Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 38


__ADS_3

"Kamu gak salah nih ngajak aku makan di tempat mewah begini?" tanya Elfira.


"Ya enggak dong. Memangnya apa yang salah?" Erlangga tampak bingung mendengar pertanyaan Elfira.


"Ini kan restoran mewah, dan sudah pasti harga makanan di sini mahal-mahal semua."


"Terus, masalahnya dimana?" Erlangga masih tampak kebingungan.


"Ini restoran mewah loh, kamu gak takut nanti uang kamu habis gara-gara traktir aku makan di sini," ucap Elfira dengan polosnya.


satu ...


dua ...


tiga ...


"Buahahaha ...."


Meledak lah tawa Erlangga, untungnya saja mereka masih berada di dalam mobil. Sementara Elfira menatap Erlangga bingung. Apa yang lucu dari ucapannya.


Setelah sekian detik, baru lah Erlangga bisa menghentikan tawa nya. Bahkan matanya sampai berair karena tertawa tadi.


"Kamu serius nanya kayak gitu ke aku?" tanya Erlangga setelah tawanya benar-benar berhenti.


"Memangnya kenapa?" kini gantian Elfira yang tampak kebingungan.


"Kamu lupa siapa aku? Aku ini CEO perusahaan desain yang terkenal di Indonesia. Bahkan perusahaan ku juga ada yang di luar negeri. Jadi, uang ku tidak akan habis hanya karena mentraktir kamu makan di restoran ini." Bukan bermaksud sombong, Erlangga hanya ingin mengingatkan wanita yang ada di hadapannya ini siapa Erlangga.


"Ah, benar juga," gumam Elfira pelan. Sesaat dia lupa siapa Erlangga.


"Lagian kamu ini lucu banget sih, masa seorang pemilik usaha katering yang sukses dan sebentar lagi akan membuka sebuah cafe malah bingung memikirkan harga makanan yang mahal," ledek Erlangga membuat Elfira memanyunkan bibirnya.


"Sudah ah, tak perlu kamu memikirkan harga makanan di sini. Uang ku tidak akan habis 8 turunan dan 8 tanjakan kalau hanya untuk mentraktir kamu. Yuk kita turun."


Erlangga dan Elfira pun turun dari mobil. Di pintu restoran mereka di sambut oleh pelayan yang bertugas di depan pintu.


Karena restoran tersebut sudah di boking oleh Erlangga, maka tak ada satu pengunjung pun selain mereka berdua.

__ADS_1


Elfira tampak kebingungan saat melihat restoran itu tak ada satu pun pengunjung.


"Ini kok sepi banget ya kayak kuburan. Masa gak ada pengunjung lain selain kita," bisik Elfira ketika mereka sudah duduk di tempat yang sudah di persiapkan sebelumnya.


Sebelum Erlangga sempat menjawab, seorang pelayan datang menghampiri mereka.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya, silakan lihat-lihat menu nya," ucap pelayan tersebut seraya menyerahkan buku menu.


Erlangga menyebutkan semua makanan yang asing di telinga Elfira. Sejujurnya, ia sendiri tak mengerti menu-menu apa saja yang tersedia di restoran ini. Maka dari itu, Elfira meminta Erlangga yang memesankan untuk dirinya.


"Restoran ini sengaja aku boking khusus untuk kita berdua," ucap Erlangga setelah pelayan tadi pergi.


"Dalam rangka apa?"


"Nanti kamu juga akan tau."


Seorang pelayan kembali datang dengan membawakan pesanan mereka. Pelayan tersebut meletakkan semua pesanan ke atas meja, setelah itu ia pamit dan pergi dari sana.


"Yuk makan."


...****************...


Selesai makan malam, Erlangga mengajak Elfira ke suatu tempat. Sebuah gedung bertingkat yang sangat Elfira kenali.


"Ini kan ..."


"Yuk," ajak Erlangga sambil menggenggam tangan Elfira. Namun, wanita itu menahan tangan Erlangga hingga ia pun tak jadi melanjutkan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Erlangga melihat Elfira yang masih tetap diam di tempatnya.


"Kita ngapain ke kantor kamu, kan sudah tidak ada orang lagi."


Erlangga tersenyum, ia tau apa yang ada dalam pikiran Elfira. "Gak usah mikir yang macam-macam. Aku bukan pria brengsek yang suka mengambil kesempatan," ucap Erlangga seakan mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh Elfira.


Dengan langkah ragu-ragu, Elfira pun mengikuti Erlangga. Mereka berjalan menuju lift dan menunggu hingga pintu lift terbuka. Begitu lift terbuka, Erlangga langsung menarik tangan Elfira. Di dalam lift hanya ada mereka berdua saja. Mengingat saat ini sudah pukul 9 malam dan seluruh karyawan sudah pulang. Hanya ada satpam yang bertugas malam ini yang masih tinggal di kantor. Lift tersebut mengantarkan mereka ke lantai paling atas atau yang biasa di sebut rooftop.


Pintu lift terbuka, mereka pun keluar dari sana. Elfira membuka lebar mulutnya saat melihat keadaan rooftop yang berbeda dari biasanya. Di sepanjang jalan di hiasi lilin-lilin kecil yang menyala. Elfira berjalan mengikuti jejak taburan kelopak bunga mawar hingga sampai lah ia pada taburan bunga berbentuk hati yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat lilin-lilin kecil yang mengikuti bentuk hati tersebut.

__ADS_1


Erlangga menggenggam tangan Elfira dan membawanya masuk ke tengah-tengah bentuk hati itu. Erlangga dan Elfira berdiri saling berhadapan. Kedua tangan Elfira di genggam olehnya.


Jujur saja, saat ini Erlangga merasa sangat gugup. Lebih baik ia di suruh presentase di hadapan ratusan bahkan ribuan orang dari pada berdiri di hadapan Elfira, wanita yang sudah berhasil mencuri hati seorang Erlangga Putra Wijaya.


Erlangga menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Aku tau kamu pasti bingung dengan situasi malam ini," ucap Erlangga yang mulai membuka suara.


"Tapi Fir, malam ini ijinkanlah aku untuk mengatakan semua perasaan yang sudah aku pendam selama ini," sambung Erlangga lagi. Dia masih berusaha untuk tenang meskipun sebenarnya jantungnya saat ini sedang berdebar kencang.


Tak jauh berbeda dengan Erlangga, Elfira juga sedang merasakan hal yang sama. Jantungnya saat ini sedang berdebar-debar menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Erlangga selanjutnya.


"Malam ini akan menjadi saksi perjuanganku untuk menyatakan perasaan yang selama ini selalu aku pendam."


"Elfira Zahira, ijinkanlah aku untuk menjadi imam mu, menjadi ayah sambung untuk anakmu. Aku tau, mungkin kamu terkejut dengan pernyataan cintaku yang tiba-tiba ini. Tapi, aku sudah tidak bisa menyimpannya lagi terlalu lama."


Elfira tak bisa berkata-kata, bibirnya kelu. Ia masih sangat terkejut mendengar pernyataan cinta dari Erlangga. Ia masih tak percaya ini terjadi padanya.


Di tatapnya Lamat mata coklat kegelapan yang ada di hadapannya itu, Elfira melihat ada cinta yang begitu dalam untuknya. Elfira pernah sekali gagal dalam menjalani rumah tangga. Dan sejujurnya Elfira masih belum siap untuk menjalin hubungan dengan lelaki mana pun apalagi jika sampai menikah lagi. Ia takut akan mengalami kegagalan lagi.


Untuk saat ini yang menjadi prioritas Elfira adalah Anin, dia sendiri masih belum bisa menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Adam. Lalu sekarang, ada Erlangga yang tiba-tiba menyatakan cinta dan ingin menjadi imamnya. Sungguh, ini sangat sulit buat Elfira.


"Fir," panggil Erlangga membuat Elfira tersadar dari lamunannya.


"Aku tau kamu pasti terkejut, tapi ku mohon ijinkanlah aku untuk membuktikan kalau perasaanku ini tidaklah main-main. Aku tak akan berjanji akan membuat hidupmu paling bahagia di dunia ini. Tapi aku akan melakukan apapun yang akan membuatmu bahagia."


Erlangga melepaskan genggaman tangannya lalu berlutut di hadapan Elfira. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Kotak tersebut di buka nya dan tampaklah sebuah cincin berlian yang sangat indah.


Elfira menutup mulutnya tak percaya, sungguh ia tak menyangka kalau Erlangga akan melakukan ini.


"Elfira Zahira, menikahlah denganku dan jadilah ibu dari anak-anakku," ucap Erlangga sambil mengulurkan kotak cincin itu di hadapan Elfira.


Elfira sungguh terharu, tanpa sadar airmatanya menetes. Tak pernah ia di perlakukan seistimewa ini oleh lelaki. Dan di lamar dengan cara seromantis ini, bahkan dulu Adam juga tidak melamarnya dengan cara seperti ini.


Entah keputusan apa yang harus Elfira ambil. Dapatkah Elfira membuka hatinya untuk Erlangga?


Dan apakah ia akan menerima lamaran Erlangga?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2