Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
Bab 20 Menjenguk Tasya


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Elfira sedang bersiap. Hari ini dia ada janji dengan Bianca, tadi malam mereka saling berkirim pesan. Rencananya hari ini Elfira ingin menjenguk Tasya, adik Bianca.


"Bunda." panggil Anindya dari depan pintu kamar Elfira yang terbuka.


Elfira berbalik menatap anaknya dan meminta Anindya untuk masuk.


"Duduk sini," ajak Elfira sambil menepuk tepi kasur di sebelah, mempersilahkan Anindya untuk duduk disana. "Kenapa sayang?" Tanyanya setelah Anin duduk dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu.


Elfira mengelus lembut kepala Anin, menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga karena menutupi sebagian wajahnya.


"Anin kangen ayah, Bun." rengek Anin, Elfira sedikit terhenyak mendengar perkataan Anin.


"Kan kemarin baru ketemu, nak. Masa udah kangen lagi."


Anindya mengangkat kepalanya dan duduk tegak sambil menatap Elfira.


"Kenapa sih, ayah gak tinggal sama kita lagi, Bun."


Elfira menghela nafasnya, bingung bagaimana harus menjelaskan pada anak usia 4 tahun tentang apa yang dialami dalam keluarganya.


"Sayang, suatu saat nanti kamu pasti akan mengerti apa yang telah terjadi dengan ayah sama bunda. Tapi yang jelas saat ini, ayah tidak lagi bisa tinggal bersama kita." ucap Elfira lembut, memberi pengertian kepada sang putri.


Anindya menunduk, dia tak tau dan tak mengerti masalah apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Tapi satu hal yang Anin sadari, bahwa keluarga mereka tidak akan bisa sama lagi seperti dulu.


"Maafkan bunda ya sayang, maaf karena semua ini harus terjadi sama kamu."


"Gak apa-apa Bun." jawab Anin tak bersemangat. "Bunda mau pergi ya?" tanya Anin setelah menyadari jika ibunya sudah rapi dan seperti hendak pergi.

__ADS_1


"Iya, bunda mau jenguk temen bunda yang lagi sakit. Anin mau ikut?"


Anindya menggelengkan kepalanya, "Anin mau ke toko nenek Halimah aja, boleh?" pinta Anin dengan sorot mata penuh harap.


Elfira tersenyum karena merasa gemas dengan ekspresi anaknya.


"Pasti boleh dong sayang." ucap Elfira seraya mencubit gemas pipi chubby anaknya.


...****************...


"Maaf ya, aku telat." ucap Bianca ketika ia baru saja tiba dan duduk tepat dihadapan Elfira.


Mereka janjian bertemu di salah satu cafe yang tak jauh dari toko kue milik Halimah.


"Santai aja Bi, aku juga belum lama kok disini." jawab Elfira santai.


"Anak kamu gak ikut?" Tanya Bianca celingukan mencari Anin.


"Ooh. By the way kita mau makan dulu atau mau langsung ke rumah sakit."


"Kita langsung ke rumah sakit aja kali ya, tapi aku bayar minumanku dulu ya." ucap Elfira seraya beranjak menuju kasir.


Sejak Bianca datang ke rumah Elfira terakhir kali dan bertukar nomor kontak, mereka jadi lebih sering bertukar kabar melalui pesan. Dan tak jarang juga mereka saling bertelepon ataupun melakukan panggilan video.


Bianca juga sering mengobrol dengan Anindya saat sedang video call.


"Ini gak apa-apa aku jenguk adik kamu?" tanya Elfira saat mereka tiba di rumah sakit Permata Bunda, tempat Tasya, adiknya Bianca di rawat.

__ADS_1


"Gak apa-apa lah, ya udah yuk, cepetan jalannya." Bianca menarik tangan Elfira agar bisa cepat sampai di ruang rawat sang adik.


...****************...


Di dalam ruang ICU, terbaring seorang pasien yang dipasangi alat bantuan pernapasan. Tubuhnya terlihat kurus dan wajahnya pucat. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya alat-alat yang terpasang di tubuhnya yang membantunya untuk tetap bertahan hidup.


Elfira meneteskan airmatanya melihat keadaan adiknya Bianca. Sungguh ia tak tega, dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang sudah suaminya itu lakukan pada wanita sepolos Tasya. Elfira sangat membenci Adam sekarang. Lelaki seperti itu memang sangat tidak pantas untuk di pertahankan.


"Kenapa kondisi adik kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Elfira setelah ia berhasil menghapus jejak airmatanya.


Haah.


"Aku juga gak tau, Fir. Sudah hampir lima bulan Tasya terbaring disana sejak ia mencoba untuk bunuh diri. Untung saja waktu itu aku cepat membawanya ke rumah sakit, sehingga nyawanya masih dapat tertolong." Ucap Bianca sambil mengingat kejadian 5 bulan yang lalu.


"Tapi meskipun nyawanya dapat di selamatkan, Tasya malah tak sadarkan diri sampai sekarang. Aku gak tau apa yang sudah terjadi. Bahkan dokter juga sudah mengusahakan yang terbaik. Kita hanya bisa menunggu keajaiban datang dan membuat Tasya bisa sadar kembali."


"Kamu yang sabar ya, Bi." ucap Elfira memberi dukungan untuk Bianca. "Aku tau, kata-kataku ini tidak bisa banyak membantu. Tapi kamu harus yakin dan percaya, kalau adik kamu pasti akan segera sembuh. Kita masih punya Tuhan yang akan selalu mengabulkan apa saja yang kita minta pada-Nya. Termasuk kesembuhan adik kamu."


Bianca tersenyum mendengar kata-kata Elfira, tak salah dia menjadikan Elfira sebagai temannya. Wanita di sampingnya ini adalah wanita yang sangat baik.


"Makasih banyak ya Fir." ucap Bianca tulus.


Bianca ingat, saat pertama kali dia datang ke rumah Elfira, Bianca begitu arogan dan sampai berkata kasar pada Elfira. Namun, lihatlah sekarang, wanita ini begitu peduli dengan adiknya. Yang bahkan tak memiliki hubungan apapun dengannya.


Padahal dirinya pun sedang terluka, tapi Elfira masih mau peduli dan mau menyemangati orang lain. Elfira tak pernah mau menceritakan masalahnya pada orang lain. Dia selalu memendamnya sendiri.


Sungguh bodoh Adam yang telah menyakiti hati wanita sebaik Elfira. Bianca yakin, suatu saat nanti Adam akan menyesali perbuatannya, setelah dia benar-benar kehilangan wanita seperti Elfira.

__ADS_1


...****************...


bersambung.....


__ADS_2