Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 52


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar, seorang wanita berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku tangannya. Wajahnya terlihat sangat panik dan juga ketakutan. Baru saja orang suruhannya memberitahukan kalau rencana mereka sudah diketahui dan mungkin sebentar lagi orang itu akan membalasnya.


"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Apa aku kabur saja ke luar negeri?" gumamnya setelah memutuskan untuk duduk di tepi ranjangnya.


Saat ia sedang dalam kepanikan, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka membuat ia terkejut. Namun, selanjutnya ia bisa bernafas lega saat melihat orang yang membuka pintu adalah ibunya. Tak beda jauh dengan dirinya, raut wajah sang ibu juga tampak sangat ketakutan.


"Sayang, gawat nak. Kita dalam keadaan gawat, tadi ..."


"Aku tahu ma, tadi Bernard sudah menghubungiku," jawabnya cepat memotong ucapan sang ibu.


"Bagaimana ini Jes, rencana kita untuk menghancurkan nama baik Elfira sudah di ketahui oleh Erlangga. Mama yakin sekali, sebentar lagi dia pasti akan segera bertindak."


"Jesi juga gak tahu ma, yang Jesi khawatirkan sekarang, bagaimana kalau papa juga sampai tahu. Habislah kita." Jessica berkata dengan wajah ketakutan.


"Ini semua gara-gara mama, kalau bukan karena ide gila mama ini pasti sekarang kita tidak akan ketakutan seperti ini," ucap Jessica yang mulai menyalahkan sang ibu.


Tentu saja Anita terkejut mendengarnya, ia tak terima jika harus disalahkan seperti itu. Dia memiliki ide jahat itu juga demi membantu putrinya, tapi sekarang malah dirinya yang disalahkan.


"Kamu nyalahin mama?" tanya Anita tak terima. "Kalau bukan karena kamu, mama juga tidak mau melakukan hal itu dan berurusan dengan Erlangga," lanjutnya.


"Terus sekarang kita harus gimana Ma? Jessica gak mau kalau papa sampai tahu."


Anita pun terdiam, ia sedang memikirkan cara agar mereka bisa terbebas dari masalah ini. "Bagaimana kalau kita kabur saja?" Tiba-tiba Anita memberikan ide, sama seperti yang dipikirkannya tadi.


"Mau kabur kemana ma, terus kalau ketahuan gimana?"

__ADS_1


"Kita pergi tanpa mengatakan apapun pada papamu." Sejenak Jessica terdiam, dia tidak yakin apakah rencana ibunya itu akan berhasil. "Percaya sama mama," ucap Anita lagi saat melihat keraguan di wajah Jessica.


Karena tak ada pilihan lain, Jessica pun mengikuti saran dari ibunya. "Baiklah ma, Jessica ikut saran mama. Kita pergi dari sini," ucap Jessica yakin.


Jessica berjalan ke arah lemarinya untuk mengambil koper, dan Anita berjalan keluar kamar Jessica. Ia juga harus segera bersiap-siap. Namun, belum sempat rencana mereka di jalankan, pintu kamar Jessica tiba-tiba di buka secara kasar oleh seseorang.


"Mau kemana kalian?" tanya Herlambang saat melihat Jessica yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Suaranya yang datar dan tatapannya yang tajam membuat Jessica dan Anita ketakutan.


"Pa-papa," ucap Jessica terbata. Keringat dingin mulai bermunculan di sekitar pelipisnya, begitu juga Anita yang kini sudah gemetaran.


"Kalian mau pergi setelah membuat masalah yang berdampak pada perusahaan ku?"


"A-apa maksud papa? Mama gak ngerti," tanya Anita pura-pura tak tahu.


Herlambang menatap ke arah istrinya dengan tajam, ia sampai mengeraskan rahangnya, bahkan sampai terdengar suara giginya yang saling beradu. Nafasnya naik turun menahan kemarahannya.


Akan tetapi, sekarang yang mereka ganggu adalah seorang Erlangga Putra Wijaya. Seorang pengusaha sukses dan nomor satu di Indonesia. Sosok yang terkenal kejam dan tidak akan memberi ampun pada siapapun yang berani mengusiknya.


Selama ini Herlambang selalu berusaha untuk tidak mengganggunya meskipun sebenarnya dia juga sangat tidak menyukai lelaki itu. Tapi, mengusik Erlangga sama saja dengan mencari mati. Susah payah dia berusaha membangun perusahaannya agar bisa bersaing dengan perusahaan Erlangga, bahkan kalau bisa ia ingin menjadi yang nomor satu mengalahkan Erlangga. Tapi semua itu menjadi sia-sia karena ulah anak dan istrinya yang sudah berani mengusik ketenangan macam tidur itu.


Herlambang menepuk kedua tangannya, dari luar masuklah empat orang pria berbadan besar. Mereka adalah bodyguard kepercayaan Herlambang.


"Bawa mereka," titah Herlambang kepada keempat pria tersebut.


Empat bodyguard itu pun menuruti perintah sang atasan. Jessica dan Anita di seret keluar oleh keempat pria berbadan besar itu.

__ADS_1


"Lepasin! Papa, suruh mereka untuk melepaskan Jessica. Jesi minta maaf pa, Jesi janji tidak akan mengulanginya!" teriak Jessica sambil terus memberontak dalam cengkeraman para bodyguard.


Begitu juga dengan Anita, wanita itu juga memberontak minta di lepaskan. Ia juga meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.


Namun, Herlambang seolah menulikan pendengarannya. Perusahaannya di ambang kehancuran karena ancaman dari Erlangga. Untung saja lelaki itu masih berbaik hati padanya sehingga ia diberikan kesempatan untuk memilih.


Erlangga akan melepaskannya dan tak akan menghancurkan perusahaannya jika dia bisa mengatur dan memastikan jika anak dan istrinya tidak akan mengusik Erlangga ataupun orang-orang nya. Tapi, jika Herlambang tidak bisa melakukannya maka Erlangga sendiri yang akan turun tangan dan bisa dipastikan kalau perusahaannya hanya akan tinggal nama saja.


...****************...


"Maafkan atas perbuatan anak dan istri saya tuan Erlangga. Saya benar-benar tidak tahu kalau mereka bisa sampai berbuat seperti itu," ucap Herlambang dengan kepala tertunduk.


Setelah membereskan kekacauan yang dibuat oleh anak dan istrinya serta memberikan pelajaran untuk mereka berdua, Herlambang memutuskan untuk mendatangi kantor Erlangga. Ia terpaksa harus merendahkan dirinya menundukkan kepala kepada laki-laki yang bahkan usianya masih jauh di bawahnya. Jika bukan karena perusahaannya yang ia bangun dari nol, Herlambang tidak akan mau repot-repot melakukan hal yang memalukan ini.


Erlangga duduk bersandar sambil mengangkat sebelah kakinya dan di letakkan diatas kakinya yang lain. Tangannya ia lipat di depan dada, matanya menatap tajam Herlambang yang sedang tertunduk. Tak ada senyum sedikitpun yang tersungging dari bibirnya. Erlangga benar-benar marah pada Herlambang, terutama pada anak dan istri lelaki paruh baya itu.


"Apa anda yakin sudah membereskan mereka? Anda yakin kalau mereka tidak akan mengulangi perbuatannya dan mengganggu orang-orang yang saya sayangi?"


Herlambang memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap Erlangga. Herlambang langsung ketakutan ketika melihat tatapan tajam dari Erlangga, tatapan yang mematikan sampai bulu kuduknya meremang. Tak pernah sebelumnya Herlambang melihat Erlangga seperti ini, ternyata rumor tentang Erlangga yang berubah seperti iblis bukanlah isapan jempol semata. Kini Herlambang menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.


"Saya mau anda memastikan kalau mereka tidak akan berani lagi macam-macam. Jika sampai hal itu terjadi lagi, saya pastikan kalau perusahaan anda hanya akan tinggal nama saja."


"Ba-baik Tuan. Saya janji dan saya bisa pastikan hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Herlambang dengan terbata.


Setelah yakin kalau Herlambang bisa menepati janjinya, Erlangga pun memerintahkan pria itu untuk pergi. Dengan patuh Herlambang pun menundukkan kepalanya dan pergi dari kantor Erlangga dengan perasaan lega. Akhirnya, perusahaannya tak jadi bangkrut. Erlangga masih berbaik hati memberikannya kesempatan. Setelah ini Herlambang berjanji pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan kecolongan lagi. Dia tidak mau berurusan dengan erlangga lagi. Kalau tidak maka dia akan benar-benar kehilangan perusahaannya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2