Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 16 Kedatangan Bianca


__ADS_3

"Bunda, ayah mana" tanya si kecil Anin.


Gadis kecil tersebut baru saja bangun dari tidurnya, namun lagi-lagi ia tak mendapati kehadiran ayahnya di rumah itu.


"Ayah sudah pergi kerja tadi pagi-pagi sekali" dusta Elfira.


Memang benar, Elfira belum mengatakan apapun pada putrinya jika ayah dan bunda nya akan berpisah. Elfira menunggu waktu yang tepat sampai anak itu paham dengan hubungan orang dewasa.


"Bunda bohong" ucap Anin, bocah itu sudah bosan mendengar alasan sang ibu. Setiap kali ia bertanya tentang ayahnya, bunda nya itu akan mengatakan hal yang sama.


"Ayah sudah pergi kerja pagi-pagi sekali dan pulang larut saat kamu sudah tidur."


Itulah yang selalu Elfira katakan saat Anindya menanyakan tentang ayahnya. Elfira tak tau jika anaknya itu termasuk anak yang cerdas, dia tau jika sang ibu sedang berbohong.


"Bunda gak bohong sayang" ucap Elfira lembut.


"Ayah gak pulang lagi kan, Bun." tebak Anin tepat sasaran. Elfira pun jadi terdiam, dia tau jika anaknya itu sudah tak bisa lagi di bohongi dengan alasan yang sama tiap harinya.


"Sayang, dengerin bunda ya. Mulai sekarang, ayah gak akan tinggal sama kita lagi" ucap Elfira akhirnya. Sepertinya ia memang harus mengatakan hal yang sebenarnya pada anaknya itu, agar Anin tak terus-terusan bertanya tentang keberadaan ayahnya.


"Kenapa, Bun" tanya Anin bingung.


Elfira terdiam dan memikirkan jawaban yang tepat untuk sang anak.


Elfira duduk disamping Anin, lalu menggenggam tangan mungil Anin. Untuk sesaat, Elfira tak mengatakan apapun, ia hanya menatap mata Anin, begitu juga sebaliknya. Anin menatap Elfira sambil menunggu jawaban dari sang bunda.


"Maafin bunda sama ayah ya, nak. Maaf kalo bunda dan ayah belum bisa menjadi orang tua yang baik buat kamu" ucap Elfira terdengar bergetar, dia sedang berusaha menahan airmatanya agar tak jatuh. Saat ini ia harus terlihat kuat di depan sang anak.


"Bunda nangis" celetuk Anin saat melihat mata Elfira yang berkaca-kaca.


Dengan cepat Elfira menghapus airmatanya yang menggenang di pelupuk matanya, lalu ia pun kembali tersenyum di depan Anindya.


"Bunda gak nangis kok, tuh lihat" ucap Elfira sambil menunjukkan matanya yang sudah tak menggenang lagi.


"Tapi mata bunda kok merah" celetuk Anin lagi.


"Enggak kok, mata bunda gak merah." dusta Elfira. "Sekarang Anin mandi dulu yuk, Anin bau acem" ucap Elfira mengalihkan pembicaraan. Elfira menutup hidungnya dengan tangan, seolah-olah sedang menahan bau.


"Enggak kok, Anin gak bau acem" balas Anin sambil menciumi bau tubuhnya sendiri.


Sepertinya trik Elfira berhasil, terbukti Anindya langsung teralihkan dari pembahasan tentang ayahnya.


Elfira pun menggendong tubuh mungil Anin dan membawanya ke kamar mandi sambil menciumi wajah anak itu, membuat Anin tertawa kegelian.


...****************...


"Kamu kenapa, Fir. Melamun aja ibu lihat." ucap Halimah.

__ADS_1


Siang ini Elfira mengajak Anin ke toko kue milik Halimah, ia ingin mengalihkan perhatian anaknya agar tak selalu menanyakan tentang ayahnya.


"Gak apa-apa Bu, Fira cuma lagi kepikiran aja. Fira pengen kerja Bu, jadi Fira kepikiran kalo seandainya Fira kerja, nanti siapa yang akan jagain Anin di rumah" ucap Elfira.


"Kan ada Asih yang bantu-bantu kamu di rumah, dia juga bisa sekalian jagain Anin kan"


"Iya sih Bu, tapi kan bi Asih kerjanya sampe sore. Kalo Fira pulangnya kemalaman gimana"


"Ya tinggal kamu suruh aja si Asih kerjanya sampe kamu pulang, atau sekalian aja dia suruh nginep di rumah kamu. Masih ada kamar kosong kan di rumah kamu"


"Ada sih, Bu" jawab Elfira ragu.


"Emangnya kamu sudah dapat pekerjaan, Fir" tanya Halimah tiba-tiba, dan Elfira pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu.


"Ya ampun, Fira, Fira. Ibu pikir kamu sudah dapat pekerjaan"


"Belum Bu, masih angan-angan saja. Hehe" jawab Elfira cengengesan.


"Gimana kalo kamu kerja di kantornya Erlangga aja, kamu masih ingat kan sama dia"


Elfira tampak terdiam, dia sedang mengingat sosok Erlangga.


"Erlangga itu CEO di tempat mas Adam kerja kan Bu" tanya Elfira memastikan.


"Iya"


"Ya gak gimana-gimana lah Fir." jawab Halimah santai.


"Nanti lah Bu, Fira pikirkan dulu"


...****************...


"Bu, ada tamu di depan nyariin ibu" ucap Asih. Elfira yang sedang memasak pun mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya tersebut.


"Siapa, bi?" tanya Elfira.


"Itu Bu, perempuan yang waktu itu pernah datang ke rumah ini"


Elfira tampak berpikir, dia mencoba mengingat siapa perempuan yang dimaksud oleh Asih. Seingatnya dulu ada dua perempuan yang pernah datang ke rumahnya.


"Ya udah, bibi tolong lanjutin masakan nya ya. Biar saya temuin tamu nya dulu"


Elfira berjalan ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya pagi-pagi begini.


"Ekhem, ada perlu apa kamu mencari saya" ucap Elfira setelah mengetahui siapa tamu nya.


"Mana Adam" tanya wanita itu galak, tak perduli meskipun sang tuan rumah tidak menyukai kehadirannya.

__ADS_1


"Mas Adam gak ada, dia sudah tak tinggal lagi di rumah ini"


"Ciih, gak usah bohong lo." ucap wanita yang bernama Bianca itu tak percaya. " Lo pasti sengaja kan nyembunyiin Adam"


"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas mas Adam sudah tidak lagi tinggal di rumah ini dan kami juga sudah berpisah"


Bianca memperhatikan sorot mata Elfira, terlihat ada luka dan kesedihan disana.


"Terus, sekarang Lo tau dimana Adam tinggal" tanya Bianca yang mulai melembutkan nada suaranya. Ada rasa tak tega Bianca melihat keadaan Elfira.


"Gak tau, sudah bukan urusan aku lagi dia mau tinggal dimana"


Bianca tak lagi menanyakan keberadaan Adam pada Elfira, sebaiknya dia akan mencari Adam di tempat lain saja.


"Baiklah, kalo gitu gue permisi dulu." pamit Bianca pada Elfira. "Dan ..." sesaat Bianca tampak ragu mengatakannya.


"Dan maaf udah ganggu waktu lo, gue turut prihatin dengan apa yang sudah terjadi dalam rumah tangga Lo"


Untuk sesaat keduanya saling diam, dan terlarut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Bianca memecah keheningan di antara keduanya.


"Gue doa in semoga Lo bahagia, dan bisa mendapat pengganti yang lebih baik lagi" ucap Bianca tulus.


Elfira tampak menyunggingkan senyumannya mendengar doa tulus dari Bianca, tak menyangka jika masih ada orang lain yang peduli dengan dirinya, selain Halimah.


"Makasih untuk doa nya, doa yang sama untuk kamu dan adik kamu. Semoga Allah selalu menyertai kalian" balas Elfira tersenyum.


"Amin. Kalo gitu, gue pamit pulang dulu" Bianca bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.


Elfira mengikuti dari belakang, hendak mengantarkan Bianca.


"Hmm, maaf Bi" panggil Elfira membuat Bianca menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"kenapa" tanya Bianca.


Elfira tampak ragu, sebenarnya ia juga tak tau kenapa ia harus memanggil Bianca.


"Hmm, aku boleh lihat keadaan adik kamu gak"


"Boleh dong, boleh banget malah. Aku senang kalo kamu mau mampir dan melihat keadaan adikku" jawab Bianca semangat.


"Boleh minta kontak kamu" tanya Elfira lagi.


Dengan senang hati Bianca memberikan nomor kontaknya pada Elfira, setelah mereka saling bertukar nomor, Bianca pun pamit karena masih harus merawat adiknya yang sedang sakit di rumah.


...****************...


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2