
Anin baru saja selesai mengecek pengerjaan renovasi butiknya. Rancangan yang di buat oleh Erlangga atas permintaan dirinya. Anin merasa sangat puas melihat hasilnya, pengerjaannya juga sudah mencapai 90 persen dan tinggal finishing. Setelah itu Anin bisa menggunakan butiknya dan kemungkinan dua minggu lagi pembukaan butik bisa dia lakukan.
Semua pakaian yang dijualnya nanti adalah hasil rancangannya sendiri. Anin juga sudah memiliki beberapa karyawan yang akan membantunya. Beberapa pakaian untuk di jual juga sudah ada yang selesai.
"Pak Dadang, saya tinggal dulu ya. Lusa saya akan kembali lagi," kata Anin kepada sang mandor.
"Iya neng, hati-hati di jalan ya, dan terimakasih untuk makanannya," balas pak Dadang.
"Sama-sama pak." Anin membuka tas nya lalu mengeluarkan tiga lembar uang kertas berwarna merah dan memberikannya kepada pak Dadang.
"Oh iya, ini untuk beli kopi nanti ya pak," ucap Anin sambil menyelipkan uang tersebut ke tangan pak Dadang.
"Eh. Nggak usah neng," tolak pak Dadang dan mengembalikannya pada Anin. Tapi, Anin cepat-cepat langsung mengembalikannya lagi kepada pak Dadang.
"Nggak apa-apa pak, tolong di terima ya. Saya ikhlas kok, kalo bapak nggak mau terima nanti saya marah loh." Anin pura-pura merajuk dan memasang wajah cemberut membuat pak Dadang tak enak hati dan mau tak mau menerima uang tersebut.
"Ya sudah, saya terima neng. Sekali lagi terimakasih banyak neng, padahal tadi siang neng juga sudah membelikan kami semua makan siang. Saya jadi tidak enak," kata pak Dadang sungkan.
"Yang tadi itu kiriman dari bunda saya pak, bukan saya yang beli." Anin tersenyum menanggapi perkataan pak Dadang.
"Oalah, iya tah. Saya pikir neng Anin yang beli, kalo gitu sampaikan terimakasih kami sama bunda nya neng Anin ya."
"Iya pak, nanti saya sampaikan. Kalo gitu saya pulang dulu ya."
"Iya neng, hati-hati."
"Bapak-bapak semua! Saya pulang dulu ya!" pamitnya kepada para pekerja yang lain.
"Iya neng Anin! hati-hati ya neng!" jawab mereka serentak.
Anin pun tersenyum dan mengangguk sopan pada mereka semua lalu keluar dari bangunan tersebut. Sesampainya di luar, Anin sedikit terkejut melihat sosok Dirga yang sudah berdiri di depannya sambil tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Hai?"
...****************...
"Sepertinya kamu punya banyak waktu luang ya?" sindir Anin.
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Buktinya kamu bisa jemput aku, padahal aku tau banget kamu itu lagi sibuk-sibuknya ngurusin acara fashion week yang tinggal beberapa hari lagi."
Dirga tak langsung menjawab, dia tersenyum menanggapi perkataan Anin. Karena tak ada jawaban dari Dirga, Anin pun melirik pada pria di sebelahnya yang sedang menyetir. Tampak Dirga tersenyum membuat Anin mengerutkan keningnya.
"Ngapain kamu senyum-senyum, udah gila ya?" Anin memandang aneh pada Dirga yang semakin melebarkan senyumnya, padahal sudah kata'in gila oleh Anin. Bukannya marah, Dirga malah semakin tersenyum lebar. "Dih. Beneran gila nih orang," ucapnya lagi sambil berpura-pura merinding.
Dirga melirik Anin yang masih menatapnya, "gitu banget ngeliatin aku, naksir ya?" kata Dirga dengan pede nya sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
"Dih. Aku, naksir kamu. Nggak bakal," ucap Anin yakin sambil menunjuk dirinya dan Dirga.
"Yakin lah. Kamu itu bukan tipe aku, jadi nggak mungkin aku naksir kamu," balas Anin seraya menoleh ke samping, memandangi jalanan melalui kaca samping mobil.
Ada yang berdenyut di hati Dirga saat Anin mengatakan kalau dia bukan tipenya dan tidak akan jatuh cinta padanya. Sedikit kecewa, tapi Dirga berusaha untuk tetap tersenyum. Perjuangannya untuk mendapatkan hati Anin sepertinya masih panjang. Pria itu harus berjuang mati-matian untuk membuat Anin jatuh cinta padanya.
"Meski kamu berkata tidak mencintaiku, tapi aku akan terus berusaha membuatmu jatuh cinta padaku," gumam Dirga di dalam hati.
...****************...
Malam hari, di teras rumahnya, Dirga sedang melamun sambil menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit. Meski hanya ada beberapa saja, tapi keberadaannya mampu membuat pemandangan malam itu cukup indah, di tambah sang rembulan yang bersinar terang seolah sedang tersenyum pada seluruh makhluk di bumi.
"Kamu ngapain melamun sendirian di sini, awas kesambet loh," kata Maudy menakut-nakuti anaknya.
Dirga menatap Maudy sekilas lalu kembali menengadahkan wajahnya pada langit malam.
__ADS_1
"Heh! Di tanya bukannya jawab malah bengong," omel Maudy seraya menepuk bahu Dirga lalu ia duduk di kursi sebelah anaknya.
"Ck. Malah tambah bengong, kamu ini kenapa sih sebenarnya. Kalo ada masalah, cerita sama mama. Siapa tau mama bisa bantu."
Mendengar perkataan Maudy, dengan cepat Dirga mengubah posisi duduknya menghadap sang ibu lalu berkata, "menurut mama Dirga ganteng apa jelek?"
Maudy memandangi wajah anaknya dengan cermat, secara keseluruhan, wajah anaknya memang sangat tampan. Maudy yakin, tak ada satu wanita pun yang akan menolak menjadi kekasih dari anaknya.
"Kenapa kamu tanya seperti itu, ya sudah jelas lah anak mama yang paling tampan sedunia. Memangnya ada yang bilang kamu jelek?" tanya Maudy asal, tapi tepat sasaran.
Wajah Dirga berubah menjadi sedih, dia teringat waktu bertemu dengan Anin saat pertama kali dia menjabat sebagai CEO. Di situlah Anin mengatakan kalau dirinya itu jelek, bahkan sangat jelek.
"Jadi bener ada yang bilang kamu jelek?" tebak Maudy dan Dirga mengangguk. "Siapa? Siapa orang yang sudah mengatakan anak mama jelek?" lanjutnya.
Dirga menghela nafas pelan sebelum akhirnya dia berkata, "anaknya temen mama yang bilang. Kayaknya Dirga nggak punya harapan deh, susah banget buat dia jatuh cinta sama Dirga."
Maudy tampak berpikir keras, ia sedang mengingat-ingat siapa anak temannya yang di maksud oleh Dirga. "Siapa sih? Anak temen mama yang mana?" Maudy sudah mencoba mengingat, tapi dia masih belum menemukan siapa orang yang di maksud.
"Anin, ma. Anaknya Tante Elfira."
"Ooh. Bilang dong dari tadi."
"Bantuin dong ma, atau jodohkan Dirga sama Anin," mohon Dirga.
"Maaf sayang, untuk yang satu ini mama tidak bisa bantu. Kamu harus berusaha sendiri untuk menaklukkan hatinya. Kalau mama menjodohkan kalian, belum tentu Anin mencintai kamu dengan tulus. Bisa jadi dia terpaksa karena tak ingin melawan orang tua dan akhirnya malah semakin membenci kamu. Emangnya kamu mau begitu?"
Dirga tampak berpikir, benar apa yang di katakan ibunya. Ia juga tidak ingin Anin menerimanya karena terpaksa. Dirga ingin Anin menerima dirinya karena memang mencintainya seperti Dirga yang sangat mencintai Anin.
Maudy bangkit dan berjalan mendekati Dirga, "mama yakin kamu pasti bisa," ucapnya seraya menepuk pelan bahu Dirga lalu berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dirga yang masih setia duduk di teras sambil berpikir bagaimana cara mendapatkan hati Anin.
"Baiklah. Benar yang dikatakan mama, aku harus berusaha sendiri mendapatkan hati Anin. Aku harus buktikan kalau aku benar-benar tulus mencintai dia," ucap Dirga bermonolog sambil menyemangati dirinya sendiri. Dirga sudah bertekad untuk berjuang mendapatkan Anin, tak peduli meski harus melewati berbagai rintangan. Dirga akan terus berusaha.
__ADS_1
...****************...