Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 6


__ADS_3

Pagi hari saat Kenan selesai sarapan dan ingin berangkat sekolah, supir yang di tugaskan untuk mengantarnya ke sekolah sudah menunggu di depan rumah. Kenan pikir papanya hanya main-main dan menggertak nya saja, tapi ternyata papanya sungguh-sungguh.


"Kok belum berangkat Ken? Nanti kamu telat loh, itu juga pak supir nya sudah nungguin kamu." Anin terkejut melihat adiknya yang masih diam di depan pintu, padahal Kenan yang paling pertama selesai sarapan tadi.


"Ini beneran Kenan harus di antar supir ya kak?"


Anin melirik sekilas ke arah supir yang sedang berdiri di samping pintu mobil menunggu sang majikan keluar rumah.


"Kayaknya sih gitu."


Kenan mendesah pasrah, dia harus menerima hukuman dari perbuatan yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan Kenan. Dirinya hanya berusaha menghindari kejaran dari seseorang yang tidak di kenalnya. Tapi, Kenan juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena takut orang tuanya akan khawatir.


"Udah yuk, berangkat. Malah bengong," tegur Anin membuyarkan lamunan Kenan.


"Kakak berangkat naik apa? Bareng Ken aja yuk, biar ada temen ngobrol."


Anin tampak berpikir sejenak, selama ini dia selalu berangkat ke kantor naik bis atau naik taksi. Karena selama ini, teman-teman kantor Anin tidak ada yang tahu kalau dia anak orang kaya. Penampilan Anin yang sederhana membuat mereka mengira Anin berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.


"Kak! Malah gantian dia yang bengong, ayo."


"Nggak deh Ken, kakak naik bis aja," tolak Anin membuat Kenan bingung.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, udah sana kamu duluan. Lagian sekolah kamu sama kantor tempat kakak kerja gak searah, kasihan nanti supirnya harus putar balik lagi kan," ujar Anin membuat alasan.


Kenan memicingkan matanya menatap sang kakak, ia merasa seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Ya udah deh, Ken duluan ya." Akhirnya Kenan memilih untuk berangkat sendiri, dan Anin pun bisa bernafas lega karena adiknya tidak banyak tanya.


"Loh, kamu belum berangkat kak?" tanya Erlangga tiba-tiba mengejutkan Anin.


"Eh, Papa! Ini mau berangkat kok, Anin pergi dulu ya Pa." Anin pun segera berlari keluar rumah menuju halte dan menunggu bisa yang menuju ke tempatnya bekerja.


...****************...


"Woi, Ken!" panggil Dimas sambil merangkul bahu Kenan.


"Aduh! Sakit b*go," umpat Kenan karena merasa sakit pada bahunya. Dirinya belum sepenuhnya sembuh, masih ada rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya seperti bahu, lengan dan kakinya.


"Eh, sorry sorry. Lupa gue," ucap Dimas merasa bersalah. Dirinya memang lupa jika Kenan belum sepenuhnya sembuh akibat kecelakaan yang di alaminya.


"Ngomong-ngomong lo ke sekolah gak naik motor?"


"Kenapa emangnya?"


"Tadi di parkiran gue gak lihat ada motor lo, berarti gak bisa nge-track dong kita nanti, padahal si Andre nge chat gue tadi kalo siang ini dia ngajak ke tempat biasa."


"Duh, sorry banget. Gue belum bisa, lagian ... "

__ADS_1


Kenan tak melanjutkan ucapannya membuat Dimas menatap dirinya penuh tanya.


"Lagian apa?" desak Dimas ingin tahu.


"Lagian bahu sama tangan gue masih sakit, belum bisa bawa motor. Makanya tadi gue di antar supir."


"Hah! Lo di antar supir? Hahaha ..."


"Kayak anak TK lo ke sekolah pake di antar segala," ejek Dimas membuat Kenan menyesal karena telah keceplosan.


Bugh


"Aw, sakit b*go!" umpat Dimas kesakitan karena Kenan menonjok bahunya dengan sangat keras.


"Makanya biasa aja ketawanya," omel Kenan sambil berlalu dari hadapan Dimas.


"Apa sih, perasaan gue biasa aja deh ketawanya. Dia aja yang sensitif kayak anak perawan kebelet kawin," gumam Dimas setelah Kenan pergi.


"Woi, Ken! Tungguin!" Dimas pun mengejar Kenan yang sudah lebih dulu berjalan menuju kelas mereka.


...****************...


"Pagi Anin!" sapa Renata, teman satu divisi Anin.


"Pagi juga Re, tumben kamu datangnya gak telat. Biasanya lima menit setelah jam masuk kantor baru kamu datang," sindir Anin membuat Renata cemberut.


"Hihi. Iya maaf deh," ucap Anin.


Pintu lift terbuka lalu keduanya pun masuk bersama-sama. Anin menekan tombol angka 5, tempat divisi desain berada.


"Eh, Nin. Dengar-dengar katanya CEO kita mau di ganti ya?"


"Kamu dengar dari mana?"


"Dari anak-anak divisi pemasaran, kata mereka yang menjadi CEO baru kita nanti anaknya pak Darmanto. Benar gak sih?"


"Mana aku tau Re, kabar CEO mau di ganti aja baru dari kamu ini."


"Ah, lo mah kudet."


"Sembarangan kamu."


Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai 5. Keduanya pun keluar bersama dan berjalan menuju ke meja mereka masing-masing.


Tim divisi desain ada 5 orang anggota, salah satunya Anindya yang menjabat sebagai asisten fashion desainer. Dalam ruangan itu terdiri dari lima meja kerja yang di sekat, posisi mereka saling berhadapan , tiga sebelah kanan dan dua di sebelah kiri.


Anin mulai mengerjakan pekerjaannya membuat gambar desain busana untuk perayaan Pratama Group Fashion Week yang akan di selenggarakan bulan depan. Untuk itu perusahaan tersebut sedang sibuk mempersiapkan acara besar itu.


"Perhatian semuanya." Suara manajer fashion desainer menginterupsi para anggotanya. "Hari ini kita akan kedatangan CEO baru, pengganti pak Darmanto. Untuk itu, seluruh pegawai di harapkan berkumpul di aula untuk penyambutan CEO baru kita," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Bener kan apa yang gue bilang tadi," bisik Renata pada Anin yang duduk di sebelahnya.


Mereka berlima pun keluar dari ruangan mengikuti sang manajer menuju aula yang berada di lantai 1. Sesampainya di aula, para pegawai seluruh divisi sudah berkumpul.


"Gila, udah rame aja nih," celetuk Renata. "Kita ke depan aja yuk biar bisa lihat dari dekat," ajak Renata yang langsung menarik tangan Anin.


Anin yang belum siap pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah temannya. Renata terus menarik tangan Anin melewati pegawai lain yang sudah berbaris di posisi mereka. Akhirnya mereka sampai juga di barisan paling depan, tepat di hadapan podium.


"Nah, kalo dari sini kan kita bisa lihat dengan jelas. Siapa tau CEO baru kita wajahnya tampan, kan lumayan bisa sekalian cuci mata."


"Hush, kamu ini. Pikirannya cowok tampan melulu," protes Anin yang hanya di tanggapi dengan tawa kecil dari Renata.


"Itu tandanya gue normal, memangnya elo, gak normal."


"Sembarangan, aku juga normal ya." Anin tak terima dikatakan tidak normal.


"Normal kok gak pernah pacaran," sindir Renata.


"Memangnya harus pacaran dulu baru di bilang normal?"


"Iyalah!"


Anin hanya bisa mencebik kesal dengan ejekan dari Renata, dia ingin membalas tapi asisten pak Darmanto sudah naik ke podium dan membuka acara.


Asisten CEO tersebut pun mempersilahkan pak Darmanto selaku CEO dan pemilik perusahaan untuk memberikan kata sambutan. Seluruh pegawai di aula memberikan tepuk tangan saat CEO mereka menaiki podium.


"Terimakasih untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktunya berkumpul di aula ini. Saat ini perusahaan kita sedang mempersiapkan acara besar untuk peluncuran model pakaian baru yang sudah di rancang oleh tim fashion design," ucap pak Darmanto membuka pidatonya.


"Untuk itu saya meminta kerja sama kita semua untuk membantu melancarkan persiapan acara itu. Dan sebenarnya, saya meminta kalian berkumpul di sini untuk menyampaikan beberapa hal."


Beberapa pegawai ada yang berbisik dan bertanya-tanya apa yang akan di sampaikan oleh CEO mereka, sebagian lagi ada yang sudah tau dan ada juga yang hanya diam saja.


"Yang pertama, saya ingin menyampaikan kalau hari ini adalah hari terakhir saya berada di kantor ini."


Para pegawai kembali berbisik, menyayangkan keputusan atasan mereka. Padahal pak Darmanto adalah seorang atasan yang sangat baik dan bijaksana.


"Yang kedua, posisi saya sebagai CEO akan di gantikan oleh anak saya. Dia baru saja kembali dari luar negeri, dan saya harap kalian bisa bekerja sama dengannya."


Lalu setelah itu, dari arah pintu dekat podium muncul seorang laki-laki tampan yang mengenakan jas berwarna navy, berjalan dengan gagah menuju podium tempat pak Darmanto berada.


Semua mata pegawai tak lepas dari laki-laki tersebut, terutama pegawai wanita. Tak terkecuali Renata, hampir saja ia meneteskan air liurnya kalau dia tidak segera menutup rapat mulutnya.


"Gila ganteng banget," ujar Renata sambil memandang lekat lelaki tampan itu.


Tak beda jauh dengan Renata, Anin juga menatap lelaki itu dengan mata tak berkedip. Namun, tatapan Anin tidak sama seperti yang lainnya. Anin menatap orang itu dengan hati yang penuh dengan tanya.


"Itu kan ... "


...****************...

__ADS_1


__ADS_2