
Erlangga sangat bahagia saat ini karena sebentar lagi dia akan segera bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai. Kini ia sedang berada di dalam pesawat yang akan mengantarkannya ke Jogjakarta. Selama perjalanan, tak henti-hentinya Erlangga melengkungkan bibirnya.
Sekitar satu jam lebih akhirnya pesawat yang ditumpangi Erlangga mendarat di bandara Adisutjipto Jogjakarta. Dengan langkah yang ringan Erlangga segera melangkahkan kakinya keluar dari bandara dan mencari taksi yang akan mengantarkannya ke tempat Elfira.
Taksi yang ditumpangi Erlangga membawanya ke sebuah perkampungan yang masih sangat asri. Jarak antara rumah yang satu dan rumah lainnya tidak terlalu jauh. Pohon-pohon yang tumbuh disekitar halaman rumah setiap warga begitu menyejukkan mata. Berbeda dengan kondisi di ibukota yang lebih banyak gedung bertingkat dibandingkan tanaman hijau seperti itu. Tanpa terasa taksi itu berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya banyak ditumbuhi berbagai macam bunga.
Erlangga turun setelah membayar ongkos taksinya. Ia tidak tahu pasti yang mana rumah keluarga Elfira, kebetulan disana ada seorang ibu-ibu yang sedang menyapu halaman. Erlangga menghampirinya dan mencoba untuk bertanya, berharap dia bisa mendapat bantuan dari ibu tersebut.
"Maaf Bu, permisi. Mau numpang tanya," ucap Erlangga dengan sopan. Meskipun Erlangga adalah sosok yang dingin dan kejam tapi dia masih mempunyai sifat yang hangat dan sopan terhadap orang lain khususnya kepada wanita dan orang yang lebih tua darinya.
Ibu yang sedang menyapu halaman itu pun menghentikan kegiatannya saat Erlangga mendatanginya. Ia menatap Erlangga dari atas sampai kebawah, belum pernah ia melihat Erlangga sebelumnya. Ibu itu berpikir kalau Erlangga bukanlah orang Jogja.
"Iya mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya ibu tersebut.
"Maaf sebelumnya bu karena sudah mengganggu kegiatan ibu, saya cuma mau tanya alamat ini, benarkan di sini alamatnya?" Erlangga menyerahkan sebuah kertas yang bertuliskan sebuah alamat.
Ibu tersebut pun membacanya dan langsung mengembalikan kertas tersebut kepada Erlangga. "Betul mas, dan itu rumahnya," tunjuk ibu tersebut pada sebuah rumah joglo yang ada di depan mereka.
Erlangga mengikuti arah tunjuk ibu tersebut, kemudian ia tersenyum senang karena akhirnya bisa menemukan tempat Elfira berada sekarang. Erlangga mengucapkan terimakasih kepada ibu tadi lalu segera melangkahkan kakinya menuju rumah joglo tersebut.
Sampai di depan rumah, Erlangga langsung mengetuk pintunya. Ia berharap kalau Elfira yang akan membuka pintu tersebut. Beberapa kali Erlangga mengetuk pintu tapi tak ada yang membukanya. Tiba-tiba hatinya diliputi rasa cemas, takut kalau Elfira tidak ada di rumah tersebut.
Erlangga mencoba mengetuk sekali lagi, jika tak ada jawaban juga maka ia akan pergi dan langsung kembali ke Jakarta. Hampir saja Erlangga menyerah dan berbalik badan. Namun, suara sahutan seseorang dari dalam membuat Erlangga mengurungkan niatnya. Bahkan ia tersenyum lebar saat mendengar suara yang sangat ia rindukan itu.
"Iya sebentar," teriak Elfira dari dalam seiring dengan pintu yang terbuka. "Erlangga!" pekik Elfira terkejut melihat sosok Erlangga yang kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum dan menatap dirinya dengan tatapan penuh kerinduan.
...****************...
"Dari mana kamu tahu aku ada disini? Dan dari mana kamu tahu alamat rumah ini?" Elfira sungguh terkejut melihat kedatangan Erlangga. Padahal dia tidak mengatakan pada siapapun kemana dia pergi kecuali pada para pekerja di rumahnya. Elfira yakin kalau mereka tidak mungkin mengatakannya pada Erlangga.
__ADS_1
"Aku tanya sama Adam, mantan suami kamu," jawab Erlangga.
Sudah Elfira duga, tidak mungkin mbak Siti atau Bi Asih yang mengatakannya. "Mau apa kamu kemari?" Sejak tadi Elfira bertanya dengan nada sinis, ia tak mau melembutkan hatinya. Takut akan kembali kecewa, mengingat Erlangga sudah menikah dengan Jessica. Setidaknya itulah yang diketahui Elfira, makanya ia pergi menjauh dari Erlangga agar bisa melupakan lelaki itu. Tapi sekarang malah Erlangga yang datang menyusulnya.
"Aku kangen sama kamu Fir, kenapa kamu pergi dengan tiba-tiba begini. Apa kamu mau menghindari aku?" Erlangga menatap Elfira sendu.
Elfira ingin membuka mulutnya namun ia urungkan ketika mendengar suara cempreng Anin yang berteriak memanggil nama Erlangga.
"Om Elang!" teriak Anin dari kejauhan.
Anak itu baru saja pulang entah dari mana bersama seorang lelaki yang tak Erlangga kenal. Tapi Erlangga tak peduli, matanya kini hanya fokus pada Anin yang berlari ke arahnya. Erlangga merentangkan kedua tangannya agar Anin bisa masuk kedalam pelukannya.
"Anin kangen sama om Elang," ucap Anin dalam pelukan Erlangga.
"Om juga kangen sama Anin. Kamu apa kabar sayang, kenapa pergi gak bilang-bilang sama om?" Sengaja Erlangga bertanya kepada Anin sekaligus menyindir Elfira yang pergi diam-diam darinya.
Mendengar pertanyaan Erlangga, Elfira pun mendengus kesal karena merasa tersindir.
"Gak apa-apa za," jawab Elfira singkat.
Reza menatap Erlangga yang tampak akrab dengan Anin namun matanya sesekali melirik ke arah Elfira dan dirinya. Baru pertama kali ini Reza melihat Erlangga sehingga ia pun penasaran siapa lelaki itu sebenarnya.
"Itu siapa?" tanya Reza tanpa suara namun matanya melirik ke arah Erlangga.
"Oh iya aku lupa. Za, kenalin ini teman aku dari Jakarta namanya Erlangga," Elfira memperkenalkan Erlangga sebagai temannya membuat pria itu melotot ke arah Elfira.
"Er, kenalkan ini Reza," ucap Elfira memperkenalkan Reza pada Erlangga.
"Perkenalkan saya Reza, teman masa kecil Elfira," Reza mengulurkan tangannya ke arah Erlangga sambil tersenyum lalu menyebutkan namanya, sementara Erlangga masih tak menyambut tangan Reza. Ia menelisik penampilan Reza dari atas sampai ke bawah. Meskipun hanya memakai kaos dan celana bahan berwarna hitam tapi Reza terlihat sangat tampan. Seketika Erlangga menjadi merasa tersaingi.
__ADS_1
"Om. Itu," panggil Anin menyadarkan lamunan Erlangga lalu menunjuk tangan Reza yang masih terulur.
Dengan malas Erlangga pun membalas uluran tangan Reza. "Erlangga," balas Erlangga cuek lalu langsung menarik tangannya dan kembali fokus pada Anin.
Reza hanya mengangkat bahunya tak peduli, "kalo gitu aku pamit pulang ya Fir, salam sama bukde Mila."
"Iya Za, nanti aku sampaikan. Makasih loh ya sudah mengajak Anin jalan-jalan," balas Elfira.
"Sama-sama. Aku pamit ya, assalamualaikum." Reza pun berpamitan pada Elfira, tak lupa juga ia berpamitan dengan Anin dan menganggukkan kepala saat matanya bertatapan dengan mata Erlangga.
"Waalaikumsalam," jawab Elfira dan Erlangga bersamaan. Meskipun hatinya kesal, tapi Erlangga tetap menjawab salam dari Reza. Karena dalam Islam menjawab salam dari sesama muslim itu wajib hukumnya.
"Yang tadi itu siapa Fir?" tanya Erlangga setelah Reza tak terlihat lagi.
Bukannya menjawab, Elfira malah menyuruh anaknya untuk masuk ke dalam rumah. "Anin ke dalam dulu ya sayang, mandi terus ganti bajunya."
"Siap bunda." Tanpa banyak membantah Anin langsung berlari masuk ke dalam rumahnya dan melaksanakan perintah sang ibu.
"Sebaiknya kamu kembali ke Jakarta, aku tidak mau ada kesalahpahaman jika kamu terus-terusan di sini," usir Elfira secara halus.
"Tapi aku baru saja sampe Fir, masa langsung pulang. Setidaknya buatkan aku minum, aku haus," rengek Erlangga berharap wanita yang ada dihadapannya ini akan luluh dan berbaik hati mengajaknya masuk ke dalam rumah. Saat ini tubuh Erlangga terasa sangat lelah, saat ini ia merindukan kasur empuknya untuk beristirahat.
"Tunggu di sini," ucap Elfira lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Elfira kembali dengan membawa segelas air putih. "Nih, minum." Elfira meletakkan segelas air tersebut di atas meja.
"Setelah airnya habis, kamu silahkan langsung pergi dari sini. Aku tidak mau orang-orang berpikir yang tidak-tidak melihat keberadaan kamu di rumah ini."
Setelah berkata demikian, Elfira kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya meninggalkan Erlangga yang masih melongo sambil memegang gelas ditangannya.
"Aku beneran di tinggal di sini?" gumam Erlangga menatap pintu rumah yang sudah tertutup rapat.
__ADS_1
Malang sekali nasibmu Erlangga.
...****************...