
Adam terbangun di pagi hari dengan tubuh yang masih polos dan hanya di tutupi selimut. Semalaman ia berpesta bersama teman-temannya dan beberapa wanita penghibur di sebuah klub malam.
Saat terbangun, ranjang di sebelahnya sudah kosong. Sepertinya wanita itu sudah pergi sebelum ia terbangun. Adam memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.
Setelah kesadaran sedikit pulih, Adam memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan langsung mengenakannya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, dia sudah terlambat untuk ke kantor.
"Ah, ****. Gue terlambat lagi," umpatnya pada diri sendiri.
Sudah beberapa hari ini dia selalu datang terlambat ke kantor, dan sudah beberapa kali juga mendapat teguran dari atasannya.
Adam beranjak dari kasurnya dan hendak pergi dari klub tersebut. Sepertinya hari ini dia tidak akan bisa masuk kerja, mengingat kondisinya yang sedang sangat kacau. Di tambah lagi dengan bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuhnya.
Ponsel Adam berdering saat dia akan membuka pintu. Adam melihat nomor Naufal yang tertera disana.
Dengan malas Adam mengangkat teleponnya dan menggeser tombol hijau. "Halo pak," jawab Adam dengan suara seraknya.
"Kamu baru bangun tidur! Astaga Adam, kamu gak tau sekarang sudah jam berapa, kenapa sampai sekarang kamu masih belum datang juga. Kamu ini niat kerja gak sih!" bentak Naufal begitu Adam menjawab teleponnya.
Adam sampai menjauhkan ponsel dari telinganya karena mendengar suara bentakan dari Naufal yang membuat telinganya berdengung.
"Maaf pak, hari ini saya ijin gak ke kantor. Soalnya saya lagi gak enak badan pak," ucap Adam memberi alasan.
'Haah'
Terdengar suara helaan napas dari Naufal, sebenarnya dia sudah lelah menasehati Adam dan memintanya untuk memperbaiki kinerjanya.
"Halah, itu cuma alasan kamu saja supaya kamu tidak masuk kerja hari ini, kan. Dengar ya Adam, saya sudah tidak tau lagi bagaimana menasehati kamu. Sudah berulang kali kamu membuat masalah, dan sudah berulang kali juga saya memberikan kamu kesempatan," omel Naufal.
"Saya tidak peduli kamu sakit atau pura-pura sakit, saya minta kamu untuk datang ke kantor sekarang juga," ucapnya tegas dan langsung menutup teleponnya.
'Buugh'
"Aaarggh. Brengsek!" Adam mengumpat dan meninju dinding untuk melampiaskan kekesalannya. Kepalanya sudah hampir pecah karena masalah perceraiannya dengan Elfira, sekarang malah di tambah dengan masalah pekerjaan.
Dengan terpaksa Adam pun keluar dari klub malam tersebut menuju kantornya, tapi sebelum itu ia akan pulang dulu untuk membersihkan diri.
__ADS_1
...****************...
"Kamu ini sebenarnya niat kerja gak sih! Dalam satu bulan ini bisa di hitung berapa kali kamu hadir dan berapa kali kamu datang tepat waktu. Kalau begini terus, yang ada pak Erlangga akan marah dan kamu akan di pecat, termasuk saya juga karena tidak becus memimpin kamu. Kalau memang kamu sudah tidak betah lagi kerja disini, silahkan buat surat pengunduran diri kamu dan letakkan di atas meja kerja saya," hardik Naufal.
Pukul 10 pagi Adam baru tiba di kantor, padahal Naufal menghubunginya sejak pukul 8 tadi. Dia terpaksa harus mengomeli Adam karena dia sendiri pun sudah mendapat teguran dari atasannya, Erlangga.
Banyak project yang terbengkalai karena Adam yang jarang datang atau ketika ia terlambat datang. Tugas yang di bebankan padanya pun jadi tak terselesaikan. Banyak klien yang mengeluh karena permintaan mereka tidak selesai tepat waktu.
"Maaf pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Adam.
"Bulan lalu kamu juga bilang seperti itu, tapi mana buktinya. Malah sekarang semakin parah, kamu bekerja sesuka hati seolah-olah ini perusahaan bapak kamu," bentak Naufal karena sudah mulai emosi.
"Kamu tau. Sudah berulang kali pak Erlangga menegur saya hanya karena kinerja kamu yang tidak becus. Dan saya selalu berusaha untuk membela dan melindungi kamu, berharap kamu akan berubah."
"Tapi kenyataannya, kamu bukannya berubah menjadi lebih baik, tapi justru malah semakin bobrok. Kalau begini terus, saya tidak bisa lagi membantu kamu."
Adam hanya menunduk sepanjang Naufal mengomelinya. Dia sendiri juga tau kalau belakangan ini dia sering absen dan sering terlambat. Adam hanya bisa pasrah jika nanti dia harus di pecat.
"Sekarang juga kamu naik ke lantai atas, ke ruangan CEO. Temui pak Erlangga, karena hanya beliau yang bisa menentukan apakah kamu masih bisa berkerja di perusahaan ini atau kamu harus di pecat," titah Naufal yang mau tak mau harus Adam turuti.
Sebenarnya dia sangat malas bertemu dengan Erlangga. Adam masih merasa kesal mengingat Erlangga begitu dekat dengan Elfira. Meskipun mereka sedang dalam proses perceraian, tapi status Elfira masihlah sebagai istrinya.
...****************...
"Kalau sudah tau, ngapain nanya?" jawab Adam ketus. Tak peduli meskipun orang itu adalah atasannya sendiri. Apalagi orang itu adalah orang yang sangat di bencinya.
Erlangga tersenyum sinis pada Adam, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kamu cukup berani juga bersikap seperti itu pada atasan kamu sendiri," ucap Erlangga sinis.
"Kenapa saya harus takut pada orang seperti anda. Apa karena posisi anda lebih tinggi di bandingkan saya, maka saya harus tunduk terhadap anda, begitu?" balas Adam tak kalah sinis.
Sekali lagi Erlangga hanya menanggapinya dengan tersenyum, ia menegakkan kembali badannya dan sedikit memajukan wajahnya mendekati Adam.
"Kamu tidak takut saya pecat, karena sudah berani bersikap kurang ajar pada atasan?"
__ADS_1
Adam pun melakukan hal yang sama seperti Erlangga, dia memajukan wajahnya mendekati Adam. Sehingga jarak wajah mereka hanya sekitar satu jengkal saja.
"Saya tidak pernah takut pada anda," balas Adam tak mau kalah.
"Oke, kalau begitu mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi di perusahaan saya. Kamu saya pecat!" ucap Erlangga sambil mengembalikan posisi tubuhnya bersandar pada kursi.
Adam mengepalkan kedua tangannya, dia tak menyangka jika Erlangga akan benar-benar memecatnya.
"Kenapa? Kamu gak terima?"
"Tadi katanya gak takut di pecat, kenapa sekarang malah gak terima?" sindir Erlangga yang membuat Adam semakin murka.
"Saya tidak terima anda memecat saya hanya karena masalah pribadi diantara kita. Anda benar-benar sangat picik,"
"Hahaha. Kamu pikir saya pecat kamu karena masalah kemarin? Kamu kira saya orang yang picik seperti kamu?" Erlangga geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan jalan pikiran Adam.
"Asal kamu tau ya Adam. Saya bukan orang yang suka mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Saya lebih suka bersikap profesional, tidak seperti kamu." sindir Erlangga.
"Lalu, kenapa anda pecat saya seenaknya."
"Karena perusahaan saya tidak membutuhkan orang seperti kamu," tunjuk Erlangga dengan penuh emosi. "Kamu sudah merugikan perusahaan saya, dan kamu sudah membuat klien saya banyak yang lari karena kinerja kamu yang tidak becus."
"Lalu untuk apa saya mempertahankan kamu yang hanya bisa menjadi benalu di perusahaan saya. Bukankah benalu itu sangat merugikan?"
Adam tak bisa lagi melawan ataupun membalas perkataan Erlangga. Yang bisa dia lakukan hanyalah diam dan mengepalkan tangan sambil menahan kekesalannya.
Adam bangkit dan berjalan keluar dari ruangan Erlangga sebelum lelaki itu mengusirnya. Saat tangannya sudah memegang handle pintu, gerakannya harus tertahan karena Erlangga memanggilnya.
Adam hanya menoleh sedikit ke samping demi mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh mantan atasannya itu.
"Ambil surat pemecatan kamu di ruang HRD, dan jangan lupa tutup kembali pintunya," seru Erlangga semakin membuat Adam membencinya.
Tanpa membalas perkataan Erlangga, Adam membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Tak lupa juga dia menutup kembali pintunya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
Erlangga tak memperdulikan tindakan Adam barusan, karena yang penting saat ini baginya adalah satu hama di perusahaannya sudah dia singkirkan. Setidaknya Erlangga bisa mencoba untuk mengembalikan kerugian yang sudah di alaminya akibat ulah Adam.
__ADS_1
Masalah perusahaannya sudah mulai dia atasi secara perlahan, kini tinggal masalah hatinya yang masih harus dia perjuangkan. Entah bagaimana nanti dia bisa membuat wanita pujaannya berpaling padanya dan bisa mencintainya. Yang pasti Erlangga tidak mau buru-buru melakukannya, dia akan melakukannya secara perlahan.
...****************...