnya Adam saat melihat Anin dan Kenan sedang berkejaran sambil melempar bantal.
"Ada apa ini?" tanya Adam membuat kakak beradik itu menghentikan keributan mereka.
"Ayah!" Anin terkejut melihat kedatangan ayahnya, dia pun langsung menghampiri Adam dan mencium tangannya. Begitu juga dengan Kenan yang mengikuti sang kakak.
"Apa kabar Ken?"
"Baik om."
Adam pun menghampiri Axel yang sedang berbaring sambil bermain ponsel.
"Gimana keadaan kamu? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Adam seraya memperhatikan kondisi anaknya.
Wajahnya lebam dan penuh luka, tangan dan kakinya juga terdapat beberapa luka yang sudah di perban.
"Papa kenapa bisa kesini? Siapa yang kasih tau papa?" Axel tampak tak suka dengan kehadiran Adam, dia masih marah dengan ayahnya karena peristiwa tadi pagi.
"Kakak kamu yang ngabarin papa tadi. Papa tuh khawatir banget sama kamu, kenapa bisa sampai seperti ini, apa yang terjadi?"
Axel melirik sekilas pada Anin lalu kembali menatap ayahnya.
"Mendingan papa pulang aja, gak usah khawatirkan Axel. Axel gak apa-apa," ucap Axel lalu memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Adam.
Adam sedih mendengar perkataan anaknya, dia tahu dirinya bersalah, tapi Adam tak menyangka jika anaknya akan semarah ini sampai tak mau melihat dirinya.
__ADS_1
Hal itu tak luput dari pandangan Anin, dia jadi tak tega melihat ayahnya yang tampak sedih itu. Anin pun menghampiri mereka dan mendekati Axel.
"Xel!" panggil Anin lembut, dan Axel langsung menoleh padanya.
"Kamu gak boleh seperti itu sama ayah, kasihan ayah. Beliau khawatir banget sama kamu," tutur Anin menasihati Axel.
"Nggak usah sok menasihati, lo nggak tau apa yang gue rasain," balas Axel ketus.
"Aku emang gak tau apa yang kamu rasakan, tapi biar gimana pun juga, ayah adalah orang tua kamu yang harus kamu hargai dan kamu hormati," nasihat Anin.
Axel memandang Anin lalu berganti menatap Adam. Meskipun dalam hati dia masih marah pada ayahnya, tapi demi Anin dia rela membuang egonya dan mencoba memaafkan sang ayah.
"Maafin Axel Pa," ucap Axel.
Adam tersenyum melihat Axel yang begitu menurut pada Anin, ternyata ada juga orang yang bisa membuat Axel tunduk. Selama ini, Axel selalu membantah dan pernah menurut pada siapapun termasuk dirinya dan Sandra.
Adam bersyukur memiliki anak yang baik dan penyayang seperti Anin, dia bisa mengayomi dan menyayangi adik-adiknya.
****************
Pukul 11 malam, Anin dan Kenan baru sampai di rumah mereka. Begitu sampai di depan pintu, Elfira langsung menyambut mereka dengan raut wajah khawatir.
"Kenapa lama sekali pulangnya, bunda khawatir sekali sama kalian," ujar Elfira.
"Terus, gimana keadaan Axel. Dia nggak apa-apa kan?"
"Alhamdulillah Bun, sekarang kondisi Axel sudah mendingan. Tinggal lebam di wajah sama luka-luka di tangan dan kakinya," jelas Anin.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu." Elfira bernafas lega karena kondisi Axel tidak begitu parah. "Sekarang kalian istirahat ya, sudah malam. Besok kalian harus kerja dan sekolah," lanjut Elfira.
"Baik Bun," jawab kedua anaknya serentak.
Anin dan Kenan pun mencium pipi Elfira bergantian lalu beranjak pergi memasuki kamar mereka masing-masing. Karena malam yang sudah larut dan tubuh yang terasa lelah, baik Kenan maupun Anin, keduanya sama-sama terlelap tanpa berganti baju ataupun mencuci muka terlebih dahulu.
Keesokan paginya Anin bangun dengan kondisi tubuh yang tidak fit. Kepalanya terasa sedikit pusing dan berdenyut.
"Ssshh. Kepala ku sakit sekali," rintihnya sambil memegangi kepala.
Dengan tubuh lemahnya Anin mencoba bangkit dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Anin keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa menggigil setelah terkena air. Padahal tadi dia mandi menggunakan air hangat, tapi tubuhnya tetap merasa kedinginan.
Buru-buru Anin mengenakan pakaiannya dan menuju ranjang. Ia merebahkan dirinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. Sepertinya hari ini dia tidak bisa masuk kantor, ia akan mengirimkan pesan ke bagian HRD nanti dan ijin tidak masuk kerja. Setelah itu Anin pun memejamkan matanya dan kembali tidur.
__ADS_1
****************
Elfira berjalan menuruni anak tangga sambil membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas kosong bekas makan Anin, ia baru saja menyuapi anaknya makan dan memberinya obat. Saat Anin tak kunjung keluar kamar, Elfira pun memeriksanya dan betapa terkejutnya ia ketika menyentuh tangan Anin yang terasa panas.
Buru-buru Elfira membuatkan air hangat untuk mengompres Anin, tak lupa juga ia membuatkan bubur untuk anaknya itu agar bisa segera minum obat.
"Gimana keadaan Anin, Bun?" tanya Erlangga ketika melihat istrinya kembali ke ruang makan.
"Masih demam, Pa. Tapi dia sudah minum obat dan sekarang sedang tidur."
"Semoga saja Anin segera sembuh, jika sampai nanti siang panasnya belum turun juga, langsung bawa ke rumah sakit saja ya."
"Iya Pa."
Erlangga dan Elfira pun melanjutkan sarapan mereka, sedangkan Kenan hanya diam saja dan makan tanpa selera. Remaja itu sedang mengkhawatirkan kakaknya, ia merasa bersalah karena tak bisa menjaga sang kakak hingga hampir saja kakaknya itu menjadi korban pelecehan. Jika seandainya saat itu Kenan terlambat satu detik saja, mungkin kakaknya akan di bawa pergi oleh preman-preman itu. Dan Kenan tidak akan bisa memaafkan dirinya seumur hidup jika hal itu sampai terjadi.
"Kamu kenapa Ken?" tanya Elfira yang melihat Kenan tampak lesu. "Cepat habiskan sarapannya, nanti kamu bisa terlambat ke sekolah," lanjutnya.
Kenan menarik nafas dan meletakkan sendoknya, dia benar-benar tak memiliki selera untuk makan.
"Boleh gak hari ini Ken ijin gak sekolah?" pintanya pada kedua orang tuanya.
Erlangga dan Elfira pun saling lirik, tak biasanya anak bungsu mereka itu tampak tak bersemangat. Biasanya Kenan lah yang selalu membuat ramai di rumah itu. Namun, kali ini dia tampak berbeda.
"Kenapa kamu tidak mau sekolah?" tanya Erlangga.
"Ken mau nemenin kakak, kasihan kakak sendirian di kamarnya," jawab Kenan.
Elfira pun tersenyum mendengar jawaban Kenan, ia tak menyangka jika Kenan bisa se-khawatir itu pada kakaknya.
"Ada bunda yang akan menemani kakak mu, jadi sebaiknya kamu tetap ke sekolah," ujar Erlangga.
"Tapi Pa, Ken ..."
"Kamu tak perlu khawatir," potong Erlangga cepat. "Kakak mu itu cuma demam, setelah minum obat dan istirahat nanti pasti dia akan sembuh," lanjutnya.
Kenan semakin menunduk dan Elfira melihat itu. Ia mengerti bagaimana perasaan Ken, tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Ken untuk membolos sekolah.
Elfira pun menggenggam tangan anaknya dan tersenyum pada Ken, "Kakak pasti akan segera sembuh," ucapnya untuk menenangkan anaknya.
Lama Ken berpikir, namun kemudian, dengan berat hati akhirnya ia pun memilih untuk berangkat ke sekolah. Tanpa menghabiskan sarapannya, Ken berpamitan kepada kedua orang tuanya dan berangkat ke sekolah menggunakan motor kesayangannya.
__ADS_1
...****************...