
"Kamu belanja lagi? Bukannya kemarin kamu baru belanja banyak?" tanya Adam dengan mata yang melebar sempurna melihat tas belanjaan yang ada di tangan Sandra.
"Itu kan kemarin mas, yang hari ini ya beda lagi lah," jawab Sandra santai.
"Kamu mau buat aku bangkrut? Tagihan kartu kredit kamu bulan lalu saja masih belum lunas, dan sekarang malah kamu tambah lagi."
"Apa sih mas, kok kamu jadi perhitungan gitu sama aku. Usaha kamu kan sekarang sudah berkembang, dan aku yakin keuntungannya pun pasti juga besar. Jadi, gak masalah lah kalo aku belanja banyak begini."
"Tapi bukan berarti kamu bisa belanja setiap hari seperti ini Sandra. Kamu tahu gak tagihan kartu kredit kamu sekarang berapa?"
"Mana aku tau," jawab Sandra cuek.
"Sudah ratusan juta dan sudah mencapai batas limit. Asal kamu tau ya San, aku bekerja untuk membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga kita, untuk biaya sekolah anak-anak, bukan untuk kamu foya-foya seperti sekarang ini."
"Ck." Sandra hanya berdecak lidah mendengar omelan dari sang suami.
"Aku harap hari ini terakhir kali kamu belanja, jika tidak maka aku akan memblokir kartu kredit kamu dan kamu akan aku kasih jatah bulanan secukupnya," ancam Adam lalu pergi meninggalkan Sandra bersama dengan kekesalannya.
Sementara Sandra hanya bisa menggumam mengeluarkan kekesalannya.
Sudah 15 tahun berlalu sejak Adam keluar dari penjara. Saat itu Sandra yang menjemput Adam bersama kedua anaknya, dan sejak saat itu lah Adam memberikan kesempatan untuk Sandra dan menerimanya menjadi istri satu-satunya. Adam menikahi Sandra secara sah di mata hukum dan agama.
Awal kehidupan mereka selepas Adam keluar dari penjara memang sangat sulit. Adam yang tidak mempunyai pekerjaan saat itu membuat Sandra harus banting tulang menjadi tulang punggung sampai nanti Adam mendapatkan pekerjaan.
Hingga sampai suatu hari, Erlangga datang menemuinya dan berbaik hati memberikannya modal untuk usaha. Awalnya Adam sangat terkejut dan sempat menolaknya. Tapi Erlangga terus memaksa hingga akhirnya Adam menerimanya tapi dengan syarat jika dia hanya meminjam. Dengan jaminan dia akan mengembalikan modal yang Erlangga berikan jika usahanya berhasil mendapatkan keuntungan.
Erlangga pun terpaksa menerima syarat dari Adam, karena sesungguhnya Erlangga benar-benar ikhlas ingin menolong Adam.
Sejak saat itu lah hubungan mereka mulai membaik dan sekarang mereka sudah menjadi teman. Adam juga mulai membuka usaha toko pakaian muslim, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Ternyata usaha Adam itu membuahkan hasil, banyak pelanggannya yang merekomendasikan pakaian yang di jual Adam kepada teman-teman mereka, bahkan tak jarang dari mereka yang menyarankan untuk menjualnya secara online.
Sekarang usaha Adam berkembang sangat pesat, ia juga membuka beberapa cabang di beberapa daerah, dan ada juga yang di luar kota. Adam menjual produk-produknya tak hanya secara offline tapi juga secara online, seperti yang disarankan oleh salah satu pelanggannya. Kini toko mereka semakin laris dan banyak pelanggan. Sejak saat itulah Sandra berhenti bekerja dan mulai fokus membesarkan anak-anaknya. Kehidupan mereka pun mulai stabil dan tidak kekurangan.
__ADS_1
Adam sangat bersyukur saat itu, karena Tuhan sudah berbaik hati memberikannya kesempatan untuk merubah diri menjadi manusia yang lebih baik dan juga memiliki istri yang baik. Tapi, semua kebahagiaan itu perlahan-lahan mulai menghilang. Terutama sejak setahun yang lalu saat Sandra mulai mengikuti Genk arisan bersama ibu-ibu sosialita. Sejak saat itu Sandra mulai berubah, wanita itu memiliki hobi belanja dan menghambur-hamburkan uang. Adam harus mengeluarkan uang puluhan juta setiap bulannya untuk membayar tagihan kartu kredit milik Sandra.
...****************...
"Pagi Pa, pagi Ma!" sapa Axel sambil mencium pipi kedua orang tuanya.
"Pagi adikku sayang." hal yang sama juga dia lakukan pada sang adik.
"Ish, apaan sih kak. Gue gak suka di cium sama lo," protes Nayla.
"Sudah, jangan ribut. Selesaikan sarapan kalian," tegur Sandra pada kedua anaknya.
"Axel!"
"Ya Pa."
"Kamu hari ini gak ada jadwal kuliah kan?"
"Nggak ada Pa."
"Ada apa sih mas? Kayaknya kok serius banget," tanya Sandra penasaran.
"Bukan urusan kamu, jadi kamu tidak perlu ikut campur," sarkas Adam yang masih geram dengan Sandra lalu pergi meninggalkan anak dan istrinya yang masih duduk di meja makan.
Sandra merasa tersinggung dengan ucapan suaminya itu, sedangkan Axel dan Nayla hanya menatap bingung pada kedua orang tuanya.
Axel melirik Nayla, tatapan mata Axel seolah menyiratkan sebuah pertanyaan, 'ada apa sama papa dan mama?'
Sementara Nayla hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tak tahu apa yang sedang terjadi dengan kedua orangtuanya itu.
Setelah menghabiskan sarapannya, Nayla pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia berpamitan pada Sandra, tak lupa mencium tangan dan pipi wanita itu. Setelah itu Nayla langsung berlari ke luar, karena Axel sudah menunggunya di dalam mobil.
...****************...
__ADS_1
"Papa mau bicara apa?" tanya Axel. Setelah mengantarkan Nayla tadi Axel langsung pulang dan menemui Adam di ruang keluarga.
"Duduklah dulu," pinta Adam yang langsung di turuti Axel. "Bagaimana kuliah kamu, apa ada kendala?"
"Sejauh ini sih nggak ada Pa, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kalau begitu hari ini kamu ikut papa ke toko ya. Papa mau kamu belajar mengelola toko kita," ujar Adam seraya bangkit.
"Apa Pa! Jaga toko? Yang benar aja dong Pa, masa Axel jaga toko sih," tolak Axel yang masih tetap duduk di tempatnya.
Adam yang tadi sudah melangkah pun terpaksa harus berhenti. Dia berbalik dan menatap sang anak.
"Kamu anak laki-laki papa satu-satunya, jadi kamu yang akan meneruskan usaha keluarga kita. Kalau bukan kamu lalu siapa lagi yang bisa papa harapkan."
"Masih ada Nayla Pa, dia kan juga anak papa."
"Nayla masih kecil, dia belum bisa di beri tanggung jawab."
"Ck, Axel tetap gak mau menjaga toko dan menjadi pedagang. Apa kata teman-teman Axel kalau mereka sampai tau. Nggak deh Pa, Axel gak mau."
Axel terus saja menolak permintaan Adam, remaja yang mulai beranjak dewasa itu tak ingin citra nya yang di kenal sebagai cowok populer di kampus berubah hanya karena ia menjaga toko milik ayahnya.
Adam merasa sedikit geram dengan penolakan Axel, selama ini anaknya itu selalu menghabiskan uang hanya untuk berfoya-foya dengan teman-temannya. Untuk itu Adam ingin Axel belajar bertanggung jawab dengan mengelola toko pakaian muslim miliknya agar Axel tahu bagaimana susahnya mencari uang.
"Kalau kamu tidak mau membantu papa di toko, maka kartu kredit kamu akan papa tarik dan uang bulanan kamu akan papa kurangi." Adam mencoba mengancam putranya agar mau mengikuti permintaannya.
"Ya gak bisa gitu dong Pa, kalo kartu kreditnya papa ambil, nanti bagaimana Axel mentraktir teman-teman Axel."
"Apa kamu bilang? Mentraktir teman-teman kamu? Memangnya itu tanggungjawab Papa? Pokoknya keputusan papa sudah bulat, kalau kamu tidak mau ikut papa ke toko hari ini maka siap-siap kartu kredit kamu papa tarik," ancam Adam lagi.
Axel yang mendapat ancaman seperti itu pun tak punya pilihan lain. Daripada kartu kreditnya di ambil, lebih baik Axel memilih mengalah dan mengikuti kemauan ayahnya.
Dengan berat hati akhirnya Axel menyetujui permintaan Adam. Wajahnya yang di tekuk menunjukkan kalau dia sedang merasa kesal dengan ayahnya itu.
__ADS_1
Sementara Adam tersenyum samar karena triknya mempengaruhi Axel berhasil. Akhirnya mereka pun berangkat ke toko bersama-sama dengan menaiki mobil Adam.
...****************...