Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 27


__ADS_3

"Kamu!"


Sandra ingat, pria yang ada di hadapannya ini adalah mantan selingkuhannya dulu. Waktu itu Sandra baru dua bulan menikah sirih dengan Adam, dan mereka sedang bertengkar. Untuk beberapa waktu Adam tak pernah mendatanginya sehingga Sandra nekat mencari pria lain untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya.


"Halo Sandra! Apa kabar kamu?" tanya pria itu.


Sandra tersadar dari lamunannya dan memperhatikan sosok yang kini sedang berdiri di hadapannya.


"A-aku ... baik," jawab Sandra terbata. Mereka sudah lama berpisah dan tak pernah berkomunikasi lagi sehingga Sandra merasa sedikit canggung.


"Kamu ngapain malam-malam begini duduk di sini, sendirian pula?" Pria itu pun ikut duduk di trotoar tepat di sebelah Sandra.


Merasa sedikit canggung, Sandra pun menggeser sedikit duduknya menjauh dari pria tersebut.


"Kamu ngapain di sini?" ulangnya.


"Aku ... "


Sandra tak tahu harus mengatakan apa, dia pun kembali terdiam.


Pria bernama Rendi itu melirik pada koper yang ada di samping Sandra. Tanpa di jawab pun Rendi sudah tahu apa yang sedang terjadi pada Sandra.


"Kamu di usir sama suami kamu?" tebak Rendi tepat sasaran.


Sandra sempat terkejut, dalam hati ia bertanya-tanya. Dari mana pria itu tahu kalau dia di usir oleh suaminya.


"Kamu mau ikut ke rumah ku? Kebetulan ada kamar kosong di sana, jadi bisa kamu tempati untuk sementara waktu," ucap Rendi membuat Sandra menatapnya curiga.


Rendi hanya tersenyum menanggapi tatapan dari Sandra. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu.


"Jangan takut, aku cuma mau menolong aja kok. Lagian ini kan sudah malam dan aku yakin kamu pasti sedang tidak membawa uang kan?" tebaknya lagi yang sayangnya selalu benar.


"Kamu tau dari mana kalau aku tidak bawa uang?"


"Hahaha ... "


Pria itu tertawa sebelum akhirnya ia menjelaskan, "aku tau gimana kamu San. Kamu itu perempuan yang memiliki gengsi yang tinggi, tidak mungkin kamu mau duduk di pinggir jalan seperti ini. Malam hari pula. Kalau kamu punya uang, aku yakin sekali pasti kamu sudah pergi ke hotel dan bermalam di sana. Bukannya duduk di jalan seperti ini, bukan kamu banget," tutur Rendi panjang lebar seolah dia yang paling mengerti tentang Sandra.

__ADS_1


Sandra sendiri pun tak bisa menampiknya, apa yang dikatakan oleh Rendi memang benar adanya. Jika sudah begini, mau tak mau Sandra pun harus menurunkan gengsinya agar ia bisa mendapatkan tempat untuk tinggal dan juga mendapatkan makanan.


"Jadi, gimana? Mau ikut dengan ku?" tanya Rendi sekali lagi setelah melihat Sandra yang terdiam.


"Oke. Tapi ... kaki aku," ucap Sandra seraya melirik kakinya yang berdenyut.


Rendi pun mengikuti arah pandang Sandra dan melihat kaki wanita itu yang tampak merah dan bengkak.


"Ya ampun, kaki kamu kenapa bisa sampai seperti ini?" Rendi mengangkat sedikit kaki Sandra yang bengkak, membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Aw!"


"Kita ke rumah sakit sekarang." Tanpa ragu Rendi langsung menggendong Sandra dan membawanya ke dalam mobil. Setelah memastikan Sandra duduk dengan nyaman, Rendi menutup pintu mobil lalu mengambil koper milik Sandra dan menyimpannya di bagasi mobil. Setelah itu Rendi pun masuk ke dalam mobilnya dan ia mulai menginjak gas serta melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


...****************...


"Mama mana Pa? Nggak ikut makan bareng kita?" tanya Nayla sambil celingukan. Meski hal ini sudah biasa, tapi malam ini terasa seperti ada yang janggal.


"Kamu ngapain nyari'in mama, kayak yang nggak biasa aja," sahut Axel tak acuh.


"Ya bukannya gitu bang, Nay cuma merasa kayak ada yang beda gitu."


"Sudah ... sudah. Jangan bertengkar. Sebelumnya maaf kan papa, karena mulai sekarang mama kalian tidak akan tinggal di rumah ini lagi." Adam pun membuka suara. Rasanya dia memang harus jujur pada kedua anaknya. Apalagi sekarang keduanya sudah cukup mengerti dengan permasalahan yang terjadi di rumah itu.


"Maksud papa?"


Sejenak anak menarik nafasnya lalu dia pun menceritakan apa yang sudah terjadi. Di luar dugaan Adam, kedua anaknya tampak biasa saja. Tidak tampak terkejut ataupun marah.


"Kalian tidak marah kan?" tanya Adam hati-hati.


"Buat apa kami marah, justru kami bersyukur karena akhirnya papa tau tentang perselingkuhan mama," sahut Axel.


"Jadi, kalian sudah tau semuanya?"


Baik Axel maupun Nayla, keduanya sama-sama menganggukkan kepala.


"Maafkan kami pa, karena tidak memberitahu papa sebelumnya."

__ADS_1


Adam tersenyum pada anak laki-laki nya itu, ia menggenggam tangannya yang di balas oleh Axel. Begitu juga dengan Nayla.


"Terimakasih karena kalian selalu ada buat papa, dan maaf karena papa belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian."


"Papa jangan bicara begitu, bagi kami, papa adalah papa yang terbaik di dunia," tutur Nayla tulus dari dalam hatinya.


"Mungkin dalam waktu dekat, papa akan menggugat cerai mama kalian. Apa kalian tidak masalah?" Adam sengaja meminta pendapat anak-anaknya agar keputusannya nanti tidak akan melukai mereka.


"Apapun yang membuat papa bahagia, kami pasti akan selalu dukung kok. Ya kan dek?"


"Iya bang."


Adam merasa terharu karena anak-anaknya begitu menyayangi dirinya. Axel yang dulu begitu membangkang dan tak pernah menurut padanya, kini sudah banyak berubah menjadi lebih baik, dan Adam sangat bersyukur akan hal itu.


...****************...


"Ini kamar kamu dan kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau," ujar Rendi menunjukkan kamar yang akan di tempati oleh Sandra.


Setelah membawa Sandra ke rumah sakit, Rendi langsung membawa wanita itu ke rumahnya. Sandra tampak takjub melihat ukuran kamar yang begitu luas, bahkan lebih luas dari kamar tidur di rumahnya.


"Kamu istirahatlah, kalau perlu apa-apa jangan sungkan untuk panggil aku." Rendi berjalan mendekati Sandra lalu mengusap puncak kepalanya. Setelahnya, Rendi keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya.


Setelah memastikan pintu benar-benar tertutup dan Rendi tak kembali lagi ke kamar itu, Sandra pun menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia menerawang menatap langit-langit kamar. Seketika ia mengingat apa-apa saja yang sudah terjadi pada hidupnya belakangan ini.


"Haah"


Terdengar helaan nafas dari mulutnya, rasa sakit yang ia rasakan pada kakinya tak sebanding dengan sakit di hatinya.


"Kamu jahat mas, tega kamu sama aku. Padahal selama 20 tahun aku selalu mendampingi mu, bahkan di saat kamu di penjara pun, aku tetap setia menunggumu," gumamnya seiring dengan mengalirnya sebuah cairan bening dari sudut matanya.


"Aku begini juga gara-gara kamu mas, kalau saja kamu bisa lebih perhatian sedikit pada ku. Mungkin aku tidak akan selingkuh di belakangmu," lanjutnya lagi.


Sandra semakin terisak tatkala mengingat nasib buruk yang menimpanya saat ini. Ia mengeluarkan semua tangisnya yang begitu menyesakkan dada. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya. Namun, rasa sakit yang ia rasakan lebih besar di bandingkan penyesalan itu.


"Aku pasti akan balas semua rasa sakit ini mas. Tak akan aku biarkan kau bahagia di atas penderitaan ku," ucapnya bermonolog.


Setelah itu, Sandra memutuskan untuk beristirahat. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang ia duduki. Tubuh yang lelah dan mata yang tinggal segaris membuatnya langsung terlelap begitu kepalanya menempel pada bantal berbentuk segi empat itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2