Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 25


__ADS_3

Malam ini, Dirga dan kedua orang tuanya mendatangi kediaman keluarga Erlangga. Sebelumnya Maudy sudah menghubungi Elfira bahwa mereka akan datang.


"Dirga! Udah siap belum?" teriak Maudy dari depan kamar anaknya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan menampilkan Dirga yang sudah siap dengan kaos polo berkerah dan berwarna hitam serta celana bahan panjang. Rambutnya dia sisir rapi dan poni yang menutupi dahinya, membuat penampilan Dirga tampak seperti oppa-oppa Korea.


"Ganteng amat, kelihatan sekali mau caper sama Anin," ejek Maudy membuat anaknya berdecak kesal.


"Ck. Mama ini, kalau Dirga bisa dapetin hati Anin kan mama juga yang senang."


"Ih, tau aja kamu. Mama setuju kalo kamu bisa berjodoh dengan Anin. Dari pada mantan kamu yang matre itu. Dih, amit-amit deh mama punya menantu kayak dia." Raut wajah Maudy yang tadi tersenyum cerah berubah menjadi masam saat membicarakan mantan Dirga.


"Yaelah Ma, masih di bahas aja. Udah lewat juga."


"Kok masih pada ngumpul di sini? Emangnya nggak jadi pergi?" tanya pak Darmanto yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ini juga udah mau berangkat kok."


"Ya udah yuk berangkat, mama udah nggak sabaran mau ketemu sama calon mantu. Hihi."


Pak Darmanto dan Dirga hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan Maudy. Padahal mereka berkunjung ke rumah Anin karena ingin meminta maaf, tapi sikap Maudy seolah-olah mereka mau melamar anak gadis orang.


...****************...


Kedatangan Dirga dan kedua orang tuanya di sambut baik oleh Elfira dan Erlangga. Mereka pun saling berpelukan layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu.


Sementara itu, Dirga celingukan karena tak melihat pujaan hatinya. Hal itu tertangkap oleh Elfira dan wanita paruh baya itu pun mulai menggoda Dirga.


"Anin nya lagi di dapur, lagi nyiapin makanan di meja makan. Kalau kamu pengen banget ketemu, samperin gih ke dapur."


Mendengar perkataan Elfira membuat Dirga malu, ternyata aksinya di ketahui oleh Elfira. Dia pun menjadi bahan tertawaan bagi Maudy dan juga pak Darmanto.


"Eh, nggak usah Tante. Nggak apa-apa, takutnya nanti saya malah mengganggu," ucap Dirga tersenyum malu.


Sang pemilik rumah pun akhirnya mempersilahkan mereka untuk masuk dan langsung mengajak mereka menuju ruang makan. Sampai di sana, semua makanan sudah tersedia di meja makan. Namun, Dirga masih belum melihat Anin.


"Mungkin masih ganti baju di kamarnya Ga, tenang saja. Nanti juga bakalan turun kok," ujar Erlangga ketika melihat Dirga yang masih celingukan.


Dirga sampai harus menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sekali lagi dia ketahuan sedang mencari Anin.


Tak lama kemudian, muncul Kenan yang baru turun dari kamarnya dan ikut bergabung bersama mereka. Dirga sempat terkejut melihat kehadiran remaja itu, ternyata apa yang dikatakan Anin memang benar kalau anak SMA itu adalah adiknya. Tapi Dirga masih penasaran dengan pria yang satu lagi. Jika memang benar dia adalah adik Anin, tapi kenapa pemuda itu tak muncul seperti Kenan.

__ADS_1


"Ga! Itu Kenan lagi nyapa kamu. Kok malah bengong sih." Maudy menyenggol bahu Dirga dan menyadarkan anaknya dari lamunan.


Dirga pun terkesiap dan langsung menatap tangan Kenan yang sedang terulur di depannya.


"Gue Kenan, adik kak Anindya yang paling tampan sejagat raya," ujar Kenan dengan kenarsisannya.


"Dirga." Dirga pun membalas jabatan tangan Kenan dan menyebutkan namanya.


Dirga menatap Kenan dari atas ke bawah, ternyata selama ini Dirga sudah salah sangka. Kini penyesalannya semakin besar terhadap Anin.


Keenam orang itu pun mulai menyantap makan malamnya, tapi Anin masih belum menampakkan batang hidungnya. Membuat Dirga menjadi tak bersemangat.


"Maaf ya, Anin telat. Tadi lagi terima telepon dari ayah," ujar gadis yang sejak tadi di tunggu-tunggu oleh Dirga. Senyumnya pun mulai mengembang begitu melihat sosok yang sejak tadi di nanti-nantikan nya itu.


Setelah menyalami para tamu, Anin pun mengambil tempat duduk di sebelah sang adik dan berhadapan dengan Dirga. Merasa sejak tadi ada yang memperhatikan, Anin pun mendongak dan mendapati Dirga sedang melihat ke arahnya.


"Ngapain liatin saya begitu, saya punya hutang sama anda?" Anin berkata dengan sengit membuat Dirga pun jadi salah tingkah.


"Galak banget sih kak. Pantes aja nggak ada cowok yang mau sama kakak," ejek Kenan dan langsung mendapat tatapan tajam dari kakaknya.


"Sudah, sudah. Sebaiknya habiskan dulu makanan kalian baru bertengkar."


Aksi mereka pun di hentikan oleh Erlangga, dan mereka melanjutkan makan malam sambil mengobrol.


...****************...


Suara helaan nafas berkali-kali terdengar dari Dirga, dia ingin mengatakan sesuatu tapi selalu di urungkan. Lelaki berparas tampan itu tak mempunyai keberanian untuk memulai percakapan.


"Mau sampai kapan kita diam-diaman seperti ini? Kalau tidak ada yang mau anda bicarakan, saya pamit ke dalam," ucap Anin seraya bangkit dari duduknya.


"Tunggu!" Dirga menahan tangan gadis itu dan membawanya kembali duduk. "Sebenarnya ada yang mau saya katakan sama kamu," sambungnya.


"Ya udah buruan." Dengan terpaksa Anin pun harus mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh mantan atasannya itu. Gadis itu duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya.


"Sebelumnya, sekali lagi saya minta maaf sama kamu soal waktu itu ..."


"Udah saya maafkan," potong Anin cepat sebelum Dirga selesai berucap.


"Terimakasih. Tapi ada satu hal yang mau saya tanyakan sama kamu," Dirga memandang ragu pada Anin yang kini sudah menatap dirinya.


Tatapan mata Anin mengisyaratkan seolah-olah sedang berkata, 'cepat katakan!'

__ADS_1


"Kenapa ayah kamu berbeda dari yang kemarin? Apa kamu mempunyai dua ayah?" tanya Dirga yang sudah penasaran sejak ia menapakkan kakinya di rumah itu.


"Iya. Saya memang punya dua ayah, terus kenapa? Masalah buat anda?"


"Nggak. Bukan begitu maksud saya, hanya saja ... "


"Ayah dan bunda berpisah saat usia saya 4 tahun. Ayah berselingkuh dan menikah lagi dengan istrinya yang sekarang, ibunya Axel. Laki-laki yang anda kira kekasih saya waktu itu." Anin tersenyum getir mengingat bagaimana Dirga menghinanya dulu. "Setelah berpisah dengan ayah, bunda pun menikah dengan papa Erlangga."


Dirga mengangguk paham, baru dia tahu cerita sebenarnya tentang kehidupan pribadi Anin. Selama ini dia sudah dibutakan oleh rasa cemburu.


"Maaf," ucap Dirga lirih. Namun, tiba-tiba Dirga mengingat sesuatu. "Oh iya, kenapa waktu itu kamu bilang kalo Kenan pacar kamu?"


"Sengaja. Soalnya saya kesal sama anda."


"Wajar sih," sahut Dirga.


Untuk beberapa saat mereka kembali terdiam hingga sebuah suara mengalihkan keduanya.


"Duh, yang dari tadi berduaan. Hati-hati loh, nanti ada setan. Hihihi," celetuk Kenan sambil tertawa seperti kuntilanak.


"Iya kamu setannya," umpat Anin kesal.


"Lah, kok jadi aku? Masa cowok setampan dan sekeren aku di samain sama setan." Kenan protes karena dirinya di samakan dengan setan oleh kakaknya. Kemudian ia melirik Dirga yang sejak tadi memandangi kakaknya tanpa berkedip. Senyum usil pun muncul di bibirnya dan berniat mengerjai Dirga.


"Kak, ada cowok yang minta nomor kakak sama aku. Boleh nggak?"


"Nggak boleh!" sahut Dirga cepat membuat Anin langsung menoleh padanya, sedangkan Kenan sudah terkekeh geli melihat Dirga yang cemburu.


"Anda kenapa?"


"Jangan pernah berikan nomor kamu pada siapapun, apalagi sama cowok. Mengerti!"


Setelah mengatakan itu, Dirga langsung bangkit dan pergi meninggalkan kakak beradik itu. Anin yang bingung hanya bisa menatap punggung Dirga hingga sosok lelaki itu tak terlihat lagi.


"Kenapa sih dia?" tanya nya pada sang adik.


"Dasar cewek nggak peka. Gitu aja masa nggak ngerti sih kak."


"Ya emang aku nggak ngerti," ucap Anin dengan polosnya.


"Hadeh. Tau deh."

__ADS_1


Kenan beranjak lalu pergi meninggalkan kakaknya seorang diri. Kini tinggallah Anin yang sedang kebingungan melihat kedua laki-laki yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


...****************...


__ADS_2