
Cahaya rembulan yang menerangi malam, Axel berdiri dengan tangan yang menumpu pada pagar pembatas di atas balkon kamarnya. Satu batang rokok berada di antara dua jari tengah dan telunjuknya. Sesekali dia menghisap benda ber nikotin itu lalu menghembuskannya sehingga mengeluarkan asap putih yang beterbangan di udara.
Saat ini pikirannya sedang kalut, masalah yang terjadi dalam keluarganya membuat pemuda itu sedikit terbebani. Meski dia mengatakan tidak apa-apa, tapi dalam hatinya dia merasakan kehancuran. Keluarganya tidak lagi utuh, kedua orang tuanya akan berpisah.
Dia butuh seseorang yang bisa ia jadikan sandarannya, tapi Axel tidak memiliki siapapun. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Anin, wanita yang sangat dia kagumi. Perasaan ingin memiliki wanita itu sangat besar, tapi Axel sadar, selamanya mereka tidak akan bisa bersama. Takdir mereka hanya sebagai saudara, dan saat ini Axel sedang berusaha untuk menghilangkan perasaan terlarang itu dari dalam hatinya. Meski sulit, tapi Axel akan mencobanya.
Mengingat wanita itu membuat Axel merindukannya, rokok yang tinggal setengah batang itu dia tekan di dalam asbak hingga padam. Setelahnya Axel masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di atas kasur. Kemudian ia kembali lagi ke balkon dan mencoba untuk menghubungi Anin.
Panggilan pertama gagal, Anin tidak menjawab teleponnya. Waktu masih menunjukkan pukul 8 malam, mustahil rasanya jika Anin sudah tidur. Axel pun mencoba sekali lagi, dan keberuntungan sedang berpihak padanya. Terdengar sahutan dari seberang sana membuat senyum bahagia terukir di bibir pemuda berusia 20 tahun itu.
"Halo Xel! Tumben kamu telepon aku, biasanya kamu kayak jelangkung tiba-tiba udah nongol aja di depan aku," sapa Anin membuat Axel tertawa kecil.
"Bawel banget sih lo, belum apa-apa udah panjang aja itu kata-kata lo. Udah kayak kereta api jalur jakarta ke Surabaya."
"Dih, apaan. Mana ada itu," protes Anin kesal. Sayangnya saat ini mereka hanya melakukan panggilan suara, jika mereka sedang berhadapan saat ini, mungkin Axel akan merasa semakin gemas pada Anin karena wanita itu sedang cemberut dan memajukan bibirnya.
"Lo lagi apa Nin?" tanya Axel tanpa menghiraukan protes dari Anin.
"Lagi nerima telepon dari kamu, ada apa sih? Langsung ke intinya aja deh, soalnya kamu itu nggak pernah menghubungi aku seperti ini. Pasti ada sesuatu kan?"
"Tumben peka," sindir Axel membuat Anin kembali cemberut. "Temenin gue keluar yuk, cari angin."
"Nggak ah, nanti aku malah masuk angin lagi."
"Ck. Itu cuma perumpamaan Anin ku sayang ... "
"Heh! Sayang, sayang. Aku ini kakak kamu ya, nggak ada itu sayang-sayangan."
"Iya, iya. Bawel! Jadi gimana? Mau nggak temenin gue?"
__ADS_1
"Ya udah, tapi jemput ya. Sekalian kamu yang permisi'in ke bunda dan papa."
"Iya, beres itu."
Panggilan pun berakhir, Axel kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk menjemput Anin. Tak apa jika dirinya hanya di anggap sebagai adik, yang penting Axel bisa bertemu dengan Anin dan pergi berdua dengannya.
...****************...
"Kalian mau kemana?" tanya Erlangga pada Axel yang kini sudah berada di rumah Anin. Dia meminta ijin pada Erlangga dan Elfira untuk mengajak Anin keluar.
"Cuma jalan-jalan bentar aja kok Om, cari angin. Soalnya Axel lagi bosan di rumah, boleh kan Om? Tante?"
"Ya boleh dong Xel, tapi ingat. Jangan terlalu malam, dan tolong kamu jaga kakak kamu itu," nasihat Elfira.
"Iya Tante. Pasti."
"Ya udah Bun, Pa. Kami pergi dulu ya." Anin berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Axel yang mengikuti Anin.
"Kamu mau ngajak aku kemana sih?" tanya Anin dengan sedikit berteriak. Karena saat ini mereka sudah berada di jalan.
"Nanti juga lo bakalan tau sendiri!" balas Axel.
Tak ada lagi percakapan di antara keduanya hingga motor yang di kendarai Axel tiba di sebuah pujasera, surganya jajanan bagi mereka pecinta kuliner.
Mata Anin tampak berbinar melihat gerai-gerai makanan yang banyak tersedia. Rasanya ingin sekali dia mencicipi semua jajanan yang ada di sana. Axel pun ikut tersenyum melihat Anin yang tampak bahagia.
"Udah yok, cari tempat. Malam ini gue yang traktir, jadi lo bisa makan sepuasnya," kata Axel membuat Anin semakin berbinar.
"Seriusan? Beneran aku bisa makan sepuasnya?"
__ADS_1
"Iya. Pokoknya lo mau pesan apa aja, silahkan. Gue yang bayar," ucap Axel sambil menepuk-nepuk dadanya.
Tak ingin membuang waktu, Anin segera berjalan menuju gerai yang menjual makanan pedas. Seblak ceker kuah pedas yang menjadi pilihannya. Setelah memesan, mereka mencari tempat duduk. Tak lama setelah itu, makanan mereka pun di hidangkan. Anin tak sabar ingin mencicipi makanan pedas tersebut.
Axel melongo tak percaya melihat Anin melahap seblak dengan kuah super pedas itu dengan ekspresi yang biasa saja, bahkan ia sampai menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Lo makan itu, emangnya nggak berasa pedas?" Axel meringis melihat Anin menyeruput kuah pedas dari seblak tersebut.
"Nggak tuh, biasa aja," jawabnya sambil terus melahap makanannya.
Axel bergidik ngeri melihat kuah seblak yang berwarna merah. Tak sanggup melihat Anin, Axel pun memutuskan menghabiskan makanannya.
Selesai makan, Axel mengajak Anin ke sebuah taman. Di sana Axel menceritakan semua masalah yang terjadi di rumahnya. Pertengkaran kedua orang tuanya, ibunya yang tak lagi tinggal bersama mereka dan rencana ayahnya yang ingin bercerai. Semua itu membuat Axel sedih. Sebagai anak, Axel ingin memiliki orang tua yang utuh seperti anak-anak yang lain.
"Jadi, ayah mau cerai sama mama kamu?" tanya Anin dan di angguki oleh Axel. Di genggamnya tangan Axel sambil berkata, "kamu yang sabar ya. Apapun yang terjadi sama orang tua kamu, ikhlasin aja. Do'a kan yang terbaik untuk mereka meski mereka tidak bisa bersama lagi, tapi kamu masih bisa tetap berbakti pada mereka kan? Karena bagaimanapun juga mereka tetap orang tua kamu."
Axel kembali mengangguk, di balasnya genggaman tangan Anin. Dia bersyukur memiliki Anin walau hanya sebagai saudara.
"Gue boleh peluk lo nggak?" pinta Axel yang di sambut dengan senyum oleh Anin.
Gadis itu merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Axel masuk ke dalam pelukannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Axel langsung memeluk Anin. Merasakan hangatnya tubuh gadis itu dan aroma wangi rambutnya yang masuk ke dalam indera penciuman Axel.
"Terimakasih. Terimakasih karena lo selalu ada buat gue," kata Axel dengan suara lirih. Sekuat tenaga ia menahan airmatanya agar tak keluar di depan Anin.
"Sama-sama. Inilah gunanya keluarga, harus saling bantu dan saling mendukung. Kalo kamu lagi butuh teman untuk cerita, kamu bisa datang padaku dan ceritakan semua masalah mu sama aku."
Mendengar perkataan Anin, Axel semakin mengeratkan pelukannya. Rasa hangat dari tubuh Anin membuat dia merasa nyaman, rasanya Axel tak ingin melepaskannya begitu saja. Axel ingin merasakannya lebih lama lagi, menikmati momen yang belum tentu akan dia dapatkan lagi.
Tak jauh dari tempat Axel dan Anin berada, tampak seseorang yang sedang berdiri memperhatikan mereka dengan tangan yang terkepal erat. Nafasnya memburu merasakan panas di dalam dadanya.
__ADS_1
"Dia milikku dan tak akan aku biarkan siapapun mendekatinya."
...****************...