Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 41


__ADS_3

Dengan langkah anggun bak super model, Jessica berjalan memasuki perusahaan Erlangga. Karyawan Erlangga yang kebetulan ada di lobi menatap Jessica penuh tanya.


"Siapa tuh?" tanya salah satu karyawan.


"Gak tau, pacarnya bos kali," jawab karyawan yang satunya.


"Gak mungkin, pacarnya bos kan Bu Elfira. Pemilik katering langganan perusahaan ini," sahut yang lainnya. Mereka berbisik-bisik saling bertanya siapa Jessica.


Jessica sendiri tak menghiraukan bisik-bisikan tersebut. Ia terus berjalan menuju lift yang saat itu pintunya sedang terbuka. Jessica buru-buru masuk sebelum pintunya tertutup kembali. Tanpa bertanya sebelumnya kepada satpam dimana letak ruangan Erlangga, Jessica seolah-olah sudah tahu dimana letaknya.


Sesampainya di lantai atas Jessica bertemu dengan Dewo. Pria itu melihat kedatangan Jessica dan menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam ruangan Erlangga.


"Maaf mbak, mau cari siapa?" tanya Dewo.


Jessica yang langkahnya dicegat oleh Dewo, menatap sinis pada lelaki itu. "Bukan urusan lo gue mau cari siapa," ucapnya sinis.


"Tentu saja urusan saya, mbak datang-datang tanpa ijin dan mau main langsung masuk begitu saja ke ruangan bos saya," balas Dewo tak kalah sinis.


"Ck, seorang jongos berani-beraninya ngatur-ngatur gue," gumam Jessica yang masih di dengar Dewo.


Tentu saja lelaki itu geram mendengarnya, ia pun melarang Jessica untuk masuk ke dalam ruangan Erlangga.


"Maaf nona, anda tidak boleh masuk seenaknya sebelum membuat janji dengan tuan Erlangga," ucap Dewo mencegah Jessica yang ingin menerobos masuk.


"Gue gak peduli, pokoknya gue mau masuk. Siapa lo berani melarang gue." Tanpa menghiraukan larangan Dewo, Jessica menerobos masuk ke dalam ruangan Erlangga hingga membuat lelaki itu terkejut karena pintunya terbuka tiba-tiba.


Namun, Erlangga langsung mendengus setelah melihat siapa orang yang dengan seenaknya masuk ke ruangannya dan membuat keributan.


"Apa kamu tidak pernah belajar tata krama? Sebelum masuk ke ruangan orang harusnya ketuk pintu terlebih dahulu," sindir Erlangga yang tak di pedulikan Jessica.


"Maaf tuan Erlangga, saya sudah mencegahnya untuk masuk tapi wanita ini langsung masuk begitu saja," ucap Dewo takut-takut. Lebih baik ia menjelaskannya terlebih dahulu sebelum nanti dia akan kena semprot oleh Erlangga.


"Tidak apa Wo, kamu boleh pergi." Dewo membungkuk hormat lalu ia keluar dari ruangan Erlangga. Namun sebelum itu, Dewo menatap tak suka pada Jessica yang ternyata juga menatapnya dengan sinis.


"Asisten kamu itu gak bisa diganti aja, tidak ada sopannya sama sekali," cibir Jessica seolah-olah dia adalah nyonya pemilik perusahaan.

__ADS_1


"Yang tidak sopan disini itu kamu. Lagian siapa kamu berhak mengatur siapa yang berhak kerja di perusahaan saya atau tidak," balas Daffa tak kalah sengit.


Jessica melangkah maju mendekati meja kerja Erlangga. Dengan tidak tahu malu dia langsung duduk dipangkuan Erlangga membuat lelaki itu terkejut.


"Apa-apaan kamu!" bentak Erlangga sambil mendorong tubuh Jessica. Bukannya menjauh, wanita itu justru semakin merapatkan tubuhnya pada Erlangga hingga membuat bukit kembarnya yang menyembul keluar itu menempel di dada Erlangga.


Bohong kalau dibilang Erlangga tidak merasakan apapun. Sebagai lelaki normal, ia juga memiliki nafsu. Dan gejolak itu pasti akan bangkit saat sesuatu yang besar milik Jessica itu menempel di tubuhnya. Namun, Erlangga masih dalam batas kewarasannya. Ia tak ingin terpancing oleh Jessica. Dia tahu kalau wanita itu hanya sedang berusaha merayunya.


"Menjauh dari saya!" bentak Erlangga lagi, namun tetap tak dihiraukan oleh Jessica. Wanita itu malah tersenyum miring menatap Erlangga.


"Kenapa sih, emangnya kamu gak mau merasakan kehangatan dari aku? Aku bisa loh memuaskan kamu," Jessica mencoba merayu Erlangga. Tangan satunya meraba wajah Erlangga yang ditumbuhi bulu-bulu halus, sementara tangan yang lainnya mulai membuka kancing kemeja Erlangga satu persatu. Untuk sesaat Erlangga sempat terhanyut dengan perlakuan Jessica. Terbukti saat ia memejamkan mata merasakan sentuhan tangan Jessica di wajahnya. Namun, Erlangga harus membuka kembali matanya ketika mendengar suara benda yang terjatuh.


Erlangga semakin membuka lebar matanya saat melihat Elfira yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya dengan raut wajah yang terkejut dan mata berair.


Spontan Erlangga mendorong tubuh Jessica dengan kasar hingga membuat wanita itu terjatuh ke lantai.


"Fira," gumam Erlangga yang kini sudah berdiri di tempatnya.


Elfira memperhatikan penampilan Erlangga yang cukup berantakan. Kancing kemeja yang bagian atasnya sudah terbuka, rambut yang sedikit acak-acakan. Siapa pun yang melihat pasti sudah bisa menebak apa yang sudah terjadi antara Erlangga dengan Jessica. Terlebih lagi tadi ia melihat Jessica yang duduk diatas pangkuan Erlangga.


...****************...


"Fira! Tungguin Fir!" teriak Erlangga sambil berlari mengejar Elfira. Namun, teriakannya tak dihiraukan oleh wanita itu. Justru saat ini Erlangga malah menjadi pusat perhatian dari para pegawainya. Karena penampilan Erlangga yang berantakan membuat mereka bertanya-tanya apa yang sudah terjadi dengan atasan mereka.


"Fira!" sekali lagi Erlangga berteriak memanggil Elfira.


Wanita itu terus berjalan hingga keluar dari gedung kantor Erlangga menuju parkiran. Dia harus segera pergi dari sana, saat ini Elfira tidak ingin bertemu dulu dengan Erlangga.


Namun, sepertinya harapan Elfira yang tak ingin bertemu dengan Erlangga harus pupus. Buktinya Erlangga mampu mengejar langkah Elfira, kini Erlangga berhasil menarik tangan Elfira hingga membuatnya harus menghentikan langkahnya. Padahal sedikit lagi ia sampai pada mobilnya.


"Lepas Er!" pinta Elfira sambil melepaskan tangan Erlangga.


"Aku gak akan lepaskan sebelum kamu dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu."


"Gak ada yang harus dijelaskan, semuanya sudah jelas," ucap Elfira sambil menelisik penampilan Erlangga.

__ADS_1


Lelaki itu sadar dengan tatapan Elfira, ia pun memperhatikan dirinya sendiri yang terlihat sangat berantakan.


"Tapi itu tidak seperti yang kamu kira, wanita itu mencoba untuk menggodaku dan ... "


"Dan kamu menikmatinya kan," potong Elfira sebelum Erlangga menyelesaikan ucapannya.


"Enggak Fir, gak kayak gitu. Aku gak ... "


"Sudahlah Er, aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Aku sudah melihatnya dengan jelas dan dengan mata kepala ku sendiri. Ternyata kamu sama aja, semua laki-laki sama aja. Mudah tergoda dengan wanita yang dengan suka rela memberikan tubuhya."


"Apa maksud kamu?" tanya Erlangga tak mengerti.


Elfira merogoh tas nya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah benda yang sangat dikenali oleh Erlangga. Elfira menarik tangan kanan Erlangga dan meletakkan benda tersebut ke atas telapak tangannya.


"Apa maksudnya ini Fir?" Sekali lagi Erlangga bertanya.


"Tadinya aku datang ke kantor kamu untuk berterimakasih dan memberikan jawaban atas lamaran kamu," Elfira menghentikan ucapannya sesaat. Ia sampai harus memejamkan mata demi bisa mengusir bayang-bayang saat Erlangga menikmati sentuhan Jessica.


"Tadinya aku ingin menerima lamaran kamu. Tapi ..." Elfira kembali memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam. "Tapi apa yang aku lihat tadi membuat aku harus berfikir ulang untuk menerima kamu. Aku pernah salah memilih pasangan satu kali dan aku tidak mau salah pilih lagi untuk yang kedua kalinya."


"Aku masih gak ngerti dengan ucapan kamu Fir," ucap Erlangga dengan jantung yang berdebar-debar.


"Maaf Er, aku tidak bisa menerima lamaran kamu. Dan cincin itu aku kembalikan sama kamu. Berikan saja cincin itu pada wanita lain yang lebih pantas untukmu," ucap Elfira lagi lalu segera pergi dari sana sebelum Erlangga kembali mencegahnya.


Erlangga masih terpaku di tempatnya, ia belum menyadari kalau Elfira sudah pergi dari hadapannya. Erlangga masih terkejut dengan apa yang didengarnya barusan. Elfira baru saja menolaknya, menolak lamaran Erlangga lebih tepatnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya Erlangga tersadar dari lamunannya. Namun, Elfira sudah tidak ada lagi di hadapannya. Bahkan mobil Elfira pun sudah tidak terparkir lagi disana.


Erlangga mengerang frustasi, ia sampai meremas rambutnya demi untuk menghilangkan kekesalannya. Erlangga menyesal karena sempat tergoda dengan Jessica tadi. Erlangga mengepalkan kedua tangannya dan menahan amarahnya pada wanita itu.


Ditempat lain, Jessica melihat semua yang terjadi antara Elfira dan Erlangga. Ia tersenyum miring, merasa puas melihat kedua sejoli itu bertengkar. Meskipun Jessica tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi Jessica bisa melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi.


"Ma*pus. Itu akibatnya kalau sudah membuat gue sakit hati," gumam Jessica. Setelah puas membalaskan dendamnya, ia pun pergi dari sana dengan hati yang bahagia.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2