
"Yang ini rumahnya bos?" tanya Dewo sambil memperhatikan sebuah rumah sederhana yang di dominasi warna krem. Setelah mengantarkan Elfira dan Anin pulang, Erlangga memerintahkan Dewo untuk pergi ke suatu tempat.
"Iya, yang ini rumahnya. Berkas yang saya minta sudah kamu bawa kan?"
"Sudah bos," jawab Dewo lalu menyerahkan berkas tersebut kepada Erlangga.
"Ayo kita turun." Erlangga mengajak Dewo turun dari mobil lalu melangkahkan kaki menuju rumah tak berpagar itu.
Begitu sampai di depan pintu, Erlangga meminta Dewo untuk mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok tok tok
Beberapa kali Dewo mengetuk pintunya, tapi tetap tak ada balasan dari dalam. "Kayaknya gak ada orangnya bos," ucap Dewo.
"Coba sekali lagi," pinta Erlangga.
Dewo pun menuruti perintah atasannya, saat tangan Dewo hendak kembali mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka dan keluar lah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan. Untung saja ketukannya tak mengenai dahi orang tersebut.
"Erlangga. Akhirnya datang juga kamu, ayo masuk," ucap pria tersebut sambil merentangkan tangannya menyambut kedatangan Erlangga.
Erlangga pun masuk dan diikuti Dewo di belakangnya.
"Ada apa ini, tumben sekali kamu datang ke rumah saya, biasanya kan selalu lewat telepon. Apa ada sesuatu yang penting?" tanya pria tersebut setelah mereka mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
"Begini om, sebenarnya saya memang sedang membutuhkan bantuan om. Saya mau mencari orang yang sudah menyebarkan fitnah kepada teman saya," jawab Erlangga.
"Calon istri lebih tepatnya pak," sambar Dewo dan langsung di pelototi oleh Erlangga.
Pria bernama Anwar itu hanya tersenyum menanggapi perkataan Dewo. Ia paham masalahnya sekarang. Biasanya Erlangga tidak akan mau repot-repot meminta bantuannya jika bukan menyangkut orang yang sangat penting baginya.
"Jadi kamu mau minta bantuan apa, memangnya apa yang sudah terjadi dengan calon istri kamu?" Erlangga sampai melotot mendengar pertanyaan Anwar, bahkan Dewo pun sampai mengulum senyumnya.
Erlangga menyerahkan berkas-berkas yang di bawa nya tadi kepada Anwar. Lelaki itu pun membacanya hingga selesai lalu kembali menatap Erlangga dan Dewo.
__ADS_1
"Ini sih perkara gampang, kalian pulang saja, besok bisa saya pastikan kalian akan langsung mendapat kabar baik dari saya," ucap Anwar dengan yakin.
"Terimakasih sebelumnya karena om sudah mau membantu saya."
"Tak perlu sungkan begitu, anggap saja yang om lakukan ini sebagai balas budi dari kebaikan keluarga kamu."
"Baiklah om, kalau begitu kami permisi pulang dulu. Besok saya tunggu kabar baik dari om." Erlangga bangkit dari duduknya lalu menjabat tangan Anwar dan berpamitan padanya, begitu juga dengan Dewo yang melakukan hal yang sama dengan Erlangga.
...****************...
"Gimana ini neng Fira? Semua pelanggan kita pada komplain dan tidak mau memakai jasa katering kita lagi," ucap mbak Siti yang terdengar panik.
"Iya neng, gimana ini. Kenapa bisa ada orang yang tega memfitnah kita seperti itu. Padahal kami berani bersumpah neng, kalau selalu menjaga kualitas bahan-bahan makanan seperti yang biasa neng lakukan," sahut yang lainnya.
Elfira menarik nafasnya sebentar, ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Satu-satunya harapan adalah menunggu kabar dari Erlangga.
"Sebenarnya Fira juga gak tahu harus gimana mbak, Fira juga bingung. Kenapa bisa ada orang yang dengan tega memfitnah Fira seperti ini," ucap Elfira yang tampak lesu.
"Jadi, sekarang kita harus gimana ini neng. Tidak ada pesanan sama sekali, dan tidak ada yang bisa dikerjakan hari ini."
"Bahan-bahan yang sudah terlanjur di beli, kita masak saja mbak. Nanti kita bagikan untuk anak-anak panti dan anak-anak jalanan yang ada di lampu merah simpang perumahan ini," ucapnya saat mendapatkan ide itu.
"Wah ide bagus itu neng, kalo gitu langsung kami eksekusi sekarang juga," jawab mbak Siti dengan penuh semangat.
Elfira tersenyum melihat mbak Siti dan lainnya yang sangat bersemangat. Elfira pun ikut bergabung bersama anggotanya menyelesaikan beberapa menu masakan yang akan segera mereka bagi untuk orang-orang yang membutuhkan.
...****************...
100 kotak nasi sudah selesai Elfira siapkan bersama seluruh timnya. Elfira merasa cukup puas dengan hasil kerja keras mereka. Sekarang saatnya mereka membagikan nasi-nasi tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan.
Elfira meminta kepada tim delivery untuk mengangkat kotak-kotak tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Mas, tolong masukkan semuanya ke dalam mobil ya. Dan jangan sampai ada yang rusak," peringat Elfira kepada para kurir.
__ADS_1
"Beres neng," ucap Karyo, salah satu supir pengantar makanan di 'Anindya Katering'.
Beberapa saat kemudian, semua kotak-kotak makanan itu selesai dimasukkan. Sebagian makanan itu akan mereka bawa dan bagikan ke panti asuhan terdekat, dan sebagian lagi akan mereka bagikan kepada para pengamen dan pengemis yang sering melintas di lampu merah.
Elfira dan mbak Siti bersiap masuk ke dalam mobil Elfira. Namun, suara deru mesin mobil Erlangga terdengar memasuki halaman rumah Elfira.
Tampak Erlangga turun dari mobilnya dan menatap heran pada Elfira yang sudah bersiap akan pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Erlangga sambil menatap mbak Siti dan pak Karyo sekilas.
"Kami mau ke 'Panti Asuhan Kasih Bunda', mau bagi-bagi makanan," jawab Elfira.
Erlangga melihat mobil box yang siap untuk berangkat lalu kembali menatap Elfira.
"Aku ikut ya, tapi naik mobil aku saja," ucap Erlangga sambil menunjuk ke arah mobilnya.
Elfira menatap mbak Siti yang langsung mendapat anggukan dari wanita itu.
"Ya sudah yuk." Elfira tidak jadi masuk ke dalam mobilnya, ia berjalan ke arah mobil Erlangga. Sedangkan mbak Siti ikut bersama pak Karyo di dalam mobil box.
...****************...
"Terimakasih Bu Elfira untuk makanannya, anak-anak tampak gembira mendapatkan makanan dan beberapa mainan dari ibu," ucap ibu panti yang bernama Rahayu.
"Sama-sama Bu, saya juga senang bisa membantu. Semoga apa yang kami berikan ini bisa bermanfaat buat ibu dan anak-anak," balas Elfira tulus.
Saat di perjalanan menuju panti tadi, Elfira kepikiran ingin membelikan beberapa mainan dan bahan-bahan makanan mentah untuk ia bawa ke panti asuhan.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya Bu, masih ada beberapa kotak makanan lagi yang mau kami bagikan," ucap Elfira lagi.
"Iya Bu Elfira, sekali lagi terimakasih banyak atas pemberian dari ibu."
Setelah berpamitan, Elfira dan Erlangga pun pergi dari panti asuhan tersebut. Sekarang mereka akan melanjutkan perjalanan dan membagikan makanan-makanan itu kepada pengamen dan pengemis yang mereka temui di jalan. Tak hanya itu, mereka juga membagikannya kepada para tukang becak dan kepada orang-orang yang membutuhkan.
__ADS_1
Elfira tampak senang bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. Semua nasi kotak yang sudah dia siapkan habis tak tersisa. Ternyata tidak ada yang sia-sia di dunia ini jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik.
...****************...