
PRAAANG ... !
Suara kaca pecah terdengar dari kamar Adam dan Sandra. Keduanya sedang bertengkar hebat, untung saja anak-anak mereka tidak ada di rumah sehingga tidak bisa mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Adam murka ketika mengetahui tentang perselingkuhan yang di lakukan oleh Sandra di belakangnya.
Adam semakin murka ketika mengetahui Sandra berselingkuh tidak hanya dengan satu pria saja, melainkan dua sekaligus. Adam mengetahui hal itu dari video yang di tunjukkan oleh karyawannya.
Waktu itu, ada dua orang karyawan Adam yang sedang menonton sebuah video melalui ponsel. Sesekali mereka berbicara sambil berbisik. Kebetulan saat itu Adam sedang melintas dan tak sengaja mendengar percakapan mereka sambil sesekali menyebutkan namanya dan sang istri. Adam yang penasaran pun menghampiri kedua karyawan itu.
"Kalian sedang menonton apa?" tanya Adam membuat kedua karyawannya terkejut.
"Eh, pak Adam. Nggak kok pak, kami sedang tidak menonton apa-apa," jawab Winda sambil menyembunyikan ponselnya di balik punggung.
"Kamu tidak perlu takut, saya sudah dengar semuanya. Coba, sini ponsel kamu. Saya mau lihat." Adam mengulurkan tangannya meminta ponsel milik Winda.
Winda yang ketakutan pun melirik pada teman di sebelahnya. Mereka saling memberikan kode yang tentu saja hanya mereka berdua yang tahu. Karena tak ingin membuat atasan mereka marah, Winda pun dengan pasrah memberikan ponselnya kepada Adam.
Adam menyaksikan video seorang wanita yang sedang di labrak oleh dia orang wanita lain. Dalam video tersebut dua orang wanita yang melabrak sedang menghajar habis-habisan si pelakor, bahkan pakaiannya sampai ada yang robek rambutnya acak-acakan akibat di tarik oleh kedua wanita itu.
Wajah Adam berubah merah dan mengerikan saat ia melihat wajah si pelakor yang sedang di labrak itu, ia sampai mengepalkan kedua tangannya. Adam pun bergegas pergi dari tokonya dan pulang ke rumah mencari Sandra.
"Kamu benar-benar keterlaluan ya San, bisa-bisanya kamu selingkuh di belakangku!" teriak Adam emosi.
"Aku selingkuh juga gara-gara kamu mas. Kalo kamu nggak memblokir kartu ku, mungkin aku juga tidak akan melakukan hal itu."
"Dasar j*l*ng m*r*han. Sekarang kamu malah menyalahkan aku? Kalau kamu memang sangat menginginkan uang, jual saja dirimu di rumah p*l*c*ran sana."
PLAAK
Secara spontan Sandra menampar Adam, dia marah dan kesal karena suaminya menyuruhnya untuk menjual diri.
Sementara Adam merasa sangat geram, karena Sandra sudah berani menampar wajahnya. Dia pun langsung mencengkram pipi Sandra dengan tangan kanannya.
"Berani kamu menamparku, hah! Kamu pikir dirimu itu siapa!"
Sandra merasakan sakit di pipinya, Adam terlalu kuat mencengkram wajahnya. Semakin Sandra memberontak maka akan semakin kuat Adam menekan wajah Sandra.
__ADS_1
"Seharusnya kamu berterima kasih padaku. Kalau aku tidak memungut mu kembali, mungkin saja kamu sudah jadi p*lac*r untuk bertahan hidup."
Tak tahan lagi, Sandra mendorong tubuh Adam hingga bergeser sedikit menjauh darinya. Wanita itu pun menarik nafasnya dalam-dalam, rasa sakit di wajahnya pun masih terasa.
"Jahat Kamu mas! Kamu tau betul aku bukan perempuan seperti itu dulu, bahkan kamu orang yang sudah mengambil kesucian ku!" Sandra berteriak dan tak terima di tuduh seperti itu.
"Aku memang orang pertama yang mengambil perawanmu, tapi bukan cuma aku kan yang menikmati tubuhmu?"
Sandra membulatkan kedua matanya, rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat akhirnya ketahuan juga oleh sang suami.
"Kamu pikir aku nggak tau, kamu selalu bermain dengan banyak pria di belakangku. Kamu itu benar-benar perempuan licik San, menyesal aku menikahi mu."
Adam berjalan menuju lemari dan mengeluarkan koper milik Sandra. Di ambilnya pakaian Sandra dan di masukkan ke dalam koper.
"Apa yang kamu lakukan mas? Mau kamu apakan baju-baju aku." Sandra berteriak sambil menghampiri suaminya. Tangannya sibuk menghalangi Adam yang terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Minggir kamu!" bentak Adam dan mendorong Sandra hingga terjatuh ke lantai.
Setelah pakaian Sandra di masukkan semua, Adam menyeret koper itu hingga keluar kamar. Sandra berlari mengejar Adam dan berusaha menghalangi suaminya.
"Mulai hari ini, kamu tidak aku ijinkan menginjakkan kaki lagi di rumah ini. Silahkan kamu pergi dengan para selingkuhan mu itu, dan tunggu surat cerai dari ku," ucap Adam membuat Sandra tercengang.
Sandra mengejar Adam dan menahan pintu yang akan di tutup, dia memohon agar Adam mau memaafkannya.
"Maafkan aku mas, aku khilaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku akan berubah mas. Tolong, beri aku kesempatan sekali lagi." Dengan bercucuran air mata, Sandra berlutut di kaki Adam berharap suaminya itu luluh dan mau memaafkannya.
Tapi siapa sangka, Adam menepis Sandra dengan kakinya hingga membuat wanita itu terjengkang ke belakang. Dengan tanpa perasaan Sandra di seret keluar oleh Adam lalu ditutupnya pintu dengan keras.
Sandra pun segera bangkit dan mencoba membuka pintu. Namun, Sandra sudah terlambat. Pintu sudah di kunci oleh Adam.
Berkali-kali Sandra menggedor pintu dan minta untuk di buka kan, Adam tetap menulikan pendengarannya dan mengabaikan Sandra yang terus berteriak.
"Ternyata seperti ini rasanya di khianati, ini lah karma yang harus aku terima karena telah menyakiti Elfira dulu." Adam tersenyum getir mengingat perbuatannya dulu pada mantan istrinya.
****************
__ADS_1
Langit hitam menyelimuti malam, dengan langkah yang terseok-seok, Sandra berjalan sambil menggeret kopernya. Kakinya sudah lelah berjalan melewati jalan sepi, entah dimana dia sekarang berada. Tenggorokannya terasa kering, perut yang terus berbunyi minta di isi menambah kesialannya saat ini.
"Dasar Adam sialan, dia tidak memberikan ku uang sepeser pun, bahkan ponsel ku pun tertinggal di dalam kamar," gerutunya sambil terus berjalan.
Karena hari sudah malam, Sandra tidak melihat ada lubang kecil di depannya. Alhasil ia pun terjatuh hingga kakinya keseleo.
"Aww!"
"Akh. Sial!" makinya sambil merasakan sakit.
"Sial banget sih aku hari ini, udah lah di usir dari rumah, kelaparan dan kehausan, nggak punya uang lagi. Terus sekarang malah jatuh." Sandra terus menggerutu meratapi kesialannya.
Sandra mencoba untuk berdiri, tapi kemudian dia terjatuh lagi. Kakinya tidak bisa di gerakkan, rasa sakitnya semakin terasa jika dia mencoba untuk berjalan. Sandra pun menepi dan duduk di trotoar sambil meringis menahan sakit.
"Dasar Adam brengsek, awas aja. Aku pasti akan balas kamu."
Kini dendam Sandra semakin besar pada Adam, dalam hati dia terus memaki-maki suaminya itu.
Hari semakin malam dan Sandra tidak tahu harus kemana. Sandra memegangi perutnya yang terasa lapar dan sejak tadi terus berbunyi.
Dari kejauhan, tampak sebuah cahaya yang menyorot dan membuat silau. Sandra sampai harus memicingkan mata untuk menghalau cahaya tersebut.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Sandra, seseorang keluar dari mobil tersebut. Seorang pria memakai kemeja berwarna navy, pria itu melangkah mendekati Sandra yang sedang menatapnya dengan kening berkerut.
Sandra mendongakkan kepalanya tatkala pria itu sudah berdiri di hadapannya. Senyum manis terukir di wajahnya yang masih terlihat tampan meski sudah berumur.
"Hai!" sapa pria itu.
Suara berat dari pria itu seperti pernah di dengar oleh Sandra, wajahnya pun seperti familiar di ingatannya. Sandra terus memutar memorinya untuk mengingat siapa sosok pria yang berdiri di depannya itu.
Mata Sandra membulat sempurna ketika dia mulai mengingat siapa pria tersebut.
"Kamu!"
...****************...
__ADS_1