
"Kenan! Awas!"
'Buuugh'
Mendengar teriakan Anin, Kenan pun membalikkan badan dan dengan gerakan cepat Kenan menendang perut preman yang mencoba untuk menyerangnya dari belakang. Alhasil, preman itu pun tumbang hanya dengan sekali tendangan.
Setelah memastikan ketiga preman tadi jatuh dan tak sadarkan diri, Kenan pun menghampiri kakaknya dan langsung memeluknya. Anin menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Kenan. Akhirnya Anin bisa bernafas lega karena sudah terlepas dari bahaya.
"Ssst. Udah, jangan takut. Ada aku di sini, sekarang kakak udah aman," ucap Kenan menenangkan sang kakak.
Setelah di rasa Anin sudah sedikit tenang, Kenan pun membawanya menuju mobil mereka. Namun, baru saja beberapa langkah mereka melewati preman-preman itu, Anin menghentikan langkahnya membuat Kenan bingung.
"Kenapa kak? Kita harus pulang sekarang sebelum preman-preman itu bangun lagi."
"Itu, kita harus tolong orang itu," ujar Anin sambil menunjuk pemuda yang sedang tergeletak di tanah itu.
"Untuk apa? Dia bukan urusan kita, mendingan kita pulang sekarang."
"Nggak Ken, kita harus tolongin dia dulu." Anin tetap bersikeras meminta Ken untuk menolong pemuda yang wajahnya sudah babak belur itu.
Kenan menatap sang kakak dan pemuda itu bergantian, dengan berat hati akhirnya Kenan pun menuruti sang kakak.
"Ya udah, kakak balik duluan ke mobil biar Ken yang bawa orang itu."
Anin tersenyum karena akhirnya Kenan mau menuruti permintaannya. Ia pun berjalan lebih dulu ke mobil sementara Kenan membantu pemuda asing itu.
Dengan susah payah Kenan mengangkat tubuh si pemuda dan membopongnya hingga sampai ke mobil mereka. Sampai di mobil, Kenan meminta Anin untuk membukakan pintu mobilnya lalu meletakkan tubuh pemuda itu ke jok belakang.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil, Kenan pun melajukan mobilnya tanpa tahu harus kemana.
"Nih orang mau kita bawa kemana kak?"
"Ya ke rumah sakit lah Ken, kamu gak lihat itu mukanya udah babak belur begitu."
Ken melirik dari kaca spion, dan benar apa yang kakaknya itu katakan. Ia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
****************
Cahaya lampu yang menyilaukan membuat Axel mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah matanya terbuka sempurna, ia pun memperhatikan sekeliling ruangan yang serba putih itu. Axel yakin kalau dirinya sedang berada di rumah sakit, aroma obat-obatan dan jarum infus yang menancap di tangannya membuat Axel semakin menguatkan keyakinannya.
"Kamu sudah bangun?" Suara seseorang mengalihkan pandangan Axel.
"Lo? Ngapain lo ada di sini?" tanya Axel dengan nada tak suka.
"Heh! Gak tau diri banget sih lo, udah untung kami mau nolongin lo dan bawa ke rumah sakit," sungut Kenan kesal.
__ADS_1
"Gue gak pernah minta kalian buat nolongin gue kan?"
"Ish, nih orang emang gak tau diri banget ya," kesal Kenan sambil maju hendak memukul Axel.
"Ken, jangan." Anin langsung mencegah adiknya hingga membuat remaja itu semakin kesal.
"Ck." Kenan mendesakkan lidahnya, ia kesal dengan Axel yang tidak tahu terimakasih menurutnya.
"Lo itu harusnya bersyukur masih bisa hidup sampe sekarang. Kalo bukan karena kakak gue yang nekat nolongin lo, mungkin sekarang lo itu udah m*mp*s. Kakak gue sampe rela membahayakan dirinya cuma buat nolongin orang gak tau diri kayak lo," geram Kenan.
"Ken! Udah!" tegur Anin agar adiknya itu tidak terlalu banyak bicara.
Axel sempat terdiam memikirkan perkataan Ken tadi, sesaat sebelum pingsan, Axel memang mendengar seseorang yang berteriak dan samar-samar ia melihat seseorang yang berusaha untuk menolongnya. Tak Axel kira kalau orang itu adalah Anin.
Anin tak tega melihat Axel yang sedang melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan. Anin pun melangkah mendekati ranjang Axel, ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang tersebut.
"Maaf kalau keberadaan kami di sini membuat mu tidak nyaman, tapi kami memang tidak bermaksud apa-apa selain ingin menolong kamu," ucap Anin membuyarkan lamunan Axel.
Axel menatap Anin lekat, wajah Anin yang cantik dan senyumnya yang manis membuat jantung Axel tiba-tiba berdetak kencang, bahkan ia sampai memegangi dada sebelah kiri nya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Anin khawatir.
"A-aku nggak apa-apa," jawab Axel terbata.
"Kamu makan ya, biar bisa minum obat," ucap Anin lembut.
"Aku gak lapar," dusta Axel. Namun, beberapa detik kemudian, perutnya berbunyi dengan sangat keras. Wajah Axel memerah menahan malu.
Anin tersenyum sedangkan Kenan tertawa lepas.
"Hahaha. Mamam tuh gengsi," ledek Kenan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Axel.
"Ken." tegur Anin tapi tidak di pedulikan oleh adiknya itu. Kenan terus saja tertawa sampai perutnya terasa kram.
Axel kesal setengah mati karena Kenan sudah menertawakannya, dan Anin bisa melihat itu. Anin menggenggam tangan Axel yang tak di infus membuat Axel terkejut atas perlakuan Anin itu.
"Jangan pedulikan Kenan, dia emang begitu orangnya, suka usil."
Axel tak menjawab, hatinya masih kesal karena di tertawaan oleh Kenan. Melihat Axel yang hanya diam saja, Anin pun mengambil bubur yang tadi di beli oleh Kenan. Ia mengambilnya sesendok lalu mengulurkannya ke hadapan Axel.
"Aaa'," ucap Anin dan meminta Axel untuk membuka mulutnya.
"Gue bisa makan sendiri," tolaknya dan berusaha untuk merebut bubur tersebut dari Anin.
"Udah, gak apa-apa. Biar aku yang suapin." Anin tetap memaksa untuk menyuapi Axel. Dengan sangat terpaksa Axel pun membuka mulutnya. Anin terus menyuapi Axel hingga bubur tersebut habis tak bersisa.
__ADS_1
"Laper apa doyan bro?" ledek Kenan kembali saat melihat bubur itu tak bersisa.
Axel benar-benar kesal di buatnya, jika saja dirinya sedang tidak di infus, mungkin Axel akan segera turun dari ranjang itu dan berlari mendekati Kenan untuk memberinya pelajaran.
"Ken! Kamu bisa diem gak sih, kalau kamu meledek terus mending kamu keluar deh," usir Anin. Begitulah Anin, dia bisa bersikap lembut pada siapa saja tapi juga bisa bersifat galak di waktu yang bersamaan pada orang yang sudah membuatnya kesal.
"Iya, Ken diem." Kenan pun memilih untuk diam daripada mendapat amukan dari kakaknya. Ia berbaring di sofa sambil bermain game online di ponselnya.
Setelah adiknya tak lagi bersuara, Anin kembali mengalihkan perhatiannya pada Axel. Ia mengambil obat untuk Axel yang ada di atas nakas.
"Kamu minum obatnya dulu ya," ucapnya sambil meletakkan obat tersebut di telapak tangan Axel.
"Harus banget ya minum obat." Axel adalah orang yang tidak suka minum obat. Lebih baik dia di suruh lari keliling lapangan kampusnya dari pada harus menelan pil yang ukurannya sebesar kancing seragam sekolah.
"Kalo kamu mau sembuh, ya harus di minum obatnya. Tapi, kalo kamu mau di sini selamanya, ya tidak perlu kamu minum itu obat," ucap Anin menakut-nakuti Axel.
Axel tampak berpikir, kedua pilihan yang disebutkan Anin tadi tidak ada yang menguntungkan sama sekali baginya. Sementara Kenan yang sejak tadi memperhatikan, rasanya ingin sekali dia berkomentar dan mengejek Axel.
"Badan besar, muka sangar, tapi sama obat aja takut," cibir Kenan pelan.
Namun, meski Kenan memelankan suaranya, tetap saja Anin dan Axel bisa mendengarnya. Kini Axel dan Anin pun menatap kesal pada dirinya.
"Ken!" geram Anin.
Kenan yang merasa seperti sedang di perhatikan pun akhirnya mengalihkan pandangan dari ponsel ke arah Anin. Dan benar saja, kedua orang itu sedang menatapnya tajam membuat Kenan kebingungan.
"Apa? Kenapa pada ngelihatin aku kayak gitu?" tanya Kenan tanpa rasa bersalah. "Ya memang sih aku ini tampan, pasti kalian baru sadar ya," lanjutnya dengan percaya diri.
Anin yang sudah merasa kesal dengan adiknya itu pun langsung berdiri dan menghampirinya.
"Kakak mau ngapain?"
"Udah kakak bilang tadi, mending kamu diem aja, dari pada buat orang kesal," geram Anin sambil memukuli adiknya dengan bantal yang ada di sofa itu.
"Aduh..."
"Ampun kak."
"Iya, Ken diem. Ken gak akan bicara apa-apa lagi," ucapnya sambil terus mengadu kesakitan.
"TELAT!"
Akhirnya kakak beradik itu menjadi perang bantal sambil berlarian mengitari sofa, sementara Axel menatap iri pada keduanya. Karena, meskipun terlihat sedang bertengkar, tapi kedua kakak beradik itu saling menyayangi. Tidak seperti dirinya dan adiknya, mereka bahkan tidak seakrab Anin dan Kenan. Dalam hati Axel, dia juga ingin berada di posisi Kenan yang sangat di sayangi oleh Anin dan bisa sedekat itu dengan Anin. ESC sas
...****************...
__ADS_1