
Setelah mendapat telepon dari ibunya, Erlangga bergegas mendatangi rumah Elfira dan akan menjemput wanita itu. Namun, Erlangga harus menelan pil kecewa saat mengetahui jika Elfira sudah pergi dan tak ada di rumahnya.
"Mereka pergi kemana Bi? Berapa lama mereka pergi?" tanya Erlangga pada Bi Asih.
"Bibi gak tahu mas, neng Fira gak ada bilang. Dia cuma mengatakan kalau mau liburan gitu," jawab Bi Asih. Sesuai dengan pesan Elfira, Bi Asih tidak mengatakan yang sebenarnya kemana Elfira pergi.
"Memangnya Bibi gak nanya mereka mau pergi kemana?"
"Sudah mas, tapi neng Fira bilang dia pergi gak lama. Jadi ya Bibi gak ada nanya-nanya lagi." Sebenarnya Bi Asih tak tega membohongi Erlangga, apalagi saat melihat wajah Erlangga yang terlihat sedih saat mengetahui kalau Elfira tidak ada di rumah. Namun, karena janji nya dengan sang majikan membuat Bi Asih tetap tak mengatakan yang sebenarnya.
"Ya sudah Bi, terimakasih untuk informasinya. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Iya mas, waalaikumsalam."
Erlangga berjalan gontai menuju mobilnya, padahal tadi dia sudah bersemangat dan berharap bisa bertemu wanita pujaan hatinya. Tapi, semua harapannya sia-sia. Elfira sudah pergi dan Erlangga tak tahu kemana wanita itu pergi. Sepertinya perjuangan Erlangga untuk mendapatkan Elfira masih panjang.
"Kamu pergi kemana Fir?" tanya Erlangga pada dirinya sendiri.
Erlangga melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Elfira dengan perasaan kecewa. Apa yang harus ia katakan nanti dengan ibunya jika ia pulang tanpa Elfira. Sudah pasti ibunya itu akan mengamuk, apalagi saat tahu jika dirinya telah menyakiti Elfira.
"Tante Halimah. Ya, aku harus tanya sama Tante," tiba-tiba saja Erlangga teringat dengan tantenya itu. Sekali lagi Erlangga mencoba peruntungannya, siapa tahu tantenya itu mengetahui kemana Elfira pergi.
...****************...
"Apa! Elfira pergi?" Halimah terkejut mendengar perkataan Erlangga bahwa Elfira pergi bersama Anin. Ia sendiri tak tahu kalau Elfira pergi, ibu muda itu tak pernah mengatakan apapun padanya tentang kepergiannya. Justru baru sekarang lah Halimah mengetahuinya.
"Jadi Tante beneran gak tahu?" tanya Erlangga sekali lagi. Ternyata usahanya sia-sia, yang ia pikir sang Tante dapat memberikan informasi tentang keberadaan Elfira, justru Tante nya itu malah tidak tahu apa-apa.
"Kamu sudah tanya sama orang di rumahnya?"
"Sudah Tante, tapi mereka bilang kalau Elfira tidak mengatakan kemana dia pergi," Erlangga tertunduk lesu. Dia tak tau harus mencari Elfira kemana lagi.
"Kalian lagi bertengkar ya?" tebak Halimah.
Erlangga menghela nafasnya, dia akui kalau dirinya memang bersalah. Tapi, Erlangga tidak menyangka kalau Elfira akan pergi seperti ini.
"Semuanya salah Erlangga Tante." Erlangga pun menceritakan apa yang terjadi antara mereka sampai saat Elfira memergokinya bersama wanita ular itu.
__ADS_1
"Itu sih memang salah kamu, kalau Tante jadi Elfira pun Tante pasti akan pergi dari hidup kamu selamanya dan tak akan kembali," ucap Halimah geram setelah mendengarkan penjelasan Erlangga.
"Erlangga kan gak sengaja Tante," ucap Erlangga membela diri.
"Gak sengaja kamu bilang."
Bugh
Bugh
Halimah memukuli Erlangga dengan kedua tangannya, wanita paruh baya itu merasa geram dengan jawaban sang keponakan.
"Aduh. Aduh. Ampun Tante. Sakit," protes Erlangga sambil menghindari serangan Halimah.
"Sakit kamu bilang, lebih sakit mana sama Elfira?" Halimah benar-benar kesal dengan keponakannya itu. Ingin sekali rasanya Halimah mencincang tubuh Erlangga dan melemparkannya ke penangkaran buaya.
"Kenapa dengan Elfira?" tanya Wulan yang tiba-tiba sudah ada di ruang tamu rumah Halimah.
"Mama," gumam Erlangga.
Habislah sudah, kali ini dia pasti akan mendapat amukan dari ibunya. Erlangga pun hanya bisa pasrah dengan nasibnya nanti.
"Kenapa dengan Elfira?" tanya Wulan sekali lagi.
"Wulan. Sejak kapan kamu datang?" tanya Halimah sambil menghampiri sang adik.
Mereka berdua saling berpelukan lalu saling mencium pipi kanan dan pipi kiri. Halimah mengajak Wulan untuk duduk dan bergabung bersama mereka.
"Kamu apa kabar, sudah lama loh kamu gak pernah ke rumah mbak lagi," ucap Halimah berbasa-basi.
"Alhamdulillah aku baik mbak. Maaf kalo aku gak pernah kemari, soalnya lagi sibuk banget mbak."
"Halah, alasan saja kamu," ucap Halimah pura-pura merajuk.
"Oh iya, tadi kenapa dengan elfira?" tanya Wulan untuk yang ke sekian kalinya.
"Kamu kenal dengan Elfira?" tanya halimah heran.
__ADS_1
"Kenal mbak, Elfira itu calon menantuku." Dengan bangga Wulan mengatakan kalau Elfira adalah calon menantunya.
Halimah langsung menatap sinis pada keponakannya itu lalu mencibir, "calon menantu apaan. Orangnya saja sudah pergi entah kemana."
"Hah! Maksudnya gimana mbak? Memangnya mbak kenal dengan Elfira?" kini gantian Wulan yang merasa heran.
"Ya kenal banget lah, Elfira itu tetangga mbak yang sudah mbak anggap seperti anak sendiri. Tapi, gara-gara kelakuan anak kamu yang bodoh itu, Elfira jadi pergi." Kekesalan Halimah sepertinya akan terus berlanjut sampai Elfira kembali dan memaafkan dirinya.
"Aku masih gak ngerti, memangnya apa yang sudah dilakukan Erlangga?"
Halimah pun menjelaskan kepada Wulan apa yang terjadi, persis seperti yang ceritakan Erlangga tadi padanya tanpa ada yang dilebih-lebihkan ataupun dikurangi.
Jelas saja Wulan pun menjadi berang terhadap anaknya itu. Ia menatap tajam pada Erlangga, sama seperti Halimah tadi, Wulan pun memukuli Erlangga membuat anaknya itu mengaduh.
"Dasar anak kurang ajar, bisa-bisanya kamu melakukan itu kepada calon menantuku. Kenapa kamu bisa sebodoh ini sih Lang, mama kan tidak pernah mengajari kamu untuk menyakiti hati wanita. Tapi kenapa kamu melakukan itu pada Elfira."
"Kamu tahukan kalau Elfira itu wanita yang sangat baik, kemana lagi mama harus mencari perempuan sebaik dia untuk jadi calon menantu mama. Kamu ini ya, benar-benar sudah membuat mama marah."
Wulan terus mengomeli anaknya, sedangkan Erlangga tak bisa berkutik. Dua wanita yang berkuasa dalam hidupnya sedang memarahinya. Sungguh, Erlangga tak bisa lagi membela dirinya. Mau menyalahkan Jessica pun tidak bisa, karena dirinya juga ikut bersalah. Kalau saja ia tak sampai tergoda, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin saja saat ini mereka sedang merencanakan pernikahan mereka.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal pun tak ada gunanya. Benar apa yang dikatakan orang-orang, penyesalan selalu datang terlambat. Jika datang duluan itu namanya pendaftaran. Hihihi....
"Sekarang Erlangga harus gimana Ma, Tan?" tanya Erlangga dengan tatapan iba.
Penampilannya kini sangat kacau, rambut acak-acakan akibat mendapat amukan dari mama dan tantenya tadi.
"Jangan tanya sama mama. Kamu pikir saja sendiri, mama kesal sama kamu Lang. Pokoknya, sebelum Elfira kembali dan kamu belum mendapatkan maaf darinya, jangan pernah bicara sama mama," ancam Wulan lalu pergi dari rumah Halimah tanpa berpamitan pada sang pemilik rumah.
"Ma!" panggil Erlangga sambil menatap punggung sang ibu yang semakin menjauh. Erlangga beralih menatap Halimah yang masih duduk bersamanya.
"Tan, bantu Erlangga dong."
"Jangan minta tolong sama Tante." Sama seperti Wulan tadi, Halimah pun tak mau membantu Erlangga. Ia lantas bangkit dan pergi menuju ke kamarnya.
Kini tinggallah Erlangga yang sedang meratapi nasibnya. "Kenapa semua pada pergi ninggalin aku sih," gumam Erlangga.
Setelah merasa tak ada lagi yang bisa membantunya, Erlangga pun bangkit dan pergi meninggalkan rumah Halimah.
__ADS_1
Mungkin dia akan meminta bantuan Dewo. Karena hanya Dewo satu-satunya orang yang bisa dia mintai pertolongan saat ini.
...****************...