
Setelah menempuh 15 menit perjalanan, akhirnya Adam dan Axel sampai di toko pakaian miliknya. Adam pun mengajak Axel untuk ikut masuk bersamanya.
"Ayo masuk, kenapa diam saja di situ?" tanya Adam saat melihat Axel yang masih berdiri di tempatnya.
"Axel pulang aja ya Pa, Axel gak mau jaga toko kayak Papa."
Adam menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ia harus mengungkit ancaman yang sudah dia ucapkan tadi saat di rumah.
"Baik. Kalau kamu memang tidak mau, Papa tidak masalah. Berarti, mulai hari ini kartu kredit kamu Papa ambil dan uang jajan kamu Papa kurangi," ujar Adam lalu pergi masuk ke dalam toko, ia biarkan Axel yang masih diam mematung di parkiran.
Sementara Axel melebarkan kedua bola matanya, ternyata Papa nya itu tidak main-main dengan ancamannya. Axel pun merasa kesal dan dia juga tidak punya pilihan lain. Dengan terpaksa Axel mengikuti kemauan ayahnya dan menyusul Adam yang sudah lebih dulu masuk ke dalam toko.
Sesampainya di dalam, para pegawai toko sudah datang semua. Mereka menatap kedatangan Axel dengan penuh tanya. Salah satu dari mereka ada yang menghampiri Axel dan mengira kalau dia adalah pengunjung.
"Maaf mas, toko kami masih belum buka. Silahkan mas nya datang kembali setengah jam lagi," ucapnya.
Axel melongo tak percaya, bisa-bisanya dia di kira pembeli. "Heh! Lo pikir gue pembeli yang mau beli baju di sini? Lo gak tau siapa gue?" omel Axel membuat Mita tertunduk takut.
"Axel, cukup! Cepat minta maaf!" tegur Adam dan meminta anaknya untuk meminta maaf pada Mita.
"Axel gak mau Pa," tolak Axel dengan angkuh.
Mita terkejut saat mendengar Axel memanggil Adam dengan sebutan 'Pa'. Ternyata Axel adalah anak dari pemilik toko tempat dia bekerja. Mita pun merasa tak enak hati dan langsung meminta maaf pada Axel.
"Maafkan saya mas, saya tidak tau," ucap Mita dengan penuh rasa bersalah.
"Cih! Makanya kalo gak tau jangan sok tau," cibir Axel dengan nada sinis.
"Axel!" tegur Adam sekali lagi, sementara yang di tegur hanya melengos tak peduli.
Karena toko masih belum buka, Adam meminta seluruh pegawainya untuk berkumpul. Ia ingin memperkenalkan Axel agar mereka semua mengenal Axel dan tak ada salah paham lagi.
"Baiklah semuanya, hari ini saya membawa anak laki-laki saya. Namanya Axel, dan dia yang nanti akan menggantikan saya mengelola toko ini. Untuk ke depannya saya minta pada kalian semua untuk membantunya."
__ADS_1
Para pegawai tersebut pun mulai berbisik-bisik, mereka sudah melihat bagaimana sikap Axel tadi pada Mita.
"Anak sombong begitu yang akan jadi bos kita nanti, bisa habis kena marah terus kita ini," bisik salah satu pegawai.
"Kok bisa ya pak Adam punya anak sombong begitu," sambung pegawai yang di sebelahnya.
"Kalian sadar gak sih, sifatnya sama persis kayak istrinya pak Adam?" tanya pegawai lain yang ikut menimpali.
Setelah Adam memperkenalkan Axel, ia pun meminta seluruh pegawainya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Sementara Adam memasuki ruangannya diikuti Axel di belakangnya.
...****************...
Hari menjelang siang, dan Axel mulai merasa bosan. Apa yang sudah di ajari oleh Adam, tak ada satu pun yang masuk ke dalam otaknya, bahkan Axel sampai menguap beberapa kali. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Adam.
"Sekarang kamu sudah mengerti kan, bagaimana cara menghitung penjualannya?" tanya Adam.
"Sumpah ya Pa, Axel gak ngerti sama sekali. Apa yang papa jelasin tadi itu gak ada satu pun yang masuk ke dalam otak Axel," ucap Axel jujur.
Adam mendesah frustasi, sudah berkali-kali Adam mengajarinya tapi masih juga belum di mengerti oleh anaknya.
"Ya sudah kalo gitu papa cari aja anak SD untuk menggantikan papa. Axel kan anak b*doh yang tidak bisa di ajari," sahut Axel, sepertinya dia sakit hati dengan ucapan sang ayah.
"Bukan gitu maksud papa," balas Adam yang mulai melembutkan suaranya
"Udahlah pa, Axel memang gak cocok menggantikan papa. Mendingan papa ajarin Nayla aja, jangan Axel," ucapnya seraya bangkit.
"Mau kemana kamu?"
"Mau pergi pa, Axel bosan lama-lama di sini."
"Axel! Jangan pergi kamu!" Adam berteriak memanggil anaknya, tapi tak di hiraukan oleh Axel. Anak itu terus berjalan keluar dari ruang kerja ayahnya.
Axel berjalan tergesa sambil menggerutu, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihat apakah Adam mengejarnya atau tidak. Karena tak melihat ke jalan, tanpa sadar Axel pun menabrak seseorang. Alhasil ia pun mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh, begitu juga dengan orang yang di tabrak nya.
__ADS_1
"Heh! Lo punya mata gak sih, kalo jalan itu lihat-lihat, jangan main tabrak orang seenak lo aja," bentak Axel membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Kamu yang jalannya gak bener malah nyalahin saya," balas orang tersebut yang tak lain adalah Anin.
Siang itu dia sengaja datang ke toko karena ingin bertemu dengan ayahnya.
"Memang lo yang salah," tuduh Axel tak mau di salahkan.
"Ada apa ini?" tanya Adam menghampiri kedua anaknya.
"Papa."
"Ayah."
"Ada apa ini Axel, ulah apa lagi yang sudah kamu perbuat?"
"Papa kenapa langsung nuduh Axel, jelas-jelas cewek ini yang salah," protes Axel tak terima.
"Jaga bicara kamu Axel, dia kakak kamu, jadi bicara lah yang sopan," tegur Adam membuat Axel mendengus tak suka.
"Dia bukan kakak Axel dan Axel gak punya kakak!" bentak Axel lalu pergi begitu saja.
Adam hanya bisa pasrah melihat sikap keras kepala Axel. Ia menatap kepergian Axel dengan perasaan sedih, padahal Axel adalah harapan terbesarnya untuk bisa menggantikan dirinya.
"Ayah gak apa-apa?" tanya Anin membuyarkan lamunan Adam.
"Ayah nggak apa-apa sayang, kamu ada apa kemari?"
"Nggak ada apa-apa Yah, Anin cuma kangen aja sama ayah. Kebetulan Anin lagi istirahat makan siang. Lagian udah lama juga kan kita gak ketemu," ujar Anin. Memang sudah dua bulan mereka tidak bertemu, kesibukan Anin dan juga Adam yang membuat mereka sulit mengatur waktu untuk saling bertemu.
"Ya sudah kalau gitu kita ngobrol-ngobrol sekalian makan siang ya."
"Oke."
__ADS_1
Ayah dan anak itu pun berjalan keluar toko untuk pergi makan siang bersama. Sebelumnya Adam sudah menitipkan toko pada salah satu pegawai yang ia percayai.
...****************...