
Pagi ini Erlangga sedang mengadakan rapat bulanan dengan tim desain terkait proyek baru yang sedang mereka tangani. Aura ketakutan dan ketegangan begitu mencekam. Tak ada sedikitpun senyum yang terukir di wajah tampan Erlangga.
"Hanya sebatas ini saja kemampuan kalian?" tanya Erlangga seraya melemparkan kertas berisi desain sebuah gedung apartemen yang akan mereka garap. "Gambar seperti itu yang kalian sebut desain?" Satu persatu dia menatap tajam ke arah karyawannya yang sejak tadi hanya bisa menunduk. "Kalau hanya gambar seperti itu, anak TK pun bisa membuatnya!"
Semua karyawan tak ada yang berani menatapnya, menatap matanya sama dengan tamat riwayatnya. Beginilah Erlangga jika sedang bekerja, dia tak akan mengenal ampun apalagi jika ada karyawan yang tak bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan keinginannya dan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Saya beri kalian waktu satu minggu untuk membuat desain yang baru, dan saya mau hasilnya harus sesuai dengan ekspektasi saya. Jika tidak, maka kalian silahkan angkat kaki dari perusahaan saya. Paham!"
"Paham pak," jawab mereka serentak.
Setelah itu Erlangga pun pergi dari ruang rapat dan di ikuti oleh Dewo di belakangnya. Para karyawan masih menunduk dan mata mereka melirik seiring langkah kaki bos nya.
Brak.
Begitu mendengar suara pintu tertutup, barulah mereka bisa bernafas lega.
Haah.
"Gila, gak bisa nafas gue di buat pak Erlangga," celetuk Irfan. Salah satu karyawan dari tim desain.
"Berasa kayak lagi ada di kutub gue kalo berhadapan sama pak Erlangga, dingiiin banget," sahut Adit.
"Sudah. Sudah. Sebaiknya kita kembali dan fokus mengerjakan desain yang di minta pak Erlangga. Kalian tidak mau di pecat kan?" tanya Naufal selaku manajer proyek.
Para anggota dari tim desain pun menggelengkan kepala karena tak ingin di berhentikan dari perusahaan yang di incar oleh semua pencari kerja. Akhirnya mereka pun kembali ke ruangan masing-masing dan melanjutkan pekerjaan mereka.
...****************...
Erlangga menyandarkan punggungnya pada sofa yang ada di dalam ruangannya. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, belakangan ini dia sedang di pusingkan dengan banyaknya pekerjaan dan juga rengekan dari mama nya yang terus-terusan memintanya untuk segera menikah.
"Nyuruh nikah sudah kayak nyuruh beli cilok. Memangnya bisa segampang itu apa," gumam Erlangga.
"Bos mau nikah sama cilok?" tanya Dewo yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Erlangga, membuat laki-laki itu terperanjat.
"Kamu bisa gak sih kalau masuk ke ruangan saya itu ketuk pintu dulu! Lagian siapa juga yang mau nikah sama cilok, memangnya saya ini apa? " omel Erlangga.
"Hehe, sorry boss. Gak sempat tadi," sahut Dewo.
"Terus mau apa kamu ke ruangan saya?"
"Itu bos, ada mbak Elfira nyariin bos. Biasa, bawain makan siang untuk kekasih tercinta," goda Dewo sambil menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang!" gertak Erlangga.
Bukannya takut, Dewo malah semakin menggoda atasannya itu. "Halah, si bos malu-malu kucing."
"Kamu sudah bosan bekerja di perusahaan saya ya!" gertak Erlangga lagi.
"Ampun bos. Iya, iya, saya suruh mbak Elfira nya masuk." Dewo pun keluar dari ruangan Erlangga dan meminta Elfira untuk langsung masuk ke dalam ruangan bos nya.
Erlangga kembali menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan matanya. Baru satu detik Erlangga memejamkan mata, pintu ruangannya kembali terbuka membuatnya semakin kesal.
"Kamu benar-benar minta di ... " Erlangga menggantung ucapannya saat melihat siapa yang membuka pintu.
"Maaf. Tadi mas Dewo yang suruh aku masuk, apa aku ganggu kamu?" tanya Elfira tak enak hati.
Tadinya Erlangga pikir kalau Dewo yang membuka pintunya, tapi ternyata Erlangga salah. Kalau begini kan dia jadi malu dan tak enak hati dengan Elfira.
"Eh. Enggak kok, kamu gak ganggu sama sekali," ucap Erlangga terbata. "Aku pikir tadi Dewo yang masuk, duduk sini." Erlangga pun mempersilahkan Elfira untuk duduk di sofa.
"Kamu ada perlu apa datang ke kantorku?" tanya Erlangga setelah Elfira duduk di sofa.
"Tadi aku kebetulan lewat, jadi aku sekalian aja mampir ke sini sekaligus ada yang mau aku sampaikan."
"Apa itu?"
Erlangga sedikit terhenyak mendengar pertanyaan dari wanita yang duduk di hadapannya itu. "Kamu mau ajak aku kencan?" tanya Erlangga to the point.
"Eh."
...****************...
Malam hari mobil Erlangga tiba di depan rumah Elfira, lelaki itu turun dari mobilnya dan membuka pagar. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil dan mengendarainya hingga melewati pagar.
Di dalam rumah, Elfira mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Gegas ia berlari ke jendela dan mengintip siapa yang datang. Begitu ia melihat mobil Erlangga yang terparkir di sana, buru-buru Elfira membuka kan pintu dan mendatangi Erlangga.
"Sudah siap?" tanya Erlangga.
"Sudah. Yuk," ajak Elfira sambil berjalan mendekati mobil.
Namun, langkahnya harus terhenti karena Erlangga hanya berdiam diri sambil celingukan.
"Kenapa Er?"
__ADS_1
"Anin mana? Gak ikut?"
Ternyata Erlangga celingukan mencari Anindya, "sudah tidur dari habis maghrib tadi. Ada bi Asih yang jagain kok," jawab Elfira.
"Ooh. Padahal aku kangen banget sama dia."
"Besok deh aku bawa dia ke kantor kamu sekalian antar katering nya."
"Eh, gak usah. Besok aku saja yang ke rumah kamu, sudah yuk berangkat."
Erlangga membukakan pintu untuk Elfira dan mempersilahkannya untuk masuk lebih dulu. Setelah memastikan Elfira duduk dengan nyaman, Erlangga lalu mengitari mobilnya dan berjalan ke sisi sebelahnya. Lalu ia melajukan mobil ke gedung tempat resepsi pernikahan salah satu teman SMA Elfira.
...****************...
Santika Dyandra Hotel, tempat resepsi pernikahan berlangsung. Mobil yang di kendarai Erlangga memasuki basement hotel dan memarkirkan mobilnya di sana.
Erlangga berjalan dengan begitu gagah memasuki aula tempat resepsi berlangsung. Sejak dari parkiran tadi tangannya tak lepas dan terus menggandeng tangan Elfira. Seolah takut Elfira akan menghilang jika ia melepaskan tangannya.
Mulai dari pintu masuk aula hingga sampai ke pelaminan, kedatangan Erlangga dan Elfira menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Terutama para wanita yang sejak tadi pandangan mereka tak lepas dari Erlangga.
Bagi Erlangga sendiri, dia sudah biasa menjadi pusat perhatian. Tapi tidak dengan Elfira, sejak tadi ia hanya menundukkan kepalanya. Meskipun sebenarnya dia tau kalau yang menjadi pusat perhatian itu adalah lelaki tampan yang ada di sebelahnya. Tapi tetap saja dirinya yang merasa malu.
"Selamat menempuh hidup baru ya Mei, semoga pernikahan kamu sakinah mawaddah wa rahmah," ucap Elfira sambil menjabat tangan Meisya, teman semasa SMA nya dulu.
"Thanks ya Fir," balas Meisya, lalu ia melirik Erlangga dan berbisik di telinga Elfira. "Lo datang sama siapa? Ganteng banget sumpah."
"Dia partner bisnis aku," balas Elfira dengan ikut berbisik.
"Ekhem." Erlangga berdeham, membuat Elfira dan Meisya tersenyum salah tingkah.
"Kalau sudah selesai sebaiknya kita turun saja, gak enak sama yang ngantri di belakang kita," ucap Erlangga.
Elfira pun melirik ke belakang Erlangga, dan ternyata benar. Antrian untuk bersalaman dan ingin mengucapkan selamat kepada pengantin baru sudah begitu ramai. Elfira sampai tak menyadarinya.
Mereka berdua pun akhirnya turun dari panggung dan mencari kursi kosong untuk tempat mereka duduk.
Di tempat paling ujung ada sebuah meja bundar dan empat kursi kosong, Elfira mengajak Erlangga untuk duduk di sana. "Kamu duduk dulu di sini ya, aku mau ambil makanannya dulu." Erlangga ingin mencegah, tapi Elfira sudah terlanjur berlalu.
"Berani juga lo datang ya."
"Kamu."
__ADS_1
...****************...
bersambung ........