Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 20


__ADS_3

Seperti biasanya, Anin selalu tiba di kantor setengah jam sebelum jam kerja di mulai. Pagi ini dia sempat berpapasan dengan Dirga di lobi kantor.


"Pagi pak Dirga!" sapa Anin sambil mengangguk sopan.


Namun, sapaan Anin tak mendapat balasan seperti biasanya. Jangankan membalas sapaan Anin, menatap Anin saja Dirga tak mau. Atasannya itu tetap melangkah menuju lift tanpa menoleh sedikitpun pada Anin.


"Kenapa sih dia? Lagi dapet apa ya?" racau Anin yang tak habis pikir dengan sikap Dirga yang tampak berbeda.


"Siapa yang lagi dapet?" tanya Renata tiba-tiba membuat Anin terkejut.


"Ya ampun Re, kamu ngagetin tau nggak," omelnya sambil mengelus dada.


"Hehe. Sorry," ucap Renata sambil nyengir kuda menunjukkan deretan giginya yang putih. "Lo lagi liatin siapa sih?" lanjutnya Renata sambil melihat ke arah pandang Anin, tapi tak ada siapapun di sana.


"Hah? Oh, nggak. Nggak ngeliatin siapa-siapa kok," dusta Anin. "Ya udah yuk masuk." Anin mengajak Renata masuk ke dalam lift yang pintunya baru saja terbuka. Sengaja Anin mengalihkan percakapan agar Renata tak bertanya yang macam-macam.


Sampai di lantai lima, pintu lift pun terbuka. Anin dan Renata sama-sama keluar dari lift menuju ruang kerja mereka.


"Duh, kok gue tiba-tiba jadi kebelet ya." celetuk Renata tiba-tiba. "Lo masuk duluan aja deh, gue mau ke toilet dulu," lanjutnya sembari berjalan menuju toilet yang ada di lantai lima tersebut.


Anin hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu, kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan. Di sana Anin tak sengaja berpapasan lagi dengan Dirga. Atasannya itu baru saja keluar dari ruangan tim desain.


Anin menunduk hormat saat Dirga berjalan melewati dirinya. Sama seperti tadi saat mereka bertemu di lobi, Dirga tetap tak membalas Anin dan hanya melewati dirinya begitu saja. Anin sampai mengerutkan keningnya tak mengerti. Kenapa dengan atasannya itu dan apa yang membuat Dirga mengabaikan dirinya.


"Pak Dirga kenapa ya? Apa aku ada buat salah sama dia makanya dia cuekin aku kayak tadi?" tanya Anin pada dirinya sendiri.


Meski Anin sudah mencoba mengingat kesalahan apa yang sudah dia lakukan, tapi Anin tetap tak mendapat jawabannya. Akhirnya Anin pun tak ingin ambil pusing, dia kembali melangkahkan kakinya ke ruang kerja dan melanjutkan pekerjaannya.


****************


"Anin!"


"Iya Bu." Anin mendongak menatap Sonya yang sedang berdiri di hadapannya itu.


"Kamu tolong antarkan laporan ini ke ruangannya pak Dirga ya. Beliau butuh laporan ini sekarang juga, saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Sonya sambil melirik ke arah ruangannya yang terbuka.


"Baik Bu." Anin menerima laporan tersebut lalu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruangan CEO.


Di depan pintu, Anin berpapasan dengan Renata yang baru kembali dari pantry.


"Mau kemana lo?" tanya Renata.


"Nganter laporan ke ruang CEO," jawab Anin sambil berlari melewati Renata. Ia langsung masuk ke dalam lift yang pintunya kebetulan sedang terbuka.


Sesampainya di depan ruangan CEO, Anin mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat ijin dari si pemilik ruangan.


Anin menarik nafasnya sebentar sebelum akhirnya ia melajukan langkah menuju meja kerja Dirga.


"Maaf pak, ini laporan dari Bu Sonya," ucap Anin seraya menyerahkan laporan tersebut.


"Letakkan saja di situ," sahut Dirga tanpa menatap Anin.

__ADS_1


Anin pun meletakkan laporan tersebut di atas meja kerja Dirga.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak," ucapnya lalu menunduk hormat. Setelah itu Anin berjalan menuju pintu.


"Tunggu!" perintah Dirga membuat Anin menghentikan langkahnya.


"Iya pak, apa bapak perlu sesuatu?" Anin masih bersikap sopan dan profesional.


Dirga pun bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati Anin. Kini Dirga sudah berada tepat di hadapan Anin. Dirga menatap lekat mata Anin yang juga sedang menatapnya.


Untuk beberapa saat mereka saling tatap sampai akhirnya suara Anin membuat Dirga mengalihkan pandangannya.


"Apa ada sesuatu yang ingin bapak katakan?" tanya Anin.


"Siapa laki-laki itu?" Bukannya menjawab, Dirga justru balik bertanya.


"Laki-laki yang mana ya pak? Saya tidak mengerti maksud bapak."


"Lupakan. Kamu boleh pergi," ucap Dirga lalu ia kembali ke meja kerjanya dan fokus pada pekerjaannya tadi.


Anin menatap bingung pada Dirga, namun ia tak ingin ambil pusing. Anin pun bergegas keluar dari ruangan Dirga.


Setelah Anin pergi dan pintu benar-benar tertutup, baru lah Dirga mengangkat kepalanya dan menatap pintu yang tertutup itu.


"Sebenarnya apa hubungan kamu dengan para lelaki itu?"


...****************...


Saat sedang menunggu bis, Anin melihat sebuah motor yang berhenti tepat di depannya. Kening Anin berkerut saat melihat pemilik motor tersebut, siapa lagi jika bukan Axel.


"Hai!" sapa Axel dengan senyum menawannya.


Siapapun wanita yang melihat pasti akan langsung terpesona, kecuali Anin. Karena Anin hanya menganggap Axel sebagai adiknya, sama seperti Kenan.


"Ngapain kamu di sini?"


"Ya jemput elo lah," jawab Axel santai.


"Tau dari mana kamu kalo aku kerja di sini?"


"Yaelah, kalo cuma cari tau dimana lo kerja, itu perkara gampang buat gue."


"Dih, sombong. Palingan kamu stalking-in aku kan,"


"Dih, kok tau," canda Axel membuat mereka berdua tertawa.


Hahaha...


"By the way, lo udah pulang kerja kan ini?'


"Udah. Kenapa emangnya?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa," jawab Axel lalu ia berjalan ke arah motornya dan mengambil helm untuk Anin. Setelah itu Axel memakaikan helm tersebut di kepala Anin.


"Yuk pulang," ajak Axel sambil menggandeng tangan Anin menuju motornya.


Sementara itu, dari kejauhan Dirga menatap interaksi antara Axel dan Anin dengan perasaan cemburu. Ia semakin mengepalkan kedua tangannya dan kebenciannya pada Anin semakin dalam.


...****************...


"Kok kita berhenti di sini?" tanya Anin heran.


Anin turun dari motor lalu membuka helm nya. Axel menghentikan motornya di depan sebuah restoran.


"Papa ngajak kita makan malam di sini, makanya gue tadi jemput lo."


"Ooh, pantes kamu tau tempat kerja aku. Ternyata dari ayah toh."


"Ya udah yuk masuk, papa udah nungguin di dalam." Axel pun menggandeng tangan Anin sampai mereka masuk ke dalam restoran tersebut.


Seperti yang di katakan Axel tadi, di dalam restoran itu sudah ada Adam bersama dengan Nayla.


"Ayah!" panggil Anin lalu mencium tangan Adam.


"Hai sayang, maaf ya ayah nggak bilang dulu sama kamu kalo mau ngajak makan di sini," sahut Adam. "Tapi kamu tenang aja, ayah sudah ijin sama papa dan bunda kamu tadi. Jadi kamu tak perlu khawatir mereka akan mencari kamu," sambung Adam.


"Halo kak Anin," sapa Nayla yang duduk di sebelah Adam.


"Hai Nayla, apa kabar kamu?"


"Baik kak."


Saat mereka saling menyapa dan mengobrol, seorang pramusaji datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu. Keempat orang itu pun membaca buku menu lalu satu persatu menyebutkan pesanan mereka. Setelah semua pesanan di catat, pramusaji itu pergi ke dapur untuk memberikan pesanan mereka kepada juru masak.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan mereka pun sampai dan mereka berempat menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Saat sedang makan, tiba-tiba ponsel Axel berdering, ia pun berpamitan dan meminta ijin untuk menjawab teleponnya. Sementara itu, Nayla juga ijin untuk pergi ke toilet. Hingga kini tinggal Anin dan Adam yang sedang bercerita tentang banyak hal.


"Gimana pekerjaan kamu?"


"Alhamdulillah lancar, Yah. Sekarang Anin di pilih jadi desainer utama untuk acara fashion week bulan depan," jawab Anin penuh semangat.


"Oh ya? Waah, nggak nyangka ternyata anak ayah hebat banget ya," puji Adam sambil mengelus puncak kepala putrinya.


Anin merasa sangat bahagia, di genggamnya tangan Adam dan di tatapnya sang ayah dengan penuh sayang.


"Terimakasih karena ayah selalu mendukung Anin. Anin bangga punya ayah yang baik seperti ayah," ucapnya membuat Adam terharu.


"Ayah lebih bangga sama kamu sayang," balas Adam lalu mencium tangan putrinya.


"Ooh, jadi laki-laki seperti ini selera kamu. Dasar murahan," ucap seseorang yang membuat Anin geram.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2