Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 45


__ADS_3

Sore hari Elfira dan Anin tiba di Jogjakarta, tepatnya di kabupaten Sleman. Tempat kelahiran ibu kandung Elfira. Dari stasiun Elfira mencari taksi untuk mengantarkannya ke kampung halaman almarhumah ibunya. Dari Jakarta Elfira sengaja berangkat melalui jalur darat, ia menaiki bis dari Jakarta dan langsung menuju Sleman. Meskipun harus memakan waktu yang lama, tapi tak mengapa bagi Elfira. Dia hanya tidak ingin Erlangga bisa melacaknya jika dia pergi menggunakan pesawat.


"Masih jauh lagi gak Bun? Anin capek," ucap Anin lesu. Anak itu kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh.


"Enggak kok sayang, kita tinggal naik taksi saja terus sampe deh."


Kebetulan ada taksi lewat di depan mereka, Elfira pun melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi tersebut. Taksi itu berhenti dan Elfira segera mengajak Anin untuk masuk ke dalam taksi.


Setelah menyebutkan alamatnya, supir tersebut melajukan taksinya menuju alamat yang sudah di berikan Elfira sebelumnya.


...****************...


"Assalamualaikum." Elfira mengucapkan salam di depan sebuah rumah joglo khas Jogjakarta. Sudah hampir 10 tahun Elfira tak pernah berkunjung ke rumah ini, tak banyak perubahan yang terjadi. Bentuk rumah dan warna cat yang masih sama dan pohon mangga yang masih ada di depan rumah itu. Elfira jadi teringat akan kenangannya dulu bersama kedua orangtuanya saat berkunjung ke rumah ini.


Pintu terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya yang usianya tidak beda jauh dengan sang ibu. "Waalaikumsalam, siapa ya?" tanya wanita itu saat melihat kedatangan Elfira dan Anin.


"Bukde Mila!" panggil Elfira.


Wanita yang di panggil bukde Mila itu mengamati Elfira dari atas ke bawah. Ia seperti mengenali tamunya itu, "Fira ya?" ucapnya kemudian setelah mengenali siapa tamu nya.


"Iya bukde, ini Fira," jawab Elfira sambil menghampiri bukde nya. "Bukde apa kabar?" Elfira menyalami bukde nya itu lalu menyuruh Anin melakukan hal yang sama.


"Masyaallah Fira, bukde sampe gak ngenalin kamu loh. Apa kabar Kamu ndok?" tanya Mila sambil merangkul Elfira. "Ayo ... ayo masuk dulu, kalian pasti capek kan?" Mila mengajak Elfira dan Anin masuk ke dalam rumahnya lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Gimana kabar Kamu ndok?" tanya Mila sekali lagi setelah mereka duduk di kursi yang terbuat dari rotan.


"Alhamdulillah Fira baik bukde. Oh iya, kenalin bukde ini anak Fira namanya Anin."


"Masyaallah Gusti, ayu tenan anak mu iki Fir. Raine mirip banget karo awakmu," puji Mila.


"Bukde bisa aja."


Karena sudah lama tak bertemu, mereka berdua pun mengobrol panjang lebar. Menceritakan banyak hal termasuk kegagalan pernikahan yang di alami Elfira hingga tanpa sadar hari mulai memasuki senja dan Anin sudah tertidur di atas pangkuan Elfira.


Melihat Anin yang sudah tertidur, Mila pun meminta Elfira untuk membawa anaknya ke dalam kamar tamu yang baru saja selesai di bersihkan oleh Mila. Dengan hati-hati Elfira menggendong Anin dan membawanya ke kamar lalu meletakkan Anin di atas ranjang. Sementara Anin tertidur, Elfira pun bergegas membersihkan diri karena waktu Maghrib hampir tiba.


...****************...

__ADS_1


"Gimana Lang, kamu sudah mendapat kabar dari Elfira?" tanya Wulan tak sabaran. Setiap hari wanita itu akan selalu menanyakan tentang Elfira.


Kadang Erlangga sampai pusing dibuatnya, tiada hari tanpa bertanya tentang Elfira. Dia sendiri saja sedang pusing mencari dimana keberadaan wanita itu, ditambah lagi dengan sang ibu yang terus menerornya dengan pertanyaan yang sama setiap harinya.


"Kamu kok diam saja sih, gimana dengan Elfira? Sudah ketemu belum?"


"Belum ma, sampai sekarang Erlangga gak tau dimana keberadaan Elfira. Erlang juga sudah mencari dan bertanya pada teman-teman nya. Tapi tak ada satu pun yang tahu dimana dia." Erlangga terlihat frustasi, sejak kepergian Elfira, lelaki itu sudah seperti tak mempunyai semangat hidup.


Kadang Wulan kasihan melihat putra semata wayangnya itu. Namun, dia ingin memberikan pelajaran kepada anak bodohnya itu. Supaya Erlangga bisa belajar menghargai wanita dan tak sembarangan menyakiti hatinya.


"Kamu sudah selidiki dimana kampung halaman Elfira belum?" tanya Wulan yang entah kenapa dia bisa berpikir tentang hal itu.


"Kenapa Erlang gak kepikiran sampe sana ya ma." seperti mendapat angin segar, Erlangga tampak kembali bersemangat.


"Karena kamu memang bodoh, begitu saja tidak bisa kamu pikirkan. Percuma kamu bisa menangani puluhan bahkan ratusan proyek besar, tapi menangani satu perempuan saja kamu tidak bisa. Malu mama memiliki anak seperti kamu," sindir Wulan membuat Erlangga mengerutkan bibirnya.


"Itu beda masalahnya ma," ucap Erlangga mencari pembenaran.


"Heleh, pinter banget kamu cari alasan." Wulan pun mencibir sang anak. "Terus kenapa masih disini? Memangnya dengan duduk diam begini kamu bisa tahu dimana kampungnya Elfira?"


"Sabar dong ma, Erlangga lagi mikir siapa yang bisa Erlang tanyain tentang kampungnya Elfira," ucap Erlangga sambil berpikir.


"Memangnya mama tahu siapa orang yang bisa kita tanya?"


Wulan benar-benar kesal dengan anaknya ini, ia sampai harus tepuk jidat melihat keluguan anaknya. Namun, bagi Wulan hal ini sangat wajar mengingat baru pertama kali Erlangga jatuh cinta kepada seorang wanita dan baru pertama kali pula ia mengalami putus cinta.


"Erlangga ... Erlangga ... , kamu kan bisa tanya sama mantan suaminya Elfira. Barangkali saja dia mau memberitahu kamu," ucap Wulan membuat wajah Erlangga langsung berbinar. Akhirnya ia merasa akan ada titik terang dalam perjuangannya mencari Elfira.


"Mama memang pintar," puji Erlangga seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Bukan mama yang pintar, tapi kamu yang terlalu bodoh." Sekali lagi Wulan mengejek sang anak.


...****************...


Mengikuti saran dari mamanya, siang ini Erlangga berencana menemui Adam di penjara. Adam adalah harapan terakhirnya untuk bisa mengetahui dimana keberadaan Elfira.


Sebelum menemui Adam, Erlangga sudah melapor terlebih dahulu kepada petugas dan mengisi formulir kunjungan. Setelah semua prosedur kunjungan dipenuhi, Erlangga diminta untuk menunggu di ruangan khusus yang memang disediakan untuk mengunjungi tahanan.

__ADS_1


Tak lama Erlangga menunggu, petugas pun datang bersama Adam yang kini tampilannya sudah banyak berubah. Tubuh yang dulu sempat kurus kini mulai berisi kembali, wajahnya juga tampak segar meskipun ditumbuhi bulu-bulu halus disekitar kumis dan jenggotnya.


"Apa kabar Kamu Adam?" tanya Erlangga setelah Adam duduk dan petugas tadi keluar.


"Alhamdulillah, keadaan saya sudah jauh lebih baik. Ada perlu apa kamu bertemu dengan saya, pasti bukan benar-benar ingin mengunjungi saya kan?" tebak Adam seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Erlangga.


"Kamu benar, saya memang mempunyai maksud mengunjungi kamu. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin saya tanyakan sama kamu."


"Apa itu?"


"Bagaimana perasaan kamu kepada Elfira?" tanya Erlangga tiba-tiba.


Adam tak langsung menjawabnya, bohong namanya jika ia mengatakan kalau perasaan itu sudah tidak ada. Tapi Adam cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan kembali pada mantan istrinya itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Adam justru balik bertanya.


"Jawab saja, karena ini ada hubungannya dengan masa depan saya dan Elfira."


Adam tersenyum mendengar ucapan mantan bos nya itu. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. "Kalau saya bilang masih mencintai Elfira, apa yang akan kamu lakukan?" Adam mencoba untuk menantang Erlangga.


"Maka saya tidak akan membiarkan Elfira kembali bersama kamu lagi," jawab Erlangga pasti.


"Haha. Kamu tenang saja, meskipun saya masih mencintai mantan istri saya itu tapi saya tidak punya cukup keberanian untuk mengajaknya rujuk. Sudah terlalu dalam luka yang saya goreskan di hatinya." Tiba-tiba saja Adam menjadi sedih mengingat bagaimana perlakuannya selama ini.


Erlangga cukup lega mendengar jawaban Adam, setidaknya berkurang satu saingannya.


"Oh iya, ngomong-ngomong mau apa kamu mengunjungi saya kesini?"


""Ah benar, hampir saya lupa. Saya mau menanyakan dimana kampung halaman Elfira, apa kamu tahu?"


Adam mengerutkan kedua alisnya, ia juga menatap heran ke arah Erlangga. "Memangnya Elfira pulang ke kampung halamannya?"


"Ada beberapa kesalahpahaman yang terjadi diantara kami dan saat ini Elfira tidak ada di rumahnya. Aku sudah mencarinya kemanapun tapi tetap tak ketemu juga. Jadi, besar kemungkinannya kalau Elfira ada di sana."


Adam mengerti sekarang, sepertinya mantan istrinya itu sudah mulai membuka hatinya. 'Baguslah,' pikir Adam.


Adam pun memberitahukan alamat kampung Elfira. Erlangga tentu saja sangat senang mendengarnya dan ia berharap kalau wanita itu memang benar ada disana.

__ADS_1


'Tunggu aku Fir, aku pastikan akan membawa kamu pulang dan meluruskan kesalahpahaman ini. Aku harap kamu mau memaafkan aku,' bisik Erlangga dalam hati.


...****************...


__ADS_2