Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 10


__ADS_3

POV Dirga


Pagi ini saat aku baru sampai di depan kantor, aku melihat wanita pujaan ku juga baru sampai, dia di antar oleh seorang lelaki. Ku hentikan mobil untuk memantaunya dari jauh. Mereka tampak berbincang dengan sangat akrab, bahkan dia sampai tersenyum manis. Hati ku cemburu, jika bersamaku dia selalu marah-marah dan bersikap dingin padaku.


Ku perhatikan lelaki yang mengantar Anin itu, jika di lihat dari tempat ku berada, wajahnya cukup tampan. Tapi, tidak setampan diriku. Wajahnya terlihat masih sangat muda dan bisa ku perkirakan usianya pasti masih di bawah Anin lagi.


Aku terus memantau mereka, entah sampai kapan mereka akan terus mengobrol di sana. Netraku membulat sempurna saat melihat celana abu-abu yang di kenakan oleh lelaki itu.


"Anak SMA?" gumamku dalam hati.


Tak lama kemudian ku lihat lelaki itu pergi, Anin tampak sangat kesal saat rambutnya di acak-acak sampai berantakan. Setelah itu, Anin pun berjalan memasuki halaman kantor.


"Ternyata dia sudah punya pacar. Anak SMA pula, rendah banget seleranya," ejek ku meremehkan.


Aku pun mulai melajukan mobilku memasuki area gedung kantor. Pagi ini mood ku benar-benar berantakan gara-gara melihat kejadian tadi. Aku tidak terima di kalahkan oleh anak SMA seperti dia. Aku harus bisa mendapatkan Anin, karena dia hanya milikku.


...****************...


Sudah tiga jam berlalu sejak aku melihat Anin di antar oleh seorang lelaki, tapi sampai saat ini hatiku masih tetap tidak tenang. Aku terus uring-uringan dan tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku terus tertuju pada Anin dan kekasihnya.


"Akh, b*d*h. Harusnya aku cari tahu dulu tentang Anin dan kehidupan pribadinya. Kalau begini kan aku sendiri yang repot, tidak tau apa-apa tentangnya," gerutu ku merutuki kebodohan ku sendiri.


Seumur hidup, aku tidak pernah di buat penasaran seperti ini oleh seorang wanita. Biasanya para wanita yang selalu mendatangiku dan mengejar ku. Tapi, berbeda dengan anin. Dia seperti tidak peduli padaku, sikapnya jutek dan dingin membuat ku semakin tergila-gila padanya. Jika seperti ini terus, lama-lama aku bisa di buat gila olehnya.


"Aku tidak bisa seperti ini terus, harus aku pastikan sendiri, apakah lelaki itu kekasihnya atau bukan."


Aku mengangkat gagang interkom di atas meja ku lalu menghubungi Sonya, manajer fashion desainer, atasan Anin.


"Dengan Sonya di sini, ada yang bisa di bantu?" jawabnya melalui panggilan interkom.


"Ini saya," balas ku dengan suara berat ku.


"Iya pak Dirga, apa bapak membutuhkan sesuatu?"


"Apa Anin ada di ruangannya?" tanya ku langsung.


Tak ada jawaban dari Sonya, mungkin dia sedang mencari keberadaan Anin atau dia sedang kebingungan kenapa aku malah mencari asistennya.


"Ada pak," jawabnya sesaat kemudian. "Ada apa dengannya pak? Apa dia membuat masalah?" tanya Sonya takut-takut.


"Tidak. Dia tidak membuat masalah, saya hanya sedang membutuhkannya. Tolong suruh dia ke ruangan saya secepatnya."


Aku pun langsung memutuskan sambungan sebelum Sonya sempat menjawab. Aku tersenyum membayangkan wajah cantik Anin yang sebentar lagi akan muncul di hadapanku. Bisa ku bayangkan bagaimana reaksinya nanti. Pasti akan sangat menggemaskan.


Aku tertawa dalam hati mengingat hal itu, tak sabar rasanya aku menunggu kedatangan Anin.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku yakin sekali jika itu adalah Anin, wanita pujaan hatiku yang selalu membuatku rindu.


"Masuk," jawabku dari dalam.


Pintu ruangan terbuka dan aku langsung pura-pura sibuk. Mata ku tertuju pada layar laptop ku serta jari-jari yang berpura-pura sedang mengetik. Padahal yang sebenarnya, aku hanya menekan sembarang huruf di atas keyboard agar aku terlihat sedang bekerja.


"Bapak manggil saya?" tanya nya setelah ia berdiri di depan ku.


"Memangnya saya setua itu sampai kamu manggil saya bapak," protes ku kesal.


Entah kenapa aku sangat tidak suka saat dia memanggilku 'bapak'.


"Anda kan atasan saya, jadi tidak sopan rasanya kalau saya hanya memanggil nama saja pada anda."


Tuh kan, keluar sifat galaknya.


"Ck, sudah saya bilang kan kalau kamu itu pacar saya dan saya adalah pacar kamu. Jadi kamu bebas mau memanggil saya apa."


"Sejak kapan saya jadi pacar bapak, sepertinya kemarin sudah sangat jelas saya menolak anda."


Kenapa sih dia harus terus-terusan membantah ucapanku, tidak bisa apa sekali saja dia menurut. Sepertinya Anin memang tidak memiliki rasa takut sama sekali padaku, membuatku kesal saja. Baiklah, kita lihat, apakah setelah ini dia masih memiliki keberanian yang sama seperti tadi.


Aku pun bangkit dan berdiri tepat di hadapannya, ku tatap gadis di hadapanku ini dengan intens. Tidak seperti sebelumnya, dia akan langsung menunduk jika di tatap seperti ini oleh ku. Tapi justru sebaliknya, Anin malah balas menatapku dengan tajam.


Dalam hati aku tersenyum sinis, sepertinya Anin sudah tidak takut lagi pada ku. Hal ini justru membuatku semakin menyukainya.


Namun, dengan cepat aku menarik tangannya hingga tubuh rampingnya menabrak dadaku yang bidang. Kini tubuh kami saling menempel, dan tak ku sia-siakan kesempatan ini. Ku tarik pinggangnya hingga semakin menempel padaku.


"Siapa yang mengijinkan kamu untuk pergi dari ruangan saya? Sebelum saya ijinkan, kamu tidak bisa keluar dengan seenaknya," ancam ku.


Namun, sepertinya ancaman ku tidak dihiraukannya. Dia terus memberontak untuk melepaskan dirinya, tapi aku justru semakin mengeratkan tanganku di pinggangnya.


"Jangan terus bergerak kalau kamu tidak ingin membangunkan singa tidur di bawah sana," ancamku membuatnya berhenti seketika.


"Good girl," pujiku karena dia sudah menurut padaku.


"Siapa yang mengantar kamu tadi pagi?" tanyaku membuatnya langsung mendongak.


Lama ia tak menjawab, mungkin dalam hati dia sedang bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu kalau dia di antarkan oleh seseorang.


"Lepaskan saya." Bukannya menjawab, Anin justru minta untuk di lepaskan.


"Tidak. Sebelum kamu menjawab pertanyaan saya." Aku pun tidak mau kalah.


"Saya akan menjawab kalau anda mau melepaskan saya."

__ADS_1


"Kalau begitu tidak usah di jawab, jadi kita bisa seperti ini sampai nanti sore." Aku pun langsung tersenyum miring menatap dirinya.


Lagi, Anin terdiam. Sepertinya dia sedang memikirkan cara bagaimana bisa terlepas dari ku. Dalam hati aku bersorak karena sepertinya kali ini Anin akan luluh denganku. Namun ternyata aku salah, tiba-tiba dia menatapku dengan tatapan memohonnya.


"Imut sekali," bisikku dalam hati.


"Please, lepasin saya ya," pintanya dengan suara lembut sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Siapa yang tak luluh mendengar suara lembut nan imut yang di tunjukkan Anin. Aku pun juga demikian, perempuan yang biasa bersikap jutek dan galak, kini malah bersikap imut seperti itu. Tanpa sadar aku pun melepaskannya.


"Saya sudah melepaskan kamu, sekarang jawab, siapa yang mengantar kamu tadi pagi? Apakah dia pacar kamu?"


"Iya. Dia pacar saya," jawabnya cepat.


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut langsung, membuatku murka. Aku tidak suka milikku di miliki oleh lelaki lain. Tak peduli jika orang menilai ku egois. Tapi, apa yang sudah menjadi milikku tak boleh di miliki oleh siapa pun. Termasuk bocah SMA tadi pagi.


"Putuskan dia sekarang juga!" pintaku dengan penuh penekanan.


Ku tatap tajam matanya, aku benar-benar tak suka mendengar jawabannya tadi. Ku lihat dia berjalan mundur, sepertinya dia mulai ketakutan. Aku pun mengikuti langkahnya hingga akhirnya ia tak bisa lagi melangkah mundur karena punggungnya sudah menyentuh dinding. Aku senang karena akhirnya dia mulai tersudut. Ku kurung tubuhnya di antara kedua lenganku hingga dia tidak bisa lagi kemana-mana.


"Kamu milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Tidak ada siapapun yang boleh memilikimu, atau aku akan langsung menyingkirkannya," ancam ku yang membuatnya semakin ketakutan.


Aku terus menatapnya tajam, dan dia mulai tampak terintimidasi dengan tatapanku. Aku menundukkan wajahku mendekati wajahnya, dan ia pun ikut menunduk demi menghindari tatapanku.


Tanpa sepengetahuan Anin, aku menyunggingkan senyum miring. Sepertinya akan sangat menarik jika aku menjahili nya.


Saat wajahku semakin dekat, tiba-tiba Anin mendongak membuatku sedikit terkejut. Tapi, sebisa mungkin aku berusaha menutupinya agar tak terlihat oleh Anin.


Tiba-tiba mataku tertuju pada bibirnya yang tipis dan berwarna merah mudah. Sepertinya dia tidak memakai lipstik, tapi memakai pelembab bibir saja, warna bibirnya tampak alami.


"Gila, kalau seperti ini bisa-bisa aku khilaf. Tidak, aku tidak mau membuat dia membenciku. Aku harus mendapatkan hatinya terlebih dahulu," bisikku sambil melihat bibir ranumnya.


Ku lihat Anin tampak memejamkan matanya saat bibir kami hanya berjarak beberapa centi lagi. Tiba-tiba aku memiliki ide jahil. Aku semakin mendekati bibirnya lalu ....


CUP


Ku kecup keningnya lalu aku pun sedikit menjauh darinya. Ku lihat dia masih memejamkan mata, aku pun tersenyum melihat wajahnya yang terlihat sangat lucu.


"Mau sampai kapan kamu memejamkan mata seperti itu?" tanyaku membuat Anin langsung membuka matanya.


Ia langsung menatap ku tajam, sepertinya dia marah padaku karena aku sudah menjahilinya dan sudah berani mencium keningnya tanpa ijin.


Tanpa berkata apa-apa, Anin membuka pintu dan pergi dari ruangan ku begitu saja, bahkan ia sampai membanting pintu dengan sangat keras.


Aku masih terus tersenyum meskipun Anin sudah tidak berada di dalam ruangan ku lagi. Ku angkat tanganku dan meraba bibirku bekas mencium keningnya tadi.

__ADS_1


"Lain kali aku pasti bisa mendapatkan bibirnya yang sudah membuatku gila hanya dengan melihatnya saja."


...****************...


__ADS_2