
"Kamu sudah mendingan?" tanya Erlangga setelah melihat Elfira meneguk air mineral hingga tersisa setengah botol. "Kamu kenapa tadi, apa terjadi sesuatu sama kamu di sana?" tanya Erlangga sekali lagi.
"Aku gak apa-apa Er. Bisa kita pulang sekarang?"
"Tapi kita makan dulu ya, tadi kan di pesta kita tidak sempat makan apa-apa. Wajah kamu juga pucat banget itu," ajak Erlangga. Elfira pun mengangguk menyetujui ajakan dari Erlangga, selain karena tak enak jika harus menolak, Elfira juga merasa perutnya sangat lapar hingga tubuhnya terasa seperti tak bertenaga.
Erlangga mulai melajukan mobilnya dan mencari restoran terdekat. "Kita makan disini saja ya," ucap Erlangga saat mobilnya berhenti di parkiran sebuah rumah makan lesehan.
"Dimana pun aku gak masalah kok," balas Elfira tersenyum.
Erlangga dan Elfira turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah makan tersebut bersama-sama. Tanpa sadar tangan Erlangga menggenggam tangan Elfira hingga mereka sampai di tempat duduk lesehan yang masih kosong.
Seorang pramusaji menghampiri mereka dengan membawa buku menu dan buku catatan kecil untuk mencatat pesanan mereka.
"Selamat malam. Ini menunya dan silakan di pilih," ucap pramusaji tersebut sambil menyerahkan daftar menu kepada Erlangga dan Elfira.
"Saya pesan Gurame bakarnya satu dan jus jeruk nya satu," ucap Erlangga dan pramusaji itu mencatat pesanannya. "Kamu pesan apa Fir?" tanya Erlangga setelah menyebutkan pesanannya.
Elfira tampak bingung memilih, semua makanannya tampak lezat. Setelah melihat-lihat, akhirnya Elfira memutuskan memesan ayam bakar madu dan jus sirsak.
"Baik. Saya ulangi lagi pesanannya ya, gurame bakar satu, jus jeruk satu, ayam bakar madu satu, dan jus sirsak satu ya." Pramusaji itu membacakan pesanan Erlangga Elfira agar tak terjadi kesalahan.
Setelah memastikan pesanan mereka sudah benar, pramusaji itu membawa kembali daftar menu dan berlalu untuk menyerahkan daftar pesanannya kepada juru masak.
"Kamu beneran sudah tidak apa-apa kan?" tanya Erlangga setelah pramusaji tadi pergi.
Elfira tersenyum kepada Erlangga dan meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya sudah baik-baik saja. "Aku sudah tidak apa-apa. Terimakasih tadi kamu sudah khawatir padaku," ucapnya dengan tulus.
"Syukurlah kalau begitu, aku khawatir banget tadi waktu lihat wajah pucat kamu. Aku gak tau apa yang terjadi sama kamu tadi, tapi saran aku apapun masalah yang tengah kamu hadapi usahakan jangan di pendam sendiri. Kamu bisa membaginya dengan teman atau orang yang bisa kamu percaya," tutur Erlangga.
Obrolan mereka terhenti saat seorang pramusaji membawakan pesanan mereka. Setelah semua pesanan sudah ada di meja, mereka pun menyantap makanan tersebut. Tak ada lagi obrolan hingga mereka selesai makan.
__ADS_1
...****************...
"Makasih ya Er, sudah mengantarkan aku pulang," ucap Elfira setelah mobil Erlangga sampai di depan rumahnya.
"Sama-sama, masuk gih sudah malam." Erlangga meminta Elfira untuk masuk ke dalam rumahnya sebelum lelaki itu pergi. Ia ingin memastikan kalau wanita itu masuk ke dalam rumah dengan selamat.
"Ya sudah, aku masuk ya. Kamu hati-hati nanti di jalan." Elfira berjalan menuju rumahnya lalu membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ia melambaikan tangannya ke arah Erlangga, setelah itu mobil Erlangga pun melaju meninggalkan rumah Elfira.
Di dalam kamar Elfira merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Ia teringat tentang pertemuannya tadi dengan Jessica. Elfira benar-benar ketakutan saat melihat wanita itu.
"Bagaimana kalau dia berbuat jahat lagi padaku seperti dulu? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Elfira.
Elfira terus terpikirkan bagaimana caranya dia melawan rasa takutnya saat bertemu dengan Jessica nanti. Tubuhnya langsung gemetar dan rasa trauma itu masih ada. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang dirinya, beberapa kali ia menguap sampai matanya berair. Karena sudah tak tahan lagi menahan kantuk, akhirnya Elfira pun memejamkan matanya dan terlarut ke alam mimpi.
Sementara itu di tempat lain, Erlangga baru saja sampai di rumahnya. Saat membuka pintu, Erlangga dikejutkan dengan penampakan sosok ibunya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dengan memakai piyama berwarna putih dan memakai masker di wajahnya. Hampir saja Erlangga berteriak kalau saja sang ibu tidak bersuara. Untung saja jantungnya buatan Tuhan, jadi masih aman. Jika itu buatan manusia entah sudah seperti apa kondisi jantungnya saat ini.
"Mama. Buat terkejut saja, ngapain mama berpenampilan begini. Erlangga pikir tadi mama hantu," gerutu Erlangga sambil berjalan menuju sofa. Ia harus mencari tempat duduk karena saat ini kakinya terasa lemas dan gemetar.
"Ya habisnya penampilan mama begitu," ucapnya sambil memperhatikan Wulan dari atas sampai bawah. Benar-benar menyeramkan.
"Mama itu lagi maskeran tau, biarpun sudah tua tapi penampilan tidak boleh kalah dengan yang masih muda."
"Yaelah ma, sudah tua juga. Gak akan ada lagi laki-laki yang mau melirik," gumam Daffa yang masih bisa di dengar oleh Wulan.
"Apa kamu bilang, kamu ngatain mama gak laku gitu!" omel Wulan tak terima.
"Hehe. Ampun ma?" teriak Erlangga yang kini sudah melarikan diri ke kamarnya. Tak ingin mendapat amukan dari sang ibu.
"Dasar perjaka tua," ejek Wulan setelah anaknya berhasil kabur.
...****************...
__ADS_1
"Wo. Tolong kamu cari tau apa yang terjadi di Santika Hotel Dyandra kemarin malam," perintah Erlangga kepada asistennya, Dewo.
"Memangnya ada kejadian apa boss?" tanya Dewo membuat Erlangga kesal.
"Kalau saya tau, saya tidak akan meminta kamu untuk mencari tau, Dewo!" omel Erlangga. "Saya mau kamu periksa CCTV yang ada di aula tersebut," lanjutnya lagi.
"Memangnya bos mau mencari apa di sana?"
"Kamu mau terus-terusan nanya atau melaksanakan perintah saya, atau kamu mau surat pemecatan kamu ada di meja kerja kamu sekarang juga," ancam Erlangga dengan penuh penekanan, membuat Dewo merinding seketika.
"Iya. Iya bos, saya laksanakan," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Erlangga. "Bos mah bebas, bisanya cuma ngancam. Saya ma apa atuh, cuma seorang jongos yang biasa di suruh-suruh," gerutunya namun masih bisa di dengar oleh Erlangga.
"Sepertinya kamu memang ingin di pecat ya."
"Hehe. Enggak bos, ampun. Saya laksanakan sekarang," ucap Dewo cengengesan lalu keluar dari ruangan Erlangga.
Hanya Dewo yang berani bersikap seperti itu dengan Erlangga, sedangkan karyawan yang lain langsung takut begitu melihat wajahnya. Jangankan untuk membantah perintahnya, untuk menatap matanya saja mereka tak ada yang berani. Meskipun begitu, mereka tetap betah bekerja di sana. Karena selain gaji yang besar, Erlangga juga tak akan segan-segan memberikan bonus jika mereka berhasil memenangkan tender dari perusahaan lain.
Tiga puluh menit kemudian, Dewo masuk kembali ke ruangan kerja Erlangga dan menyerahkan sebuah USB yang berisi rekaman CCTV yang diminta oleh bos nya itu.
"Ini bos, rekaman CCTV yang anda minta," ucap Dewo sambil menyerahkan USB tersebut.
"Terimakasih Dewo, kamu boleh kembali," balasnya tanpa melihat ke arah Dewo.
"Baik bos," ucap Dewo tanpa membantah.
Setelah Dewo keluar dari ruangannya, Erlangga pun mencolokkan USB tersebut ke laptop miliknya. Ia meng-klik file yang ada dan melihat isi videonya. Tangan Erlangga mengepal kuat ketika ia tau apa yang menyebabkan Elfira ketakutan hingga wajahnya memucat saat itu.
"Jadi ini penyebabnya, tapi siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Elfira, aku harus mencari tau," gumam Erlangga lalu menutup laptopnya.
...****************...
__ADS_1