Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 1


__ADS_3

Seorang gadis berlari di sebuah lorong rumah sakit, ia baru saja mendapat kabar jika adiknya mengalami kecelakaan hingga harus di rawat.


Dia adalah Anindya Pratiwi, putri dari Elfira Zahira yang menikah dengan Erlangga putra Wijaya. Anin yang kini sudah berusia 22 tahun, tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik pintar, ramah, dan periang, tapi sedikit galak. Namun begitu, Anin termasuk anak yang patuh pada kedua orang tuanya.


Meski begitu ia memiliki sifat penyayang, terutama pada adik satu-satunya, Kenan Adiputra Wijaya. Anin baru saja menyelesaikan kuliahnya dan sekarang ia bekerja di Pratama Group. Sebuah perusahaan fashion design yang terkenal di ibukota. Anin bekerja sebagai assisten fashion designer, dan baru satu bulan dia bekerja di sana.


Anin baru saja selesai bekerja saat dia di hubungi oleh seorang perawat yang mengatakan kalau adiknya sedang berada di rumah sakit. Anin pun bergegas pergi ke sana untuk melihat keadaan Kenan, dan di sinilah Anin sekarang. Berdiri sambil berkacak pinggang tepat di hadapan sang adik yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Setelah mendapat pengobatan dari ruang IGD, Kenan langsung di bawa ke ruang perawatan. Remaja 17 tahun itu harus di rawat beberapa hari karena tangan dan kakinya mengalami luka yang cukup parah, tapi tidak sampai patah.


Kenan sengaja meminta perawat untuk menghubungi kakaknya dari pada kedua orangtuanya. Meskipun dia akan mendapat omelan dari sang kakak, tapi itu lebih baik dari pada ibu atau ayahnya yang marah.


"Kamu ya, kan sudah sering kakak bilangin. Jangan suka kebut-kebutan kalo naik motor, begini kan jadinya. Kenapa sih kamu ngeyel banget di bilangin? Kalo sudah begini kan kakak juga yang repot," omel Anin.


Sementara Kenan hanya bisa meringis mendengar omelan kakaknya yang panjang bak kereta api. Ingin protes pun percuma, karena kakaknya tak akan memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.


"Maaf kak, bukan Kenan sengaja ingin ngebut. Tapi ..."


"Tapi apa?" potong Anin cepat sebelum Kenan sempat bicara. "Kamu ya, selalu saja banyak alasan. Kalau kayak gini, kakak tidak bisa bantu kamu. Papa dan bunda harus tahu keadaan kamu sekarang," lanjutnya.


Anin pun merogoh tas kerjanya dan mencari ponselnya yang ia simpan di sana. Ia akan menghubungi kedua orang tuanya untuk memberi kabar kepada mereka tentang keadaan Kenan sekarang.


Kenan yang melihat kakaknya memegang ponsel pun menjadi panik. Ia pun mencoba untuk mencegah sang kakak agar tidak menghubungi orang tua mereka.


"Eh, kakak mau menghubungi siapa?" tanya Kenan.


"Ya papa sama bunda lah, siapa lagi?"


"Aduh, jangan dong kak. Nanti kalo mereka marah gimana?" Kenan terlihat panik dan takut.


"Itu urusan kamu, siapa suruh ugal-ugalan di jalan," ketus Anin yang merasa kesal dengan adiknya.


"Please kak. Jangan beritahu mereka ya." Kenan memohon sambil menangkupkan kedua tangannya.


Anin menatap adiknya tanpa ekspresi, ia sudah biasa melihat tingkah adiknya yang seperti ini. Jika sudah tersudut, maka Kenan akan terus memohon pada dirinya dan menatapnya dengan tatapan mengiba. Biasanya Anin akan selalu luluh dengan sikap adiknya tersebut. Tapi, tidak untuk saat ini.


"Maaf Ken, untuk kali ini kakak tidak bisa membela kamu lagi," tolak Anin. Ia pun kembali menghubungi kedua orang tuanya dan menceritakan keadaan Kenan saat ini.


Kenan hanya bisa pasrah, kali ini dia pasti akan mendapat omelan lagi. Bukan hanya itu saja, bahkan mungkin dia akan kena hukuman dari ayahnya.


"Ah, kakak gak asyik," rajuk Kenan lalu tidur membelakangi Anin.

__ADS_1


Sementara Anin tak peduli, dia berjalan menuju sofa yang ada di ruang perawatan itu sambil menunggu orang tuanya datang.


...****************...


Kenan Adiputra Wijaya, remaja berusia 17 tahun yang sekarang sudah menduduki kelas XI SMA. Kenan termasuk siswa populer di sekolahnya. Karena selain tampan, Kenan termasuk siswa terpintar di kelas. Kenan terkenal dengan siswa yang suka membuat onar di sekolah hingga membuat para guru geleng kepala melihatnya. Tak jarang dia dan teman-temannya mendapat hukuman seperti berdiri di lapangan atau membersihkan toilet. Meski begitu, Kenan tetap menjadi idola di kalangan siswi. Mulai dari adik kelas sampai kakak kelas menyukai dirinya.


"Woi Ken!" panggil Dimas, salah satu sahabatnya.


"Apa?" balas Kenan cuek.


"Nanti pulang sekolah kita ke tempat biasa yok."


"Ngapain?"


"Biasalah, si Ando tuh nyariin lo. Katanya dia mau ngajak lo balapan."


"Ck, lagi males gue."


"Ayo lah Ken. Hadiahnya lumayan gede loh," bujuk Dimas.


"Tapi gue lagi gak mood, Dim. Lo aja deh sama temen-temen yang lain," tolak Ken.


Dimas sangat menyayangkan penolakan dari Ken, dia pun tak putus asa, Dimas mencoba untuk membujuk Ken sekali lagi.


"Ayo lah Ken."


"Ck, sorry Dim. Gue gak bisa," tolak Kenan sekali lagi lalu pergi meninggalkan Dimas yang mematung di tempatnya.


Dimas hanya bisa menghela nafasnya, ternyata sulit untuk membujuk sahabatnya itu jika sudah membuat keputusan. Ia pun pergi mencari temannya yang lain.


Sore hari saat Ken sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah, Ken merasa seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Awalnya Ken pikir hanya kebetulan jalan mereka yang searah. Tapi, kemana pun Ken mengendarai motornya, penguntit di belakangnya selalu mengikutinya.


Ken pun menambah kecepatan motornya dan mencoba mencari jalan pintas. Saat penguntit di belakang Ken tak terlihat, Ken membelokkan motornya ke gang kecil. akhirnya Ken dapat bernafas lega karena penguntit tadi tak lagi mengikutinya. Namun, sepertinya nasib buruk sedang menghampirinya. Ken tak melihat ada kucing yang tiba-tiba melintas di depannya sehingga ia pun membelokkan motornya demi menghindari kucing tersebut. Karena gerakan yang tiba-tiba itu, Ken pun terjatuh akibat tidak seimbang. Motornya jatuh ke tanah hingga terseret agak jauh ke depan.


Beberapa warga yang melihat kejadian itu pun langsung berlarian untuk menolong Ken. Beberapa dari mereka membantu Ken untuk berdiri dan membawanya ke rumah sakit. Karena luka di kaki dan tangannya yang cukup parah.


...****************...


"Ini akibatnya kalau anak tidak pernah mau mendengarkan nasihat orang tua. Sudah di bilang jangan kebut-kebutan masih saja di lakukan. Papa harus bagaimana lagi menasihati kamu Ken, harusnya kamu bisa contoh kakak kamu yang selalu patuh sama papa dan bunda."

__ADS_1


"Pa," tegur Elfira saat Erlangga mulai membanding-bandingkan antara Anin dan Ken.


Begitu mendapat kabar kalau Ken masuk rumah sakit, Erlangga dan Elfira langsung pergi ke rumah sakit yang di sebutkan oleh Anin. Baru saja Erlangga masuk ke ruangan anaknya, lelaki itu langsung memarahi Ken habis-habisan.


Sementara Ken hanya bisa tertunduk saat mendapat omelan dari papanya. Ken sendiri tidak terlalu mempermasalahkan jika papa nya itu sudah mengomel dan Ken juga tidak pernah memasukkannya ke dalam hati. Tapi, beda ceritanya kalau dia sudah mulai dibanding-bandingkan. Ken paling tidak suka dengan hal itu. Elfira dan Anin pun paham bagaimana perasaan Ken. Untuk itulah Elfira menegur suaminya agar suaminya itu berhenti membanding-bandingkan anak-anaknya.


"Sudah Pa, kasihan Ken. Biarkan dia istirahat dulu," ujar Elfira.


Erlangga pun merasa kesal karena istrinya terlalu membela anaknya.


"Itu lah bunda, selalu saja membela anak yang salah makanya Kenan jadi manja dan sulit di atur seperti itu," omel Erlangga.


Ken semakin menunduk dalam ketika melihat bundanya di marahi karena membela dirinya. Remaja itu merasa bersalah kepada ibunya.


"Bukan begitu pa, maksud bunda ..."


"Alah sudah lah, percuma papa ngomel panjang lebar, toh anak ini tidak akan pernah jera dan akan selalu mengulanginya," potong Erlangga sebelum Elfira sempat berucap, kemudian Erlangga beralih menatap Kenan. "Dan untuk kamu Kenan, mulai hari ini kamu tidak papa ijinkan untuk naik motor lagi. Kemana pun kamu pergi harus di antar oleh supir dan papa mau kamu laporkan sama papa kemanapun kamu pergi. Paham!"


Tentu saja Ken terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin seorang Ken yang selama ini hobi melakukan balap motor tiba-tiba tidak boleh mengendarai motor lagi. Dan yang lebih parahnya, dia harus di antar supir kemana pun.


"Yang benar aja dong Pa, masa Ken harus di antar supir terus sih," protes Ken.


"Masih untung kamu cuma papa suruh di antar supir, atau kamu mau uang jajan kamu papa potong dan kamu berangkat ke sekolah naik angkot."


Ken tertunduk mendengar ancaman papa nya, dia yang dari kecil kemana-mana selalu naik mobil bagus, tiba-tiba di suruh naik angkot. Oh tentu saja Ken tidak mau, lebih baik dia di antar supir dari pada harus himpit-himpitan di dalam angkot yang penuh dengan orang. Belum lagi nanti dengan bau keringat yang bercampur dengan asap kendaraan. Membayangkannya saja Ken sudah mual, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.


"Ya udah deh Pa, Ken mau di antar supir aja," ujarnya pasrah.


"Bagus kalau begitu, papa mau mulai hari ini kamu rubah kebiasaan kamu yang suka kebut-kebutan itu, apalagi balapan liar yang sering kamu lakukan dengan teman-teman kamu."


Ken kembali terkejut, bagaimana papa nya bisa tahu kalau dia suka balapan liar. Selama ini dia tidak pernah mengatakannya kepada siapapun termasuk ibu dan kakaknya.


"Kenapa? Apa kamu pikir papa tidak tahu apa saja yang sudah kamu lakukan di luar sana. Papa tahu semuanya Ken, meskipun papa terlihat cuek tapi papa selalu memperhatikan kebiasaan anak-anak papa."


Lagi-lagi Ken hanya tertunduk, ia tak pernah bisa membantah dengan semua keputusan ayahnya. Erlangga selalu bersikap tegas jika anak-anaknya sudah melakukan kesalahan.


Setelah puas mengomeli sang putra, Erlangga pun mengajak istrinya untuk pulang. Karena hari sudah semakin sore. Kenan tetap harus di rawat di rumah sakit dan Anin yang akan menjaganya malam ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2