Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 60 (S1 end)


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tak terasa pernikahan Elfira dan Erlangga sudah berjalan satu tahun. Kini Elfira sedang mengandung anak dari Erlangga. Keluarga kecil itu sangat bahagia dan tak sabar menanti kelahiran anggota keluarga baru. Apalagi Anin, anak itu yang paling tak sabaran menunggu kelahiran adiknya. Usia Anin pun sudah menginjak lima tahun, dan dia juga sudah mulai masuk sekolah TK.


Usia kandungan Elfira sudah menginjak sembilan bulan dan tinggal menunggu hari sampai anak itu lahir. Erlangga sudah mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk anaknya yang akan lahir sebentar lagi. Sejak kehamilan Elfira, Erlangga berubah menjadi suami siaga yang siap dan selalu ada saat sang istri membutuhkan bantuannya.


"Sayang, anak kita cowok apa cewek ya?" tanya Erlangga sambil mengelus perut buncit Elfira.


"Gak tau mas, kan setiap kali di USG gak pernah kelihatan. Selalu di tutupi, mungkin anak kita sengaja mau ngasih surprise buat kita nanti," canda Elfira membuat suaminya tersenyum.


"Mau cowok atau cewek yang penting anak kalian lahir dengan selamat dan sehat," celetuk Wulan. Wanita paruh baya itu baru saja pulang dari minimarket bersama Anin.


Sejak menikah, Elfira dan Anin ikut tinggal di rumah orang tua Erlangga. Mereka sengaja tinggal di sana agar Wulan tidak merasa kesepian. Sementara rumah Elfira di tempati oleh Bi Asih. Elfira sengaja meminta ART nya tetap tinggal di sana agar rumah itu ada yang menjaga. Dan untuk usaha kateringnya sudah ia serahkan kepada Mbak Siti sebagai penanggungjawabnya. Elfira hanya akan datang sesekali untuk memantau.


Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu, karena hari minggu jadi mereka semua berkumpul di rumah. Untuk Erlangga sendiri, ia mulai mengurangi jam kerjanya agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya, apa lagi sejak Elfira di nyatakan hamil.


"Aduh duh, ssst. Perutku sakit mas." Tiba-tiba saja Elfira mengeluhkan sakit perut. Wanita itu sampai meringis menahan sakit yang luar biasa dari perutnya.


Erlangga dan Wulan pun langsung panik saat melihat Elfira kesakitan. Mereka sampai bingung dan tak tahu harus berbuat apa.


"Aduh...," rintih Elfira sekali lagi saat merasakan perutnya yang semakin sakit.


"Mas ... sakit ... "


Bugh


"Kamu kenapa diem aja sih Lang, itu istri kamu kayaknya mau melahirkan, cepat bawa ke rumah sakit sekarang," omel Wulan saat melihat Erlangga yang hanya diam saja saat melihat istrinya kesakitan. Wanita tua itu sampai memukul lengan anaknya, tak peduli jika anaknya itu protes karena kesakitan.


Mendengar perkataan Wulan, Erlangga pun semakin panik. Tanpa pikir panjang, Erlangga langsung menggendong istrinya dan membawanya ke mobil.


"Ma, Erlangga duluan ke rumah sakit ya. Kasihan Elfira sudah sangat kesakitan. Nanti mama nyusul sama Anin sekalian tolong bawain perlengkapan bayinya sama pakaian Elfira, sudah Erlang siapkan semua di dalam kamar!" teriaknya sambil berlari menuju garasi.


Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman di dalam mobil, Erlangga pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


...****************...


Di depan ruang bersalin, Erlangga berjalan mondar-mandir. Ia sedang menunggu istrinya melahirkan. Selang beberapa waktu, Wulan pun datang bersama Anin.


"Nyonya, ini perlengkapannya sudah semua. Mau di letakkan dimana?" tanya Sapto, supir keluarga mereka yang membawakan keperluan Elfira dan anaknya yang akan lahir.


"Letakkan saja di sana," tunjuk Wulan pada kursi tunggu dekat ruang bersalin.

__ADS_1


Sapto pun meletakkannya sesuai perintah, setelah itu ia pamit untuk menunggu di luar. Sementara itu, Erlangga masih merasakan cemas. Melihat itu, Wulan pun menjadi tak tega. Ia juga ikut khawatir dengan keadaan menantunya di dalam sana.


Pintu ruangan bersalin terbuka, seorang dokter kandungan yang menangani Elfira keluar dari sana.


"Pak Erlangga!" panggil dokter tersebut.


"Iya dok." Erlangga pun segera menghampirinya.


"Silahkan ikut kami ke dalam, istri anda ingin melahirkan dengan ditemani suaminya," ujar dokter tersebut dengan ramah.


Erlangga pun mengikuti dokter kandungan itu ke tempat Elfira. Sampai di dalam Erlangga melihat istrinya yang sedang terbaring kesakitan. Ia mendekati sang istri untuk memberikannya semangat. Sebelum itu, Erlangga sudah memakai pakaian steril terlebih dahulu.


"Sayang, semangat ya. Kamu pasti bisa," bisiknya tepat di telinga sang istri. Erlangga menggenggam tangan Elfira untuk memberikannya kekuatan. Berkali-kali Erlangga menyapu keringat yang membasahi kening sang istri. Tak lama dokter kembali memeriksa keadaan Elfira.


"Baik Bu, pembukaan sudah lengkap ya," ucap dokter tersebut.


Elfira di arahkan untuk menarik dan membuang nafasnya secara berulang lalu saat jalan lahir mulai terbuka, Elfira pun diminta untuk mengejan.


'Hufh hufh hufh'


'Eengggh'


Dokter terus memberikan arahan kepada Elfira, begitu juga dengan Erlangga yang selalu membisikkan kata-kata sayangnya.


Lelaki itu sempat menitikkan airmata saat melihat istrinya yang berjuang melahirkan buah hati mereka. Dalam hati Erlangga berdoa kepada Allah agar anaknya dapat lahir dengan selamat, begitu juga dengan sang istri. Erlangga menciumi kening Elfira dan memeluknya dari samping. Tak dihiraukan lagi rasa sakit di lengannya yang terluka akibat tergores oleh kuku Elfira saat istrinya sedang mengejan tadi.


Beberapa saat kemudian ...


Oek oek oek


Terdengar suara tangisan bayi yang menggema di seluruh ruangan. Semua orang yang berada di dalam tampak bahagia dan mengucapkan syukur, akhirnya anak dalam kandungan Elfira pun lahir dengan selamat.


"Wah, jagoan nih. Selamat ya pak, Bu. Anak kalian laki-laki, tampan sekali," puji sang dokter.


Setelah itu, bayi Elfira dibawa oleh salah satu perawat untuk dibersihkan.


Elfira tampak tersenyum dan mengucap syukur dalam hati meski dengan nafas yang terengah-engah. Tubuhnya terasa sangat lemas, akhirnya perjuangannya melahirkan sang anak tak sia-sia.


Tak beda jauh dengan Elfira, Erlangga pun tampak sangat bahagia melihat kelahiran anaknya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, terimakasih," ucap Erlangga sambil terus menciumi wajah sang istri.


Tak lama kemudian, perawat yang membawa anak Elfira tadi kembali dengan membawa bayi dalam gendongannya. Bayi itu pun diserahkan kepada Erlangga untuk di azani.


Erlangga pun menggendongnya dengan hati-hati. Karena ini pertama kalinya ia menggendong bayi, bahkan tangannya sampai gemetaran. Erlangga mendekatkan bibirnya ke telinga sang anak lalu mengazaninya.


Setelah di azani, Erlangga mencium anaknya dengan lembut lalu mendekatkannya kepada Elfira agar istrinya juga bisa mencium anaknya. Setelah itu Erlangga menyerahkan kembali anaknya kepada perawat tadi agar bisa di bawa kembali ke ruangan khusus bayi.


Sungguh kebahagiaan yang sangat besar buat Erlangga dan Elfira saat melihat anak mereka yang lahir dalam kondisi sempurna dan sehat. Bayi laki-laki yang sangat tampan, mengikuti wajah sang ayah yang juga tampan.


...****************...


"Halo adek bayi, selamat datang. Ini kakak Anin yang paling cantik," sapa Anin kepada adiknya yang sedang tidur di samping Elfira.


Sudah dua hari Elfira di rawat setelah melahirkan, jika tak ada kendala maka besok siang Elfira dan bayinya sudah bisa pulang ke rumah. Rona bahagia tampak dari wajah semua orang yang ada di sana, apalagi saat melihat keceriaan Anin yang sedang menyapa adiknya, bahkan bayi berumur dua hari itu tersenyum meski matanya terpejam mendengar setiap ocehan yang di lontarkan sang kakak.


"Bunda, nama adik bayinya siapa?" tanya Anin tiba-tiba. Padahal sudah sejak tadi ia bermain dengan adiknya tapi baru sekarang ia menanyakan nama adiknya.


"Hmm, siapa ya. Bunda belum kasih nama buat adik bayinya. Kakak Anin mau kasih nama buat adik tidak?"


"Boleh?" tanya Anin meminta persetujuan.


"Boleh dong," sahut Erlangga yang kini sedang berdiri di belakang Anin.


Anin pun mendongak menatap ayah sambungnya dengan mata yang berbinar.


"Hmm, apa ya." Anin tampak berpikir sejenak, kemudian ia tersenyum saat mendapatkan nama yang bagus untuk adiknya. "Anin mau kasih nama Kenan, boleh kan Pa?"


"Nama yang bagus sayang," puji Erlangga sambil mengelus puncak kepala Anin dengan sayang.


"Kenan Adiputra Wijaya, welcome to the world sayang," ujar Erlangga menyebutkan nama lengkap sang anak lalu mencium pipi Kenan.


Bayi itu tersenyum, sepertinya ia sangat menyukai nama yang diberikan kepadanya.


Akhirnya, mereka bisa merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Hadirnya anggota baru dalam keluarga mereka membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah berkali-kali lipat. Kini, tugas Elfira dan Erlangga pun ikut bertambah. Menjadi orang tua yang baik dan membesarkan anak-anak mereka serta mendidiknya hingga menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan juga banyak orang.


Semoga kebahagiaan akan selalu menyertai mereka selamanya.


...****************...

__ADS_1


Season 1 End.


__ADS_2