Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 18 Adam cemburu


__ADS_3

Elfira terpaksa ikut pulang bersama Erlangga, lelaki itu terus memaksanya membuat Elfira tak enak hati jika terus-terusan menolaknya.


Di dalam mobil, Elfira dan Erlangga saling diam. Tak ada percakapan apapun sepanjang perjalanan menuju rumah Elfira. Erlangga yang fokus pada jalanan di depannya, dan Elfira yang fokus menatap jalan dari kaca samping mobil.


"Rumah kamu masih satu komplek dengan rumah Tante Halimah kan" tanya erlangga tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.


"Iya" jawab Elfira yang hanya menoleh sekilas pada Erlangga, lalu kembali melihat ke depan.


Setelah itu mereka kembali sama-sama terdiam, hingga akhirnya mobil yang di kendarai Erlangga berbelok memasuki komplek perumahan bukit hijau, tempat tinggal Elfira.


"Rumah kamu sebelah mana, Fir?" tanya Erlangga sambil melirik Elfira sekilas.


"Rumah yang di depan itu, yang pagar warna hitam" tunjuk Elfira.


Erlangga pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang di tunjuk Elfira tadi.


Di teras rumah Elfira, ada Adam yang sedang bermain dengan Anindya. Adam melihat ada sebuah mobil F*rtuner berwarna hitam yang berhenti tepat di depan rumah Elfira.


Adam seperti mengenali mobil itu, lalu tak lama, tampak Elfira yang turun dari dalam mobil tersebut. Alisnya berkerut, bertanya dalam hati, siapa yang mengantar Elfira pulang.


"Itu bunda kamu pulang sama siapa, Nin?" tanya Adam pada anaknya.


Anindya melihat ke arah yang di tunjuk ayahnya, "gak tau, yah. Anin gak kenal" sahut Anin jujur.


"Pak Erlangga" gumam Adam ketika Erlangga yang ikut turun bersama Elfira. "Bagaimana mereka bisa saling kenal" gumamnya lagi.


Ada rasa marah di dalam hati Adam ketika melihat calon mantan istrinya itu bersama lelaki lain. Padahal mereka belum resmi bercerai, tapi Elfira sudah berani membawa pria lain ke rumahnya.


Adam pun melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah yang masih tertutup rapat, meskipun tak di kunci. Lalu ia berdeham menyadarkan kedua orang itu agar mengetahui kehadirannya.


"Ekhem. Kamu kok bisa pulang di antar sama pak Erlangga, Fir?" tanya Adam dengan nada datar.


Erlangga yang tak tau apa pun tentang masalah rumah tangga Elfira dan Adam, jadi merasa tak enak hati. Ia berpikir telah membuat Adam salah paham.


"Maaf pak Adam, tadi kami tak sengaja bertemu di supermarket. Jadi sekalian saja saya mengantarkan istri anda pulang" ucap Erlangga tak enak hati.


Sedangkan Elfira merasa sikap Adam berlebihan. Meskipun saat ini Adam masih berstatus suaminya, tapi tidak semestinya ia bersikap seperti itu pada orang yang sudah berbaik hati mengantarkan Elfira pulang. Apalagi Erlangga adalah atasan Adam di tempat kerja.


"Kamu gak boleh bersikap seperti itu, mas" tegur Elfira membuat Adam mendengus kesal. "Pak Erlangga sudah berbaik hati mengantarkan aku pulang."

__ADS_1


"Memangnya kamu gak bisa pulang naik taksi aja, kamu gak takut nanti kalo sampe di lihat tetangga, apa kata mereka nanti kalo lihat kamu di antar pulang sama lelaki lain." cerca Adam.


"Aku gak perduli dengan omongan tetangga mas, lagian kamu juga gak berhak kan bicara seperti itu sama aku. Kamu lupa apa yang sudah kamu..."


"Maaf pak Adam, Elfira. Saya harus menyela, sebaiknya jangan bertengkar disini, kalian selesaikan di dalam saja. Tidak enak dilihat tetangga dan ada anak kalian juga yang sedang melihat." Potong Erlangga.


"Sekali lagi saya minta maaf, tidak seharusnya saya mengantarkan istri anda. Saya tau jika sikap saya sudah di luar batas." sambung Erlangga.


"Bagus kalau anda sadar" sindir Adam.


"Mas.." tegur Elfira, dia merasa tak enak hati pada Erlangga atas sikap Adam.


Erlangga pun memaklumi sikap Adam, dia tau jika Adam sedang cemburu. Suami mana yang tak cemburu jika melihat istrinya di antar pulang oleh lelaki lain. Jika itu Erlangga, mungkin dia pun akan bersikap yang sama.


"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Sekali lagi saya minta maaf. Assalamualaikum." pamit Erlangga yang hanya di respon oleh Elfira.


"Waalaikumsalam"


Setelah kepergian Erlangga, Elfira pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Ia juga mengajak Anindya untuk masuk, tak di perduli kan nya Adam yang sejak tadi memanggilnya.


"Fira, tunggu. Mas mau bicara sama kamu" teriak Adam sambil mengikuti langkah cepat Elfira.


Wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangganya itu pun muncul dari arah dapur saat namanya di panggil. Dengan langkah yang terburu-buru, wanita itu mendatangi sang majikan.


"Iya Bu" ucap Asih.


"Bik, tolong mandikan Anin ya. Setelah itu, tolong temani dia tidur siang. Biar saya yang melanjutkan pekerjaan di dapur" perintah Elfira.


"Baik Bu. Ayo non." Asih pun mengajak Anindya untuk masuk ke dalam kamarnya. Elfira melanjutkan langkahnya ke dapur sekalian membereskan belanjaan yang tadi sudah ia beli.


"Fira, kenapa kamu mengabaikan mas" protes Adam.


"Terus, aku harus peduli gitu sama kamu. Kamu lupa kalo sebentar lagi kita akan bercerai" ucap Elfira sambil menatap Adam tajam.


"Tapi kan kita belum resmi bercerai, dan status kamu juga masih menjadi istri aku." sanggah Adam.


"Tapi bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya begitu kan mas."


"Oke, mas minta maaf. Tapi mas minta sama kamu, jangan pernah bawa lelaki lain ke rumah selama kita belum resmi bercerai, Fir" pinta Adam yang akhirnya mencoba untuk tidak terpancing amarah.

__ADS_1


"Kamu gak perlu menasehati aku mas, aku tau apa yang harus aku lakukan. Lagian tadi kan juga sudah di jelaskan kalo aku gak sengaja bertemu dengan Erlangga"


"Kan kamu bisa saja menolak, Fir."


"Aku sudah menolak mas, tapi dia yang memaksa. Katanya dia ingin bertemu dengan Anin"


Adam terdiam mencerna ucapan Elfira, "bertemu dengan Anin" gumam Adam.


"Berarti sebelumnya kalian sudah pernah bertemu?" tanya Adam penasaran.


"Ya, kami tak sengaja bertemu di toko nya Bu Halimah. Erlangga itu keponakannya Bu Halimah" jelas Elfira.


"Mas harap ini adalah terakhir kali nya kamu bertemu dengan pak Erlangga" ucap Adam membuat Elfira memicingkan mata menatap suaminya itu.


"Apa hak kamu mengatur aku harus bertemu dengan siapa"


"Kamu itu masih istri aku Fir, jadi aku berhak melarang kamu untuk berhubungan dengan siapa pun"


"Tapi kita akan bercerai mas, dan kamu tidak berhak untuk mengatur hidup aku lagi."


"Siapa yang bilang kalau kita akan bercerai" ucap Adam membuat Elfira mengerutkan alisnya dan menatap bingung Adam.


"Apa maksud kamu" tanya Elfira dengan suara bergetar.


"Kamu dengar baik-baik, aku tidak akan dan tidak akan pernah menceraikan kamu."


"Mas.." bentak Elfira.


"Kamu kan udah janji untuk melepaskan aku"


"Ya, itu dulu. Tapi setelah apa yang aku lihat tadi, aku tidak akan pernah melepaskan kamu Fir. Aku tidak akan pernah mau bercerai dengan kamu, dan selamanya kamu akan tetap menjadi istri aku."


Setelah mengatakan demikian, Adam pun pergi dari rumah itu. Meninggalkan Elfira yang sedang menatapnya tajam.


"Brengsek kamu, mas" teriak Elfira dengan nafas memburu. Ia emosi dengan apa yang tadi dikatakan Adam. Elfira sangat membenci lelaki itu, lelaki sudah menyakitinya terlalu dalam.


...****************...


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2