
"Pagi nak Erlangga!" sapa Hana, ibunya Reza.
"Pagi Bu!" balas Erlangga, ia baru saja keluar dari kamarnya dalam keadaan yang sudah rapi dan wangi. Sudah menjadi kebiasaan Erlangga bangun pagi dan langsung mandi.
"Gimana tidur kamu, nyenyak kan?"
"Iya Bu, saya tidur dengan nyenyak," ucapnya sambil melirik Reza. "Terimakasih sudah mengijinkan saya untuk menginap di rumah ini," ucap Erlangga lagi yang kini sudah duduk bersama Hana dan Reza di meja makan.
"Sama-sama nak Erlangga. Ibu senang kamu menginap di sini. Oh ya, silahkan di nikmati makanannya. Tapi ya seadanya saja, maklumlah namanya juga di kampung, makanannya pasti ya menu kampung. Mudah-mudahan cocok dengan selera nak Erlangga ya," ucap ibu Hana.
"Terimakasih Bu, tidak masalah buat saya. Saya pasti akan menghabiskannya."
"Ya jangan di habiskan juga lah. Nanti kami makan apa," celetuk Reza dan langsung mendapat pukulan dari sang ibu.
"Ish Bu. Kok Reza malah di pukul sih," protesnya kepada Hana.
"Gak boleh bicara begitu sama tamu, gak sopan," tegur Hana membuat Reza cemberut. "Maaf ya nak Erlangga, Reza memang suka begitu. Suka bercanda dia," ucap Hana tak enak hati.
"Reza serius Bu, gak bercanda," celetuk Reza lagi dan langsung mendapat pelototan dari sang ibu.
"Jangan di masukkan ke hati ya nak Erlangga."
"Gak apa-apa Bu, saya sih biasa saja," ucap Erlangga sambil memasang senyum di wajahnya. Padahal sebenarnya di dalam hati ia ingin sekali menjahit mulut Reza supaya tidak bisa lagi berbicara yang tidak sopan.
Setelah mendapat pelototan tajam dari Hana, Reza tak lagi mengeluarkan suaranya. Karena jika sudah begitu artinya Hana tak bisa lagi dibantah. Kini ketiganya sarapan dengan lahap tanpa ada satu pun yang membuka suara.
...****************...
"Kamu ini, kalo memang lagi banyak pekerjaan, ngapain kamu pake nyusul Elfira sampe kesini segala," sindir Reza saat melihat Erlangga yang tak lepas dari laptop nya. Setelah selesai sarapan tadi, Erlangga kembali ke kamarnya lalu keluar dengan membawa laptop. Ada pekerjaan yang harus ia kerjakan saat itu juga. Dewo baru saja mengirimkan email padanya.
"Meskipun saya banyak pekerjaan, tapi saya masih bisa mengerjakannya dimana pun. Itulah enak nya jadi CEO," ucap Erlangga menyombongkan diri.
__ADS_1
"Cih, gitu saja sudah sombong. pantas saja Elfira tidak mau menerima kamu jadi suaminya."
Ucapan Reza membuat Erlangga marah, ia menatap tajam lelaki itu namun tak di hiraukan oleh Reza. Lelaki itu malah menatap balik Erlangga seolah-olah ia sedang menantangnya.
"Tidak perlu ikut campur urusan saya dengan Elfira, kamu tidak tahu apa-apa," balas Erlangga penuh penekanan.
Reza menarik sudut bibirnya lalu berkata, "saya akan selalu ikut campur jika itu menyangkut Elfira. Karena saya tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi, termasuk kamu." Reza menunjuk tepat di wajah Erlangga, setelah itu ia pergi meninggalkan Erlangga yang masih menatap Reza dengan nafas yang memburu.
"Berani sekali dia berkata begitu, apa dia tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?" gumam Erlangga sambil menatap kepergian Reza.
Tak lama setelah Reza pergi, ponsel Erlangga berdering. Ada nama Dewo di sana. Erlangga pun segera menjawabnya, takut ada hal yang penting.
"Ya Za," ucap Erlangga begitu panggilannya terhubung.
"Halo bos! Maaf saya mengganggu waktu anda, ada hal yang harus saya sampaikan kepada anda bos," balas Dewo dengan suara yang terdengar panik.
"Penting kah?"
Mendengar nama Elfira di sebut, seketika membuat Erlangga jadi ikut panik. "Ada masalah apa?"
"Ada seseorang yang memfitnah ibu Elfira bos, sepertinya dia ingin menjatuhkan usaha Bu Elfira dengan menyabotasenya. Saya sudah menyuruh orang untuk menyelidiki kasus ini bos, dan saya juga sudah mengirimkan link berita tentang Bu Elfira. Silahkan anda cek."
"Baiklah Dewo, nanti akan saya periksa. Terimakasih atas infonya dan terimakasih kamu sudah bertindak cepat."
"Sama-sama bos, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya."
Panggilan berakhir, Erlangga segera menutup laptopnya dan bergegas ke rumah bukde Mila. Ia harus memberitahukan masalah ini kepada Elfira.
...****************...
"Fira!" panggil Erlangga saat melihat Elfira berjalan mondar-mandir di depan rumah bukde Mila. Jika dilihat dari raut wajah dan tindakan Elfira barusan, sepertinya wanita itu sudah tahu apa yang sudah terjadi di Jakarta.
__ADS_1
"Er, gimana ini. Kenapa masalah ini bisa terjadi?" Elfira segera menghampiri Erlangga begitu mendengar suara pria itu yang memanggil namanya.
Elfira sungguh panik saat ini, barusan saja Bi Asih menghubunginya dan mengatakan kalau seluruh perwakilan dari perusahaan yang memakai jasa kateringnya komplain dan memutuskan kerjasama. Ada sebahagian dari mereka yang mengeluh sakit perut setelah mengkonsumsi makanan dari 'Anindya Catering'.
"Kamu tenang dulu ya Fir, sepertinya ada seseorang yang ingin menghancurkan usaha kamu dengan cara memfitnah kamu seperti ini. Dewo tadi sudah menghubungiku, dan dia sedang mencari tahu siapa dalang di balik masalah ini." Erlangga berusaha untuk menenangkan Elfira.
"Terus sekarang aku harus gimana Er?"
Erlangga tampak berfikir sejenak, sepertinya mereka harus pulang ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini. Tidak mungkin mereka tetap berada di Jogjakarta sementara masalah di Jakarta semakin rumit.
"Sebaiknya kita harus pulang ke Jakarta sekarang juga."
"Baiklah, aku ikut saja apa saran dari kamu."
Mereka pun segera bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Elfira masuk ke rumah bukde Mila untuk bersiap-siap sedangkan Erlangga pulang ke rumah Reza.
...****************...
Pukul 11.30 Erlangga dan Elfira beserta Anin tiba di bandara Soekarno-Hatta. Di sana sudah ada Dewo yang menunggu di area penjemputan. Erlangga segera membawa Elfira dan Anin menuju tempat Dewo berada.
"Kamu pulang bareng aku saja ya Fir, biar aku antar kamu sampai ke rumah." Elfira hanya bisa mengangguk pasrah. Ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Untung saja saat ini dia bersama dengan Erlangga, jika tidak, entah apa yang sudah terjadi dengan dirinya.
Mobil yang membawa Erlangga dan yang lainnya sampai di depan rumah Elfira. Dewo turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Elfira.
"Terimakasih mas Dewo," ucap Elfira yang dibalas anggukan oleh Dewo.
Elfira turun bersama dengan Anin lalu ia kembali mengucapkan terimakasih kepada Dewo dan juga Erlangga.
Setelah memastikan Elfira dan Anin masuk ke dalam rumah dengan selamat, Erlangga pun meminta Dewo untuk melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah Elfira.
Dia harus bertemu dengan seseorang dan meminta bantuan pada orang itu untuk membantunya menyelidiki kasus yang menimpa Elfira. Erlangga akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada orang yang sudah berani mengganggu orang yang sangat disayanginya. Siapapun itu, Erlangga bersumpah tidak akan pernah melepaskan orang itu. Dia akan membuat orang itu menyesal karena sudah mengganggu dirinya ataupun orang-orang yang di tersayangnya.
__ADS_1
...****************...