
Setelah mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh mamanya, Axel mengajak Anin pergi dari restoran itu tanpa sempat menikmati makanan mereka. Namun sebelum itu, Axel sudah membayarkan makanannya terlebih dahulu.
Raut wajah dan sikap Axel pun berubah, pemuda itu menjadi lebih pendiam dari biasanya. Sepanjang jalan keluar dari mall itu, tak ada percakapan apapun antara mereka. Anin mengerti bagaimana perasaan Axel saat ini. Pemuda itu pasti sedang merasakan kekecewaan yang mendalam, apalagi ia harus melihat ibunya berselingkuh tepat di depan matanya.
Anin menatap Axel yang berjalan di sampingnya, dia jadi tak tega melihat Axel yang sepertinya tampak bersedih.
Di pegangnya lengan Axel hingga membuat pemuda itu berhenti dan menatap Anin.
"Are you okey?" tanya Anin memastikan keadaan Axel.
Axel sempat menunduk lalu kembali menatap Anin dengan wajah sendu.
"Bohong kalo gue bilang gue baik-baik aja. Gue nggak tau gimana perasaan gue sekarang. Rasanya campur aduk antara kecewa, marah, dan sedih."
Entah apa yang dipikirkan Anin saat ini, tanpa sadar dia memeluk Axel yang tubuhnya lebih tinggi dari dirinya.
Axel sempat terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Anin. Tak ingin kehilangan kesempatan, Axel pun membalas pelukan Anin dengan erat.
"Kamu yang sabar, dan kamu juga harus kuat. Aku tau gimana rasanya jadi kamu," ucap Anin membuat Axel menguraikan pelukannya.
Axel menatap Anin dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Aku juga pernah ada di posisi kamu seperti saat ini," ujar Anin seolah mengerti dengan maksud tatapan Axel padanya.
"Maafkan nyokap gue yang udah merebut papa dari lo dan nyokap lo," ujar Axel tiba-tiba dengan perasaan bersalah.
"Kamu nggak perlu minta maaf, semua itu hanya masa lalu. Yang penting sekarang kita harus menjalani hidup dengan baik dan menjalin tali persaudaraan agar kekeluargaan kita tetap terjaga dan tidak terputus. Lagian sekarang aku udah punya papa sebaik papa Erlangga."
Axel kembali murung, hati kecilnya tak bisa menerima jika Anin hanya menganggapnya sebagai saudara. Axel ingin lebih, dia ingin di anggap sebagai laki-laki bukan sebagai adik. Tapi, mengingat mereka memiliki ayah yang sama, membuat Axel harus bisa menerima kenyataan, meskipun sulit.
"Axel! Hei! Malah bengong." Anin melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Axel hingga pemuda itu tersadar dari lamunannya.
"Kita pulang yuk, udah sore," ajak Anin.
"Gue antar lo sampe rumah ya."
Anin mengangguk membuat Axel senang. Meski hanya di akui sebagai saudara, tapi tak mengapa asal Axel bisa selalu dekat dengan Anin. Perempuan yang membuatnya berubah menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Orang itu mengepalkan kedua tangannya. Rasa marah dan kecewa langsung merayap ke dalam lubuk hatinya.
"Nggak nyangka, ternyata lo semurah itu jadi cewek," gumamnya lalu pergi dari sana.
__ADS_1
...****************...
Sejak melihat perselingkuhan yang dilakukan oleh ibunya, Axel benar-benar berubah menjadi pendiam, bahkan saat di rumah sekalipun. Tak seperti biasa dia yang akan selalu membantah apapun yang dikatakan Adam padanya. Namun, kali ini Axel menjadi anak yang penurut dan melakukan apapun yang di perintahkan Adam.
Melihat perubahan sikap Axel membuat Adam bingung. Ia pun memperhatikan anaknya itu yang sudah beberapa hari ini menjadi lebih pendiam. Sementara Sandra merasa beruntung karena Axel tidak mengatakan apapun pada Adam. Dia pikir Axel berada di pihaknya. Padahal Axel hanya tak ingin ayahnya tahu apa yang dilakukan Sandra di belakangnya. Axel tak ingin melihat ayahnya kecewa.
Biar bagaimanapun juga, walau Axel selalu melawan dan membantah, tapi dia tetap menyayangi Adam. Axel tak ingin ayahnya kecewa dan sakit hati. Tapi Axel tidak bisa terlalu lama menyembunyikan pengkhianatan yang di lakukan oleh Sandra. Karena, mau serapat apapun kebusukan itu di tutupi, bau nya pasti akan tetap tercium juga.
"Axel!" panggil Adam membuyarkan lamunan Axel.
"Iya Pa," jawabnya sambil menatap sang ayah.
"Dari tadi papa perhatikan kamu melamun terus, itu nasi cuma di aduk-aduk aja. Kamu lagi ada masalah? Coba cerita sama papa."
Axel tak menjawab, dia menatap Sandra lalu kembali menatap Adam. Setelah itu Axel berpura-pura tersenyum agar tak membuat Adam khawatir.
"Aku nggak apa-apa kok Pa, cuma lagi mikirin tugas kuliah yang lagi banyak banget," dusta Axel sambil menatap Sandra dengan penuh kebencian.
Hal itu tak luput dari pandangan Adam, ia memperhatikan raut wajah Axel saat menatap Sandra. Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi antara anak dan istrinya itu. Tapi, Adam juga tak mau memaksakan Axel jika anak itu tidak mau jujur dan mengatakan yang sebenarnya.
Akhirnya Adam memilih untuk tak bertanya lagi, mereka pun kembali melanjutkan makan malam tanpa ada suara sedikitpun. Mereka sedang terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
Selesai makan malam, Axel langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang makan.
"Nayla pamit ke kamar dulu ya Ma, Pa," pamit Nayla dan langsung di angguki oleh Adam dan Sandra.
Setelah kepergian kedua anaknya, barulah Adam mulai membuka suara dan menanyakan tentang perubahan sikap Axel pada istrinya.
"Ada apa dengan Axel? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Adam membuat Sandra sedikit terkejut. Dia pun terlihat gugup dan tampak seperti sedang memikirkan jawaban.
"Aku ... , aku nggak tau. Axel nggak ada cerita apa-apa sama aku," jawab Sandra sedikit terbata.
Adam memicingkan matanya dan menatap curiga pada Sandra. Pasalnya, istrinya itu tampak gugup saat di tanya. Di tambah lagi dengan tatapan Axel saat melihat ke arah Sandra tadi. Hal itu cukup membuktikan kalau memang terjadi sesuatu antara Axel dengan Sandra.
...****************...
Di dalam kamarnya, Axel sedang berdiri di balkon sambil menghisap sebatang rokok di tangannya. Ia duduk di kursi yang ada di balkon sambil memandangi langit malam yang tampak berawan.
Dari luar kamar, Axel mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara Nayla yang memanggilnya dan meminta ijin untuk masuk.
"Bang Axel! Nayla boleh masuk nggak?"
__ADS_1
Axel tak langsung menjawab hingga suara ketukan kembali terdengar dan di susul dengan suara Nayla yang kembali memanggilnya.
Mau tak mau Axel pun harus berteriak dan mempersilahkan adiknya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Masuk aja Nay! Pintunya nggak di kunci kok!"
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali, dan suara langkah kaki Nayla yang mendekat ke arahnya.
"Abang!" panggil Nayla dengan suara yang lembut.
"Hmm."
"Nayla ... boleh duduk di sini?" tanya Nayla takut-takut.
Axel menghisap sekali lagi rokoknya lalu mematikan rokok tersebut dengan cara menekannya di dalam asbak hingga rokok tersebut padam. Setelah itu dia beralih menatap adiknya yang sedang menunggu jawaban darinya.
Melihat adiknya itu, Axel pun tersenyum dan menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. Karena sudah mendapatkan ijin dari Axel, Nayla pun dengan segera duduk di sebelah abangnya.
"Ada apa? Tumben kamu ke kamar Abang?"
Nayla menatap Axel dan mencoba memberanikan diri untuk bertanya. "Nay, boleh tanya sesuatu nggak sama Abang?"
"Mau nanya apa?"
Nayla kembali menunduk, dia ingin bertanya tapi takut abangnya itu akan marah.
"Tanya aja, jangan takut," ucap Axel seolah mengerti dengan ketakutan adiknya.
"Hmm. Maaf kalo Nayla lancang, Nay cuma mau tanya, sebenarnya Abang lagi ada masalah apa sama mama?" tanya Nayla membuat Axel melebarkan kedua matanya.
Dia heran, dari mana adiknya bisa mempunyai pemikiran seperti itu. Padahal Axel tidak pernah mengatakan pada siapapun tentang masalahnya.
"Kamu ..."
"Maaf bang, Nay nggak sengaja dengar Abang bertengkar sama mama kemarin."
Axel tampak menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya Axel harus sedikit berbohong agar adiknya juga tidak tahu tentang kebusukan Sandra di belakang mereka. Axel tidak ingin adiknya juga kecewa seperti dirinya.
"Abang nggak apa-apa kok, tak perlu kamu pikirkan. Ya biasalah, kamu kan tau sendiri gimana sifat Abang," dusta Adam.
"Apa karena Abang tau kalo mama selingkuh di belakang papa?"
__ADS_1
...****************...