Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 11


__ADS_3

Anin benar-benar kesal di buat atasan gila nya itu, dengan seenaknya dia meng-klaim dirinya sebagai kekasih Dirga dan bahkan tadi dia sampai mencium kening Anin tanpa ijin. Dalam hati Anin, ingin sekali rasanya dia menendang tulang kering atasannya dan melihatnya kesakitan. Dengan begitu, Anin baru bisa merasa puas karena sudah memberikan pelajaran pada Dirga.


Namun sayang, semua itu hanya ada dalam angannya saja. Dia tidak ingin terlibat masalah yang lebih dalam lagi bersama Dirga jika dia sampai melakukan apa yang ada dalam pikirannya tersebut. Ingin sekali rasanya Anin resign dari perusahaan itu, tapi mengingat pinalti dari kontrak kerja yang sudah di tandatanganinya, membuat Anin harus bisa bertahan dan menambah stok sabar dalam dirinya.


"Lo kenapa lagi? Perasaan tiap habis dari ruangan bos, muka lo selalu di tekuk kayak gitu," tanya Renata sambil menatap curiga.


"kepo banget sih kamu," balas Anin jutek.


Renata memicingkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Anin, dalam benaknya dia berkata kalau ada sesuatu antara temannya itu dengan CEO baru mereka.


"Yakin banget gue, Lo pasti punya hubungan kan sama pak Dirga," bisik Renata karena tak ingin perkataannya di dengar oleh rekan mereka yang lain.


Anin terkejut mendengar ucapan Renata, kenapa sahabatnya ini terlalu peka terhadap urusan orang lain. Di saat seperti ini, Anin ingin sahabatnya itu menjadi orang yang tidak peka sama sekali.


"Jangan ngarang kamu Re, aku gak punya hubungan apapun sama pak Dirga selain hubungan antara atasan dan bawahan." Anin mencoba untuk berkelit, tidak mungkin ia menceritakan yang sebenarnya pada Renata.


"Yakin lo? Kok gue merasa kayak ada yang lo sembunyikan ya."


"Ck, perasaan kamu aja kali. Udah ah, mending kamu lanjut kerja. Lihat tuh Bu Sonya, dari tadi merhatiin kita terus sampe mau keluar itu biji matanya," canda Anin agar Renata tak lagi menginterogasi dirinya.


Renata melihat ke arah Sonya dan ternyata manajernya itu sedang sibuk dengan pekerjaannya, bahkan wanita bertubuh tambun itu tidak melirik ke arah mereka sama sekali.


Renata pun menekuk wajahnya karena merasa sudah di tipu oleh Anin, sementara Anin hanya tersenyum karena sudah berhasil mengerjai sahabatnya itu.


...****************...


Pukul 5 sore, seluruh karyawan Pratama Group bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Mereka merapikan meja kerja sebelum benar-benar pulang, agar esok harinya mereka bisa melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dan keadaan meja mereka sudah rapi.


"Nin, lo mau pulang bareng gue gak?" Renata menawarkan dirinya untuk pulang bersama dengan Anin.


"Nggak deh, hari ini aku di jemput," tolak Anin. Beberapa jam yang lalu Kenan mengirimkan pesan padanya dan mengatakan ingin menjemputnya.


"Ciee, Anin di jemput sama pacarnya ya," ledek salah satu teman Anin.


"Nggak kok, bukan pacar."


"Pasti gebetannya kan," sahut yang lainnya.

__ADS_1


Anin tersenyum, tebakan teman-temannya itu salah semua.


"Bukan juga."


"Ish, kalian ini pada kepo banget sih," omel Renata pada kedua teman mereka.


"Apa sih Re, kenapa lo yang sewot."


"Tau lo. Anin nya aja biasa-biasa aja tuh. Udah yuk Mil, kita pulang aja."


"Ayo deh. Nin kita duluan ya."


"Oke," balas Anin sambil membentuk ibu jari dan telunjuknya seperti huruf O.


"Mereka pada kenapa sih?" tanya Renata tak habis pikir melihat sikap kedua teman satu tim nya yang seperti sedang merajuk.


"Udah gak usah di pikirin, kita turun juga yuk. Jemputan aku udah nunggu di bawah."


Tanpa menunggu jawaban dari Renata, Anin menarik tangan sahabatnya itu. sepertinya Renata masih kesal dengan sikap dua orang teman mereka tadi.


Sampai di depan lobi, Renata dan Anin pun berpisah. Renata menuju parkiran karena motornya ada di sana, sedangkan Anin langung menghampiri adiknya yang sedang menunggu di halte.


Ken melirik jam tangannya lalu beralih ke sang kakak. "Baru lima menitan kok."


Kenan mengambil helm untuk Anin yang ia sangkutkan di jok belakangnya laku memakaikan helm tersebut di kepala Anin. Siapapun yang melihat mereka berdua, pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Apa lagi saat Kenan memakaikan helm untuk Anin, hal itu terlihat sangat romantis.Tak terkecuali dengan Dirga, saat ini dia sedang mengepalkan kedua tangannya saat menyaksikan adegan tersebut.


"Sial, mereka benar-benar sangat mesra. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua," gumam Dirga.


Tak lama kemudian, Dirga melihat Anin menaiki motor dan memeluk pinggang Kenan. Hati Dirga semakin iri di buatnya, dia juga ingin berada di posisi Kenan yang di peluk oleh Anin. Setelah itu motor Kenan pun melaju meninggalkan halte, membelah jalanan dan bersatu dengan pengendara yang lain.


Sementara itu, Dirga masih setia pada tempatnya. Menyaksikan kepergian Anin hingga bayangannya pun tak terlihat lagi. Beberapa menit setelah Anin pergi, baru lah Dirga menyalakan mesin mobil lalu menginjak gas dan melajukan mobilnya.


...****************...


Menjelang Maghrib, motor Kenan memasuki halaman rumahnya. Begitu motor berhenti, Anin pun langsung turun lalu membuka helm nya. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Kenan yang masih duduk di atas motornya.


"Kak, tungguin!" teriaknya membuat Anin berhenti dan berbalik badan menatapnya.

__ADS_1


"Buruan!" desak Anin lalu berjalan kembali.


"Iya bentar, gak sabaran banget sih." Kenan pun buru-buru membuka helm nya lalu segera menyusul Anin yang sudah berjalan lebih dulu.


Sampai di dalam rumah, Anin dan Kenan melihat kedua orang tua mereka sedang duduk santai di ruang keluarga. Mereka pun menghampirinya lalu mencium tangan papa dan bundanya.


"Kalian kok bisa bareng?" tanya Elfira heran.


"Iya Bun, tadi Kenan jemput kakak di kantornya," jawab Kenan.


Elfira dan Erlangga pun saling pandang, tidak biasa anak bungsu mereka itu mau menjemput sang kakak.


"Tumben," sahut Erlangga.


"Hehe, sekali-sekali Pa. Lagian tadi Ken kebetulan ada di daerah kantor kakak, jadi Ken jemput kakak sekalian deh."


"Memangnya kamu dari mana?" tanya Erlangga yang tampak curiga dengan anak bungsunya itu.


"Dari rumah Dimas Pa."


"Kamu gak kebut-kebutan lagi kan?"


"Ya nggak lah Pa. Kenapa sih papa curiga melulu sama Ken? Memangnya Ken senakal itu di mata papa." Kenan merajuk lalu pergi dari ruang keluarga.


"Mau kemana kamu Ken, papa belum selesai bicara!" teriak Erlangga.


"Dasar anak itu, selalu saja kabur saat papa masih ingin berbicara," gerutu Erlangga karena Kenan tak menghiraukan teriakannya.


"Sudah Pa, jangan terlalu keras sama Ken," bujuk Elfira menenangkan suaminya.


"Anin ke kamar dulu ya Pa, Bun. Mau bersih-bersih, soalnya bentar lagi masuk Maghrib," pamit Anin.


"Iya sayang."


Anin pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar sang adik.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Anin melirik pintu kamar adiknya yang tertutup rapat. Hanya beberapa detik saja, setelah itu baru dia benar-benar masuk ke dalam kamar dan mulai membersihkan diri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2