
Satu minggu lamanya Anin mencari tempat yang cocok untuk membuka usaha baru nya, dan baru hari ini dia mendapatkan tempat yang cocok. Tempatnya strategis dan juga berada di kawasan industri sehingga sangat cocok di jadikan tempat membuka usaha.
Dengan di temani sang bunda dan notaris serta pengacara, Anin menandatangani surat-surat pindah kepemilikan menjadi atas nama dirinya. Setelah semua proses selesai di laksanakan, Anin pun membayar sisa pelunasan untuk gedung tersebut. Kemudian mereka saling berjabat tangan karena semua urusan sudah selesai. Pemilik lama dan yang lainnya pun pamit pada Elfira dan Anin. Kini tinggal Elfira dan Anin yang masih berada dalam gedung tersebut.
"Akhirnya sekarang bangunan ini sudah atas nama kamu ya sayang," ujar Elfira kepada sang putri.
"Iya Bun. Terimakasih ya, bunda udah mau nemenin Anin."
"Sama-sama sayang. Kalau begitu kita pulang yuk," ajak Elfira.
"Kita ke mall dulu yuk Bun, cuci mata. Lagian kan udah lama kita nggak pernah nge-mall berdua."
"Hmm ... oke deh." Elfira pun mengiyakan ajakan Anin.
Ibu dan anak itu pun akhirnya pergi bersama dengan di antar oleh supir keluarga.
Sesampainya di mall, tempat yang mereka datangi pertama kali adalah toko baju. Di sana mereka mencari pakaian yang mereka butuhkan.
"Bunda, lihat deh."
Anin menunjukkan sebuah dress Sabrina berwarna biru tua dengan panjang dua centimeter di bawah lutut dan memiliki pita di bagian pinggangnya. Bagian atasnya terbuat dari kain brokat sedangkan bagian bawahnya terbuat dari satin silk yang tampak mengkilap. Sangat cocok jika di pakai oleh Anin, apalagi tubuhnya yang tinggi dan ramping serta kulitnya yang putih akan semakin membuatnya terlihat sangat cantik.
"Bagus, cocok deh kayaknya sama kamu," puji Elfira.
"Rencananya mau Anin pake nanti di acara family gathering dari perusahaan papa."
"Kalau gitu bunda juga mau cari gamis yang warnanya senada dengan dress kamu itu."
"Iya Bun, biar samaan kita. Sekalian untuk papa dan Kenan juga."
"Untung kamu ingatkan kak."
Mereka berdua pun berkeliling toko mencari pakaian yang mereka inginkan. Setelah mendapatkan semuanya, Elfira dan Anin pun menuju kasir dan membayar semua belanjaan mereka.
Puas berbelanja, ibu dan anak itu pun memutuskan untuk singgah ke salah satu restoran yang ada di dala mall tersebut.
...****************...
"Fira! Kamu Fira kan?" tanya seseorang pada Elfira.
Merasa namanya di sebut, Elfira pun mendongak dan melihat wajah seorang wanita yang seusia dirinya berdiri di hadapannya. Elfira mengerutkan keningnya untuk mengingat orang tersebut.
__ADS_1
"Aku Maudy, kita dulu satu kelas waktu SMP," ucap wanita itu saat melihat Elfira yang seperti tak mengenali dirinya.
Begitu Maudy menyebutkan namanya, sekilas ingatan Elfira tentang wanita itu pun melintas. Wajah Elfira tampak bahagia begitu dia dapat mengingat tentang Maudy.
"Maudy? Maudy yang dulu sebangku sama aku kan?" tanya Elfira untuk memastikan.
"Iya, ini aku. kamu ingat kan?"
"Ya ampun Maudy, apa kabar kamu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya." Elfira pun berdiri lalu memeluk Maudy.
"Ayo duduk dulu sini," ajak Elfira dan Maudy pun duduk di kursi yang ada di hadapannya.
""Kamu apa kabar Fir? Kamu tau nggak, aku tuh nyari-nyari kamu loh. Aku benar-benar hilang kontak sama kamu."
"Kabar aku baik, Dy. Maaf ya, waktu itu keluarga aku pindah dan aku juga nggak sempat ngabarin kamu. Kamu sendiri gimana?"
"Yah seperti yang kamu lihat," ucap Maudy sambil menunjuk dirinya sendiri lalu tak sengaja Maudy melirik pada Anin yang duduk di sebelah Elfira dan sedang memperhatikan mereka berdua.
"Ini anak kamu?" tanya Maudy.
Elfira pun melirik Anin lalu memperkenalkan anaknya itu kepada Maudy.
"Iya, ini anak pertama aku. Namanya Anindya, tapi kamu panggil aja Anin."
"Anin Tante," ucapnya memperkenalkan diri lalu mencium punggung tangan Maudy.
"Aduh, udah cantik, sopan lagi," puji Maudy membuat Anin tersipu.
"Kamu sendirian aja, suami sama anak kamu mana?" Elfira celingukan mencari suami dan anak Maudy.
"Suami aku nggak ikut, biasalah, dia lebih suka pergi sama rekan bisnisnya dari pada keluarga. Tapi kalau anak aku, tadi sih katanya mau ke toilet dulu. Tapi kok lama sekali ya." Maudy pun jadi ikut celingukan mencari anaknya yang sudah terlalu lama berada di toilet.
"Masih antri mungkin, kamu pesan makanan dulu aja sambil nunggu anak kamu."
"Benar juga kata kamu Fir." Maudy pun memanggil salah satu pelayan dan memesankan makanan dan minuman untuk dirinya.
Setelah memesan, mereka pun lanjut mengobrol dan bercerita tentang masa lalu mereka berdua. Sementara Anin hanya mendengarkan dan sesekali ikut dalam obrolan keduanya hingga pelayan tadi membawakan pesanan Maudy.
Tak lama kemudian, tampak seseorang menghampiri meja mereka dan memanggil sang ibu.
"Ma!"
__ADS_1
Ketiga wanita yang sedang terlarut dalam obrolan itu pun mendongak menatap orang itu. Di tempatnya Anin tampak membulatkan kedua matanya tak percaya saat melihat sosok pria yang sangat di kenalinya itu. Sementara pria tersebut masih belum menyadari keberadaan Anin.
"Dirga! Kamu dari toilet apa dari Singapore sih, lama banget," gerutu Maudy.
"Maaf ma, antri tadi," ucap Dirga lalu tanpa sengaja matanya melirik ke arah Elfira dan Anin.
Dirga tersentak saat melihat wajah yang sedang di cari-cari olehnya dan juga dia rindukan.
"Anin!" gumam Dirga tanpa sadar.
Elfira dan Maudy pun saling lirik lalu mereka melihat Anin dan Dirga bergantian.
"Kalian saling kenal?" tanya Maudy penasaran.
Tanpa di suruh, Dirga duduk di kursi sebelah Maudy dan berhadapan dengan Anin. Lelaki itu tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa menemukan wanita yang sangat dia rindukan ini.
Selain karena rindu, Dirga juga masih mempunyai hutang maaf pada Anin.
"Anin, aku minta maaf sama kamu. Aku benar-benar menyesal," ucap Dirga tanpa menjawab pertanyaan dari Maudy.
"Tunggu ... tunggu ... ini maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba kamu minta maaf sama Anin, memangnya apa yang sudah kamu lakukan padanya?" Maudy benar-benar bingung. Dia tak tahu apa yang sedang terjadi antara anaknya dengan anak temannya itu.
Sementara Anin, gadis itu masih belum mau membuka suaranya. Wajahnya yang tampak tak bersahabat dan masih menyimpan kemarahan pada Dirga.
Sampai beberapa detik tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Anin yang masih menatap Dirga dengan penuh kebencian, Dirga yang memandang Anin dengan tatapan kerinduan dan juga penyesalan serta kedua ibu yang sedang terheran-heran melihat kedua anak mereka.
"Sayang, bisa tolong kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Elfira kepada Anin sambil menggenggam tangan putrinya itu yang sedang terkepal.
Anin diam, matanya masih tertuju pada wajah Dirga. Wajah dari laki-laki yang sangat di bencinya.
"Sayang!" panggil Elfira membuat Anin menoleh sekilas pada dirinya lalu sedetik kemudian kembali menatap Dirga.
"Dia mantan atasan Anin, Bun. Dia orang yang Anin ceritakan tempo hari. Orang yang menjadi alasan Anin untuk resign dari pekerjaan dan orang yang sangat Anin benci," jawab Anin penuh emosi.
"Laki-laki egois yang sukanya menilai dan menuduh orang tanpa bukti. Yang lebih suka bicara berdasarkan apa yang dia lihat tanpa tau kebenarannya dan orang yang suka menghina serta merendahkan orang lain," lanjutnya lagi.
"APA!"
Baik Maudy maupun Elfira sama-sama terkejut, terutama Maudy. Dia tak menyangka jika anaknya bisa bersikap serendah itu. Sementara Dirga hanya bisa menunduk, karena apa yang dikatakan Anin semuanya adalah benar. Seperti itulah dirinya sekarang. Untuk itulah dia mati-matian mencari Anin untuk meminta maaf padanya.
Tapi sepertinya kemarahan Anin masih belum reda, gadis itu masih menyimpan kebencian terhadap Dirga. Awalnya Dirga cukup senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Anin dan mempunyai kesempatan untuk meminta maaf. Apalagi kedua ibu mereka berteman, itu akan semakin mempermudah Dirga untuk mencari keberadaan Anin.
__ADS_1
Namun, melihat sikap Anin padanya, Dirga yakin jika perjuangannya masih panjang dan dia pasti akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan maaf dari gadis itu.
...****************...