Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 39


__ADS_3

Di ruang kerjanya Erlangga sedang melamun, pagi ini ia tak memiliki semangat sama sekali. Ia tengah teringat akan jawaban Elfira atas pernyataan cintanya tadi malam.


"Terimakasih atas ungkapan cintamu dan aku menghargai semua usaha mu malam ini," Elfira tertunduk sambil menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya ia kembali mendongak dan menatap Erlangga yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Maafkan aku Er, aku tidak ..."


"Tunggu," potong Erlangga cepat. Ia tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Elfira. Ia tak ingin di tolak.


"Aku tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang, aku tau kamu belum siap untuk menikah lagi. Aku akan memberikan kamu waktu sampai kamu benar-benar siap untuk membuka hati kamu untuk aku."


"Tapi aku gak mau membuat kamu menunggu lama, aku gak tau kapan aku bisa ..."


"Aku akan tetap menunggu, sampai kapan pun," ucap Erlangga yakin.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Erlangga tersadar dari lamunannya. "Masuk," ucapnya pada si pengetuk.


Dewo masuk setelah membuka pintunya lebar lalu menutupnya kembali. Ia membawa beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh Erlangga.


"Ada apa Dewo?" tanya Erlangga kepada asistennya itu.


"Ini ada beberapa berkas yang harus bos periksa dan di tandatangani," jawab Dewo sambil meletakkan berkas-berkas itu ke atas meja kerja Erlangga.


"Terimakasih Wo, nanti akan saya periksa," ucap Erlangga tak semangat.


"Baik bos, kalau begitu saya pamit kembali ke ruangan."


"Hmm."


Dewo menatap heran pada bosnya, selama 7 tahun dia bekerja bersama Erlangga, baru kali ini Dewo melihat bos nya itu tampak tak bersemangat.


Erlangga menyandarkan tubuhnya pada kursi, ia tak berselera sama sekali untuk menyentuh semua berkas-berkas itu.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi begini," gumamnya sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut.


Erlangga bangkit lalu menyambar kunci mobil yang ia letakkan di atas meja. Ia berniat keluar sebentar untuk mencari udara segar agar bisa memulihkan kembali mood nya. Di depan pintu Erlangga bertemu dengan Dewo yang kebetulan sedang menuju ruangannya.


"Loh bos, mau kemana?" tanya Dewo saat melihat Erlangga yang berjalan tergesa-gesa.


"Saya mau keluar sebentar, kamu tolong handel perusahaan dulu sampai saya kembali," jawab Erlangga sambil berlalu tanpa melihat ke arah Dewo.


Tampak Dewo membuka lebar mulutnya tak percaya, hari ini pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya dan Erlangga dengan seenak hatinya pergi begitu saja, melimpahkan semua pekerjaan kepada dirinya.


"Ternyata memang benar pepatah yang orang katakan. Lo punya uang lo punya kuasa," gerutu Dewo sambil kembali ke ruangannya.


...****************...


Malam ini Elfira berada di sebuah restoran sedang menunggu kedatangan Erlangga. Mereka sudah membuat janji dan akan makan malam bersama. Tadinya Erlangga ingin menjemput Elfira di rumahnya. Namun, wanita itu menolaknya, ia meminta Erlangga untuk bertemu langsung di restoran.


 Elfira yang sudah sampai lebih dulu memilih duduk di kursi dekat dinding kaca agar bisa melihat ke luar. Tak lama seorang waitress datang menghampirinya dan membawakan buku menu untuknya.


"Selamat malam nona, mau pesan apa?" tanya si waitress sambil menyerahkan buku menu tersebut kepada Elfira. Ia pun membukanya dan melihat-lihat menu yang terdaftar di sana.


Pesanan Elfira pun di catat dan waitress tersebut pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Elfira kembali menunggu sambil memandangi jalanan, saat sedang asyik dengan kegiatannya, tiba-tiba ada seseorang menghampirinya dan membuatnya kembali ketakutan.


"Wuaah, si Upik abu sudah naik kasta ya sekarang. Makan malamnya di tempat elite tidak di warung pinggir jalan lagi?" sindir seseorang yang tak lain adalah Jessica.


Elfira terkejut sampai membuka lebar ke dua matanya saat melihat kehadiran wanita itu di hadapannya. Entah sejak kapan Jessica sudah duduk di depannya, membuat jantung Elfira berdetak kencang tak karuan. Meskipun kejadian itu sudah lama berlalu, namun, rasa takut itu masih ada hingga sekarang. Dan semua itu dapat dilihat oleh Jessica. Wanita itu bisa melihat tubuh Elfira yang sedikit bergetar karena ketakutan.


"Mau apa kamu, pergi dari hadapanku dan jangan pernah ganggu aku lagi," ucap Elfira mencoba untuk memberanikan diri.


Jessica menyunggingkan senyumnya dan bersandar di kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Udah mulai berani ya lo sama gue," ucap Jessica sinis.


Elfira diam, ia masih berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya. Jika dulu ada Adam yang akan selalu melindunginya dari Jessica, maka sekarang ia tak punya siapa-siapa lagi yang bisa diandalkan. Untuk itu lah Elfira mencoba untuk memberanikan dirinya menghadapi Jessica.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu aku takutkan dari kamu," balas Elfira.


Jessica menarik sudut bibirnya dan memajukan badannya, kedua tangan ia letakkan di atas meja. "Lo tuh bener-bener perempuan yang gak tau diri ya."


"Apa maksud kamu?" tanya Elfira karena sedikit tersinggung dengan ucapan Jessica.


Jessica menatap Elfira dengan tajam dan penuh kebencian, ada dendam yang sudah lama ia simpan kepada Elfira.


"Gara-gara lo, Adam tak pernah mau menerima perasaan gue. Dia lebih memilih perempuan miskin kayak lo daripada gue yang memiliki segalanya," ucap Jessica mengingat masa lalu nya.


"Bukan salah ku kalau mas Adam lebih memilih aku daripada kamu. Harusnya kamu bisa koreksi diri, apa yang salah dari diri kamu," balas Elfira yang sudah mulai berani melawan Jessica.


Jessica mulai emosi, ia sedikit menggeram mendengar perkataan Elfira. Nafasnya naik turun menahan amarah.


"Lagi pula, untuk apa lagi kamu mempermasalahkan masa lalu. Toh sekarang aku sudah tidak bersama dengan mas Adam lagi. Jika kamu mau, ambil saja," sambungnya lagi.


"Lo bener-bener ya." Jessica berdiri dan bersiap melayangkan tangannya ke wajah Elfira, membuat wanita itu spontan memejamkan mata.


Namun, sudah beberapa detik, Elfira tak merasakan apapun. Ia membuka sebelah matanya untuk melihat apa yang terjadi. Kedua mata Elfira kini terbuka lebar saat melihat Erlangga yang sudah berdiri sambil memegangi tangan Jessica yang sedang terangkat ke atas.


"Jangan pernah sentuh calon istri saya dengan tangan kotor mu itu," ucap Erlangga penuh penekanan, lalu di hempaskannya tangan Jessica dengan kasar hingga membuat tubuh Jessica tidak seimbang dan terduduk di kursi.


Erlangga menatap khawatir pada wanita yang sangat dicintainya itu, lalu mendekatinya dan menarik Elfira untuk berdiri.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Erlangga sambil memperhatikan keadaan Elfira.


"Aku gak apa-apa," jawab Elfira.


"Maafin aku ya, aku datang terlambat," ucap Erlangga lagi penuh penyesalan.


Kemudian Erlangga kembali menatap Jessica yang masih terduduk. "Kamu!" hardik Erlangga sambil menunjuk tepat di depan wajah Jessica. "Jangan pernah ganggu ataupun muncul lagi di hadapan Elfira. Atau aku akan membuat perusahaan ayahmu hanya tinggal nama," ancamnya membuat Jessica ketakutan. Jessica tak ingin perusahaan ayahnya hancur hanya karena kelakuannya. Atau dia akan mendapat amukan dari sang ayah. Karena ayahnya tidak akan segan memukulinya jika dirinya membuat masalah yang berdampak pada perusahaan. Ayahnya itu lebih menyayangi perusahaan daripada dirinya yang notabene adalah anak kandung.


Wajah Erlangga begitu menyeramkan menurut Jessica, tatapan matanya begitu tajam membuat bulu kuduknya merinding. Jessica sadar kalau Erlangga bukanlah pria sembarangan. Berani melawan Erlangga sama dengan mencari mati. Tak ingin ancaman Erlangga menjadi kenyataan, Jessica pun cepat-cepat pergi dari hadapan kedua sejoli itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2