
"Ooh, jadi laki-laki seperti ini selera kamu. Dasar murahan," ucap seseorang yang membuat Anin geram.
"Apa maksud anda berkata seperti itu?"
Anin berdiri dan menatap tajam pada pria yang kini berdiri di hadapannya. Hatinya sakit saat dikatakan wanita murahan oleh atasannya itu. Entah apa kesalahan yang telah Anin lakukan sehingga Dirga bisa dengan seenaknya menghina dirinya seperti itu. Anin tidak terima.
"Cih. Masih pura-pura tidak mengerti," ucap Dirga sambil memandang rendah pada Anin. "Dulu anak SMA itu kamu bilang pacar kamu, lalu kemarin dan tadi aku lihat kamu bersama seorang pria yang aku yakin usianya masih di bawah kamu. Dan sekarang ..." Dirga mengalihkan tatapannya pada Adam dan memandang jijik pada ayah kandung Anin itu.
"Laki-laki tua bangka ini pun kamu pacari juga. Sebenarnya apa yang kamu cari dari para pria itu, apa segitu putus asa nya kamu sampai laki-laki yang lebih cocok jadi ayah kamu ini pun kamu pacari juga?" tuduh Dirga sesuka hati.
"Bapak jangan asal bicara kalau bapak tidak tau apa-apa, jangan asal tuduh saya seenaknya," geram Anin yang kini sudah mengepalkan tangan kirinya.
"Saya rasa saya tidak perlu mencari tau tentang kamu. Karena apa yang saya lihat sudah menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau bapak menuduh saya tanpa bukti dan alasan?"
"Saya tidak asal tuduh, saya bicara sesuai dengan apa yang saya lihat."
Anin semakin geram dengan perkataan Dirga, ingin sekali rasanya saat ini Anin ingin mendaratkan tangannya di wajah atasannya itu. Tapi Anin masih berusaha untuk menggunakan akal sehatnya.
"Maaf, saya harus menyela," ujar Adam menengahi. "Saya rasa ada kesalahpahaman di sini," sambungnya.
"Anda tidak perlu ikut campur pak tua, orang seperti anda cocoknya di jebloskan ke penjara karena hanya mengincar gadis-gadis muda untuk memuaskan nafsu anda."
PLAK
"JAGA BICARA ANDA PAK DIRGA!" bentak Anin karena Dirga sudah menghina ayahnya, bahkan ia sampai menampar atasannya itu. Sejak tadi Anin sudah menahan emosinya agar tidak meledak. Tapi perkataan Dirga barusan benar-benar sudah membuat emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun.
Mendapat tamparan yang begitu keras dari Anin, membuat pipinya memerah. Dirga sampai harus memegangi pipinya yang terasa panas itu.
"Orang tua yang anda hina ini adalah ayah kandung saya," ucap Anin penuh penekanan. "Sejak tadi sudah saya katakan, jangan asal tuduh kalau anda tidak tau kebenarannya," sambungnya.
Dirga sungguh terkejut dan tak menyangka jika pria yang dia hina tadi adalah ayah kandung Anin. Seketika Dirga merasa malu dan merasa dirinya sudah sangat bodoh. Dia sudah menuduh bahkan menghina wanita yang sangat dia cintai.
"Kenapa anda diam? Merasa bersalah?" sindir Anin.
"Harusnya anda cari tau dulu kebenarannya sebelum anda menuduh saya sembarangan," ujar Anin dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Ayo, Yah. Kita pergi dari sini," ajak Anin sambil menggandeng tangan Adam.
"Tapi nak, itu ..."
"Ayah nggak perlu hiraukan dia, orang kayak dia memang hanya bisa menghina dan merendahkan orang lain," sindirnya lagi membuat Dirga merasa tertampar.
Anin pun mengajak Adam untuk meninggalkan restoran itu, Anin sudah terlanjur kesal dengan Dirga dan saat ini dia tidak ingin melihat wajah lelaki itu.
Baru beberapa langkah Anin berjalan, ia menghentikan langkahnya membuat Adam pun ikut berhenti. Kemudian Anin berbalik dan menatap Dirga yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Dan satu lagi yang harus anda tau, anak SMA dan laki-laki yang anda lihat kemarin maupun hari ini, mereka adalah adik kandung saya," ucapnya lalu berbalik dan benar-benar pergi dari restoran itu.
Nayla yang baru kembali dari toilet dan sempat mendengar pertengkaran Dirga dan Anin pun ikut pergi menyusul kakak dan ayahnya. Sedangkan Axel merasakan sakit di hatinya ketika mendengar Anin mengatakan kalau dirinya adalah adik kandung wanita itu. Meskipun kenyataannya memang seperti itu, tapi Axel berharap Anin tidak memandangnya sebagai saudara melainkan sebagai seorang laki-laki yang berhak mendapat kesempatan untuk memiliki hatinya.
Sementara itu, Dirga yang telah menuduh dan menghina Anin, kini sedang dilanda rasa bersalah. Dia tak bisa lagi berkata apa-apa, Dirga hanya bisa menatap kepergian Anin yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.
...****************...
"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya Adam khawatir.
Setelah kejadian di restoran tadi, Adam pun mengajak Anin untuk ikut ke dalam mobilnya bersama dengan Nayla, sedangkan Axel menggunakan motornya mengikuti mobil mereka dari belakang.
"Kamu tak perlu mengkhawatirkan ayah, harusnya yang perlu dikhawatirkan di sini itu kamu. Ayah lihat kamu tadi marah sekali dengan orang itu."
"Gimana Anin nggak marah Yah, dia udah menghina ayah seenaknya. Dia pikir dia itu siapa? Udah sehebat apa dia sampe bisa menghina orang seperti itu," omel Anin yang masih merasa geram.
"Yang tadi itu siapa sih kak?" sela Nayla.
Sebenarnya Anin malas menjawabnya, tapi melihat Nayla dan Adam yang seperti penasaran menanti jawabannya, akhirnya mau tak mau pun Anin harus mengatakannya.
"Dia bos kakak di tempat kerja," jawab Anin malas.
"Kayaknya dia suka deh sama kakak, dan pasti tadi dia cemburu liat kakak sama ayah. Makanya dia ..."
"Tapi bukan berarti dia bisa menghina ayah seperti itu kan. Memangnya dia nggak bisa tanya baik-baik apa, memangnya harus banget dia menghina dan merendahkan orang lain seperti itu? Dia pikir dirinya udah sehebat apa sampe harus memandang rendah orang lain," omel Anin membuat Adam dan Nayla saling lirik.
"Sudah nak, sabar. Jangan marah-marah begitu," hibur Adam agar anak sulungnya itu tak lagi emosi.
__ADS_1
"Anin nggak bisa sabar lagi menghadapi sikapnya yang semena-mena, ayah. Anin tuh benciiii banget sama dia, rasanya tuh kayak pengen Anin cincang-cincang terus Anin kasih makan buaya, biar tau rasa dia."
Adam dan Nayla pun langsung tersenyum simpul mendengar omelan dari Anin, mereka merasa lucu karena hari ini untuk pertama kalinya mereka melihat Anin mengomel seperti itu.
"Hati-hati kak, jangan terlalu membenci. Nanti yang ada malah jadi bucin," ledek Nayla membuat Adam tertawa.
Anin menatap Nayla dan Adam bergantian, rasanya ia semakin kesal karena di ledek oleh ayah dan adiknya itu.
"Tidak, dan tidak akan pernah," ucapnya pasti lalu ia memalingkan wajahnya ke arah jalanan dari jendela samping.
...****************...
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, Dirga sedang merenungi kebodohannya di dalam kamarnya.
Setelah kejadian di restoran tadi, Dirga pun juga pergi dari sana dan langsung pulang ke rumahnya.
"Bego lo Dirga, bego. kenapa lo nggak cari tau dulu sebelum menuduh. Kalo udah begini, bagaimana caranya lo mendapatkan hatinya. Dia pasti benci banget sama lo sekarang, jadi makin susah kan lo," gumam Dirga meratapi kebodohannya.
Dirga kembali lagi melamun, mengingat bagaimana dia menghina Anin dan ayahnya tadi sore. Mengingat kejadian itu membuat Dirga kembali mengerang frustasi.
"Kayaknya gue harus minta maaf sama dia."
Dirga berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya yang terletak di sana. Setelah mendapatkan ponselnya, Dirga mencoba untuk menghubungi Anin.
Baru saja panggilannya tersambung, Anin sudah me-reject teleponnya. Sekali lagi Dirga mencoba menghubungi, tapi lagi-lagi Anin me-reject nya.
Tak ingin menyerah, Dirga pun membuka aplikasi pesan berwarna hijau lalu ia pun mengetikkan sesuatu di sana.
Tapi, saat jari-jarinya mulai mengetik, Dirga kembali menghapusnya. Tidak puas rasanya jika meminta maaf melalui pesan. Akhirnya Dirga mencoba sekali lagi untuk menghubungi Anin.
Namun, saat Dirga mencoba menelepon Anin kembali, panggilannya tidak tersambung. Nomor Dirga telah di blokir oleh Anin. Seketika Dirga pun merasa sedih.
"Nomorku di blokir," gumam Dirga sendu. "Tapi ya wajar sih, setelah apa yang aku katakan padanya. Dia pasti marah sekali sama aku, bahkan yang lebih parahnya lagi, bisa saja dia membenciku dan tidak mau bertemu denganku lagi," sambungnya.
Akhirnya Dirga tidak lagi menghubungi Anin setelah nomornya di blokir oleh wanita itu. Mungkin besok Dirga akan mencoba meminta maaf langsung pada Anin di kantor.
Karena tak bisa menghubungi Anin, Dirga pun memilih untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang empuk dan beristirahat. Besok dia akan memulai aktivitasnya kembali dan berjuang untuk mendapatkan maaf dari Anin.
__ADS_1
...****************...