Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 33


__ADS_3

Erlangga baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan yang tak seperti biasanya. Wulan memperhatikan anak semata wayangnya itu mulai dari menginjak tangga paling atas hingga ke bawah. Semua gerak-gerik Erlangga tak luput dari perhatian Wulan. Bahkan Wulan bisa melihat jika saat ini Erlangga sedang senyum-senyum sendiri membuat Wulan memicingkan matanya.


"Mau kemana kamu?" tanya Wulan ketika Erlangga berjalan mendekatinya.


"Mau ketemu Fira ma. Eh!" jawabnya tanpa sadar lalu langsung menutup mulutnya menggunakan tangan.


"Siapa Fira?" tanya Wulan penasaran.


Erlangga melebarkan kedua matanya, ia baru menyadari kalau tadi sudah keceplosan menyebutkan nama Elfira.


"Erlangga berangkat dulu ya ma," pamitnya kepada sang mama lalu pergi begitu saja.


"Erlangga! Hei, jawab dulu. Siapa itu Fira?" teriak Wulan yang tak dihiraukan oleh putranya. Lelaki itu terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan dari sang mama.


"Huft. Hampir saja, bisa panjang ceritanya kalau aku tidak langsung kabur tadi," gumam Erlangga setelah dia berada di dalam mobilnya. Erlangga pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Elfira, hari ini dia ada janji dengan Anin dan akan mengajak anak itu jalan-jalan.


...****************...


"Om Erlangga!" teriak Anindya ketika melihat mobil Erlangga memasuki halaman rumahnya. Dia begitu antusias menyambut kedatangan pria itu. Pasalnya hari ini Erlangga akan mengajaknya jalan-jalan ke taman hiburan.


Dari dalam mobil Erlangga tersenyum melihat Anindya yang melompat-lompat seperti anak kangguru. Erlangga bergegas turun dari mobil dan segera menghampiri bocah tersebut.


Erlangga melambaikan tangannya pada Anin dan tanpa di duga bocah itu berlari kearahnya dan melompat dalam gendongannya. Untung saja Erlangga lekas menangkapnya dan bisa menjaga keseimbangan, jika tidak mungkin saja mereka berdua akan jatuh.


"Hati-hati sayang!" teriak Elfira ketika melihat anaknya yang melompat dan hampir membuat Erlangga jatuh.


"Gak apa-apa Fir," sahut Erlangga sambil berjalan mendekati Elfira. "Sudah siap?" tanya pada Elfira.


"Sudah."


"Kita berangkat sekarang?" tanya nya lagi dan Elfira mengangguk. "Silakan." Erlangga mempersilahkan Elfira berjalan lebih dulu lalu Erlangga mengikutinya dari belakang dengan Anindya yang berada dalam gendongannya.


...****************...


"Wuaah," seru Anin dengan mata berbinar saat melihat banyak wahana permainan yang ada di taman bermain ini. "Bunda! Anin mau naik itu," tunjuk Anin pada permainan komidi putar dengan antusias.

__ADS_1


"Anin mau naik komidi putar itu?" tanya Erlangga.


"Iya om, Anin pengen banget naik itu. Ayo om, kita kesana." Anin menarik tangan Erlangga, tak di hiraukan ibunya yang sedang melihatnya dengan geleng-geleng kepala.


Elfira sangat bahagia melihat anaknya yang kini kembali ceria. Anak itu sudah tak pernah lagi menanyakan tentang keberadaan ayahnya. Elfira juga sudah memberikan pengertian kepada anak itu bahwa suatu hari nanti ayahnya pasti akan pulang.


Senyum Elfira tak pernah lepas ketika memandangi Erlangga yang begitu sabar menemani Anin mencoba berbagai wahana yang sesuai untuk anak seusianya. Tak lupa juga dia mengabadikan semua momen tersebut.


Puas bermain dan mencoba berbagai wahana, akhirnya Anin pun mulai kelelahan. "Anin lapar om," ucap Anin kepada Erlangga.


"Ya ampun, Anin lapar ya. Maaf ya sayang, karena keasyikan main om sampe lupa ngajak kamu makan," ujar Erlangga merasa bersalah. "Ya udah yuk, kita cari makan dulu," ajak Erlangga. Karena hari sudah siang dan mereka juga sudah lapar, akhirnya Erlangga mengajak Anin dan Elfira untuk mencari tempat makan yang ada di taman hiburan itu.


Erlangga mengajak Elfira dan anaknya makan di sebuah restoran cepat saji yang menyediakan beraneka ragam ayam goreng. Tentu saja Anin sangat antusias saat tau di ajak makan di sana. Karena ayam goreng adalah makanan kesukaan Anindya.


"Terimakasih ya Er, kamu sudah mengajak Anin jalan-jalan. Dan maaf kalau Anin tadi banyak ngerepotin kamu," ucap Elfira setelah mobil erlangga sampai di depan rumahnya.


"Gak masalah Fir, aku juga senang kok bisa menghabiskan waktu sama kamu dan Anin," balas Erlangga sambil tersenyum menatap Elfira.


Elfira salah tingkah saat Erlangga menatapnya begitu intens. Entah kenapa jantungnya jadi berdebar tiap kali ia tanpa sengaja menatap mata lelaki itu.


"A-aku turun dulu ya," ucap Elfira terbata. Ia menoleh ke bangku belakang dimana Anin sedang tertidur lelap. Sepertinya anak itu kelelahan bermain. Elfira sedang memikirkan bagaimana caranya ia membawa Anin sampai ke dalam rumah tanpa membuat anak itu terbangun.


"Tapi nanti ... "


"Gak ngerepotin kok," sahut Erlangga cepat sebelum Elfira selesai berucap, seolah tau apa yang akan di ucapkan oleh wanita itu.


Tanpa menunggu waktu lagi, Erlangga pun turun dari mobil dan membuka pintu belakang dimana ada Anin yang sedang tertidur. Dengan perlahan dia mengangkat tubuh kecil Anin dengan hati-hati agar anak itu tak terbangun. Erlangga pun menggendong Anin dan membawanya hingga ke kamar anak itu lalu meletakkannya ke atas tempat tidur dengan perlahan. Setelah memastikan Anindya tidur dengan nyaman di kasurnya, Erlangga pun keluar dari sana dan menunggu Elfira di teras rumah. Erlangga sengaja menunggu di sana agar tak menjadi fitnah, mengingat status Elfira yang kini sudah menjadi janda. Ia tak mau orang-orang salah paham dan menganggap Elfira telah memasukkan lelaki yang bukan mahramnya.


"Minum dulu Er." Elfira meletakkan secangkir kopi ke atas meja, tak lupa juga kue kering yang di masukkan ke dalam toples.


"Terimakasih. Seharusnya kamu gak perlu repot-repot Fir," ucap Erlangga tak enak hati.


"Gak apa-apa, cuma kopi sama kue kering doang kok."


Untuk beberapa saat terjadi kecanggungan di antara mereka dan tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.

__ADS_1


"Ekhem," Erlangga berdeham sebelum akhirnya ia berucap. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Erlangga menatap Elfira dengan intens membuat wanita itu jadi gugup.


"Soal apa?" tanya Elfira penasaran.


,


"Hmm. Enggak jadi deh, kapan-kapan saja," sahut Erlangga cepat. Tiba-tiba saja ia kehilangan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Padahal sejak dari rumah tadi dia sudah mempersiapkan mental untuk mengutarakan perasaannya kepada Elfira.


Elfira mengerutkan alis menatap bingung pada pria yang ada di sebelahnya ini.


"Aku pamit dulu ya," ucap Erlangga setelah menghabiskan minuman yang tadi sudah di buatkan Elfira. Tanpa menunggu balasan dari Elfira, lelaki itu langsung berjalan ke mobilnya lalu masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Elfira.


"Aneh," gumam Elfira setelah mobil Erlangga pergi menjauh dari rumahnya.


***


"Kenapa bos? Kusut amat itu muka, kayak pakaian yang seminggu gak di setrika," ledek Dewo saat melihat sang bos melamun di meja kerjanya.


Erlangga hanya mendengus mendengar ledekan dari tangan kanannya itu. Dia tak punya selera untuk membalas ejekan Dewo seperti biasanya. Melihat bos nya yang tetap diam membuat Dewo berpikir jika ada yang salah dengan bos nya itu. Ia merasa sedang terjadi sesuatu dengan bosnya. Karena selama 7 tahun dia bekerja dengan Erlangga, baru kali ini dia melihat atasannya seperti ini.


"Bos ada masalah?" tanya Dewo lagi.


Erlangga menatap Dewo lalu menghela nafasnya kasar.


'Huuft'


"Kamu pernah menyatakan cinta sama perempuan gak?" tanya Erlangga tiba-tiba membuat ke dua alis Dewo mengkerut.


"Kenapa bos nanya kayak gitu?" tanya Dewo heran.


"Lupakan saja," ketus Erlangga.


"Ngapain kamu masih berdiri di situ, sana kembali ke ruangan mu," usir Erlangga yang sudah kembali galak.


"Yaelah bos, galak bener kayak emak-emak lagi PMS," canda Dewo. Namun tidak dengan Erlangga yang langsung membuka lebar ke dua matanya.

__ADS_1


Merasa bahaya sedang mengancam, Dewo pun tak ingin berlama-lama dan langsung kabur begitu saja meninggalkan Erlangga dengan segala kegalauannya.


...****************...


__ADS_2