Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 15 Adam meminta maaf


__ADS_3

Sesuai surat panggilan dari pengadilan agama, siang ini adalah sidang pertama kasus perceraian antara Adam dan Elfira.


Tampak Elfira yang sudah datang lebih dulu bersama pengacaranya. Sisa waktu lima menit lagi sebelum sidang di mulai.


Sebelumnya sudah pernah dilakukan mediasi antara Elfira dan Adam. Sudah pasti Adam menolak untuk bercerai dan meminta Elfira untuk membatalkan gugatan cerainya.


Namun, Elfira tetap pada keputusannya untuk bercerai dengan Adam. Karena mediasi yang tak menemukan titik temu, akhirnya dilakukanlah sidang perceraian ini.


Hakim sudah datang dan duduk ditempatnya, namun hingga waktu persidangan selesai, Adam masih juga tak menampakkan wajahnya.


Akhirnya sidang pertama ini selesai begitu saja tanpa kehadiran Adam. Sidang kedua akan di lanjutkan sekitar 2 bulan lagi. Jika saat sidang kedua nanti Adam juga tak hadir, maka hakim akan mengabulkan gugatan cerai Elfira.


...****************...


"Lu kenapa bro, lemes amat nampaknya." Dika menghampiri Adam yang sedang duduk termenung di taman kantor.


Sejak tadi pagi Adam datang ke kantor dengan tak semangat, beberapa kali Dika melihat Adam selalu menghela nafas nya.


"Hari ini sidang pertama perceraian gue sama Elfira" jawab Adam lesu.


Dika menatap Adam sendu, dia merasa kasihan dengan sahabatnya tersebut.


"Lu yang sabar ya" ucap Dika menghibur Adam sambil menepuk pelan bahunya.


"Thanks, bro"


"Tapi kalo gue boleh tau, kenapa istri lu minta cerai. Bukan kah selama ini pernikahan kalian baik-baik aja?"


Adam terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Selama ini, Dika tak pernah tau apa yang sebenarnya telah terjadi dalam pernikahannya.


"Ini semua memang salah gue." Alih-alih menjawab pertanyaan Dika, Adam justru malah menyalahkan dirinya sendiri.


Dika paham, itu artinya Adam tak ingin menceritakan apa masalah yang sedang di alami nya. Sebagai sahabat, Dika tak pernah memaksa Adam untuk menceritakan semua masalah pribadinya, begitu juga sebaliknya.


"Semoga masalah lu cepat selesai ya, tapi ngomong-ngomong, kalo hari ini sidang perceraian lu, kenapa lu gak datang ke pengadilan dan malah duduk disini"


"Haah"


"Percuma juga gue datang, Dik. Elfira tetap gak akan merubah keputusannya juga, kan"


"Setidaknya kan lu udah berusaha, Dam. Ya, meskipun pada akhirnya lu dan Elfira tetap akan bercerai"

__ADS_1


Adam menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan perkataan Dika.


"Lu gak tau, Dik. Disini memang gue yang bersalah, mau sekeras apapun gue berusaha, hakim pasti tetap akan mengabulkan gugatannya Elfira"


"Maksud lu" tanya Dika tak mengerti.


"Gue nikah lagi di belakang Elfira, dan gue udah punya anak dari istri kedua gue" bisik Adam pelan, namun masih bisa terdengar oleh Dika yang duduk disebelahnya. Ada penyesalan tersendiri didalam hati Adam, tapi semua itu sudah terlanjur terjadi. Ibarat kata, nasi sudah menjadi bubur. Itulah yang dialami Adam saat ini.


Dika terdiam sesaat untuk mencerna ucapan Adam, namun selanjutnya dia ...


"APA?" Dika terkejut mendengar pengakuan Adam, dia tak menyangka jika selama ini sahabatnya itu telah bermain api.


"Sumpah ya, Dam. Gue cukup kaget mendengar ucapan lu barusan." Dika terdiam untuk melihat reaksi Adam.


"Ya wajar sih, kalo istri lu sampe gugat cerai elu" lanjutnya kemudian. "Kalo gue ada di posisi Elfira pun, gue pasti akan melakukan hal yang sama kayak dia"


Adam tersenyum miris, Dika yang lelaki saja bisa berpikir seperti itu. Apalagi Elfira istrinya, yang sudah berulang kali ia sakiti. Saat pertama kali Elfira mengetahui perselingkuhannya, istrinya itu masih berbaik hati untuk memaafkannya. Bahkan sampai yang kedua kali nya ia ketahuan pun, Elfira masih tetap memaafkannya.


Dan puncaknya adalah saat Sandra datang ke rumahnya dan membongkar semua kebohongan yang ia sembunyikan selama ini.


Istri mana pun pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Elfira. Wanita mana yang sanggup saat mengetahui suaminya menikah lagi, dan tak akan ada satu pun wanita yang ingin membagi suaminya dengan wanita lain.


Adam sadar, apa yang telah dilakukannya telah melukai hati Elfira. Dan Adam sadar, perbuatannya tak pantas untuk di maafkan.


Karena hanya inilah satu-satunya cara yang bisa Adam lakukan untuk menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan selama ini.


...****************...


"Gimana tadi persidangannya, Fir?" tanya Halimah ketika Elfira datang berkunjung ke tokonya.


Setelah persidangan tadi, Elfira langsung bertolak ke toko Halimah. Tadi sebelum pergi ke pengadilan, Elfira sempat menitipkan anaknya pada wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu.


"Alhamdulillah lancar, Bu. Tapi tadi mas Adam gak datang, makanya persidangannya tidak memakan waktu lama" jelas Elfira yang mendapat anggukan dari Halimah.


"Ayaaah." Teriak si kecil Anindya lalu berlari ke arah Adam yang baru saja memasuki toko. Sontak Halimah dan Elfira menoleh ke arah Anindya berlari.


Adam yang melihat anaknya berlari ke arahnya pun langsung berjongkok, lalu diangkat tubuh kecil Anindya dalam gendongannya. Adam menggendong Anin sambil berjalan mendekati meja Elfira dan Halimah.


"Ayah mau jemput Anin sama bunda ya" celoteh Anin.


"Iya, ayah mau jemput Anin. Tapi, ayah mau bicara sesuatu dulu sama bunda, boleh?" ucap Adam lembut.

__ADS_1


"Boleh" jawab Anindya seraya meronta minta diturunkan dari gendongan.


"Sebaiknya kalian bicara dan selesaikan masalah kalian berdua" ucap Halimah yang memberikan kesempatan untuk Adam berbicara dengan Elfira.


"Anin, ikut nenek ke ruang kerja nenek yuk. Tadi Tante Salma ada buat cupcake yang enak banget untuk Anin, nanti kita makan sama-sama ya" bujuk Halimah agar Anindya mau ikut dengannya.


Adam langsung duduk di hadapan Elfira begitu Halimah dan Anindya pergi meninggalkan mereka berdua.


"To the point aja, gak usah bertele-tele" ketus Elfira saat Adam baru saja mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di hadapannya.


"Maaf, mas tadi gak datang ke persidangan"


"Ya bagus dong," sahut Elfira cepat. "Malah lebih bagus lagi kalo kamu gak datang di persidangan berikutnya, jadi perceraian kita bisa cepat selesai dan tidak akan memakan waktu lama" lanjutnya lagi sambil menatap tajam Adam.


Adam tak berani menatap mata Elfira, sejak datang tadi dia hanya menunduk dan sesekali melirik Elfira lalu menunduk lagi.


"Maafkan atas semua kesalahan yang sudah mas lakukan padamu selama ini, Fir. Mas memang bukan suami dan ayah yang baik untuk kalian. Tapi mas sangat menyayangi kalian berdua"


Adam berkata tulus dari dalam hatinya, bahkan ia tak malu meskipun harus mengeluarkan airmatanya di depan wanita yang sangat di cintai nya itu.


"Mas tau, mas sudah banyak menyakiti hatimu. Mas juga tau, kalau perbuatan mas tidak layak untuk dimaafkan. Namun begitu, mas tetap harus meminta maaf padamu, agar tak ada penyesalan dalam hati mas"


Sesekali Adam menyeka air matanya yang terus mengalir. Adam tak perduli meskipun orang-orang yang sedang ada di toko itu memandang heran padanya. Begitu juga dengan Elfira yang hanya diam sambil menatap Adam tanpa ekspresi.


"Mas janji, di persidangan berikutnya pun, mas tidak akan datang. Agar hakim bisa langsung mengabulkan gugatan kamu" Adam melanjutkan kembali ucapannya meskipun ada rasa sesak di dalam hatinya saat ia mengatakan itu


"Dan mas juga janji, tidak akan mengganggu hidup kamu lagi setelah kita resmi bercerai nanti. Tapi mas masih bisa bertemu dengan Anin, kan" tanya Adam memastikan.


"Hmm" gumam Elfira menjawab pertanyaan Adam.


"Terimakasih untuk semua yang sudah kamu berikan pada mas selama ini. Dan terimakasih untuk kesetiaan kamu selama 5 tahun pernikahan kita. Maaf kalau mas hanya bisa membalas kesetiaan kamu dengan pengkhianatan."


Adam diam, tak sanggup rasanya dia meneruskan ucapannya. Adam tertunduk menumpahkan semua airmatanya. Setelah itu, ia kembali menyeka wajahnya yang sudah sangat basah itu.


"Mas pergi dulu, terimakasih sudah mau memberikan mas kesempatan untuk bicara. Mas doa kan semoga kamu bahagia dan bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari mas"


Setelah mengatakan itu, Adam benar-benar pergi dari sana dan meninggalkan Elfira yang sejak tadi hanya diam saja dan tak berkata apa-apa.


"Hiks ... hiks ... hiks ..." pecahlah tangis yang sejak tadi di tahannya. Elfira menunduk dan meletakkan kepalanya di atas meja. Dia menangis sepuasnya dengan wajah menghadap lantai.


...****************...

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2