
Lima belas menit waktu berlalu, waktu berkunjung pun sudah habis. Petugas membawa Adam kembali ke dalam tahanan. Anin melambaikan tangannya sampai Adam tak terlihat lagi.
"Terimakasih ya bunda, sudah ajak Anin bertemu dengan ayah." Anin mendongak menatap ibunya sambil tersenyum.
"Sama-sama sayang, asalkan Anin bahagia, apapun akan bunda lakukan. Sekarang kita pulang yuk, kasihan om Erlangga nungguin kita di mobil."
"Ayo."
Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan, Anin tampak bahagia setelah bertemu dengan ayahnya. Senyuman manis tak pernah lepas dari bibir kecilnya.
Erlangga turun dari mobilnya saat melihat Elfira dan Anin yang berjalan ke arah mobilnya. Ia segera menyusul kedua wanita beda generasi itu.
"Sudah selesai?" tanya Erlangga.
"Sudah om," jawab Anin dengan semangat. "Makasih ya om, udah ajak Anin jenguk ayah." Anin mendekati Erlangga lalu memeluk kaki lelaki itu.
Erlangga pun melepaskan pelukan Anin lalu berjongkok di hadapan gadis berusia hampir lima tahun itu.
"Sama-sama sayang, asal Anin bahagia, om juga ikut bahagia." Erlangga tersenyum menatap Anin yang dibalas dengan senyuman oleh anak itu.
Elfira yang sejak tadi berdiri ikut tersenyum menatap anak dan calon suaminya yang tampak saling menyayangi. Elfira bersyukur karena Erlangga mau menerima Anin dan menganggapnya anak sendiri, begitu juga dengan Anin yang mau menerima Erlangga sebagai ayah sambungnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah restoran. Mereka akan makan siang terlebih dahulu sebelum nanti mereka mengajak Anin ke taman bermain.
...****************...
Di dalam sel tahanan, Adam sedang merenungi nasibnya. Hatinya hancur saat mengetahui wanita yang sangat dicintainya akan menikah dengan orang lain. Adam menyesal karena selama ini telah menyia-nyiakan wanita sebaik Elfira.
Hiks ... hiks ...
Adam menangis, penyesalannya benar-benar sangat dalam. Andai waktu bisa di ulang, Adam berjanji akan memperbaiki sikapnya dan tak akan pernah menyakiti Elfira. Namun, semua itu hanyalah angan semu semata. Tak ada satu manusia pun di dunia ini yang dapat mengulang waktu.
"Maafkan aku Fir, aku benar-benar menyesal. Aku memang jahat, aku manusia paling jahat di dunia ini," rutuk Adam dalam hatinya.
"Woi! Cengeng banget sih lo jadi laki. Baru putus cinta lo?" ledek salah satu napi yang berada dalam sel yang sama dengan Adam.
__ADS_1
"Dia bukan putus cinta bro, tapi putus harapan. Mantan istrinya mau nikah sama orang lain," celetuk yang lainnya.
"Penjahat k*lam*n kayak dia emang pantas di tinggalkan. Makanya, jangan suka nyakitin hati perempuan bro. Kalau sudah hilang, baru terasa kan,"
Hahaha...
"Sekarang aja lo baru nangis, dulu waktu melakukan kesalahan, gak pernah sedikit pun lo ingat sama bini kan! Dasar penjahat lo."
Adam menjadi bahan ejekan oleh teman-teman satu selnya. Sejak mereka tahu kasus yang menimpa Adam, sejak itu lah mereka selalu mengejek Adam. Namun, semua itu tak di ambil pusing olehnya, Adam hanya diam saja dan menganggap semua ejekan mereka hanya angin lalu. Selama di penjara, Adam berubah menjadi orang yang pendiam dan tak ada satu pun dari mereka yang mau berteman dengannya. Seolah-olah Adam adalah manusia paling hina di dunia ini, dan harus di jauhi. Padahal mereka juga tak kalah hina di bandingkan Adam. Jika mereka adalah manusia paling suci, tak mungkin mereka berakhir di penjara seperti dirinya, kan. Ah, entahlah. Adam tak mengerti, gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang pantai nampak jelas. Begitulah manusia, kesalahan diri sendiri tak terlihat, tapi kesalahan orang lain tampak jelas.
...****************...
Malam hari, mobil Erlangga memasuki halaman rumah Elfira. Selepas dari tahanan tadi, Erlangga mengajak calon istri dan calon anaknya bermain di taman hiburan seharian. Mereka mencoba berbagai wahana permainan, Anin tampak bahagia saat mencoba wahana-wahana tersebut.
Karena saking asiknya bermain hingga membuat anak itu kelelahan hingga tertidur selama perjalanan pulang.
"Biar aku saja yang bawa Anin sampai ke kamarnya," pinta Erlangga saat Elfira hendak menggendong Anin.
"Emangnya gak ngerepotin kamu?"
Elfira tersenyum saat Erlangga mengatakan anak sendiri. Itu artinya Erlangga menerima Anin sebagai anaknya meskipun ia bukanlah ayah kandung Anin. Elfira bersyukur bisa mengenal Erlangga dan ia juga berharap pernikahannya kali ini tidak seperti pernikahan sebelumnya.
Erlangga membawa Anin lalu meletakkan anak itu di atas tempat tidurnya. Setelah itu ia keluar dari kamar Anin dan menyusul Elfira yang sedang berada di dapur.
"Ekhem"
Erlangga berdehem membuat Elfira kaget, untung saja gelas yang sedang di pegangnya tidak sampai jatuh.
"Kamu. Ngagetin saja."
"Hehe. Maaf, aku gak bermaksud untuk mengagetkan kamu. Ada yang bisa aku bantu?"
"Hmm. Kamu tolong bawain minumannya ya, biar aku yang bawa cemilannya."
"Oke, siap calon istriku," canda Erlangga sambil memberikan hormat membuat Elfira terkekeh sambil geleng kepala.
__ADS_1
...****************...
"Gimana persiapan pernikahan kamu Lang? Apakah sudah beres semuanya?" tanya Wulan kepada sang anak.
"Alhamdulilah semuanya sudah beres Ma, tinggal nunggu hari H nya aja."
"Bagus deh kalau begitu, mama senang banget akhirnya sebentar lagi kamu akan menikah. Ah, gak sabar rasanya mama nimang cucu dari kamu," ucap Wulan sambil membayangkan bagaimana rasanya ia menggendong cucunya.
"Nikah aja belum sudah membayangkan cucu, di buat dulu lah ma baru setelah itu nunggu sampai adonannya jadi."
Bugh
Argh
"Memangnya buat anak kayak buat kue, pake adonan segala," gerutu Wulan sambil memukul lengan Erlangga.
"Bercanda Ma, serius banget sih," elak Erlangga sambil mengelus lengannya yang terasa sakit.
"Lang."
"Iya Ma."
"Kamu serius kan cinta sama Elfira?"
"Ya serius lah ma, kenapa tiba-tiba mama nanya seperti itu."
"Nggak apa-apa, mama cuma mau memastikan aja. Satu pesan mama sama kamu." Wulan menatap lekat wajah Erlangga, "cintai Elfira dengan sepenuh hati kamu dan jangan pernah sakiti hatinya. Elfira pernah gagal dalam pernikahan pertamanya, jangan sampai kamu juga melakukan hal yang sama dan membuat wanita baik itu trauma akan pernikahan."
"Iya ma, Erlangga pasti akan mencintai Elfira sepenuh hati. Buat Erlangga, Fira adalah segala-galanya. Dia wanita pertama dan terakhir yang berhasil membuat Erlangga jatuh cinta. Jadi, Erlangga tak akan pernah menyia-nyiakan wanita sebaik Elfira," tutur Erlangga dengan setulus hati.
"Bagus. Elfira itu wanita yang sangat baik, dia tak pantas untuk di sakiti. Hanya laki-laki bodoh yang tega menyakitinya dan menyia-nyiakannya."
Benar apa yang di katakan mamanya, Erlangga juga merasa begitu. Satu kali Erlangga membuat Elfira kecewa dan itu benar-benar membuatnya seperti orang gila yang kehilangan akal. Elfira sangat berpengaruh buat hidupnya, kehilangan Elfira berarti kehilangan seluruh hidupnya. Erlangga berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak akan pernah lagi menyia-nyiakan wanita itu. Ia akan terus mencintai Elfira sampai jantungnya tak lagi berdetak dan sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya.
...****************...
__ADS_1