
Tak terasa waktu terus berlalu, hari pernikahan Erlangga dengan Elfira tinggal menunggu 3 hari lagi. Semua persiapan sudah mencapai 95 persen, undangan juga sudah di sebarkan. Hanya tinggal menunggu hari akad dan resepsinya saja, dan itu semua dipersiapkan hanya dalam waktu satu minggu. Semua itu tak lepas dari kekuatan uang, Erlangga harus berani membayar mahal hanya untuk persiapan dalam waktu yang sesingkat itu.
"Bunda." Dengan raut wajah bangun tidur Anin mendatangi ibunya di dapur.
"Kenapa sayang? Duduk sini yuk." Elfira menghampiri anaknya lalu menuntunnya ke meja makan. "Anin mau sarapan sayang?"
Tampak Anin menggelengkan kepalanya, anak itu baru saja bangun tidur dan belum membersihkan diri. Ia merasa risih jika harus sarapan dengan keadaan belum mandi.
"Anin kangen ayah, Anin pengen ketemu sama ayah," celetuk Anin tiba-tiba.
Seketika Elfira menghentikan tangannya yang sedang mengaduk susu di gelas. Elfira sampai tertegun mendengar Anin yang tiba-tiba berucap kalau anak itu merindukan sang ayah. Memang benar Elfira sudah memberitahukan dimana mantan suaminya itu berada, bahkan ia juga sudah mengajak Anin untuk bertemu dengan Adam di penjara.
Awalnya memang anak itu menangis dan tak terima jika ayahnya sampai harus di tahan. Namun, setelah di beri pengertian akhirnya Anin bisa memahaminya. Sejak terakhir kali Anin menjenguk sang ayah, sudah sekitar lima bulanan dia tak pernah lagi bertemu dengan ayahnya.
"Kenapa Anin tiba-tiba ingin bertemu dengan ayah?" tanya Elfira dengan lembut.
"Tadi malam Anin mimpi ayah," jawab Anin dengan wajah sendu.
Elfira mendekati sang putri lalu memeluknya, "nanti siang kita jenguk ayah ya. Anin mau kan?"
Spontan Anin melepaskan pelukan ibunya dan dengan semangat menganggukkan kepalanya.
"Mau bunda."
"Kalau gitu sekarang Anin mandi gih, soalnya badan Anin bau acem," ledek Elfira sambil menutup hidungnya.
"Iih bunda. Anin gak bau," protesnya tak terima.
"Hehe. iya ... iya, anak bunda gak bau. Tapi walau gak bau, tetap harus mandi dong."
"Siap bunda," ucap Anin sambil memberi hormat lalu ia pun bergegas lari ke kamarnya untuk membersihkan diri. Elfira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang semakin hari semakin menggemaskan.
...****************...
Sesuai janjinya dengan Anin tadi pagi, siang ini Elfira mengajak anak itu untuk mengunjungi ayahnya. Anin tampak bersemangat, ia sampai berjalan melompat sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
Saat mereka sudah berada di depan pintu rumah, tampak Erlangga yang sudah berdiri di samping mobilnya.
"Om Elang!" teriak Anin begitu melihat lelaki itu. Ia pun berlari mendekati Erlangga yang kini sedang berjongkok lalu mengangkatnya ke dalam gendongannya.
"Kamu kok sudah di sini aja?"
"Aku sengaja jemput kalian, sekalian biar aku antar kalian ke tempat Adam," ucap Erlangga sambil tersenyum penuh arti.
Elfira memicingkan matanya menatap Erlangga curiga. Padahal tadi pagi saat Elfira meminta ijin ingin menjenguk Adam, Erlangga tak mengatakan apapun atau ingin mengantar. Namun, sekarang lelaki itu justru sudah ada di depan rumahnya.
"Kamu cemburu?" tuduh Elfira.
"Nggak, kata siapa?"
"Ck, tanpa di bilang pun aku tau kamu cemburu."
"Sok tau kamu, mana ada aku cemburu. Sudah ah ayo, kasihan Anin," elak Erlangga lalu beralih pada Anin. "Pasti kamu sudah tidak sabar kan mau ketemu ayah?"
"Iya om, Anin sudah kangen banget sama ayah," balas Anin dengan ceria.
...****************...
"Ayah!" seru Anin memanggil sang ayah begitu petugas polisi datang bersama dengan Adam.
"Anin! Ayah kangen banget sama Anin." Adam memeluk putrinya dengan erat. Sudah beberapa bulan ia tak bertemu dengan putrinya.
"Anin juga kangen sama ayah. Ayah kapan pulangnya?"
"Doa kan saja supaya ayah bisa pulang secepatnya."
"Ayah. Ayah tau gak, sebentar lagi bunda sama om Elang mau nikah loh," ceplos Anin membuat Adam terkejut, begitu juga dengan Elfira. Ia tak menyangka jika anaknya akan memberitahukan tentang pernikahannya.
Adam menatap Elfira sekilas lalu kembali menatap Anin yang tampak bahagia berada dalam pelukan sang ayah.
"Bunda mau menikah?" ulang Adam.
__ADS_1
"Iya ayah, ayah nanti datang kan di acara nikahnya bunda?"
Adam tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Anin padanya. Ada rasa sakit di hatinya saat tahu mantan istri yang masih sangat dicintainya itu akan menikah dan menjadi milik pria lain, dan itu adalah mantan bos nya sendiri. Kini Adam sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan Elfira kembali, cintanya terhadap mantan istrinya harus pupus dan harus ia kubur dalam-dalam. Karena sudah terlalu banyak luka yang ia berikan kepada Elfira, Adam tak berani menuntut banyak hal kepada wanita yang kini sedang duduk di hadapannya itu.
"Apa benar dengan yang dikatakan Anin, Fir?" tanya Adam hanya untuk memastikan.
"Iya mas, tiga hari lagi aku akan menikah. Aku ke sini selain untuk mengantarkan Anin, juga ingin memberitahukan mu tentang pernikahanku. Tapi ternyata Anin sudah lebih dulu yang memberitahu."
Wajah Adam tampak sendu, hatinya benar-benar sakit. Baru Adam sadari ternyata seperti ini rasanya sakit hati saat mengetahui orang yang kita cintai telah memilih orang lain. Meskipun begitu, Adam tetap berusaha untuk tetap tersenyum. Sekarang Adam harus bisa belajar ikhlas. Ikhlas melepaskan Elfira bersama lelaki lain. Karena hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya terhadap mantan istrinya itu.
"Selamat ya Fir, semoga pernikahanmu langgeng terus sampai maut memisahkan dan semoga kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan. Maafkan atas kesalahanku selama ini yang tak pernah membuatmu bahagia." Ada rasa sakit di setiap doa tulus yang Adam ucapkan.
"Terimakasih mas. Doa yang sama buat kamu, semoga kamu selalu bahagia. Dan, boleh aku kasih saran buat kamu?"
"Apa itu?"
"Cintailah Sandra mas, dia sebenarnya wanita yang baik dan aku lihat dia juga sangat mencintai kamu," ucap Elfira.
Adam tertunduk saat mantan istrinya mengatakan tentang Sandra. Sejak ia masuk penjara, belum pernah sekalipun Adam bertemu dengan wanita itu. Adam juga merasa bersalah dengan istri sirihnya, selama ini ia juga sudah banyak menyakiti hati Sandra. Mungkin setelah ia bebas nanti, hal pertama yang akan Adam lakukan adalah meminta maaf pada Sandra.
"Jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kalinya mas, belajarlah untuk mencintai dia agar kamu juga bisa mendapatkan kebahagiaan," tambah Elfira.
"Kamu benar Fir, selama ini aku terlalu jahat sama kalian. Aku menyesal, aku menyesal sudah menyakiti kalian."
"Ayah nangis?" tanya Anin saat melihat airmata yang mengalir dari sudut mata sang ayah.
"Ayah nangis karena bahagia nak, ayah bahagia memiliki Anin. Anak soleha nya ayah," lirih Adam sambil menciumi wajah sang anak hingga membuat anak itu kegelian.
"Haha. Sudah ayah, geli. Haha," seru Anin dalam tawanya.
Elfira tersenyum melihat pemandangan itu, sudah lama sekali ia tak melihat Adam bercanda dan tertawa lepas bersama anaknya. Jika saja Adam tak membuat kesalahan, mungkin saja saat ini mereka masih menjadi sebuah keluarga yang utuh yang akan sama-sama membesarkan Anin dengan penuh cinta.
Namun, kenyataannya tak sesuai dengan harapan. Kini mereka harus memilih jalan hidup masing-masing. Meskipun begitu, Elfira tetap bahagia. Karena sekarang ia sudah memiliki Erlangga yang juga sangat mencintainya. Elfira harus tetap bersyukur dengan apa yang sudah ia dapatkan.
...****************...
__ADS_1