Menikah Dengan Boss Mantan Suami

Menikah Dengan Boss Mantan Suami
S2 Bab 9


__ADS_3

Pagi ini Kenan sudah di perbolehkan menggunakan motornya kembali, ia pun sangat senang karena tak perlu lagi di antar oleh supir dan terus-terusan di ejek oleh teman-temannya.


"Ken berangkat dulu ya Pa, Bun," pamitnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Jangan kebut-kebutan lagi, atau papa tidak akan pernah mengijinkan kamu menggunakan motor lagi selamanya," ancam Erlangga.


"Iya Pa."


"Anin juga berangkat Pa, Bun." Anin pun melakukan hal yang sama seperti Kenan, mencium tangan kedua orang tuanya.


"Mau papa antar kak?"


"Gak usah Pa, Anin naik bis aja," tolak Anin seperti biasanya.


"Kamu kenapa gak pernah mau di antar sih kak?" tanya Elfira, ia penasaran karena anak pertamanya itu selalu menolak jika ingin di antar ke kantor.


"Nggak apa-apa Bun, Anin lebih suka naik bis."


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya."


"Iya Pa. Anin berangkat dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sesampainya di depan, Anin melihat Kenan yang masih belum berangkat ke sekolah. Anak itu masih setia duduk di atas motornya sambil bermain ponsel, entah siapa yang sedang di hubunginya.


"Belum berangkat Ken?"


"Eh, kakak. Ini mau berangkat kok, mau bareng gak?" Kenan menawarkan tumpangannya kepada sang kakak.


"Nggak deh, nanti kamu bisa telat kalo nganterin kakak dulu. Lagian kita kan gak searah."


Kenan melirik arloji di tangannya, masih ada waktu 30 menit sebelum masuk sekolah.


"Masih sempat kok kak, udah ayo naik. Dari pada naik bis, mending sama aku aja. Cepat sampe nya, yuk." Sekali lagi Kenan menawarkan tumpangannya.


Anin berpikir sejenak, memang benar apa yang di katakan adiknya itu. Lagi pula Anin masih ada pekerjaan yang masih belum selesai di kantornya dan harus di selesaikan pagi ini. Jika Anin tetap bersikeras berangkat dengan naik bis maka bisa di pastikan pekerjaannya tidak akan selesai.


"Ya udah deh, yuk." Akhirnya Anin memilih untuk di bonceng oleh Kenan.


"Pake dulu helm nya."


Anin pun memakai helm yang di berikan Kenan. Setelah memastikan kakaknya duduk dengan nyaman di boncengannya, Kenan mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Meskipun dia suka kebut-kebutan, tapi Kenan tetap akan hati-hati jika sedang membonceng kakaknya. Kenan tak ingin membuat saudaranya itu dalam bahaya.


...****************...


"Udah sampe kak," ucap Kenan setelah menghentikan motornya di depan sebuah gedung bertingkat tempat Anin bekerja. Ia pun melepaskan helm nya lalu mendongak melihat ujung gedung yang tingginya mencapai 20 lantai.


"Gila! Kantor kakak tinggi banget, apa gak gamang kakak di dalam sana?"


"Apa sih Ken, kayak gak pernah lihat gedung bertingkat aja. Lagian itu bukan kantor kakak, tapi kantor orang yang kebetulan kakak bekerja di sana."


"Ya elah kak, serius banget sih. Lagian kenapa sih kakak ngotot banget pengen kerja di sini, padahal kan kantor papa siap menerima kakak kapan aja dan mau di posisi apapun pasti akan di urus sama papa."


Memang benar apa yang dikatakan Kenan, jika Anin mau dia bisa saja mengatakan pada ayah sambungnya itu. Sudah pasti Erlangga akan langsung mengurusnya dan bisa di pastikan kalau dia akan mendapatkan posisi tertinggi. Tapi bukan itu yang Anin inginkan, dia ingin bekerja sesuai keahliannya dan sukses dengan kemampuannya sendiri.

__ADS_1


"Suatu saat nanti kamu pasti bakal ngerti kenapa kakak lebih memilih bekerja di tempat lain dari pada di kantor papa," sahut Anin membuat Kenan berdecak. Anin melirik jam di tangannya lalu menyuruh Kenan untuk segera berangkat ke sekolah.


"Udah jam segini, buruan ke sekolah sana. Nanti kamu bisa telat loh."


"Iya iya, ini juga mau berangkat kok." Kenan pun memakai helmnya dan menghidupkan mesin motornya.


"Ken berangkat ya kak," pamitnya sambil mengacak-acak puncak kepala Anin hingga membuat kakaknya itu kesal karena rambutnya berantakan.


"Ish, KENAN!" teriaknya kesal.


Sementara yang di teriakin malah cengengesan sambil berlalu meninggalkan Anin.


Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dengan tangan yang terkepal dan perasaan marah. Orang itu memperhatikan dari dalam mobilnya, mulai sejak mereka tiba sampai Kenan pergi pun orang itu masih tetap memantau.


"Ternyata dia sudah punya pacar. Anak SMA pula, rendah banget seleranya," gumam orang itu yang tak lain adalah Dirga.


Dirga merasa cemburu saat melihat Anin di antar oleh seorang lelaki. Dirga tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena posisi mereka yang membelakangi Dirga. Lelaki yang mengantarkan Anin itu memakai jaket, hanya celana warna abu-abu nya yang menandakan kalau dia masih SMA.


"Cih, ternyata saingan gue cuma anak kecil. Bukan saingan yang berat," gumamnya lagi lalu menjalankan mobilnya memasuki area gedung kantornya.


...****************...


"Baik pak." Sonya, manajer fashion desainer menutup sambungan teleponnya.


"Anin!"


"Ya Bu." Anin mendongak saat namanya di panggil.


"Pak Dirga minta kamu ke ruangannya sekarang."


"Iya lah, kamu. Memangnya di sini ada nama Anin yang lain?" ketus Sonya. "Sudah sana, sebelum pak Dirga marah dan kita semua kena getahnya."


Dengan berat hati Anin pun melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO. Dalam hati dia terus menggerutu dan mengutuk Dirga.


Sesampainya di depan ruangan CEO, Anin mengetuk pintunya. Setelah di persilahkan, Anin membuka pintunya dan masuk ke dalam.


"Bapak manggil saya?" tanya nya setelah berada di hadapan Dirga.


"Memangnya saya setua itu sampai kamu manggil saya bapak," protes Dirga karena tak suka dengan panggilan dari Anin.


Anin memutar bola matanya jengah, lama-kelamaan atasannya ini sangat menyebalkan.


"Anda kan atasan saya, jadi tidak sopan rasanya kalau saya hanya memanggil nama saja pada anda."


"Ck, sudah saya bilang kan kalau kamu itu pacar saya dan saya adalah pacar kamu. Jadi kamu bebas mau memanggil saya apa."


"Sejak kapan saya jadi pacar bapak, sepertinya kemarin sudah sangat jelas saya menolak anda."


Dirga bangkit dan berdiri tepat di hadapan Anin, ia menatap gadis di hadapannya itu dengan intens. Tidak seperti sebelumnya, Anin akan langsung menunduk jika di tatap se-intens itu oleh Dirga. Tapi justru sebaliknya, Anin malah balas menatap Dirga dengan tajam.


Dalam hati Dirga tersenyum sinis, sepertinya Anin sudah tidak takut lagi padanya. Hal ini justru membuat Dirga semakin menyukai Anin.


"Sepertinya tidak ada hal penting yang ingin Anda sampaikan, sebaiknya saya kembali ke ruangan saya," ucap Anin seraya membalikkan badan.


Namun, dengan cepat Dirga menarik tangannya hingga tubuh ramping Anin menabrak dada bidang Dirga. Kini tubuh keduanya saling menempel dan ini di jadikan kesempatan Dirga untuk memeluk pinggang gadis itu.

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkan kamu untuk pergi dari ruangan saya? Sebelum saya ijinkan, kamu tidak bisa keluar dengan seenaknya."


Anin terus memberontak untuk melepaskan dirinya, tapi cengkraman tangan Dirga di pinggangnya terlalu kuat.


"Jangan terus bergerak kalau kamu tidak ingin membangunkan singa tidur di bawah sana," ancam Dirga membuat Anin berhenti seketika.


"Good girl."


"Siapa yang mengantar kamu tadi pagi?" tanya Dirga dan Anin langsung mendongak.


Dalam hati dia bertanya, dari mana Dirga tahu kalau dirinya di antar ke kantor tadi. Itu berarti Dirga melihatnya di antar oleh Ken. Tiba-tiba muncul ide agar Dirga tidak lagi mengganggunya.


"Lepaskan saya." Bukannya menjawab, Anin justru minta untuk di lepaskan.


"Tidak. Sebelum kamu menjawab pertanyaan saya."


"Saya akan menjawab kalau anda mau melepaskan saya."


"Kalau begitu tidak usah di jawab, jadi kita bisa seperti ini sampai nanti sore." Senyum jahil muncul di bibir Dirga.


Anin yang sudah muak pun mencoba untuk mengeluarkan jurus andalannya, dia menatap Dirga dengan tatapan memohon dan memasang wajah imutnya.


"Please, lepasin saya ya," ucapnya lembut sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Siapa yang tak luluh mendengar suara lembut nan imut yang di tunjukkan Anin. Dirga pun demikian, ia langsung melepaskan cengkraman tangannya dari pinggang Anin.


Akhirnya Anin bisa bernafas lega, dia terbebas dari belenggu singa jantan yang ada di hadapannya itu.


"Saya sudah melepaskan kamu, sekarang jawab, siapa yang mengantar kamu tadi pagi? Apakah dia pacar kamu?"


"Aish, kirain udah lupa. Ternyata masih ingat aja," gerutu Anin dalam hati.


"Iya. Dia pacar saya," jawab Anin asal.


Mendengar jawaban Anin, Dirga pun menjadi murka. Dia tidak suka miliknya di miliki oleh lelaki lain. Katakanlah jika Dirga egois. Tapi, sejak pertama kali Dirga melihat Anin di cafe waktu itu, ia langsung jatuh cinta pada wanita itu. Dan menganggap Anin adalah miliknya, tak peduli seberapa sering Anin menolaknya.


"Putuskan dia sekarang juga!" pinta Dirga dengan penuh penekanan.


Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi menakutkan membuat nyali Anin menciut. Tanpa sadar kakinya melangkah ke belakang menjauhi Dirga. Namun, Dirga justru memajukan langkahnya seiring langkah Anin yang terus menjauh.


Hingga akhirnya, Anin tak bisa lagi bergerak karena tubuhnya membentur dinding. Hal ini Dirga jadikan kesempatan untuk mengungkung tubuh Anin.


"Kamu milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku. Tidak ada siapapun yang boleh memilikimu, atau aku akan langsung menyingkirkannya," ancam Dirga dengan suara beratnya, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan ketakutan.


Tatapan Dirga semakin tajam, membuat Anin tak bisa berkutik. Perlahan-lahan Dirga mulai menundukkan wajahnya, membuat jantung Anin semakin berdetak kencang. Ia takut Dirga akan melakukan sesuatu kepadanya.


Kaki Anin mulai bergetar, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Tubuhnya terkurung di antara dua lengan kekar Dirga.


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" bisik Anin dalam hati.


Apa yang akan Dirga lakukan pada Anin? Apakah lelaki itu akan mencium Anin? Atau ...


...****************...


NB :

__ADS_1


Gamang \= merasa takut (ngeri atau khawatir) saat melihat ke bawah dari tempat yang tinggi.


__ADS_2