Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 47


__ADS_3

"Fira!" panggil bukde Mila. "Fir!" panggilnya sekali lagi karena Elfira tak menyahut.


"Ya bukde," sahut Elfira dari arah dapur. "Ada apa bukde?" tanya nya setelah berada di dekat bukde Mila. Wanita paruh baya itu berdiri di balik pintu sambil mengintip dari jendela.


"Sini ndok, coba kamu lihat siapa yang ada di teras kita." Bukde Mila menggeser tubuhnya dan membiarkan Elfira mengintip dari jendela.


Karena penasaran, Elfira pun membuka sedikit kain gorden dan mengintip siapa orang yang dimaksud bukde Mila. Alangkah terkejutnya Elfira saat melihat Erlangga yang masih berada di teras, dan bisa Elfira pastikan jika lelaki itu tidur disana semalaman.


Dengan segera Elfira membuka pintu dan menghampiri Erlangga yang diikuti bukde Mila dari belakang.


"Er, bangun." Elfira menggoyangkan badan Erlangga hingga lelaki itu membuka matanya. "Kamu ngapain masih disini? Aku kan sudah menyuruh kamu pulang."


"Maaf Fir, aku ... "


"Sudah .. sudah .. sebaiknya kamu ajak masuk teman kamu ini ndok. Biarkan dia membersihkan dirinya di dalam," ajak bukde Mila.


Erlangga langsung tersenyum saat melihat Elfira tidak bisa membantah ucapan wanita paruh baya itu.


"Masuk," perintah Elfira yang langsung diikuti Erlangga.


Bukde Mila hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua orang di depannya itu.


Saat berada di dalam, Elfira memberikan sebuah handuk bersih pada Erlangga. "Nih handuknya, kamar mandinya ada disana," ketus Elfira sambil menunjuk kamar mandi yang ada di ujung ruangan.


Erlangga mengikuti arah telunjuk Elfira, setelah itu ia pun langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Sejak tiba di desa ini, Erlangga sama sekali belum membersihkan diri sehingga ia merasakan kalau tubuhnya sangat lengket.


...****************...


Erlangga baru saja selesai mandi, ia celingukan di depan pintu kamar mandi mencari Elfira. Namun, tak ada seorang pun di sana. Erlangga melangkahkan kaki nya saat telinganya mendengar suara orang tertawa.


Dan benar saja, di teras rumah Elfira sedang duduk berdua dengan Reza. Mereka tampak akrab dan sesekali tertawa bersama seolah-olah ada hal yang lucu.


Erlangga keluar dan bergabung bersama mereka. Melihat kedatangan Erlangga, baik Reza maupun Elfira sama-sama terdiam.


"Kenapa pada diam?" Lanjut saja," ucap Erlangga lalu duduk di sebelah Elfira.

__ADS_1


"Ya udah Fir, kalo gitu aku pulang dulu ya. Salam sama bukde dan Anin." Reza berpamitan pada Elfira, ia merasa canggung dengan kehadiran Erlangga.


"Kok pulang, memangnya saya mengganggu ya?" tanya Erlangga basa-basi.


"Eh, enggak kok mas. Lagian urusan saya sama Fira sudah selesai kok, ya kan Fir?"


"Iya," jawab Elfira singkat.


Reza pun pulang setelah berpamitan dengan Elfira dan Erlangga. Setelah kepergian Reza, Erlangga dan Elfira pun saling diam. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


"Ekhem. Fir, aku ... "


"Sebaiknya kamu pulang Er, aku gak mau ada masalah lagi nantinya," ucap Elfira memotong perkataan Erlangga.


"Masalah apa Fir, justru aku datang ke sini itu untuk menyelesaikan masalah diantara kita. Aku mau menjelaskan kesalahpahaman kemarin."


"Aku rasa itu bukan kesalahpahaman Er. Semua yang aku lihat sudah jelas, kamu ... "


"Kamu cemburu?" potong Erlangga cepat membuat Elfira mengatupkan kedua bibirnya dan tak bisa berkata-kata.


"Untuk apa aku cemburu, lagian kamu sudah menjadi suami orang jadi aku tidak berhak ..."


"Tunggu!" Erlangga merentangkan tangannya di depan wajah Elfira. "Kamu bilang apa tadi. Suami? Suami siapa?" Erlangga sungguh tak mengerti maksud dari perkataan Elfira tadi.


"Ya kamu lah, pake pura-pura segala. Kamu kan sudah menikah, jadi untuk apa kamu datang ke sini. Aku gak mau kalau nanti istri kamu mencak-mencak dan membuat masalah di kampung ini."


"Siapa yang sudah menikah sih. Lagian gimana aku bisa nikah kalau calon istriku aja masih ada di sini. Justru aku kemari itu mau menjemput kamu supaya kita bisa melanjutkan rencana pernikahan kita. Mama juga sudah nanyain kamu terus."


Elfira menatap pria yang duduk di sebelahnya itu dengan intens. Ia sungguh tak mengerti, bagaimana mungkin Erlangga bisa mengatakan kalau dirinya belum menikah sementara undangannya sudah Elfira terima. Bukankah seharusnya saat ini dia sedang berbulan madu bersama istrinya, tapi kenapa dia malah menyusul Elfira sampai ke sini.


"Kamu jangan bercanda Er, jangan pernah mempermainkan sebuah pernikahan." Elfira berkata dengan penuh penekanan. Ia tahu bagaimana sakitnya dikhianati oleh pasangan, terlebih itu adalah suami kita sendiri.


"Aku gak bercanda Fir, aku tidak pernah menikah dengan siapapun. Kalaupun aku harus menikah, ya itu harus sama kamu. Aku gak mau wanita yang lain," ucap Erlangga sungguh-sungguh.


Sesaat Elfira terharu mendengar perkataan Erlangga, namun cepat-cepat ia langsung menepisnya. Elfira tidak bisa mempercayai Erlangga begitu saja.

__ADS_1


"Tunggu di sini," ucap Elfira lalu ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya. Sesaat kemudian Elfira kembali lagi dengan membawa ponsel di tangannya lalu Elfira membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto undangan pernikahan Erlangga dan Jessica yang ia dapatkan dari seseorang seminggu yang lalu.


"Ini." Elfira menyodorkan ponselnya ke depan wajah Erlangga. "Ini foto undangan pernikahan kamu, seseorang mengirimkannya ke ponsel ku."


Erlangga mengambil ponsel itu dari tangan Elfira, ia membaca dengan seksama isi dari undangan tersebut.


"Jadi karena ini kamu pergi?" tanya Erlangga sambil mengembalikan ponsel Elfira. "Segitu gak percaya nya kamu sama aku sampe kamu menelan berita itu mentah-mentah tanpa mencari tahu kebenarannya dulu sama aku?"


Entah kenapa ada rasa kecewa di hati Erlangga saat wanita yang dicintainya lebih memilih mempercayai orang lain di bandingkan dirinya sendiri.


"Kamu tahu aku sangat mencintai kamu Fir, bahkan aku juga sudah melamar kamu."


"Tapi kamu sudah mengkhianati kepercayaan aku Er, kamu lupa kalau kamu sudah tergoda sama Jessica," sindir Elfira membuat Erlangga langsung bungkam.


...****************...


Erlangga sedang bersiap untuk pulang ke Jakarta, sebenarnya ia masih ingin berada di Sleman untuk memperjuangkan Elfira. Tapi salah satu kliennya mendadak memajukan jadwal meeting karena ia harus pergi ke luar negeri pada waktu rapat yang sudah mereka tentukan sebelumnya.


"Tidak bisa kah kamu ikut pulang bersama ku Fir?" tanya Erlangga penuh harap.


"Maaf Er, aku gak bisa. Aku masih mau berada di sini."


Jawaban Elfira membuat Erlangga patah semangat, ia sangat ingin membawa Elfira dan Anin. Apalagi sang ibu terus memaksanya membawa Elfira. Erlangga mengambil tangan Elfira lalu menggenggamnya.


"Percayalah padaku, aku tidak ada hubungan apapun dengan Jessica apalagi sampai menikah dengan perempuan itu. Undangan yang dikirimkan Jessica itu palsu, dia hanya ingin membuatmu marah dan menghancurkan hubungan kita." Erlangga menatap lekat mata Elfira, berharap wanita itu mempercayainya.


"Aku minta maaf karena sudah salah paham padamu, tapi jujur aku masih marah sama kamu mengingat kejadian waktu itu di kantor kamu." Elfira mengingat kembali kejadian waktu itu membuat Erlangga mendengus frustasi.


Ternyata sesulit ini membujuk perempuan yang sudah sakit hati. Erlangga menyesal karena sudah sempat tergoda oleh Jessica. Ia merasa sudah menjadi laki-laki paling bodoh karena sudah tergoda oleh rayuan setan.


"Aku kan sudah minta maaf Fir, masih saja di ingat," protes Erlangga.


Elfira menatap tajam Erlangga membuat nyali lelaki itu menciut. "Sampai mati pun akan selalu aku ingat, makanya jangan pernah mengkhianati kepercayaan ku."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2